
Assalamualaikum, Kak Nur... Hari ini Zahra pulang ke rumah ayah dan ibu. Kak Nur pulang juga ya, sama anak-anak sekalian... Zahra rindu...
Sedari tadi Zahrana berusaha keras menggerakkan pikirannya beserta keberaniannya hanya untuk menulis pesan singkat yang akan dikirimnya kepada kakaknya itu lewat aplikasi WA dalam ponselnya.
Pagi itu ia telah selesai bersiap-siap hendak memenuhi keinginannya semalam untuk ikut dengan Hidayat ke rumah orang tuanya yang sudah cukup lama tidak ia jelang.
"Sampaikan salam Abang pada ayah, ibu serta Muslim ya, Dik... jika Adik mampir ke tempat kak Rianur, sampaikan juga kepada kak Rianur dan Bang Edi salam Abang. Nanti Adik jangan lupa beli oleh-oleh di jalan buat Faiz dan Faiza." Pesan Ajiz sebelum mereka sama-sama berangkat pagi itu.
"Iya, Abang... Insya Allah..." Sahut Zahrana. Dia memeluk pinggang Ajis dengan erat dan dengan perasaan yang begitu dalam. Lalu ia berucap doa keselamatan untuk suaminya itu.
"Aamiin... Adik juga ya..."
"Iya, Abang... Abang jaga hati di sana. Zahra nggak mau dengar yang macam-macam sepulang Abang belanja nanti." Ucap Zahrana terdengar mengancam.
Ajis terbahak mendengar hal itu, lalu mengecup pucuk kepala Zahrana. "Tidak, akan... Adik juga harus begitu ya..."
"Memang Zahra ngapain? Zahra kan hanya ke rumah ayah dan ibu saja. Lagian Zahra pulangnya bersama Hidayat juga..." Protes Zahrana.
"Hehehe... Iya, iya..."
Deru mesin motor yang sudah mereka kenal terdengar masuk ke dalam pekarangan rumah. Mereka bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum..." Ucap Hidayat yang datang menjemput Zahrana.
"Wa'alaikumussalam..." Sahut mereka secara bersamaan.
"Sudah siap, Kak?" Tanya Hidayat.
"Sudah, Dek..."
"Iya, cuma tinggal menunggu dirimu saja, Yat..." Timpal Ajis.
"Kenapa terburu-buru, Bang? Kak Zahra lihat, kan? Bang Ajis bener-bener ini..." Hidayat bersikap seolah mengompori keadaan.
"Bener-bener, bagaimana?" Protes Ajis merasa bersalah setelah mendapat tatapan membunuh dari sorot tajam mata Zahrana.
__ADS_1
"Abang udah nggak sabaran menunggu Zahra pulang?" Ketus Zahrana seolah merajuk mengikuti permainan yang dibuat adiknya itu.
"Bukan begitu, Adik... Ucapan-ucapan Hidayat nggak usah Adik dengar juga... Dia itu ulat bulu..." Ucap Ajis berusaha membuat pembelaan terhadap dirinya.
"Awas ya, kalau abang macam-macam..." Ancam Zahrana lagi.
"Abang cuma semacam aja kok, Dik. Mencintai adik selamanya, hingga akhir napas Abang..." Ungkap Ajis Seraya mendekap bahu Zahrana.
Wajah Zahrana bahkan sampai bersemu merah mendengar ucapan suaminya itu.
"Hem... Hem... Hem..." Hidayat berdehem. "Kak Zahra, Hidayat tunggu di depan ya... Malas jadi obat nyamuk di sini. Kak Zahra buruan, jangan lama-lama romantisnya." Ucap Hidayat Seraya berlalu dari hadapan Ajis dan Zahrana.
Ajis terkekeh. "Sana, Yat... Kamu masih di bawah umur." Usir Ajis. Zahrana ikut tertawa karenanya, lalu ia mendekap tubuh Ajis kembali dengan erat.
"Ya sudah, Abang... Kalau begini terus, kapan kita berangkatnya? Nanti Abang sampai di sana kemalaman pula." Ucap Zahrana sembari mengurai dekapannya ke tubuh suaminya itu.
"Iya, Adik..." Sahut Ajis seraya melepaskan Zahrana dari dekapannya. "Adik hati-hati, ya... Jangan lupa kabarin Abang."
"Iya, Abang... Abang juga, ya..."
Hampir seharian berada di atas motor hingga membuat seluruh tubuh Zahrana serasa mau rontok dibuatnya, akhirnya Iya dan Hidayat sampai ke rumah orang tuanya juga.
"Assalamualaikum..." Ucap Zahrana begitu girang ketika dirinya telah berada di ambang pintu rumah orang tuanya itu.
"wa'alaikumussalam..." Terdengar banyak sahutan dari dalam rumah.
"Ibuuuu.... O-ooom..." Faiz dan Faiza, dua anak kecil yang merupakan anak-anak kakaknya itu berlarian menyambut kedatangan Zahra dan Hidayat.
"Ya ampun... Si ganteng dan si cantik-nya Ibu. Ibu kangen kalian, nak..." Sahut Zahrana Seraya merentangkan kedua tangannya menantikan kehadiran dua bocah itu ke dalam pelukannya.
"Ck ck ck... Peluk dan cium nya cuma buat ibu saja nih? Buat om A'at nggak, kah?" Decak Hidayat berlagak cemburu. Ia segera menyelonong masuk ke dalam untuk menyalami ayah dan ibunya.
Zahrana terlihat begitu senang saat itu. Pada sorot wajahnya, terlukis kedamaian. Tidak ada beban sama sekali. Namun ketika ia melihat Rianur, dia berubah canggung. Sesegera mungkin ia tepis rasa marah dan tak nyaman di hatinya itu.
"Apa kabar kak?" Sapa Zahra memulai.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik... Kamu sendiri bagaimana?" Jawab Rianur dengan balik bertanya keadaannya.
"Alhamdulillah juga baik, Kak... Bang Ed mana, Kak?"
"Ayah anak-anak sedang mencari kelapa untuk dijual lagi..." Jawab Rianur.
Hubungan mereka tampak menghangat kembali berkat jiwa besar Zahrana yang tidak menampakkan marahnya serta mau memulai bicara terlebih dahulu kepada kakaknya itu.
"Ada apa, nak? Kok tumben kamu pulang tanpa Ajis? Kalian baik-baik saja, kan?" Tanya Marwan, ayahnya.
"Bang Ajis pergi belanja ke luar kota, Yah... Jauh... Ongkosnya Juga besar, belum lagi biaya nginap. Kalau Bang Ajis pergi sendiri, ongkosnya kan bisa dihemat. Zahra capek juga harus ikut Bang Ajis. Lain kali mungkin, Yah... Lagian Zahra bisa pulang sama Hidayat kesini. Zahra sudah rindu suasana rumah..." Jelas Zahrana tanpa dibuat-buatnya.
MEOOOOUUUW...
Si kucing tengku datang dari arah belakang ketika mendengar suara Zahrana. Ia berbuat manja kepada salah satu tuan-nya itu yang telah lama tidak ia temui. Si kucing Tengku mengusap-usapkan kepalanya ke kaki Zahrana.
"Hey, Tengku..." Panggil Zahrana Seraya mengangkat tubuh kucing itu dan diletakkannya ke pahanya.
"Muslim mana, yah, Bu? Kenapa tidak kelihatan sedari tadi?" Tanya Zahrana sambil mengelus-elus kucing Tengku yang berada dalam pangkuannya itu.
"Muslim sedang melatih ekstrakurikuler di sekolah tempat ia mengajar, ia ambil bidang olahraga juga selain mata pelajaran Quran Hadis. Kebetulan guru olahraga sedang kosong di sana. Kamu kan tahu sendiri adik-adikmu ini begitu aktif di lapangan, apalagi bidang bola. Maka karena itu, muslim diminta untuk menggantikan guru olahraga sementara waktu sampai ada guru olahraga baru." Papar Zainab, Ibunya.
"Oh begitu... Alhamdulillah, Bu... Zahra senang mendengarnya. Terus, bagaimana dengan seleksi Adm yang dilakukan Muslin waktu itu, Bu?"
"Katanya, besok namanya keluar, Nak... Mudah-mudahan saja ya, adikmu itu lulus..." Ucap Bu Zainab menjelaskan.
"Aamiin, ya Mujib..." Sahut Zahrana mengaminkan ucapan ibunya yang berupa doa dan harapan untuk Muslim.
.
.
.
.
__ADS_1
.