
Zahrana tersentak dari lamunannya. Suara mesin motor Ajis yang sudah begitu hapal di telinganya, membuat ia semakin bersemangat dan melupakan masa lalu yang sempat menari kembali di pikirannya.
"Alhamdulillah, Bang Ajis pulang..." Soraknya dengan senyuman yang merekah di bibir tipisnya itu.
Zahrana bangkit dari duduknya, lalu setengah berlari keluar dari kamar menuju pintu depan rumahnya untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Assalamualaikum..." Ucap Azis tampak kelelahan, namun ia paksakan juga tersenyum ketika melihat istrinya itu.
"Wa'alaikumussalam, Abang..." Jawab Zahrana seraya mengecup tangan suaminya yang sempat ia raih sebelumnya.
Zahrana dengan cepat mengunci pintu rumahnya kembali setelah mereka berdua masuk, lalu ia memeluk suaminya itu dengan sangat erat sehingga Ajis terperanjat karenanya.
"Heh tumben Adik begini? Kenapa?" Tanya Ajis begitu heran melihat tingkah istrinya itu.
Zahrana hanya menggelengkan kepalanya di dalam dada Ajis.
"Zahra kangen, Abang..." Rengeknya.
"Oh ya? Abang kan tadi kerja, Adik..." Dahi Ajis mengerinyit, ia semakin bingung. Tak biasanya Zahrana bersikap seperti itu ketika ia baru pulang dari mana pun. Zahrananya seperti anak kecil yang lama ditinggal pergi oleh seorang ayah untuk bertugas.
"Tapi Zahra kangen..." Ucapnya begitu manja.
"Abang bau keringat loh..."
"Nggak apa-apa, nggak bau betul kok..." Ucap Zahrana yang masih enggan melepas tubuh suaminya itu. Perasaannya semakin membuncah, dan hanya dengan memeluk tubuh suaminya itulah ia sedikit merasa lebih tenang karenanya.
"Adik sudah mandi memangnya?" Tanya Ajis begitu lembut sambil mengelus kepala Zahrana.
__ADS_1
"Sudah..." Jawab Zahrana singkat.
Ajis mulai membalas pelukan Zahrana, lalu ia mengecup dahi istrinya itu banyak-banyak. Dia seakan juga merasakan kerinduan yang menyiksa hati perempuannya itu, dan karena kemanjaan Zahrana terhadapnya terlalu berlebihan kali itu, Ajis juga memeluk istrinya itu dengan erat pula untuk melepas lelahnya.
"Kalau begitu, biar kan Abang mandi dulu ya... Biar adik nggak ketularan bau tubuh Abang. Abang janji, nanti Abang peluk Adik lagi." Bujuk Ajis. Namun Zahrana tetap bersikekeh, ia menggeleng keras dan tidak mau melepas suaminya itu dengan begitu saja.
"Perut Zahra sakit lagi, Abang... Zahra mau Abang elus perut Zahra..." Pinta Zahrana.
"Perut Adi sakit lagi?" Tanya Ajis tampak begitu khawatir mendengar pengakuan Zahrana.
Zahrana mengangguk dengan bibir manyun. Dia begitu manja terhadap suaminya itu.
"Ya udah, kita duduk di sofa ya..." Ajak Ajis seraya menarik pelan lengan Zahrana menuju sofa ruang tamu.
Zahrana mengangguk dan menuruti ajakan suaminya itu.
"Yaa Allah... Enak sekali rasanya jika Abang elus begini. Zahra udah baikan sekarang, dan nggak perlu diperiksa kok... Sekarang Abang sudah boleh mandi..." Ucap Zahrana menikmati elusan tangan suaminya itu di perutnya.
*****
Zahrana berkali-kali memuji asma Allah, ketika mendengar kabar bahwa lebih dari seribu eksemplar dalam bulan pertama terhitung sejak novelnya diterbitkan, laku terjual.
Air mata kebahagiaan mengambang di manik matanya. Setelah mendengar kabar itu, Zahrana segera menelepon Ajis yang siang itu masih bekerja di kios orang.
Assalamu'alaikum, Adik... Ada apa Adik telepon Abang jam segini? Apa semua baik-baik saja? ~ Terdengar suara suaminya menyahuti dengan cemas dari seberang.
"Wa'alaikumussalam, Abang... Alhamdulillah, Abang... Semua baik-baik saja... Zahra cuma mau bilang, Zahra sangat bahagia saat ini, Abang..." Ujar Zahrana begitu bersemangat.
__ADS_1
Bahagia? Ada kabar apa memangnya, Dik?
"Novel Zahra yang sudah diterbitkan bulan lalu, termasuk best seller, Abang... Buku novel Zahra sudah terjual lebih dari seribu..." Tuturnya tak berhenti tersenyum.
Alhamdulillah... Selamat ya, Adik... Abang ikut senang mendengarnya...
"Terima kasih, Abang... Zahra sangat senang sekali. Ini semua berkat do'a dan dukungan dari Abang juga..." Ucap Zahrana dengan perasaan haru yang membuncah di dalam hatinya.
Abang hanya bisa bantu dengan do'a dan dukungan saja untuk Adik, selebihnya Adik yang mengusahakan. Adik telah berjuang dan bekerja keras selama ini... Jangan lupa ucapin terima kasih juga buat Arya yang sudah membantu Adik ya. Sampaikan salam Abang untuk dirinya...
"Iya, Abang... Nanti Zahra sampaikan... Ya sudah, Abang lanjut kerja ya. Maaf, Zahra sudah ganggu Abang..."
Iya, Adik... Abang lanjut kerja ya... Adik hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum...
"Iya, Abang... Abang juga hati-hati kerjanya. Wa'alaikumussalam, Abang..."
Telepon berakhir, Zahrana meletakkan ponselnya ke dadanya. Ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Terima kasih Yaa Allah... Engkau telah memberi suami yang begitu pengertian kepada hamba. Bahagiakan kami hingga kami menua bersama Ya Allah...~ Batin Zahrana berdo'a.
.
.
.
.
__ADS_1
.