
Jangan lupa L I K E, K O M E N & V O T E
Biar author semangat 😂
..
..
..
Di saat yang bersamaan, di kediaman Tn.Kim Hanzo
Ny.Kim berjalan menuruni tangga dengan raut wajah murung.
Saat Tn.Kim melihat Ny.Kim menuruni tangga, ia langsung menghampirinya.
"Kimmy, ada apa sebenarnya ini? Bae Nana dan Djordi sepertinya mereka bertengkar" tanya Tn.Kim, cemas
Kedua kaka Djordipun menghampiri Ny.Kim, mereka di buat penasaran. Tapi, Ny.Kim hanya terdiam membisu, dengan kaki yang masih menjejak di anak tangga.
"Bu, Djordi sampai berteriak tadi. Ada apa dengan mereka?" tanya Ny.Angela, penasaran.
"Mereka keluar dari kamarmu, kan?" Ny.Esme pun yang sejatinya tidak pernah mengurusi urusan orang lain, malah menjadi berbalik fakta dengan sifatnya itu. Jiwa penasaran dan cemasnya kian menggebu.
Ny.Kim masih terdiam membisu. Perasaan bersalah yang dulu sempat membalut tubuhnya itu, kini mulai menghantuinya lagi.
"Kimmy, bicaralah ! Aku menjadi tidak enak hati." Tn.Kim mengelus-elus dadanya sambil mengatur nafanya.
Ny.Kim tersadar. Ia menatap beberapa mata yang tertuju padanya, mata mereka mengharapkan sebuah penjelasan dari mulut Ny.Kim.
"Biarkan saja mereka. Kita tidak perlu ikut campur. Suatu masalah bisa membuat mereka lebih dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Ny.Kim, dengan hati dan perasaan yang masih belum bisa tenang.
Ny.Esme dan Ny.Angela terdiam. Mereka terlihat tidak puas dengan apa yang sudah mereka dengar dari mulut ibu tirinya itu.
"Han, aku lapar." Tiba-tiba saja, Ny.Kim merengek manja sambil berusaha menenangkan pikirannya yang sudah kacau itu.
Tn.Kim menarik nafas panjang.
"Baguslah, kau sudah mau makan" ucap Tn.Kim, sambil tersenyum lega ke arah Ny.Kim,
"Ya sudah. Ayo, kita melanjutkan makan malamnya," sambung Tn.Kim mengajak.
"Semoga saja, masalah Djordi dan Nona Bae secepatnya selesai," gumam Tn.Kim.
"Ya, kalian duluan saja. Aku akan pergi ke dapur sebentar" tutur Ny.Kim. Kemudian, mereka berlalu menuju ruang makan, meninggalkan Ny.Kim.
Kedua bola mata Ny.Kim melirik kesana kemari, lalu ia mengambil ponselnya. Kemudian, ia menelepon seseorang dengan nada bicara yang rendah, secara sembunyi-sembunyi.
..
..
Di lain tempat.
Nana yang sedang duduk di taxi dengan perasaan hampanya, ia menuju suatu tempat, yaitu apartemen Bibi Oh.
Setelah sampai. Nana keluar dari taxi itu, dengan cepatnya berjalan menuju apartemen Bibi Oh. Sesampainya di depan pintu apartemen Bibi Oh, Nana merogoh tasnya. Ia menelepon Bibi Oh, mengabari bahwa dirinya ada di depan apartemennya.
Tidak lama, Bibi Oh membuka pintu apartemennya. Raut wajahnya mengerut, setelah melihat mata sembab Nana dengan ekspresi wajah Nana yang tidak biasa.
"Ada apa Nana?" tanya Bibi Oh, cemas.
Nana langsung memaksakan tersenyum kepada Bibinya itu. Bibi Oh terheran. Lalu, Nana melangkahkan kakinya, memasuki apartemen Bibi Oh begitu saja.
..
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu.
Nana keluar dari kamar yang telah di sediakan Bibi Oh untuknya. Ia berjalan melewati Bibi Oh yang sedang menonton televisi.
Nana mengambil anduk dengan wajah datar dan pandangan kosong, kemudian Nana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bibi Oh bertanya-tanya dengan tingkah aneh Nana. Tidak biasanya Nana seperti itu, ia selalu terlihat ceria setiap kali bertemu dengan Bibinya.
Tidak lama, Nana keluar dari kamar mandi. Ia membiarkan begitu saja, rambutnya yang masih basah. Kemudian, Nana berjalan lagi melewati Bibi Oh yang masih menonton televisi.
Bibi Oh menciutkan matanya, memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Nana. Wajahnya masih saja datar, dengan pandangan yang kosong.
Kemudian, Bibi Oh berjalan menghadang Nana.
"Nana ! Ada apa denganmu? Kau membuat Bibi menjadi cemas" tanya Bibi Oh, yang sangat mengkhawatirkan Nana.
"A-ah ? Aku ... tidak apa-apa," bicara Nana terbata-bata.
"Bibi, aku sangat lelah. Aku akan langsung tidur, ya" tutur Nana, ia memberikan anduk yang telah ia pakai itu kepada Bibi Oh. Dengan cepat Nana berjalan menuju kamar untuk beristirahat.
"Aku tahu kau berbohong." Bibi Oh menyudutkan Nana, tapi Nana mengacuhkannya.
"Cih ! Dasar anak jaman sekarang," desis Bibi Oh, dengan mengerucutkan bibirnya.
Kemudian, tidak sengaja pandangan mata Bibi Oh melihat ke arah lantai. Bibi Oh membulatkan matanya. Ia di buat geram, setelah melihat lantai apartemennya yang basah karena tetesan air dari rambut Nana itu.
"Hey ! Keringkan dulu rambutmu dengan benar," teriak Bibi Oh geram, karena Nana sudah berjalan menghilang dari pandangannya.
..
..
Di kamar Bae Nana.
Dengan piyama putih yang Bibi Oh pinjamkan, Nana duduk menghadap jendela yang dibiarkan terbuka. Ia hanya menatap hampa ke luar jendela dalam lamunannya, diiringi dengan angin malam yang membuat rambutnya sedikit berantakan.
Tiba-tiba saja, air matanya membendung. Tetes demi tetes, air matanya mulai membasahi kedua pipinya. Nafasnya pun sangat berat. Kedua matanya menatap ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia berharap Djordi menghubunginya, membahas hal-hal yang tidak penting seperti biasanya ketika mereka sedang berjauhan.
..
Pagi hari.
Bibi Oh berjalan menuju kamar Nana. Ia berniat akan membangunkannya dan mengajaknya sarapan. Tapi, saat tangannya sudah akan mengetuk pintu kamar Nana, ternyata kamarnya sudah terbuka sedikit.
Dengan perasaan resah, Bibi Oh pun masuk begitu saja kedalam kamar Nana. Ia melihat Nana yang sedang terduduk menghadap ke luar jendela, dengan sorotan sinar mentari yang menyinari tubuhnya. Jendela itu masih saja dibiarkan terbuka sedari malam. Tapi, Bibi Oh tak menyadari bahwa semalaman Nana berangin-angin menatap keluar dengan jendela yang terbuka seperti itu.
"Nana ! Kau sudah bangun. Cepat, kita sarapan. Aku tunggu kau di meja makan," ucap Bibi Oh. Tanpa balasan dari Nana dan tanpa tahu keadaan Nana yang sebenarnya. Bibi Oh berlalu begitu saja, ke luar dari kamar Nana.
Wajah Nana kian memucat. Kelopak matanya sudah terlihat melemah. Tubuhnya seperti sudah tidak berdaya lagi. Tapi, ia hanya terus mematung, duduk menghadap jendela kamarnya.
..
Sudah hampir siang. Bibi Oh pun melupakan kehadiran Nana di rumahnya. Ia menyibukan dirinya seperti hari-hari biasanya, karena pekerjaannya.
Saat Bibi Oh akan memakai sepatu, ia mengerutkan keningnya terheran, karena melihat ada sepatu lain di rak sepatunya.
Bibi Oh langsung tersadar akan satu hal. Ia membulatkan matanya dengan sempurna.
Tegg..
"Nana !!"
Bibi Oh langsung berlari menuju kamar Nana. Ia mendorong kasar pintu kamar itu. Lalu, ia berhenti di ambang pintu, menatap cemas ke arah Nana yang tidak berganti posisi sedari pagi. Langkah kakinya perlahan mendekati Nana.
"Nana?" panggil Bibi Oh. Kemudian, Bibi Oh memutar tubuhnya, ia berdiri di depan jendela.
Sontak saja, Bibi Oh terkejut, setelah melihat wajah Nana yang sangat pucat. Bibirnya membiru. Tatapannya kosong. Kedua matanya sayu.
__ADS_1
"NANA !!! Ada apa denganmu?" tanya Bibi Oh, ia mulai histeris dengan menggoyang-goyangkan tubuh Nana. Saat menyentuh tubuh Nana, Bibi Oh kian terkejut karena tubuh Nana sangat dingin, bagaikan es.
Harusnya, sedari pagi tersorot mentari, tubuh Nana sudah hangat dan berkeringat. (Gumam Bibi Oh dalam hatinya)
"Ada apa denganmu, Nana?" tanyanya. Air mata Bibi Oh mulai membendung, lalu ia langsung memeluk tubuh Nana dengan mata yang membulat karena saking cemasnya melihat keadaan Nana bagaikan mayat hidup.
"Ayo, kita kerumah sakit sekarang." Bibi Oh langsung menopang tubuh Nana, di atas bahunya dengan perasaan panik. Karena panca indera Nana benar-benar tidak merespon.
Saat Bibi Oh sudah berhasil menempatkan Nana di bahu nya. Tiba-tiba saja, Nana meronta. Tubuhnya menolak.
"Aku tidak apa-apa, Bibi" ucap Nana, lirih.
"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu pucat, tubuhmu dingin dan tidak bergerak sama sekali. Apa itu yang dinamakan tidak apa-apa?" bentak Bibi Oh karena kecemasannya sudah hampir mencapai batas maksimal.
"Jangan mengelak ! Ayo cepat, naik ke punggungku. Kita ke rumah sakit sekarang," gerutu Bibi Oh, sambil berjongkok mengasongkan punggunya kepada Nana yang sedang berdiri.
Seketika tangisan Nana pecah. Ia merasakan hadirnya jiwa ibu di dalam diri Bibi Oh.
"Bibi ... hikss." Nana menangis tersedu-sedu.
Bibi Oh pun mulai menitikan air matanya, karena kesedihan yang begitu mendalam dilubuk hati Nana, terkena, masuk kedalam perasaan Bibi Oh.
"Nana, aku tahu kau sedang ada masalah. Tapi, jangan menyiksa dirimu seperti ini." Bibi Oh langsung memeluk erat tubuh Nana, mengelus lembut rambutnya sambil menghapus air matanya.
"Bibi, aku menyuruh Djordi untuk mencari ibuku" ucap Nana.
"Apa ! Ibumu?" Bibi Oh terhentak, kaget.
"Tapi, Nana ... emm, ibumu sudah lama meninggal." Bicara Bibi Oh menjadi sungkan, karena ia tak enak hati membahas kematian ibu Nana.
Nana berjalan dan mulai duduk lagi di kursi yang mengarah ke luar jendela itu.
Dengan perasaan yang amat sedih dan sedikit penyesalan, Nana mulai menjelaskan kejadian malam tadi tentang rumor ibunya yang dikabarkan meninggal tidak wajar itu.
Setelah mendengar penjelasan yang terucap dari bibir Nana, Bibi Oh membulatkan matanya. Ia merasa tak percaya dengan cerita pembunuhan keji itu, apa lagi saat mendengar sebutan ibu dari Djordi Aganor lah tujuan sebenarnya dari pembunuhan itu.
"Bibi, apakah Djordi sudah mulai mencari ibuku?" tutur Nana, dengan dibalut rasa sedih dan kekecewaan.
"Nana ! Itu tidak mungkin," bantah Bibi Oh.
"Ah ! Emm, bukan tidak mungkin. Maksudku, kecelakaan itu sudah puluhan tahun. Bagaimana mungkin Djordi bisa mencari ibumu? Kau seharusnya mengiklaskan saja kepergian ibumu. Jika ibumu masih hidup pun, dia pasti akan langsung kembali padamu, Nana. Jangan menyiksa Djordi seperti ini," ucap Bibi Oh.
"Ya, aku tahu. Titah ku ini, menyiksa dia dan diriku juga. Tapi, aku ingin dia mencari ibuku karena kejadian kecelakaan itu juga melibatkan ibu dan kaka dari ibunya. Sedangkan si pelaku sudah bunuh diri. Jadi, aku harus meminta tanggung jawab dari siapa lagi selain dia?" Nana mulai emosi.
"Aku hanya khawatir, jika memang ibuku masih hidup. Pastinya dia sangat kesepian. Mungkin dari dulu dia membutuhkan pertolongan, tapi tidak ada yang bisa menolongnya karena ayah tidak pernah mencarinya" tutur Nana.
Bibi Oh merasa iba, melihat Nana yang mengkhawatirkan ibunya.
"Tapi, kau mengorbankan cinta dan pernikahanmu," celetuk Bibi Oh.
"Ya. Itu karena aku yakin, ibuku masih hidup. Aku tidak ingin menikah jika tidak ada sosok ibuku yang mendampingi," ucap Nana dengan tekadnya.
"Lalu, apakah kau juga memikirkan bagaimana keadaan Djordi saat ini dan sampai dia menemukan ibumu, nanti?" tanya Bibi Oh.
Wssss..
Tiba-tiba saja, hembusan angin masuk melalui celah jendela, menyapu hangat helaian-helaian rambut Nana.
Nana beranjak dari kursi. Perlahan melangkah kan kakinya, berjalan mendekati jendela.
Tidak mungkin aku tidak mengkhawatirkan pria yang aku cintai. Djordi ! Semalaman, aku menunggumu menghubungiku. Dimana kau saat ini? Sedang apa kau? Apakah semalam tidurmu nyenyak? Apa kau sudah sarapan dengan baik? Apa kau juga memikirkanku, seperti aku memikirkanmu? Semoga saja semesta bisa menjagamu, tanpa adanya diriku lagi yang menemani hari-harimu ! (Gumam Nana dalam lamunannya, sambil menatap hampa keluar jendela)
..
BERSAMBUNG !!!
__ADS_1
LIKE, KOMEN, & VOTE sebanyak-banyaknya ❤🙏