
Arya tidak putus asa. Ia terus mengejar Zahrana sambil memanggil-manggil nama perempuan itu. Namun tiba-tiba seseorang menahan lengannya.
"Apa-apaan..." Baru saja ia hendak menghardik orang yang menahannya, namun ucapannya terhenti tatkala matanya mendapati bahwa orang itu adalah Hidayat.
"Hidayat?" Desirnya terlihat pasrah membiarkan Zahrana menjauh dari pandangannya.
"Kita perlu bicara sebentar, Bang Arya..." Ucap Hidayat seraya menarik lengan Arya ke tempat semula Arya duduk bersama Zahrana.
Arya menurut. Ia cukup mengerti arti tatapan Hidayat saat itu terhadap dirinya.
"Apa ini, Bang?" Tanya Hidayat tanpa basa-basi. Ia sudah cukup paham dengan apa yang didengarnya sedari tadi dari kejauhan.
"Kamu tidak mengerti, Yat. Abang sangat mencintai kakakmu itu. Abang janji, Abang tidak akan membiarkan dia kekurangan apa pun. Abang akan bahagiakan dia... Yang penting bagi Abang, kamu bantuin Abang meyakinkan kakak kamu bahwa Abang sungguh-sungguh mencintainya... Dan Abang juga akan membuat kamu dan semua keluargamu bahagia..." Tutur Arya begitu yakin dan tampak rakus. Dia merasa kedekatannya dengan Hidayat, membuat Hidayat akan memberinya lampu hijau untuk mendekatinya dengan Zahrana.
"Bang Arya tidak dengar, kak Zahra hanya mencintai suaminya... Dia tidak butuh apa pun, dan dia bukan perempuan yang dengan mudahnya menukar cintanya dengan apa pun itu, termasuk materi yang Abang janjikan." Tegas Hidayat yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan Arya.
"Yat... Kamu tidak mengerti bagaimana rasa sakit Abang... Dan Abang rela merasakan sakit apa pun itu, asal kakakmu bisa menerima Abang... Please, buat mengerti kakakmu... Abang mohon... Abang akan berikan semua yang kamu mau untuk membalasnya nanti..." Ucap Arya masih bersikukuh mengharapkan bantuan Hidayat untuk mempersatukan dirinya dengan Zahrana.
Hidayat menggeleng karena tidak mengerti dengan jalan pikiran Arya yang begitu keras kepala. Dia mengusap kasar wajahnya. Tampak ketidakberdayaan pada raut wajahnya itu.
"Banyak hal yang tidak kita ketahui dari kak Zahra, Bang... Dan salah satunya yang tidak boleh olehnya orang lain tahu adalah kisah masa lalunya..." Ucap Hidayat terdengar berat hati. Ia ragu untuk menceritakannya, sesuai janji yang pernah ia ucapkan dulu kepada Zahrana.
"Masa lalu? Ada apa dengan masa lalu Zahrana, Yat?" Tanya Arya yang mulai terpancing untuk mendengarkan Hidayat.
"Kisah dalam novel yang ditulis kak Zahra dan difilmkan itu adalah kisah nyata kak Zahra sendiri, Bang..." Ungkap Hidayat.
"Apa?" Arya tercengang.
__ADS_1
"Iya, Bang... Kak Zahra terjebak dalam cinta terlarang bersama lelaki yang sesusuan dengannya. Semua murni kisah kak Zahra..." Jelas Hidayat dengan pasrah.
"Kamu jangan mengada-ada, Yat..." Ketus Arya tak percaya.
"Itulah sebenarnya, Bang... Dan coba Abang pikir, bagaimana rasa sakit kak Zahra kala itu jika Abang bertanya kepada kak Zahra kalau dia tidak mengerti dengan rasa sakit yang Abang alami saat ini?" Tekan Hidayat.
"Kak Zahra mencintai bang Ajis karena Allah... Karena kak Zahra percaya, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik kepadanya. Dan semua kebahagiaan itu hanya ia temui pada diri bang Ajis yang tidaklah sempurna, yang tidak memiliki harta banyak seperti Abang. Bang Ajis mampu mengobati luka kak Zahra, meski bang Ajis sendiri tidak tahu bahwa perempuan yang dinikahinya pada saat itu sedang terluka. Tanpa bang Ajis sadari, ia telah membuat kak Zahra mampu melenyapkan masa lalunya yang begitu menyakitkan." Hidayat mulai melunak kembali.
Arya terdiam. Ia kembali teringat ucapan Zahrana beberapa waktu lalu, bahwa Habibah dalam novelnya telah bahagia.
"Jika Abang ingin tahu lebih, Abang tinggal beritahu Hidayat kapan waktu yang Abang bisa untuk jalan-jalan ke kampung kami. Akan Hidayat ceritakan sesuatu lain kepada Abang."
"Hari ini?" Tawar Arya tampak antusias.
"Maaf, Bang... Untuk hari ini Hidayat tidak bisa... Hidayat ada urusan penting..." Tolak Hidayat tegas.
"Insya Allah... Kalau memang jalannya Lusa, Hidayat akan kabari Abang langsung..." Jawab Hidayat dengan kepastian.
"Baiklah, Yat... Tapi bukan berarti Abang akan berhenti berdoa meminta kakakmu kepada Tuhan, karena kakakmu bilang, Tuhan akan mengabulkan do'a-do'a semua hambanya..." Tukas Arya bersikukuh.
"Terserah, Bang Arya... Tapi jangan kecewa jika Tuhan tidak mengabulkannya. Percayalah, Bang... Allah maha Baik, sehingga bukan kak Zahra, maka akan ada bidadari dunia lain yang akan diberikan-Nya untuk Abang..." Ucap Hidayat dengan bijak.
"Abang renungkan lagi... Hari ini Hidayat tinggal, soalnya Hidayat benar-benar ada keperluan penting..." Sambung Hidayat lagi.
"Abang antar kamu, Yat?" Tanya Arya menawarkan diri.
"Tidak perlu, Bang... Terima kasih atas tawarannya. Hidayat pamit, Assalamu'alaikum..." Ucap Hidayat seraya bangkit.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam... Hati-hati, Yat..."
Hidayat mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan Arya seorang diri disana.
*****
Di dalam perjalanan pulang, Zahrana tidak henti-hentinya menangis. Ucapan Arya tentang ia telah membuat pria itu merasa nyaman, membuat ia terus kepikiran.
Yaa Allah... Betapa berdosanya hamba selama ini. Hamba tidak menyadari bahwa hamba telah berkhianat kepada suami hamba sendiri. Ampuni hamba yaa Allah...
Zahrana terus berdo'a di dalam hatinya, menyesali apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Arya Irawan selama itu.
Sesampainya ia di depan pagar rumahnya, pandangan matanya sayup-sayup melihat motor matic milik suaminya telah terparkir di dalam pekarangan.
Ada bang Ajis?~ Gumamnya. Perasaannya tiba-tiba memburu, mengganggu hati dan pikirannya.
Ia berjalan perlahan dengan ragu-ragu memasuki rumahnya itu. Perasaannya tiba-tiba berubah takut, apalagi setiap perkataan Arya yang mengungkapkan isi hatinya sewaktu di kaffe tadi membuat ia dipenuhi rasa bersalah yang teramat besar, meski ia sendiri beranggapan bahwa suaminya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Tetapi tetap saja ia merasa bersalah akan hal itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1