
Jangan lupa L I K E, K O M E N & V O T E ❤
..
..
..
"Nona ini adalah kamarmu .. Bagaimana? Apakah kau menyukainya? Atau, jika kurang sesuatu kami bisa merubah nya kembali". Tanya pengurus Feng, sambil mempersilahkan Nana masuk.
Nana semakin terpukau, dengan kecantikkan kamar itu. Kamar tidur yang rapi bersih dan bertemakan imut, dengan kesan mewahnya.
"Ini baru kamar gadis sungguhan, tidak seperti kamar ku yang seperti tumpukkan sampah". Gumam Nana, membandingkan kamarnya.
Dan benar saja, barang-barang Nana sudah tertata rapih sekali.
"Pengurus Feng,, Kau memang hebat, tapi apakah kamar pelayan harus sebagus dan semewah ini? Kamar ini terlalu bagus untukku, apakah kamar-kamar pelayan yang lainnya seperti ini?". Tanya Nana.
"Tuan muda hanya mengkhususkan kamar ini untukmu saja Nona, dia juga menyuruhku untuk membeli beberapa baju baru untukmu, semua nya sudah ada di lemari". Jawabnya.
"Khusus hanya untukku??, Dan memberiku baju?". Gumam Nana, terkejut.
"Apakah Tuan mudamu itu tertarik padaku? Kenapa dia memperlakukanku dengan sangat baik. Padahal kan, aku hanya seorang pelayan saja". Ucap Nana.
"Ya, sepertinya benar, aku pun merasa begitu". Pengurus Feng tertawa.
"Ya sudah. Nona Bae, selamat beristirahat, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memanggilku". Ucap pengurus Feng sambil berjalan ke luar.
"Oh, tidak, tidak. Aku tidak suka merepotkan orang, aku bisa mengurus diriku sendiri, tenang saja. Terima kasih pengurus Feng". Teriak Nana, karena pengurus Feng sudah berjalan agak jauh.
Kemudian Nana mencoba berbaring di atas kasurnya, dia merasa sangat lelah sekali.
"Sebenarnya siapa bosku? Kenapa aku di perlakukan sangat baik disini? Dia tertarik padaku, itu tidak mungkin .. Sudahlah, aku sangat lelah hari ini. Aku akan mengganti bajuku dan tidur". Gumamnya, tubuhnya sangat kelelahan, matanya sudah sangat berat.
..
..
..
Hari sudah pagi.
Nana yang sedang berbaring di atas kasur, dengan selimut bulu yang tidak mengenai badannya itu. Sepertinya, saat tidur Nana menendang-mendang selimutnya. Nana memakai piyama yang sangat tipis, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya.
Triiinggg, triiinggg....
Suara alarm di telepon Nana berbunyi. Nana meraba teleponnya, dengan mata yang dipaksa terbuka. Nana terkejut melihat jam, lalu beranjak dari kasurnya.
"Sudah jam enam pagi??, Sedangkan aku harus bangun jam lima. Bagaimana ini? Aku harus cepat bersiap". Matanya membulat dengan sempurna.
Nana sangat lucu, saat dia kocar kacir dengan terburu-buru..
"Tunggu, tunggu.. Sepertinya aku merasa ada sesuatu yang memperhatikan ku dari tadi? Ah, aku jadi merinding". Gumamnya.
"Ehemm". Suara seseorang mendehem.
Nana terkejut mendengar itu, lalu ia membalikkan badannya ke sumber suara, yaitu di dekat jendela kamarnya. Badannya gemetar, karna ketakutan, sambil menutup matanya setengah terbuka...
Ada seseorang, dengan gagah nya sedang duduk di kursi dekat jendela kamarnya itu. Dia sudah lama memperhatikan Nana, yang tidak lain adalah Djordi Aganor. Nana hanya belum tahu saja, bahwa yang dihadapannya itu adalah bosnya.
__ADS_1
"Siapa kau? Apa kau penyusup? Kau maling?... Pengurus Feng tolong (teriak) ada maling di kamarku". Teriaknya, sambil sedikit ketakutan.
Lelaki itu mendekat dan menutup mulut Nana, dengan lembut.
"Ssttt, lebih baik sekarang kau siapkan air hangat untukku, aku tidak membayarmu untuk tidur. Oh ya, mulai saat ini setiap kau akan tidur, jangan dibiasakan melepas bra mu, dan pakailah celana yang sedikit panjang". Djordi mengucapkan itu dengan pipinya yang memerah, sambil melewati Nana.
Nana di buat terkejut sekaligus sangat malu, karna kebiasaannya itu sudah melekat sejak ia remaja. Lalu dia tersadar.
"Apakah itu bosku?". Gumamnya, terkejut.
Nana bersiap-siap, berdandan dan memakai pakaian seperti kemarin, ala gadis loli.
Dia mengendap-endap masuk ke kamar bosnya, berniat menyiapkan air hangat.
Saat membuka pintu kamarnya, terpergoki bosnya sedang melepas pakaiannya per helai. Nana tertohok, melihat tubuh bosnya yang indah membuat dirinya terpukau dan sedikit gelisah.
"Jika sudah melihat tubuhku, cepat siapkan air hangat nya". Titah Djordi, sambil tersenyum penuh arti.
"Ah, maaf bos". Nana menundukkan kepalanya berjalan cepat, dengan perasaan sangat malu.
Tidak lama kemudian.
"Bos, itu emm,,,, air hangatnya sudah siap". Ucap Nana sambil tertunduk.
Djordi yang menggunakan handuk kimono putih, mendekati Nara. Makin dekat dan semakin dekat. Nana ketakutan, sambil berjalan mundur (terdorong oleh Djordi) sampai akhirnya, tubuh bagian belakang Nana menempel pada dinding.
"Coba kau tatap wajahku, lihatlah aku". Ucap Djordi.
Nana menaikan kepalanya, menatap perlahan, dengan rasa gugup.
Setelah melihat wajahnya, jantung Nana berdetak sangat kencang, wajah yang begitu sempurna bagi Nana, membuatnya terpesona, pipinya memerah.
"Bagaimana? Apa tidak ada yang ingin kau katakan setelah melihat wajahku?". Tanya Djordi.
Djordi menyuruh Nana melihat wajahnya, karna dia ingin mengetes apakah Nana ingat padanya atau tidak.
Nana terheran.
Memangnya, apa yang harus aku ucapkan?. (Gumamnya dalam hati)
"Oh, sepertinya dia ingin mengetahui pendapatku tentang wajahnya? Aku harus menjawabnya dan membuat bosku senang". Masih bergumam dalam hati.
"Emm, bos menurutku wajahmu sangat tampan dan sempurna kau mempunyai wajah yang putih, bersih, glowing, tidak ada flek hitam, tak berkomedo, dan terlihat awet muda. Apakah kau menggunakan skincare khusus bos? Tapi bos .. Emm,, lubang hidungmu itu cukup besar". Jelas Nana, bicaranya sangat lancar dengan wajah ceria nya.
Mendengar perkataan terakhir itu Djordi langsung menutupi hidungnya, sedikit malu.
Dia merasa heran, karna bukan itu yang ingin dia dengar.
"Sudahlah, cepat siapkan sarapan untukku". Titahnya.
Nana mengendap-endap ke luar, dan berjalan cepat.
"Kepribadiannya sangat aneh". Gumam Nana, sambil berjalan menuju dapur.
"Nona bae, apa yang anda inginkan?". Ucap salah satu pelayan.
"Bos menyuruhku menyiapkan sarapan untuknya". Jawab Nana.
"Kami sudah menyiapkannya, kau bawakan saja ini, lalu simpan di meja makan". Titah pelayan itu menyodorkan baki.
__ADS_1
"Baiklah". Lalu Nana membawanya.
Saat Nana ke luar dari dapur, salah satu pelayan menjulurkan kakinya, dia berniat usil pada Nana.
Prang..
Suara pecahan. Nana tersungkur.
"Aahhh...". Merintih kesakitan.
Karena menahan tubuhnya yang jatuh, maka pecahan gelas dan piring itu menembus kulit tangannya.
Ada tiga orang lelaki yang baru datang, masuk kedalam rumah Djordi, dengan cepat salah satu lelaki itu mengulurkan tangannya saat melihat Nana kesakitan.
"Kau terluka Nona, biar aku membantumu berdiri. Pelayan, cepat ambilkan kotak P3K lalu telepon dokter". Titah lelaki itu, sambil mengangkat tubuh Nana mengarah ke sofa.
"Terima kasih Tuan. Lukanya memang cukup dalam, tapi aku bisa mengurusnya sendiri". Ucap Nana, sambil duduk di sofa.
Lalu kedua lelaki itu memperhatikan wajah Nana. Mereka berdua terkejut.
"Nana?". Sapa kedua lelaki itu yang tak lain adalah Sean dan Chaning.
"Ah?? .. Sean? Chaning? Kenapa kalian berada di sini?". Tanya Nana.
"Nanti saja basa basinya, kau harus segera di obati". Ucap Chaning merasa khawatir.
"Yah, sebelum menjadi infeksi". Ucap Sean.
"Kalian mengenalnya?". Tanya lelaki yang tadi memapah Nana berdiri, yang tak lain adalah Jai.
Sean dan Chaning tidak menjawab pertanyaan Jai, mereka malah saling tatap menatap.
Kemudian Djordi turun dari tangga.
"Ada keributan apa ini?". Tanya Djordi sambil melangkah mendekati Nana.
Djordi melihat pecahan gelas yang sedang di bersihkan oleh salah satu pelayan, dan melihat ke sisi lain tangan Nana yang berlumuran darah.
"Paman". Ucap tiga sekawan itu.
Nana terkejut.
"Apa? Mereka bertiga memanggilnya paman?". Gerutunya dalam hati.
Djordi mengabaikan sapaan mereka. Matanya hanya tertuju pada tangan Nana saja, dia merasa begitu khawatir.
"Tuan Jai, ini kotak P3K nya". Ucap pelayan, menyodorkan kotak itu.
Dengan cepat Djordi mengambilnya.
"Biar aku saja, kalian bersihkan pecahan itu jangan sampai ada yang tersisa". Titahnya kepada pelayan.
"Nana, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?". Bicaranya sangat khawatir, sambil membersihkan pecahan gelas yang menempel di telapak tangan Nana.
"Emh, aku tersandung sesuatu saat aku sedang memegang baki yang berisi sarapanmu. Tapi bos, kau tidak usah seperti ini, aku bisa mengobatinya sendiri". Jelas Nana.
"Sudah diam, kalau kau banyak bergerak aku kesusahan mengambil serpihannya". Ucap Djordi sambil membersihkan dan membalutnya perlahan, lalu ia meniup-niup luka di tangan Nana.
Sean, Chaning dan Jai merasa terkejut dibuatnya. Karena pamannya itu tidak pernah memperlakukan wanita sangat baik, dia selalu dingin pada setiap wanita, bahkan dia anti menyentuh siapapun karena kegilaannya pada kebersihan.
__ADS_1