SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
DIHAKIMI HIDAYAT


__ADS_3

Hidayat masih mematung memandangi wajah kakaknya yang pucat di pembaringan. Kantung mata yang berisi dan terlihat lingkaran panda yang pekat berjejak di bawah mata Zahrana benar-benar tampak menyedihkan di hatinya.


"Hidayat? Kamukah itu, Dek?" Tanya Zahrana menatap samar kearahnya. Karena Zahrana masih menampaki dua bayangan manusia di ruangan itu.


"Kenapa tidak mendekat seperti yang lainnya, huh? Apa kamu masih marah sama kakakmu ini?" Tambah Zahrana mulai bersimbah air mata penuh kesedihan.


"Kak Zahra tahu kalau Kak Zahra salah, tapi tolong maafin Kakak... Kakak tidak berniat membentak kamu kemarin..." Ucap Zahrana lagi berusaha menjelaskan, karena Hidayat masih bergeming di posisinya.


"Hidayat!" Panggil Zahrana masih terus berusaha.


"Hidayat benar-benar marah sama, Kak Zahra... Kalau bisa, Hidayat tidak akan menegur Kak Zahra lagi seumur hidup..." Ketus Hidayat baru menjawab. Dia terlihat murka, namun ia terisak mengatakan hal itu.


Zahrana tercengang. Tidak pernah adik bungsunya berkata seperti itu kepada dirinya pada sebelum-sebelumnya.


"Berarti Kak Zahra benar-benar telah menyakiti hatimu ya?" Tanya Zahrana tersedu. "Maafin Kak Zahra... Kak Zahra tidak bermaksud..."


"Jika membentak Hidayat membuat Kak Zahra bahagia, bentak Hidayat sepuas Kak Zahra... Maki Hidayat... Jika perlu, sumpah serapahi, Kak..." Potong Hidayat cepat.


"Yaaat..." Lirih Ajis menengahi.


"Cukup, Bang... Jangan bela Kak Zahra untuk kali ini. Kak Zahra sudah buat Hidayat jatuh pada kekecewaan yang teramat dalam. Kak Zahra tega menyembunyikan ini dari kita..." Suara Hidayat semakin mengeras. Ucapannya begitu lantang dan tegas.


"Memangnya apa yang Kakak sembunyikan dari kalian, hmm?" Tanya Zahrana masih terlihat tidak mengerti. Dia sama sekali tidak berpura-pura, hanya saja dia sempat melupakan penyakit apa yang saat itu ia derita.

__ADS_1


"Kak Zahra masih saja ingin bersembunyi? Tidakkah seharusnya Kak Zahra sudah menceritakannya sekarang? Ayolah, Kak Zahra..." Dengus Hidayat tampak habis akal melihat kakaknya yang tak kunjung mau mengaku.


"Yaaat..." Panggil Ajis lagi dengan memelas.


"Astaghfirullaah..." Ucap Hidayat mendesah. Ia perlahan mendekati posisi Zahrana lalu menggenggam tangan kakaknya yang lemah.


"Kak Zahra sakit, kan?" Tanya Hidayat mulai melunak. Ia menatap lekat wajah Zahrana yang mulai terlihat gelagapan oleh pertanyaannya.


"Eh?"


"Sudah, Kak... Tidak usah berkilah lagi. Kami sudah tahu semuanya..." Ucap Hidayat kembali terisak. Ia membenamkan wajahnya ke telapak tangan Zahrana. Sementara Ajis membuang muka menyembunyikan tangisnya.


"A-abang..." Panggil Zahrana pada suaminya. Zahrana mulai terlihat kebingungan setelah menyadari bahwa dirinya telah tertangkap basah menyembunyikan kondisinya dari siapapun.


"Cukup, Kak... Bang Ajis orang yang paling terluka saat ini. Bujuklah bang Ajis, dan berjanjilah untuk baik-baik saja. Pasti bang Ajis akan memaafkan, Kak Zahra." Potong Hidayat sambil terus mengelus tangan Zahrana.


"Sekarang Hidayat keluar dulu. Maafin Hidayat ya... Hidayat sudah lancang membaca buku Kak Zahra..." Ucap Hidayat lagi.


"Bu-buku?" Zahrana tergugup.


"Iya, Kak... Buku Kak Zahra ada pada Hidayat. Hidayat tidak sengaja menemukannya waktu di kampung, tapi Hidayat malah sengaja tidak mengembalikannya kepada Kak Zahra sesegera mungkin. Dan kurang ajarnya Hidayat, tanpa seizin Kak Zahra Hidayat malah membacanya. Maafin Hidayat, Kak..." Sesal Hidayat.


Zahrana menoleh kearah bayangan Ajis untuk sesaat, lalu beralih kepada Hidayat lagi.

__ADS_1


"Sekarang buku Kak Zahra dimana? Kak Zahra jadi malu, banyak hal pribadi di dalamnya..." Ucap Zahrana tampak malu-malu.


"Ada sama Bang Ajis..."


"Hah? Yaa Allah, Dek... Kak Zahra kan jadi malu..." Ucap Zahrana panik.


"Kak Zahra tampak sehat kalau begini... Hidayat keluar dulu ya... Kakak pasti tenang jika bersama bang Ajis. Bang Ajis akan temani Kak Zahra." Pamit Hidayat seraya mencium tangan kakaknya itu.


"Terima kasih ya, Dek... Kamu paling mengerti Kakak. Maafin Kak Zahra ya..." Ucap Zahrana.


Hidayat tak menyahut. Dia hanya mempererat genggaman tangannya kepada Zahrana, lalu bangkit dan keluar dari ruangan itu dengan berat hati.


Zahrana hanya mematung memandangi bayangan suaminya yang masih belum juga menghampiri dirinya setelah kepergian Hidayat dari sana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2