
Ajis berulang kali membuka laci bofet di samping tempat tidurnya. Wajahnya terlihat bingung seolah sedang berpikiran keras tentang sesuatu.
Perasaan semalam taruhnya disini... Batinnya.
"Abang lagi ngapain disitu?" Tanya Zahrana keheranan ketika suaminya berjongkok di samping tempat tidur. Ia sendiri melupakan hal temuannya semalam di dalam laci bofet itu.
Ajis begitu terkejut, ia segera berbalik menghadap kearah Zahrana yang baru saja masuk ke kamar. "Eh? Ummm... Abang tidak lagi ngapa-ngapain kok, Sayang..." Jawabnya tampak begitu gugup.
Zahrana mendekat.
"Terus, ngapain Abang berjongkok disitu? Lagi nyari sesuatu, kah?" Tanya Zahrana lagi. Ia mulai mengingatnya, dan bertanya seolah memancing reaksi Ajis.
"Tidak..." Jawab Ajis seraya bangkit lalu duduk di tepi kasur.
"Abang menyembunyikan sesuatu ya, dari Zahra? Abang lupa, semalam Abang minta Zahra tidak menyembunyikan apa pun dari Abang, kan?"
"Apa Sayang yang menemukannya?" Ajis balas bertanya dengan ragu-ragu.
"Mulailah dari awal menceritakannya kepada Zahra, Abang... Zahra tidak harus bertanya, bukan?" Pinta Zahrana sambil duduk mengikuti Ajis, lalu menggenggam tangan suaminya itu dengan perasaan yang begitu dalam.
"Abang yang salah, Dik... Abang yang memiliki kekurangan itu. Abang yang tidak subur..." ungkap Ajis dengan wajah menunduk. Hatinya begitu pilu mengakui hal itu.
"Darimana Abang bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Zahrana tidak yakin, tepatnya ia tidak mau percaya. Ia ingin suaminya itu tetap bersikap layaknya lelaki yang sempurna di hadapannya, bukanlah lelaki lemah yang memiliki kekurangan. Namun jika itu benar, ia sama sekali tidak mempermasalahkannya.
"Sebelum pulang dari belanja, Abang mampir dulu ke rumah sakit disana. Dan kata dokter..."
"Cukup, Abang... Zahra tidak mau mendengar apa pun... Zahra tidak peduli dengan apa yang terjadi. Namun yang jelas, Zahra ikhlas dengan apa yang menjadi keputusan Allah... Mau Abang memiliki kekurangan atau tidak, bagi Zahra Abang tetaplah sempurna. Abang tidak perlu sejauh itu melangkah..."
Zahrana bangkit lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Disana ia mengambil botol obat hasil temuannya semalam.
"Abang, lihat!" Seru Zahrana sembari menghadapkan botol temuannya itu ke hadapan Ajis. "Efek sampingnya berbahaya..." Cetus Zahrana sembari menunjuk-nunjuk keras tulisan di botol itu.
"Lalu Abang harus apa, Dik? Abang tau betul Adik sangat menginginkan kehadiran malaikat kecil di rumah ini, sementara Abang tidak bisa memenuhinya. Abang juga tau selama ini Adik diam-diam sakit ketika kita selesai berhubungan, namun yang selesai disini hanya Abang, sementara Adik menanggung ketidaknikmatan itu sendiri."
"Bohong jika Zahra bilang itu tidaklah benar, Abang..." Jawab Zahrana lirih. "Bohong jika Zahra baik-baik saja setelah kita usai berhubungan... Tapi, tidak ini solusinya."
"Lalu bagaimana, Adik?" Sela Ajis terdengar pasrah.
"Apa hanya Zahra yang menginginkan kehadiran malaikat kecil di rumah ini? Abang tidakkah juga?" Tanya Zahrana memelas. Ia menatap sendu wajah Ajis yang masih menunduk.
"Abang...?" Panggil Zahrana lagi.
__ADS_1
"Abang tidak peduli kita hanya akan berdua selamanya, Adik... Yang Abang takutkan, Adik pergi karena Adik tidak pernah bisa merasakan kenikmatan yang sesungguhnya dari Abang." Ucap Ajis melemah. Ia benar-benar merasa tengah berada di titik terendah sebagai lelaki yang mengungkapkan kekurangannya kepada istrinya sendiri.
Ia berpikir, ia tidak layak untuk dipertahankan, sehingga ia begitu pasrah dan tampak terpukul seperti itu.
Zahrana meraih tangan Ajis lalu menggenggam jemari suaminya itu. Ia menggeleng dengan air mata telah berderai banyak di pipinya.
"Zahra tidak pernah membatasi Abang untuk berbuat apa pun. Abang boleh melakukan apa saja, tapi jangan pernah membuat Abang terluka sendiri karenanya. Zahra tidak akan kemana-mana... Zahra akan selalu di sisi Abang, hingga nafas Zahra berhenti. Dan Abang, hanya cukup memepercayai itu saja... Bagi Zahra, Faiz dan Faizah sudah membuat rasa ingin Zahra memiliki keturunan tidaklah terlalu besar. Mereka adalah anak-anak Zahra yang memanggil Zahra dengan sebutan ibu, dan Abang tidak mengapa, kan? Hmmm?"
Zahrana menggamit pipi Ajis, lalu memaksa wajah suaminya itu menatap kearah dirinya.
"Zahra sayang Abang... Karena Allah... Karena Rasulullah..." Ucap Zahrana.
"Abang juga sayang Adik... Karena Allah, karena Rasulullah..." Ucap Ajis menyahuti Zahrana.
"Jika kita ada waktu, kita akan konsultasi bareng dengan jalan yang lebih aman. Abang janji jangan melakukan ini lagi, ya... Kita buang obat ini, ya..."
Ajis mengangguk. "Maafin Abang..."
Zahrana tersenyum sembari mengangguk. "Ayo istirahat, Abang pasti lelah seharian di kios..." Ajak Zahrana seraya menarik lembut lengan Ajis untuk bergeser ke tengah-tengah tempat tidur.
Zahran duduk berselonjoran sambil bersandar di tempat tidur itu, lalu ia menepuk-nepuk pahanya agar Ajis merebahkan kepala di atas pahanya.
Ajis menurut. Hatinya masih terasa sesak meski Zahrana telah mengakui untuk menerima segala kekurangannya, namun ia tetaplah tidak sempurna sebagai seorang pria.
Ajis mengangguk dalam pangkuan Zahrana.
Zahrana meraih ponselnya di samping tempat tidurnya itu lalu menyetel sesuatu.
"Shallallahu ala muhammad
Shallallahu alaihi wasallam
Shallallahu ala muhammad
Shallallahu alaihi wasallam
Asyraqal badru alayna.
Fakhtafat badrut tamami
Mitslahus nikma roayna .
__ADS_1
qottuya wajha sururi
Shallallahu ala muhammad
Shallallahu alaihi wasallam
Shallallahu ala muhammad
Waala alaihi wasallam
Rabbi faj'al mujtama'na
Ghoyatuhusnul khitami
Wa'thina maqod sa alna
Min atho ya kaljisani
Tholaal badru alayna
Mintsani yatilwada
Wajaba syukru alaina
Madaa lillahida
Ayyuhal mabu tsufina
Jitabil amril mutho
Jitasyaroftal madinah
Marhaban ya khoirodai."
Ajis terlelap di pangkuan Zahrana, napasnya terdengar halus membuat Zahrana tersenyum memandangi wajah damai suaminya itu. Ia kembali membuka ponselnya dan menyetel sesuatu.
.
.
.
__ADS_1
.
.