SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KEMBALINYA KEHARMONISAN


__ADS_3

Malam tiba, malam pertama bagi Zahrana berpisah dari suaminya sejak ia menikah hampir tiga tahunan yang lalu.


Sehabis maghrib, ia dan keluarganya sudah berkumpul di meja makan menyantap masakan yang dibuat ibunya sore tadi.


Canggung masih terlihat jelas di antara mereka berempat, beradik kakak. Muslim jelas tak tegur sapa dengan Rianur dan suaminya sejak insiden pinjaman online kala itu. Hanya suara Faiz dan Faiza, dua bocah polos itu yang membuat keributan di meja makan.


"Mama, Dedek matan cama dagham..." Pinta Faiz merengek manja kepada Rianur.


"Ngapain makan sama garam, Nak? Dadar telur saja, ya...?" Bujuk Rianur menolak permintan putra kecilnya itu.


"Nggak mau... Dedek mau matan cama dagham..." Rengek Faiz tak mau mengerti.


"Kasih saja, Kak..." Timpal Zahrana menengahi.


"Gimana mau dikasih, Zahra... Bagi dia garam itu gula, kok... Masa gitu terus, kapan tumbuh kembangnya?" Sungut Rianur.


"Yah... Gula?" Ujar Zahrana tampak terkejut mendengar pernyataan kakaknya itu. "Masa nasi dicampur gula, sayang? Faiz makan sama telur dadar saja ya, Nak? Biar Ibu yang buatkan. Kak Faiza mau, kan?" Bujuk Zahrana mengalihkan perhatian bocah kecil itu.


Faiza mengangguk cepat. "Mau, Bu..." Jawabnya berseru.


"Nah, kak Faiza saja mau... Dedek mau juga ya?" Tanya Zahrana pada Faiz yang masih menatapnya malu-malu.


"Dedek mau uja!" Jawab Faiz cepat. Bocah itu memang sedang berusaha menarik perhatian Zahrana dan Hidayat yang hanya sesekali dijumpainya.


Zahrana bergegas ke dapur untuk memasak telur dadar permintaan dua bocah itu.


Tak butuh lama, ia selesai memasak dua telur dadar lalu dibagikannya kepada bocah-bocah itu.


"Bilang apa?" Tanya Rianur tegas.


"Makasih, Buuu... Aci, buuuu..." Ucap anak-anak bersamaan.

__ADS_1


"Sama-samaaa..." Jawab Zahrana sembari tersenyum senang.


Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga rumah itu. Suasananya masih canggung untuk saling bicara nyaman.


Zahrana mengatur napasnya sesaat sembari berpikir merangkai kata yang cocok untuk suasana saat itu.


"Bagaimana di sekolah, Kak?" Tanya Zahrana mengarah pada kakaknya.


"Biasa saja..." Jawab Rianur singkat. Bukan karena ia marah atau kecewa, tapi ia malu karena telah banyak merepotkan Zahrana dalam urusan pribadinya walau ia sudah menikah.


"Hmm... Terus, apa nggak terlalu jauh jika Kakak berulang dari rumah Kakak sekarang ke sekolah tempat Kakak mengajar?" Tanya Zahrana lagi.


"Ya, gimana lagi?"


"Kembalilah ke rumah ini, Kak..." Pinta Zahrana mulai memelas.


Kedua orang tua mereka hanya diam mendengarkan obrolan Zahrana dan Rianur. Mereka seolah memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk bisa mengambil keputusan, begitu pula suami Rianur sendiri.


Rianur diam tak menyahuti. Ekpresinya menunjukkan keberatan untuk itu.


"Terserah, Kak Zahra..." Ketus Muslim seraya berdiri hendak berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Bang Muuus..." Seru Hidayat dengan cepat sembari ikut berdiri.


"Eh, Yat..." Muslim menahan suara Hidayat dengan telunjuk kirinya mengarah tepat ke hadapan Hidayat. "Abang tahu kamu sudah besar dan berkuliah, tapi bukan berarti kamu bisa mengajari Abang, ya..." Tambahnya dengan bengis.


"Sudah, cukup... Kamu nggak perlu membahas ini lagi, Zahra." Ucap Rianur.


Melihat hal itu, suami Rianur segera membujuk Faiz dan Faiza untuk masuk ke dalam kamar yang biasa mereka tempati sebelumnya.


"Kemana akan kita buang hubungan darah daging ini? Sampai kapan kita tergores seperti ini, hmm? Apa tunggu retak dulu lalu pecah?" Tanya Zahrana dengan air mata berlinangan di pelupuk matanya.

__ADS_1


Semua bergeming.


"Duduklah, Mus... Dengarkan Kak Zahra untuk sekali lagi. Anggap ini permintaan Kak Zahra yang wajib kamu turuti, Dek..."


Muslim menurut untuk duduk, meski rahangnya masih mengeras dengan amarah yang tak mampu berdamai.


"Ketika kita dilanda masalah, jadilah seperti sapu lidi yang tidak bisa berbuat apa-apa jika hanya berdiri sendiri. Kita berempat beradik, mestinya bersatu untuk menyelesaikan sebuah masalah. Kita upayakan yang terbaik demi kebahagiaan ayah dan ibu." Zahrana berhenti sesaat. Lalu ia menoleh kepada Rianur yang menunduk di sisi sampingnya.


"Kak Rianur dan segala perbuatannya adalah contoh untuk kita, untuk kami, adik-adik, Kakak... Jadi, jangan ulangi lagi kekeliruan itu... Zahra bicara begini, karena Zahra tidak akan pernah tahu misteri mendatang yang mengarahkan Zahra kepada jalan yang salah."


Air mata Hidayat menelaga di pelupuk matanya. Ia begitu terharu dan bangga terhadap kakaknya yang bicara itu, bagai bidadari syurga yang diturunkan Allah ke tengah-tengah mereka, yang memang menjadi penengah.


Andai ia dapat berbicara dan melanggar janjinya kepada Zahrana, maka akan ia ceritakan kepahitan yang dilalui kakaknya itu kepada keluarganya. Tapi ia sungguh tidak bisa berkata apa-apa selain menjadi pengagum untuk kakaknya sendiri.


"Untuk Muslim dan Hidayat, wali kami, yang ikut bertanggung jawab akan kami semenjak kalian memegang kata baligh, Tegur lalu rangkul kami apabila kami salah... Kalian berhak dan berkewajiban untuk itu. Jangan menjauh dan memusuhi kami..."


Muslim bagai tertampar oleh kata-kata Zahrana. Pitam dalam dirinya membuncah.


"Bagaimana menasehati orang yang sungguh sulit dinasehati?" Ketusnya seakan gengsi membenarkan ucapan Zahrana.


"Astghfirullah hal Azhiim, Mus... Ini bukan perdebatan, Dek. Kamu bahkan lebih tahu dari pada kakak. Bukankah kita sama-sama pernah mendengar sebuah hadis yang mengatakan, 'Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.' Kamu juga ikut mendengarnya, kan, Dek? Hadis Riwayat Abu Dawud nomor 4800. Hadis Sahih..." Tutur Zahrana begitu bijaksana. Tubuhnya bergetar, berusaha membuat adik yang di bawah dirinya itu mengerti.


Muslim terdiam. Hatinya mulai melunak, tampak dari raut wajahnya yang semula begitu tegang menggambarkan amarah yang bersembunyi di dalam dadanya.


"Marilah kita saling memaafkan, dan memiliki janji kepada hati kita masing-masing untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, ataupun kesalahan-kesalahan lainnya. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya. (HR Muslim nomor 2588)" Tambah Zahrana dengan berurai air mata.


"Maafkan Rianur, Yah, Bu..." Ucap Rianur yang sudah tidak mampu lagi menahan isak tangisnya. Ia berjalan perlahan medekati kedua orang tuanya, dan bersimpuh disana.


Dari dalam kamar, suami Rianur keluar sendirian, lalu ia mengikuti perbuatan istrinya untuk meminta maaf sebagai sosok suami dan menantu di rumah itu.


"Maafkan Muslim, Kak..., Bang Ed..." Muslim juga mengalah. Hatinya yang semula dipenuhi dendam dan amarah, tiba-tiba menjadi lapang. Ia mendekati Rianur dan kakak iparnya, lalu menyalami mereka.

__ADS_1


Suasana yang canggung pada sebelumnya, masih tetap canggung. Namun bukan lagi canggung yang dipenuhi permusuhan, melainkan canggung karena mereka baru saja saling maaf-memaafkan.


Zahrana, ia yang berbahagia saat itu. Rumahnya berasa bagai syurga kembali setelah keharmonisan di antara mereka berempat beradik kakak sempat hilang ditelan amarah.


__ADS_2