
Sarapan pagi kali itu terlihat tak bersemangat untuk Zahrana. Pikirannya begitu kacau. Ada hal yang ingin dia utarakan pada suaminya, namun ia ragu. Ya, tentang permintaan Arya untuk pertemuan mereka siang nantinya.
Dugaannya terhadap cara pandang Arya kepadanyalah membuat ia merasa tak enak hati pada Ajis, suaminya sendiri. Ia takut jika suaminya itu tahu dan malah salah paham terhadap dirinya.
"Sayang kenapa seperti tidak berselera begitu? Apa perut Sayang sakit lagi?" Tanya Ajis yang sedari tadi memang memerhatikan Zahrana.
"Eh? Eng-gak kok, Bang... Perut Zahra nggak lagi sakit..." Jawab Zahrana dengan gugup.
"Bener?"
"Iya, Abang... Zahra baik-baik saja kok, Bang..."
"Ya sudah... Buruan habiskan sarapan sayang, biar kita bisa ke kios setelah ini."
"Emmm... Sebenarnya ada yang ingin Zahra katakan sama Abang..." Ucap Zahrana terlihat sungkan.
"Sayang mau bicara apa? Kok gugup begitu? Bicaralah! Abang akan dengar..."
"Apa hari ini Abang masih sibuk?" Tanya Zahrana ragu-ragu.
"Emm, lumayan sih... Siang ini ada pertemuan dengan pelanggan. Katanya, dia ingin Abang lansung yang melayaninya... Kenapa, Sayang? Sayang butuh sesuatu?"
"Sebenarnya Arya ngajak ketemuan siang ini, Bang... Di 'kampoeng Rotan', katanya..."
Deg.
Kampoeng rotan? Kok tumben ketemuannya di cafe-cafe begituan? Ada apa sebenarnya? Astaghfirullah, ampuni hamba yaa Allah... Jauhkan hamba dari segala prasangka buruk... Istri hamba sangat mencintai hamba, dan hamba percaya itu.
Ajis menghentikan suapannya, lalu mereguk air minum di hadapannya saat itu.
"Zahra ingin Abang yang temani. Tapi kalau Abang tidak bisa, Zahra pergi sama Hidayat saja. Itu pun, kalau Abang izinkan." Ucap Zahrana berterus terang.
"Emmm bagaimana ya? Abang juga sudah terlanjur berjanji sama pelanggan. Apalagi dia juga sempatkan datang jauh-jauh untuk memilih sendiri barang yang mau di beli." Jawab Ajis tampak kebingungan.
"Langganan Abang yang biasa minta barang lewan telepon itu ya?"
__ADS_1
"Iya, Sayang... Dan kali ini katanya mau turun langsung..." Sahut Ajis membenarkan. "Kalau Hidayat saja yang temani Sayang, gimana?"
"Tidak mengapa memangnya?" Zahrana balik bertanya sambil menatap Ajis dengan takut-takut.
"Memangnya Abang harus mengapa? Lagian Arya udah banyak berjasa, bukan? Adik temui saja." Jawab Ajis berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Hemm, baiklah... Nanti Zahra hubungi Hidayat. Hari ini Zahra tidak ikut ke kios saja ya, Bang... Takutnya Abang nanti nggak bisa antar Zahra pulang." Ucap Zahrana, lalu ia kembali menyuapi sarapannya yang sempat ia tangguhkan.
"Iya, Sayang juga bisa istirahat di rumah... Nanti kabari saja Abang kalau sayang mau berangkat..."
Entah mengapa hari ini begitu berat. Setiap kali melihat wajah istri hamba, hamba selalu merasa ada hal yang tengah ia sembunyikan dari hamba Yaa Allah... Tunjukkanlah kepada hamba kebenaran itu, dan biarkan hamba mengambil keputusan setelahnya atas petunjuk-Mu pula...
Ajis berangkat ke kios dengan pikiran begitu kacau. Hatinya merasa gundah setiap kali mengingat kegugupan Zahrana ketika bersikap kepadanya dari semalam. Namun rasa cemburu semakin memuncak ketika Zahrana menyebut nama Arya tadi paginya.
Seperti biasa, kios selalu ramai. Banyak pelanggan dekat ataupun jauh yang berkunjung untuk membeli barang secara grosir disana. Pemikiran tentang Zahrana dapat ditangguhkan sementara oleh Ajis.
Sementara di rumah, Zahrana juga sibuk berkemas. Rumah tampak rapi dibuatnya dalam sekejap. Ia merasa surganya itu benar-benar menakjubkan. Hasil jerih payah suaminya sebelum menikah dengan dirinya, dan dipersembahkan hanya untuk dirinya.
Zahrana melirik kearah jarum jam yang bergelayut di dinding kamarnya. Ia baru menyadari waktu zuhur hampir masuk siang itu. Ia bergegas menyiapkan pakaian untuk dipakainya siang itu bertemu dengan Arya Irawan.
"Ya ampun, bisa-bisanya Zahra lupa nelpon Hidayat. Kalau dia sibuk bagaimana?" Zahrana berdumel sendiri. Ia bergegas mengambil ponselnya dan menelepon Hidayat.
Ponsel Hidayat berdering. Ia menutup buku milik Zahrana dan bergegas mengambil ponselnya itu.
"Kak Zahra?" Gumamnya seraya bangkit dari baringnya.
"Assalamu'alaikum, Kak Zahra..." Sapanya sambil mene8kan ruas tepi matanya yang sedikit perih karena keasikan membaca sedari tadi.
"Wa'alaikum salam, Yat... Hari ini kamu kemana, Dek? Kamu sibuk nggak?" Terdengar sahutan kakaknya dari seberang.
"Nggak sih, Kak... Hari ini Hidayat free. Kenapa, Kak?"
"Bisa temani Kak Zahra ketemu Arya nggak, ba'da Zuhur nanti?"
"Loh, Kak Zahra tumben ngasih kabarnya dadakan begini? Biasanya jauh-jauh hari ngasih tahunya..." Tanya Hidayat beraut bingung. Dia benar-benar merasa ada sesuatu yang aneh pada kakaknya kali itu.
__ADS_1
"Iya, Dek... Tadi pagi Kak Zahra lupa. Soalnya Kak Zahra berharap Bang Ajis bisa temani Kakak. Eh, rupanya ada pelanggan yang turun hari ini..."
"Owh, begitu... Tapi kita ketemuannya disana saja ya, Kak... Motor Hidayat masih di bengkel. Masih belum baik..."
"Iya, Baiklah... Nanti Kak Zahra kirim alamatnya ya, Dek... Terima kasih..."
"Iya, sama-sama, kakak..."
"Ya sudah... Kak Zahra tutup dulu ya, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Jawab Hidayat. Telepon diakhiri Zahrana dari seberang.
Hidayat melirik jam dinding di kamar kostnya itu.
"Astaghfirullah... Sudah mau Zuhur... Yaaa, ditangguhkan lagi deh... Tapi nggak apa lah, nanti di taxi bisa lanjut lagi." Gumam Hidayat seraya bangkit dari kasur mini yang ditempatinya saat itu.
Ia mulai berkemas, dan tidak lupa meletakkan buku milik Zahrana berdekatan dengan ponsel dan ransel selempang yang biasa ia bawa kemana-mana, agar buku itu tidak ketinggalan nantinya pas ia mau pergi.
.
.
.
.
.
Sesuai janji Radetsa bakal upload 3 eps.
Tapi likenya per bab ya... Hehehe...
Tungguin terus kisah Zahrana ya teman2...
Dan pastinya selalu sabar.
__ADS_1
Karena Radetsa masih kurang sehat...
Salam satu layar