
Ayo dong, klik dulu J E M P O L nya supaya gak lupa..
Kemudian K O M E N & V O T E ❤
Bagi yang sudah nge vote, yuk tambah lagi point nya untuk novel ini. 😘
..
..
..
Djordi berjalan cepat menuju ruang tamu, dengan perasaan resahnya. Wajahnya terlihat panik, sambil mondar mandir ke sana ke mari.
"Feng !! Feng !!". Panggil Djordi, di tangannya masih menggenggam seprei putih polos itu.
Pengurus Feng berjalan dari arah pintu masuk, menghampiri Djordi.
"Ya, Tuan". Sahut pengurus Feng.
"Cepat, bakar ini.." Titah Djordi, sambil mengasongkan sprei itu yang sudah ia lipat acak, agar bercak darahnya tak terlihat.
Pengurus Feng terheran dengan perintah Tuannya. Ia menggaruk kecil, jidat lapangnya itu dengan jemari tangan kirinya.
"Emm, baik Tuan". Ucap Pengurus Feng, yang masih terheran-heran itu.
Djordi semakin gelisah. Baru saja pengurus Feng melangkahkan kakinya ke luar rumah, akan membakar sprei itu. Tiba-tiba ia di panggil lagi oleh Djordi.
__ADS_1
"Feng !!". Panggil Djordi, dengan mimik wajah yang sedikit malu.
Pengurus Feng membalikkan badannya, dan kembali menghampiri Djordi.
Ada apa dengan raut wajah Tuan muda? Tidak seperti biasanya. (Gumam pengurus Feng dalam hatinya, bertanya-tanya).
"Feng! Siapkan surat nikah dalam tiga hari". Titah Djordi. Wajahnya memerah, karena sangat malu, di tambah lagi perkataan itu adalah hal baru dalam hidupnya.
Pengurus Feng terkejut dan semakin di buat bertanya-tanya dengan permintaan Djordi mengenai surat nikah itu.
"Tuan, apakah anda akan menikah? Dengan siapa?". Tanya pengurus Feng, terheran.
"Ah, sudahlah. Cepat kau bakar dulu itu !". Ucap Djordi, sambil memalingkan wajahnya.
Pengurus Feng menaikan kedua alisnya, kemudian berjalan ke luar rumah itu.
......
Di sisi lain..
Sean berjalan ke luar kamar Djordi, mengintip suasana ruangan di luar kamar pamannya itu.
Suasananya sunyi, sepi.
Sepertinya paman sedang ke luar. (Gumam Sean di dalam hatinya).
"Aku akan membawa kabur Nana, kali ini !!". Gumamnya.
__ADS_1
Sean memperhatikan Nana yang sedang tertidur sambil duduk itu, ia terheran. Karena menurutnya, posisi Nana tertidur tidak berubah sejak dirinya masuk ke dalam kamar pamannya itu. Lalu, Sean mendekatkan telinganya ke hidung Nana, sangat dekat, dan hampir bersentuhan. Sean berniat memeriksa nafasnya.
Tiba-tiba saja Nana terbangun dari tidurnya, ia membuka kedua matanya perlahan.
Sontak, Nana terkejut. Karena pandangannya beradu dengan rambut seorang lelaki. Nana membulatkan kedua matanya. Memperhatikan, siapa lelaki yang sangat dekat dengan wajahnya itu.
"Sean? Sedang apa kau ..". Ucap Nana.
Sean terkejut, dengan cepat ia menjauhkan dirinya dari Nana.
"Emm, Nana .. sejak kapan kau bangun?". Bicara Sean terbata-bata, dengan wajah yang sedikit malu.
"Uh, kepalaku sakit sekali". Rintihan Nana, sambil menekan kepalanya.
Sean merasa iba terhadap Nana, ia memijat lembut bagian kepala Nana yang terasa sakit itu. Perlahan rasa sakit di kepala Nana mulai menghilang.
"Apakah sudah enak, seperti ini?". Tanyanya, dengan tangan yang terus memijat lembut kepala Nana.
"Em, ya. Terima kasih Sean". Ucapnya.
"Nana, maukah kau tinggal di rumahku?". Sean sedikit ragu mengatakannya.
Nana terdiam, ia sedikit terkejut dengan perkataan Sean.
"Aku dengar dari Chaning, kau sudah di pecat oleh paman. Jadi, bagaimana jika kau tinggal di rumahku .. ah, emm,, maksudnya bekerja dirumahku?". Ucap Sean, sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Nana terdiam, lalu ia melirik ke arah Sean. Bola mata Sean mengharapkan jawaban yang sangat di inginkan nya.
__ADS_1