
Jempolnya klik dulu biar ga lupa 😁
Sebagai tanda penghargaan untuk author loh.
..
..
..
Kemudian, berhentilah mereka di sebuah tanah luas.
Djordi langsung memapah Nana keluar dari helikopter itu. Mereka berdua, kini berada di ketinggian yang sesungguhnya.
Lalu mereka memulai perjalanan panjangnya, dengan berjalan kaki.
"Jika kau lelah, bicara padaku. Jangan belaga sok kuat ! Atau kau bisa menderita penyakit ketinggian," seru Djordi sambil melewati Nana yang sedang beristirahat dan mengatur nafasnya.
"Sayang ! Bisakah kau membawa tasku?" teriak Nana, yang sedang duduk membelakangi Djordi.
"Aku sudah menjinjingnya, honey !" Ternyata, memang Djordi sudah membawa tasnya yang sudah tergeletak sedari tadi.
Nana membuang nafas lega. Karena tas itu begitu berat menurutnya, tapi begitu enteng menurut suaminya.
..
Kemudian, Djordi mengeluarkan beberapa peralatan panjat tebing dari tasnya. Lalu, ia memakaikan pelindung kepala untuk Nana dan dirinya.
Ia mulai memasang tali dan alat-alat lainnya yang akan menahan tubuh mereka nanti ketika mereka sedang menuruni tebing.
Tebing yang sangat-sangat tinggi.
Nana merasa ngeri menatap ke bawah. Tubuhnya menjadi gemetar. Itu adalah jurang yang begitu dalam menurutnya.
Lalu, Djordi melempar tali yang sudah terikat dengan baik, kebawah tebing. Ia menggendong Nana di punggungnya, dan mulai menuruni tebing bersama.
Nana mengeratkan cengkraman kedua tangan di bahu Djordi dan kedua kakinya di pinggang Djordi.
Duk..
Kepala Nana terbentur dinding tebing.
"Aww !!" Rintihnya.
"Uh ! Apa kau tidak apa-apa, istriku?" tanyanya, cemas.
"Aku merasa pusing ! Kepalaku sepertinya akan pecah," ucapnya, dengan pandangan mata yang sudah tidak jelas.
"Bertahanlah. Saat kita turun, kau akan merasa lebih baik." Djordi mulai panik, ia berusaha mempercepat menuruni tebing itu, dengan mencengkram tali itu lebih kuat.
Perjalanan mereka menuruni tebing masih jauh.
Djordi berjalan dengan sangat hati-hati di dinding tebing, dengan melepas perlahan tali yang sedang ia genggam. Sesekali melirik ke bawah, memeriksa pijakan kakinya.
"Oh tidak ! Sepertinya aku akan mati disini," gumam Nana dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya mulai melemah.
"Tenangkan dirimu, lalu atur nafasnya. Tenang, tenang dan tenang." Djordi berbicara santai, karena jika ia ikut panik, itu hanya akan memperburuk keadaan Nana.
Sudah terdengar sedikit tenang.
Lalu, Djordi meminta Nana memberikan tali berwarna orange yang ada di tubuhnya.
Djordi memasukkan kedua tali itu ke tangannya. Hingga, Nana terlihat seperti tas di bahunya.
Djordi memanggul tubuh Nana.
Baru saja Djordi akan mulai melangkah lagi, Nana sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya lunglai, bagai tak bertulang.
"Nana !! Bae Nana !" panggil Djordi cemas.
Untung saja, tali orange yang berada di bahu Djordi, menjaga tubuh Nana agar tidak jatuh.
Djordi mulai panik. Ia menarik tangan Nana membelitkannya di perut, dan membenarkan posisi kaki Nana di atas pinggangnya.
Djordi menjadi sangat serius.
Dengan cepat dan hati-hati, ia meneruskan lagi perjalanannya menuruni tebing dengan memanggul tubuh Nana di punggungnya.
..
Dan pada akhirnya, daratan sudah mulai terlihat.
Tapi, ternyata dibawah itu adalah sungai dengan arus air yang kencang.
__ADS_1
Djordi yang masih menggelantung di dinding tebing, dengan memanggul tubuh Nana di punggungnya, mengernyitkan dahinya. Ia memutar otak. Lalu, ia menyisikan langkah kakinya menepi ke daratan yang sedikit agak jauh, agar tubuh Nana tidak masuk ke dalam air. Karena suhu airnya begitu dingin bagaikan air es.
Setelah berpijak di daratan. Djordi melepaskan tali dan alat-alat lainnya yang melilit di tubuhnya dan tubuh Nana.
Ia membaringkan tubuh Nana yang lunglai dengan sangat hati-hati di atas rerumputan. Kemudian, memeriksa nadinya di pergelangan tangan Nana.
Djordi menghela nafas lega.
"Kau akan baik-baik saja, sayang !" Ia langsung mencium kening Nana.
..
Sekian lama menunggu. Akhirnya Nana siuman.
Ia beranjak dari tidurnya, dengan sedikit menekan kepalanya.
Nana mengedarkan pandangannya. Tempatnya kini, sudah bukan di atas tebing lagi. Ada sungai yang mengalir di sampingnya.
"Apa kau sudah baikan?" Djordi menghampiri Nana, dengan memberikan segelas teh hangat, yang sudah ia siapkan untuknya.
"Ehemm... ya," ucapnya singkat, sambil meregangkan otot tubuhnya dan menerima teh hangat itu.
"Aku akan cuci muka dulu," Nana beranjak dengan langkah kaki yang cepat, karena Djordi terus saja memandangi wajahnya.
Djordi membiarkan wanitanya itu menyentuh air.
"Lihatlah, apa yang akan terjadi," gumamnya sambil memperhatikan Nana dari jauh.
" aaaaa !!! Air nya membeku." teriak Nana.
Djordi tertawa terbahak-bahak.
"Sial !! Mengapa kau tidak memberitahu aku?" geram Nana dengan sorotan mata yang tajam menatap ke arahnya. Kemudian, ia berjalan mendekati Djordi dengan sedikit dendam di benaknya.
Djordi malah melentangkan kedua tangannya, dengan senyum narsis di wajahnya.
"Nana ! Kemari ... ayo lari-lari~" Bicaranya dengan nada menyayi.
Sontak saja, tingkah suaminya itu membuat Nana langsung tersenyum geli.
"Tidak akan ada yang menyangka, jika CEO DJ Entertainment bisa bersikap konyol seperti ini pada istrinya," ucap Nana yang kini berada di pelukan Djordi.
Nana tidak tahu, seberapa besar usaha Djordi menuruni tebing sambil memanggul tubuhnya dan kedua tas mereka.
..
Terlihat, Djordi yang tengah sibuk menyiapkan tenda untuk tempat mereka bermalam.
Nana hanya terduduk di dekat api unggun dengan selimut tebal yang melilit hampir di sekujur tubuhnya.
Udara di alam bebas sangat dingin, menusuk kulit. Tangan dan kakinya hampir membeku lagi.
"Sayang, tenda sudah siap. Kau bisa beristirahat disini," ucapnya, sambil berlalu meninggalkan Nana.
"Kau mau pergi kemana?" tanyanya terheran, sambil terus menggosok-gosok kedua tangannya.
"Aku mau menyiapkan makan malam, dengan menangkap ikan !" ucap Djordi, sambil meneruskan lagi langkahnya.
"Uh, dia memang tahu apa yang sangat aku suka," gumam Nana dengan tatapan penuh cinta, menatap punggung Djordi yang kian menjauh.
..
Malampun tiba.
Mereka memanggang ikan dan beberapa daging, bersama. Hari ini pun menjadi pengalaman baru yang menegangkan sekaligus menyenangkan untuk mereka.
"Kau mau daging atau ikan?" tanya Djordi, sambil menyodorkan keduanya pada Nana.
"Jika dipilihannya ada ikan. Tentu saja aku akan memilih ikan." Nana langsung mengambil wadah yang berisi ikan.
Saat akan menyantapnya. Tiba-tiba saja Nana terhenti. Ia mengendus bau ikan itu dengan sangat kuat. Aroma bau amis ikan bakar ini, tidak seperti biasanya. Nana langsung melempar ikan itu ke sembarang arah, dengan tatapan jijik dan sedikit mual.
"Ada apa?" tanya Djordi, sangat cemas.
Nana berkedip panik, ia terheran dengan sikap dirinya yang menolak ikan begitu saja. Padahal dari kecil Nana sangat suka sekali dengan ikan, apalagi ikan bakar yang Djordi buatkan untuknya.
Nana langsung merampas wadah berisi daging itu yang masih berada di genggaman tangan Djordi.
Membuat Djordi mengernyit heran.
..
Djordi terhentak kaget, setelah melihat Nana menghabiskan begitu banyak daging panggang. Hingga ia sendiri hanya memakan bagian ikannya saja.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Nana menolak ikan demi daging.
Setelah merasa kenyang, Nana berjalan menuju tenda. Tubuhnya merasa nyeri dan lelah. Ia meregangkan sedikit otot-otot tubuhnya di depan tenda sebelum memasukinya.
Tapi dari arah belakang, Djordi langsung memeluknya. Menarik tubuhnya, untuk duduk di tepi sungai menatap indahnya bintang di langit di alam bebas bersama.
"Hoamm... aku ngantuk," ucap manja Nana, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Djordi.
"Sayang ! Sebaiknya sebelum tidur, kita em-em-em-em dulu," seru Djordi dengan senyum mesum diwajahnya.
"Apa itu em-em-em-em? Kalau bicara yang jelas," gerutu Nana.
"Ck ! Apakah aku harus mengucapkannya dengan berterus terang." Djordi memalingkan pandangannya, karena sedikit kesal hati dengan kepolosan Nana yang hakiki.
Nana tertawa kecil, sambil menutupinya dengan tangannya.
"Menurutku, kamp ini sangat sempurna. Kau mengeluarkan berapa banyak uang dengan mengajakku kesini?" tanya Nana, penasaran.
"Ah, tidak banyak. Satu hari satu malam hanya 35 juta'an." Djordi berbicara dengan wajah santainya.
"😲" Nana terhentak kaget, ia membulatkan kedua matanya setelah mendengar nominalnya.
Grskk.. grsskkk...
Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak yang berada di belakang tenda.
Nana menatap panik kesumber suara.
Apa itu? Jangan-jangan, ada binatang buas. (Batin Djordi, sangat cemas)
Mereka beranjak dari duduknya. Kemudian, Djordi selangkah lebih maju di hadapan Nana dengan perasaan yang was-was.
Bruk..
"Uh... hey ! Lihat pakai mata, ada aku di depanmu !".
"Ya, ya, ya ... maaf ! Senterku kehabisan baterai."
Sosok yang membuat Djordi dan Nana penasaran pun keluar.
Sean? Chan? Kattie? Dan, satu orang wanita yang tidak aku kenal. (Djordi dan Nana terhentak kaget)
"Paman !!!" Chan dan Sean pun terkejut.
"B-bagaimana mungkin?" gumam Djordi, dengan wajah yang tidak enak di pandang.
Djordi menghela nafas panjang dengan perasaan hampa. Ekspresi wajahnya menjadi datar sambil menggertakkan giginya.
Menatap tajam dengan hawa menakutkan ke arah Sean dan Chan, yang telah merusak momen bahagianya.
Cecunguk-cecunguk sialan ini, selalu saja merusak momen berduaku dengan Nana. Aarrgghh, dasar @%$#%¥ ! Aku sudah jauh-jauh kesini, tapi mereka tetap saja terus mengangguku. (Geram Djordi)
"Sedang apa kalian disini ?" tanya Djordi, tanpa senyum di wajahnya.
"Paman yang sedang apa? Aku kan pemilik kamp ini !" celetuk Sean.
Glek..
Djordi menelan ludahnya.
Memang salahnya sendiri tidak mencari tahu terlebih dahulu, tentang kepemilikan kamp ini.
Djordi menggaruk jidatnya, dengan perasaan yang sedikit malu.
"Lalu, kau ! Chan?" tanya Djordi.
"Aku sering kemari dengan Kattie. Ini adalah tempat favorit kita saat pacaran," celetuk Chan, yang membuat perasaan Djordi semakin hampa. Benar-benar hampa, sampai ke dasar hatinya.
..
Beberapa menit telah berlalu.
Sean memperkenalkan Electra kepada Nana dan Djordi.
Niat Sean membawa Electra ke kamp miliknya, karena ia teringat saat pertama kali bertemu dengannya di Indonesia. Electra sangat suka melihat bintang di tempat sepi, makanya Sean membawanya ke alam bebas untuk bisa menyenangkan hatinya.
Tapi, tak di sangka-sangka. Ia malah dipertemukan dengan Nana.
..
BERSAMBUNG !!!
Ayo dong, hargai novelku dengan
__ADS_1
like, komen dan vote 😢
Jangan lupa mampir ke novel Air Mata Pengantin.