Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Fobia


__ADS_3

Jangan lupa L I K E, K O M E N & V O T E ❤


..


..


..


Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi mendung, seakan mewakili perasaan Nana saat ini. Mulanya air hujan menetes dengan tenangnya, tapi kemudian ia mulai bergemuruh. Nana yang sedang berbaring di atas kasurnya kemudian bangkit, lalu mengambil langkah menuju balkon rumah.


Nana membuka pintu. Anginnya berhembus sangat kencang, sampai-sampai menusuk kedalam kulitnya.


Ia menghirup aroma hujan, sambil menjulurkan tangannya, ia menatap langit yang kian menggelap.


Saat hujan turun yang terkena tanaman, tapi yang subur malah kenangan. Nana terlihat murung.


"Rasa ini yang tertinggal, selamanya memberikan luka pada hatiku. Ketika hujan menyapa, sesakku terulang.. Hah (menghela nafas) Beberapa hari ini aku terlalu fokus pada pelarianku ke Korea (sedih) .. Hampir lupa bahwa Daren dan kak Rona telah mengkhianatiku, sampai-sampai dengan tidak tahu malunya mereka mengumumkan pernikahannya secara resmi". Gumam Nana.


Triingg.. Triiingg..


Sebuah pesan masuk.


Nana mengambil ponsel dan membuka pesan itu.


'Jangan larut dalam kesedihan. Aku tidak akan membuat hatimu tak bertuan, aku yang akan menjadi penghuni baru, nantinya .... D.A'


"Siapa itu D.A? Mengapa dia bisa mengetahui aku sedang bersedih? Penghuni baru apa maksudnya? Ah (memegang keningnya).. Mungkin seseorang salah sambung". Nana melemparkan ponselnya ke atas kasur. Kemudian ia pun berbaring lagi dengan memeluk guling.


Kriing.. Kriing..


Suara panggilan teleon masuk.


Nana melihat siapa yang menelponnya, dia terheran. Nomor yang tadi mengirimi pesan padanya, sekarang malah meneleponnya.


"Halo?". Ucap Nana di telpon.


"Nana, perintahkan pelayan untuk membuat makan siang yang spesial untukku, lalu kau yang antar ke perusahaan DJ Entertainment. Pengurus Feng yang akan mengantarkanmu kesini. Ingat, kau hanya mengantar makanannya saja, bukan membuatnya". Langsung menutup panggilannya.


Nana terkejut, ternyata yang mengirimi pesan dan menelepon dia adalah bosnya. Belum juga mengatakan apapun dia langsung memutuskan begitu saja panggilannya.


Tapi Nana mengabaikan ucapan Djordi, dia tidak memerintahkan pelayan untuk membuat makan siang bosnya. Nana langsung pergi ke dapur membuat sesuatu yang spesial untuk bosnya, memaksakan tangan kirinya yang sedang sakit.


"Emm ,, aku tidak tahu apa yang akan aku masak untuk bos (berpikir keras) .... Hehe (tiba-tiba saja tersenyum) Aku tahu harus membuat apa sekarang, akan ku tunjukkan bakat memasakku yg terpendam, semoga bos suka dan memberiku bonus". Gumam Nana sambil tersenyum penuh makna.


Tidak lama kemudian Nana merapihkan kotak makanan dan mengganti bajunya.


Setelah mengganti baju, Nana menemui pengurus Feng yang dari tadi sedang menunggunya di luar rumah.


"Silahkan Nona". Pengurus Feng mempersilahkan Nana masuk ke dalam mobil, dengan membukakan pintu mobil.


Nana membalasnya dengan senyuman.


Saat di perjalanan menuju kantor bosnya, Nana terus memandangi kotak makanan itu sambil tersenyum-senyum.


..

__ADS_1


..


"Nona, kita telah sampai". Ucap pengurus Feng.


"Ah? Iya iya (tersadarkan) terima kasih pengurus Feng". Nana membuka pintu mobil.


"Tidak perlu merasa sungkan, Nona". Bantahnya.


Kemudian, Nana berjalam masuk ke dalam. Terlihat resepsionisnya seorang wanita muda, menggunakan pakaian sangat rapih lalu ia bertanya pada resepsionis itu.


"Saya ingin bertemu bos Djordi, dimana dia?". Nana melihat kanan-kirinya.


"Apakah anda sudah membuat jadwal pertemuan sebelumnya?". Tanya resepsionis itu sedikit sinis.


"Ya, aku disuruh mengantar makan siang untuknya". Jawab Nana.


Resepsionis itu terlihat kurang percaya pada Nana, cantik sih tapi pakaiannya terlihat sedikit kampungan. Kemudian dia menelepon pada sekretarisnya Djordi.


..


..


"Suruh dia kemari cepat, bos sudah menunggunya dari tadi". Jawab sekretaris itu di telepon.


"Ah? (kaget) .. Emm, baiklah". Bicaranya seperti tidak percaya bahwa wanita kampungan yang di hadapannya sedang ditunggu-tunggu oleh bosnya.


"Ikuti aku". Titahnya sedikit sombong pada Nana.


..


Suara ketuk pintu yang ragu-ragu.


Seorang pria muda berpakaian sangat rapih membukakan pintunya.


"Apakah kau Nona Bae Nana?". Tanya pria muda itu yang tak lain adalah sekretarisnya Djordi.


"Ya, dimana bos?". Tanya Nana, tangannya menjinjing kotak makanan yang di bungkusnya.


"Silahkan masuk, Presdir sudah menunggumu sejak tadi". Ucapnya.


Nana masuk kemudian dia terpanah melihat kantor bosnya yang mewah. Bertema modern klasik, terlihat modern karena gradasi warna hitam dan coklat emas, warna yang tajam dan memikat. Dan, kesan klasiknya di dapat dari permainan lampu serta aksesoris lainnya, dengan aroma lavender yang tercium, membuat pikiran menjadi tenang saat menghirupnya.


Terlihat pria gagah dan tampan yang mengenakan jas hitam sedang duduk di kursi menatap serius lembaran kertas yang sedang di pegangnya, sepertinya ia sedang mengurus suatu hal penting.


Nana menghampiri bosnya.


"Bos, ini makan siangnya". Ucap Nana, dengan wajah sedikit imut, lalu meletakkan kotak makanan di atas mejanya.


"Oh? (tersadarkan) .. Emm, (melihat jam tangan) Kau telat beberapa menit. Saat ini aku sedang mengerjakan sesuatu yang cukup penting, tapi aku juga merasa sangat lapar". Ucap Djordi, seperti ada sesuatu di balik kata-katanya itu.


Nana terlihat kebingungan, apa yang harus dilakukannya?. Dia tidak bisa makan sendiri tapi perutnya sangat lapar, kedua tangannya sedang mengerjakan hal penting.


"Apakah kau benar-benar sangat lapar bos?". Tanya Nana, sedikit mengasihani.


"Ya, aku sangat sangat lapar, di rumah, aku hanya makan sedikit makanan". Ucapnya dengan sangat imut. Seperti anak kucing yang sedang manja pada tuannya saja.

__ADS_1


"Ehem (mendehem) .. Bagaimana jika aku menyuapimu bos? (ucapnya sangat malu-malu) .. Eh, emm, aku hanya bercanda hahahaaa...". Tertawa yang di paksakan.


"Ya, itu ide bagus. Cepat kemari dan suapi aku. Bos mu ini hampir mati karena kelaparan. Jika aku mati, siapa yang akan membayar gajimu?". Ucap nya, sedikit mengusili Nana.


Mendengar kata 'gaji', Nana memikirkan sesuatu.


"Benar juga, jika dia mati kelaparan siapa yang akan membayarku? Aku kan bekerja untuk mencari uang". Gumamnya dalam hati.


Nana membalas dengan senyum manisnya, yang membuat Djordi sedikit bergairah. Kemudian Nana membuka tutup kotak makanan itu perlahan.


Terkejut, Djordi sangat terkejut setelah melihat isi makanannya. Dengan cepat dia menghindar dari kotak makanan itu. Wajahnya berubah menjadi pucat, tubuhnya gemetar dan mengeluarkan banyak keringat, dia bersandar pada dinding dengan sedikit membungkuk, tangan kirinya menahan dada seperti merasakan nyeri.


Sontak Nana juga di buat kaget, dengan refleks, kotak makanannya terlempar karena melihat Djordi seperti itu. Kemudian Nana menghampiri bosnya.


"Bos kau membuatku kaget, ada apa??". Tanya Nana, serius.


Djordi tidak menjawab pertanyaan Nana, tangan kanannya memegang kening, seperti menahan sesuatu, tubuhnya terus mengeluarkan keringat dingin. Nana semakin panik.


"Sekretaris, sekretaris". Teriaknya panik.


"Ada apa Nona Bae? Ah? (terkejut setelah melihat keadaan bosnya) .. Apa yang terjadi pada Presdir?". Sekretaris ikut panik.


Kemudian sekretaris itu melihat kotak makanan di lantai yang berhamburan gara-gara terlempar tidak sengaja oleh Nana.


"Oh, pantas saja tuan seperti ini". Gumamnya.


Sekretarisnya langsung mencari-cari obat penenang dan memberikannya pada Djordi. Kemudian, makanan yang berhamburan itu di singkirkan olehnya sejauh-jauhnya dari pandangan Djordi.


Djordi yang sedang menenangkan dirinya duduk di atas sofa, Nana juga sudah hilang rasa paniknya. Nana melihat makanan hasil kerja kerasnya di buang begitu saja oleh sekretarisnya Djordi, ia merasa sedih. Djordi yang melihat Nana sedih merasa tidak enak jadinya.


"Em, sebenarnya ada apa dengan makanannya?". Tanya Nana.


"Nona Bae, apa kau yang membuat makanan itu?". Tanya balik sekretaris Djordi.


"Ah? (ragu-ragu dan takut) .. Ya, aku yang membuatnya". Jawabnya tertunduk.


"Apa? Kau yang membuatnya? Bukankah aku sudah bilang, suruh pelayan yang membuatnya, kau hanya mengantar makanan itu padaku". Sentaknya, dengan spontan Djordi meluapkan amarahnya, dia tidak sadar memarahi Nana.


"Aku.. Aku hanya ingin membuatkan sesuatu yang spesial untukmu bos (tubuhnya gemetar) .. Maaf bos, tapi aku tidak tahu jika masakanku membuatmu jadi seperti itu tadi". Ucapnya sambil menahan tangis.


"Sepertinya, kau pelayan baru ya? Makanya kau tidak tahu apa-apa tentang Presdir. Persdir ini fobi pada nasi, dan tadi di dalam kotak makanan yang kau buat itu terdapat nasi, maka dari itu dirinya ketakutan seperti tadi". Jelas sekretarisnya.


"Apa? Nasi? (terkejut) .. Tapi aku tidak memasukkan nasi pada makanan yang aku buat. Aku membuatkan ramen spesial untuknya, dan tidak ada nasi". Ucap Nana sedikit mengotot.


"Tapi yang aku lihat, di dalamnya ada makanan menjijikan itu (sedikit membentak) .. Hah (mengela nafas) Sudahlah mungkin kau tidak sengaja memasukkan nasi kedalamnya". Ucap Djordi sambil memegang keningnya.


Nana merasa sakit hati karna Djordi tidak mempercayainya ditambah lagi Djordi membentaknya. Dia langsung berbalik dan lari keluar dari ruangan yang suasananya sudah tidak tenang lagi itu. Nana berlari, seketika air matanya mengalir.


"Hey, Nana ... ". Teriak Djordi merasa bersalah.


..


Di lorong kantor.


"Kenapa hatiku sesakit ini saat dia tidak percaya padaku dan membentakku?". Gumam Nana sambil menghentikan pelariannya itu, dan mengusap air matanya. Ia mulai berjalan pelan tetapi sambil melamun.

__ADS_1


__ADS_2