SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KETETAPAN ILLAHI


__ADS_3

Ajis keluar dari ruangan Zahrana. Ia bersandar rapuh ke dinding samping pintu, lalu tubuhnya berangsur ia jatuhkan ke lantai. Ia terisak sambil menutup penuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Maira berlari menghampiri Ajis. "Kakak, bagaimana keadaan Kak Zahra? Apa kak Zahra sudah mulai membaik?" Tanya Maira sambil mengguncang tubuh kakaknya itu. Ia begitu tak sabaran menanyai keadaan Zahrana. Ia tersenyum berharap mendengar penjelasan yang menggembirakan dari kakaknya itu, namun beberapa kali lengannya menyeka air matanya yang sedari tadi tidak berhenti berjatuhan.


Semuanya ikut menunggu jawaban dari Ajis, namun Ajis malah tidak menjawab. Ia masih larut dalam perasaan sakit di dadanya.


Dari kejauhan tampak seorang dokter bersama beberapa suster mendekat kearah ruangan Zahrana.


"Ah, ada dokter... Pasti dokter itu mau periksa kak Zahra..." Gumam Maira sambil tersenyum kegirangan. Ia memilih berdiri menunggu kedatangan dokter itu.


Ajis tiba-tiba tersentak mendengar ucapan adiknya. Ia segera mengeluarkan wajahnya dari telapak tangannya lalu bangkit dan berdiri di depan pintu.


"Dokter mau apa?" Tanya Ajis terlihat panik. Ia seolah menghadang dokter itu agar tidak masuk ke dalam.


"Sudah waktunya untuk memeriksa keadaan pasien..." Jawab dokter itu dengan ramah.


"Tidak perlu, dok... Istri saya baru saja tidur. Dia sangat kelelahan, dok..." Cegah Ajis sambil merentangkan kedua tangannya memenuhi pintu. Ia seolah sengaja menghalangi dokter itu untuk masuk.


"Maaf, Pak... Kami harus periksa pasien sekarang juga. Jangan halangi tugas kami..." Tegas dokter itu berusaha membujuk Ajis dengan suara melunak.


Semua terlihat kebingungan menyaksikan tingkah Ajis. Dan pada saat itulah hati Umayyah terasa remuk. Ia mulai mengerti apa yang telah terjadi.


Umayyah bergegas menghampiri menantunya itu, lalu mengusap lembut pundak Ajis. Beliau berusaha membujuk Ajis untuk ikhlas dengan keputusan Illahi.

__ADS_1


Ajis menggeleng. Ia tetap bertahan pada pendiriannya.


"Semua terluka, Nak... Hati seorang ayah juga terluka saat ini. Biarlah, Nak... Ketetapan Allah memang tidak selalu sama seperti yang kita inginkan..." Bujuk Umayyah lagi. Beliau menarik lembut lengan Ajis untuk segera memberi lewat kepada dokter dan para suster itu.


Ajis memang menurut, namun ia tiba-tiba meraung sejadi-jadinya.


Melihat hal itu, Maira tercengang. Ia menoleh ke dalam dan memerhatikan pekerjaan para dokter. Para medis di dalam tampak sendu, dan dokter itu juga terlihat menggeleng ketika memeriksa denyut nadi Zahrana.


"Apa ini?" Ringis Maira. Ia bergegas hendak masuk ke dalam. Namun lengannya dengan cepat dicekal oleh Hidayat.


"Sabar, Maira..." Ucap Hidayat berusaha menenangkan adik ipar kakaknya itu.


"Kak Zahra, Bang... Kak Zahra nggak boleh pergi... Maira nggak mau... Maira nggak bisa tanpa kak Zahra sekarang..." Erang Maira. Ia tersedu-sedu, bahkan sampai terbatuk-batuk karenanya. Rona wajahnya sampai memerah meluapkan perasaan berdukanya.


Hidayat juga merasa terpukul. Namun saat itu ia sangat iba melihat Maira. Dia tahu Maira sangat menyayangi Zahrana seperti ia menyayangi kakaknya, bahkan ia berpikir lebih.


Tubuh Maira menggigil dalam dekapan Hidayat. Dia tidak peduli saat itu pujaannya mendekap dirinya, yang ia pikirkan hanya Zahrana. Ia tersesu-sedu hingga tubuhnya terguncang.


Semua menangis. Mereka telah mengerti bagaimana kondisi Zahrana. Hanya Hidayat yang tampak tenang, meski air matanya juga berkali-kali ia seka sedari tadi.


Ketegaran Hidayat membuat ia masih mampu berpikir jernih dan menelepon keluarga dekatnya yang di kampung. Hidayat juga mengabarkan berita duka itu kepada Aridiansyah, dan meminta saudara sesusuan kakaknya itu untuk memberitahukan kepada kedua orang tuanya.


Hanya kepada Arya Hidayat ragu, dan pada akhirnya tetap enggan mengabarkannya. Dia juga sudah berjanji bahwa lusa dari kemarinnya untuk pergi ke kampung bersama Arya, dan mungkin pada hari itu pula lebih baik bagi Arya mengetahui kepergian Zahrana.

__ADS_1


Jenazah Zahrana sudah diizinkan untuk dibawa pulang pagi itu. Sesuai permintaan Ajis, Zahrana akan disemayamkan di belakang rumah yang tiga tahunan itu mereka tempati berdua.


Para tetangga begitu terkejut mendengar sirine ambulan memasuki komplek perumahan mereka. Dan tambah mengejutkan lagi ambulan itu berhenti di kediaman sepasang istri yang mereka kenal sangat ramah dan baik hati.


"Ada apa ini, Nak Ajis?" Bu Yanti, tetangga dekat Ajis datang tergopoh-gopoh dengan raut cemas menghampiri Ajis yang baru saja turun dari dalam mobil ambulan. Beliau juga tahu bahwa semalam sepasang suami istri itu tidak berada di rumah tanpa kabar seperti sebelum-sebelumnya, yang apabila jika mereka hendak bepergian, maka Ajis akan bersorak meminta bu Yanti menjagai rumahnya dari sebelah.


"Dik Zahra, Bu... Dik Zahra saya sudah tidak ada..." Jawab Ajis melemah. Ia kembali terisak hebat.


"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun..." Ucap bu Yanti dengan wajah tegang seolah tak percaya. "Memangnya apa yang terjadi kepada Nak Zahra?" Tanya bu Yanti butuh kejelasan.


"Dik Zahra sakit, Bu..." Jawab Hidayat dengan terisak-isak. Ia kemudian berusaha keras menetralkan napasnya kembali. "Tolong sampaikan ya, Bu, kepada tetangga... Insya Allah jenazah akan diselenggarakan di rumah ini saja." Pinta Ajis.


"Baiklah, Nak... Kamu yang tabah dan ikhlas... Insyaa Allah Nak Zahra sudah tenang sekarang." Ucap Bu Yanti dan diangguki dengan berat hati oleh Ajis.


Tidak lama setelah kepergian bu Yanti, terdengar himbauan dari toa masjid komplek itu tentang kabar meninggalnya Zahrana. Tidak membutuhkan waktu lama, para pelayat sudah memenuhi rumah mini malis itu.


Meski mereka orang perantau disana, namun masih banyak yang berduyun untuk melayat. Karena memang pasangan itu terkenal penyapa dan ramah. Karyawan Ajis dan beberapa tetangga kiosnya juga terlihat hadir di rumah itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2