
Dukung terus novel ini dengan cara :
Klik J E M P O L, K O M E N & V O T E ❤
Jika sudah pernah memberikan point, ga ada salahnya kan kasih sedikit lagi pointnya 😂
..
..
..
Djordi berjalan menuju kamar pribadinya, ia menggati jas dan kemeja yang ia kena'kan saat bekerja dengan baju berbahan kaos yang sedikit meral, berwarna putih polos. Meskipun hanya memakai baju kaos yang polos saja, ketampanan Djordi tidak pernah luntur.
Karena kunci ketampanan Djordi yang sesungguh nya ialah, saat ia memakai baju kaos polos. Mau itu yang berwarna putih, hitam, abu-abu atau warna apapun itu, tetap saja ketampanannya selalu terpancar.
Saat Djordi meregangkan otot-otot di sekujur tubuhnya, agar sedikit rileks. Dan, baru saja ia akan berbaring di atas ranjang empuk miliknya, yang berharga sekitar hampir dua milyar itu. Karena beberapa pekerjaan kantor membuat otot-ototnya menjadi kaku sesaat. Tiba tiba saja..
Tok .. Tok .. Tok
"Bos, makan malamnya sudah siap !". Ucap seorang wanita dari balik pintu kamarnya itu, yang tak lain adalah Bae Nana.
Djordi terhenti sesaat.
Kemudian, ia berjalan dan membuka pintu kamarnya. Ia langsung menarik tangan Nana, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Nana terkejut.
Djordi menciutkan kedua matanya, memperhatikan baik-baik mata Nana yang terlihat sedikit merah. Kemudian, ia meraih wajah Nana dan menyentuh pipinya dengan kedua tangannya.
"Siapa yang membuatmu menangis? Ayo, katakan !". Ucap Djordi. Keningnya mengkerut, tatapannya serius.
Nana membelalakkan bola matanya.
"Ah? Apa .. yang kau maksud, bos?". Tanya balik Nana, terheran.
"Tidak usah kau tutupi. Cepat ! Beritahu siapa orangnya. Sekalipun orang itu mempunyai jabatan tinggi. Aku mampu menghancurkannya". Ucap Djordi, dengan serius.
Dasar gila !! Apa yang dia maksud?. (Gumam Nana dalam hatinya).
__ADS_1
Nana terdiam, menatap heran pada Djordi.
"Tadi, di dapur .. aku melihat kau menangis saat sedang memasak. Sebenarnya ada apa?". Bicara Djordi, seketika berubah menjadi lembut.
"Aku? Menangis saat memasak?". Gumam Nana, mengingat-ingat hal apa yang membuatnya menangis saat memasak.
"Ooohh .. Ya ya ya". Nana, menaikan kedua alisnya.
"Apa?". Djordi benar-benar dibuatnya penasaran. Perlahan sentuhan di pipi Nana, mulai di lepaskannya.
Haha, dasar bolot !! Cuma gara-gara mengiris bawang saja, tingkat ke khawatirannya seperti itu. (Nana mengejek Djordi di dalam hatinya).
"Ehem". Nana mendehem.
"Sini !! Ikuti aku, bos". Nana menarik tangan Djordi, membawanya ke luar dari kamar itu.
Tubuh Djordi menurut begitu saja. Ia berjalan mengikuti langkah Nana, dengan tampang wajah yang polos. Ia menyalah artikan sentuhan Nana yang memegang lengannya dengan begitu lembut itu.
Lambat laun, Djordi semakin terheran.
Mereka berjalan menuju dapur. Kemudian, Nana melepaskan genggamannya itu.
"Entah lah .. tapi, sepertinya kau sedang mengiris sesuatu". Jawab Djordi, sambil menggaruk keningnya.
Nana mengambil pisau, tatakan, beserta dengan sebelas biji bawang merah. Nana meletakannya di atas meja dapur.
"Bos, sini ! Aku minta tolong, iris semua bawang merah ini". Ucap Nana.
Djordi semakin bertanya-tanya dengan apa yang Nana perintahkan padanya.
"Tapi, aku tidak bisa .."
"Aku tidak suka orang yang membantah ! Katanya, kau ingin mengetahui siapa pelaku yang membuatku menangis?". Nana berbicara serius.
Anehnya, Djordi menurut begitu saja dengan apa yang Nana perintahkan. Entah kenapa, ia tidak membantah sama sekali. Mungkin memang benar, apa yang sering orang katakan. Cinta bisa merubah segalanya.
Merubah Djordi menjadi jinak, misalnya.
Kemudian, perlahan Djordi mengupas kulit luar bawang merah itu. Ia memutar otak. Bagaimana cara mengiris bawang itu dengan benar? Seperti apa bentuk irisan bawang merah yang sempurna?. Pertanyaan sederhana itu, menjadi beban besar di otaknya. Karena memang sejak lahir, Djordi tidak pernah mengetahui dan tidak ingin tahu mengenai urusan dapur. Djordi mengkerahkan apapun yang ia bisa untuk mengiris bawang itu.
__ADS_1
Lain halnya dengan Sean. Bukan sekedar tampan saja, ia juga sangat pandai memasak. Sudah terbukti. Ketika Sean menginap di apartemen Nana, kala itu. Ia memasak sarapan pagi yang sangat menggugah selera.
Kenapa tiba-tiba mataku perih? (Gumam Djordi dalam hatinya, sambil mengedip-kedipkan kedua matanya).
Nana yang dari tadi memperhatikan Djordi, memalingkan wajahnya. Membelakangi Djordi. Mulutnya tersenyum lebar dibalik kedua tangannya itu. Sebenarnya, Nana ingin tertawa puas karena sudah membuat bosnya melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh seorang pelayan.
"Kenapa, semakin aku ngedipkan mata .. rasa perihnya semakin menjadi?". Gumam Djordi, air matanya mulai berkumpul.
Djordi mengusap air matanya dengan baju kaos yang ia kena'kan itu, agar tidak terjatuh. Menurutnya, sangat tidak etis jika air matanya jatuh di hadapan wanita.
Nana melihat sebelas biji bawang merah tadi, sudah di iris habis olehnya. Irisan bawang merahnya, terlihat unik.
"Bos, apa kau sudah tahu jawaban dari siapa yang membuatku menangis, tadi?". Tanya Nana, sambil menahan tawanya.
Djordi terdiam. Bola matanya semakin perih. Ia tak kuasa menahan rasa perih yang menusuk kedua matanya itu. Sia-sia saja dirinya menahan agar air matanya tidak jatuh, akhirnya terjatuh pula di atas kulit pipinya.
"Itu .. kau pun dibuatnya menangis". Ucap Nana. Wajahnya berseringai penuh.
Djordi terjeda sesaat. Akhirnya, ia pun menyadari dalang di balik tangisan Nana itu, yang tak lain adalah bawang merah. Kemudian, ia memasang wajah malu, dan menjadi salah tingkah. Sambil terus saja, mengucek kedua matanya yang membuatnya perih itu.
"Bos, coba kau mendekat dan menunduk lah sedikit". Ucap Nana.
Dengan spontan, Djordi mendekat dan menundukkan sedikit kepalanya sambil terus mengedipkan matanya dengan cepat, karena rasa perihnya belum juga hilang. Nana menyentuh kedua pipi Djordi dengan tangannya, berniat menyeka air mata yang sudah bergoyang-goyang akan jatuh di kantung matanya itu.
Tapi, pandangan mereka tak sengaja beradu. Empat mata itu bertatapan begitu dalam. Seolah mereka sedang dimabuk asmara. Hingga membuat dua insan itu terjatuh dalam lamunannya masing-masing.
Pengurus Feng, yang sebetulnya dari awal sudah membuntuti tingkah laku mereka berdua. Di balik celah pintu dapur, ia tersenyum lebar.
Senyuman itu seperti mengisyaratkan bahwa dirinya begitu lega, melihat Bae Nana sudah mulai menumbuhkan benih cinta di dalam hatinya untuk tuannya itu.
..
🌻🌻🌻🌻🌻
Hayoo. Pasti lupa kan, klik JEMPOL nya hhe ..
Diingetin lagi nih !! Jangan lupa klik JEMPOL, KOMEN & VOTE ❤
Karena, author sudah berusaha semaksimal mungkin dengan memori di otakku yang terbatas ini, untuk membuat cerita sederhana itu. 😂
__ADS_1