SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KE RUMAH MERTUA


__ADS_3

"Hari ini ada acara ke mana?" Tanya Zainab pagi itu.


"Kami berencana ke rumah Bang Ajis, Bu. Silaturahim, sekalian hendak pamit." jawab Zahrana.


"Pamit?" Dahi ibu sampai berkerut mendengar ucapan putrinya itu, begitu pun dengan Umayyah sendiri.


"Iya, Bu, Yah... Besok Ajis sudah berniat mengajak Zahrana ke rumah kami, soalnya Lusa Ajis sudah harus buka kios, Bu. Ajis sudah terlanjur janji ke pelanggan..." Timpal Ajis ikut menjelaskan kepada kedua orang tua Zahrana.


"Oh begitu..." Ucap Bu Zainab mengerti.


"Iya, Bu... tidak mengapa kan, Bu?" Tanya Zahrana berharap.


"Tentu tidak mengapa, nak." Umayyah, ayah Zahrana yang menyahut. "Kamu itu sudah menjadi hak dan tanggung jawab suamimu secara penuh. Jadi, kemanapun suamimu akan membawa dirimu, Kamu mesti ikut dengannya. Selagi jalan yang suamimu tempuh, tidak melewati batas kebaikan." tutur beliau menasehati Zahrana.


"Iya, Ayah..."


*****


Di sepanjang perjalanan, Zahrana dan Ajis tidak banyak bicara. Zahrana cukup diam di belakang kemudi.


Ajis hanya memiliki kendaraan roda dua, motor matic dengan suara mesin yang lembut tanpa membuat keributan di sepanjang jalan. Kesunyian yang tercipta diantara mereka berdua semakin memperkuat suasana canggung yang tak kunjung berujung.


Rasa pegal yang menggerayang pinggang Zahrana lantaran posisi duduknya menyamping dan tanpa berpegangan sekalipun, ditambah lagi jarak yang mereka tempuh cukup jauh dan membutuhkan waktu sampai sejam lebih. Sesekali Zahrana memijat lembut lehernya yang juga terasa pegal karena menahan beban helm yang dipakainya untuk melindungi kepalanya dari hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi.

__ADS_1


Tiba-tiba Ajis menghentikan motornya. Hal itu membuat Zahrana kebingungan, namun rasa canggung membuatnya enggan untuk bertanya meski dia tahu bahwa mereka belum sampai di rumah keluarga Ajis.


"Adik, capek?" tanya Ajis lembut. Padahal dia sendiri sudah merasakan kegelisahan yang diciptakan oleh istrinya itu.


"Oh... Emm... Sedikit, Bang." Jawab Zahrana sungkan.


"Kita istirahat sebentar di warung itu ya?" Telunjuk Ajis mengarah ke warung dekat mereka berhenti.


Zahrana hanya mengangguk, lalu turun dari motor itu dan berjalan mengikuti langkah suaminya.


Warung lesehan di tepi jalan itu menyediakan berbagai minuman dingin, dan Ajis memesan dua gelas jus jeruk ketika mereka telah memasuki warung itu.


"Maaf ya, Dik... Abang hanya bisa bawa adik pakai motor." ucap Ajis merasa bersalah.


"Terima kasih, Adik. Adik sudah mau mengerti abang..." Ucap Ajis, kemudian ia menyeruput jus jeruk yang sudah dipesannya tadi.


Perjalanan kembali mereka lanjutkan setelah rasa lelah hilang. Cukup dua jam, mereka sampai di kediaman keluarga Ajis.


"Assalamualaikum..." Ucap Ajis yang diikuti Zahrana ketika mereka memasuki rumah sederhana milik keluarga Ajis.


"Wa'alaikumussalam..." sahut banyak orang dari dalam rumah dengan suara gembira menyambut kedatangan mereka berdua.


"Khumairah... Khumairah... kemari, Nak... Kakak dan Kakak iparmu datang..." seru seorang wanita paruh baya.

__ADS_1


"Iya, Bu..." terdengar sahutan dari dalam.


Baru saja Zahrana menginjakkan kakinya di sana, ia sudah mampu merasakan kehangatan dalam keluarga itu. Semua penghuni rumah itu memperlakukan dirinya begitu ramah dan baik.


Khumairah, gadis yang tampaknya masih berusia delapan belas tahunan itu awalnya memang malu-malu. Ia hanya mau menggamit kakaknya saja, dan sesekali curi pandang ke arah Zahrana yang juga tampak pendiam dan tidak banyak bicara.


"Maira masih sekolah?" tanya Zahrana mau tidak mau mengajak adik iparnya ngobrol terlebih dahulu. Dia memang belum tahu detail tentang keluarga Ajis, karena pernikahan mereka yang tanpa melalui pacaran, melainkan ada dua belah pihak yang mempertemukan mereka satu sama lain.


"Maira kuliah, Kak. Semester dua." jawab gadis itu malu-malu.


"Jurusan apa, Dek?" Tanya Zahrana lagi.


"Sastra, Kak..."


Ajis tampak senang melihat kedekatan istrinya itu dengan keluarganya. Dia begitu bangga melihat Zahrana yang tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk berbaur dengan kedua orang tua dan adik semata wayangnya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2