
Klik dulu J E M P O L nya, biar ga lupa ❤
kemudian K O M E N & V O T E sebanyak-banyaknya.
Bagi yang sudah nge - V O T E , boleh dong di tambah lagi poinnya untuk novel ini 😘
..
..
..
Nana tidak menjawab ajakan Sean yang meminta dirinya untuk pindah ke rumah Sean.
Nana tersadarkan saat melihat dirinya sedang berada di kamar Djordi.
"Eh, bukankah ini di kamar, bos? Lalu, dimana lelaki tua itu.. Ah, maksudku dimana bos?". Ucap Nana, dengan wajah yang sedikit kesal.
"Paman sedang ke luar. Emm,, Nana .. semalam kau ..". Sean terbata-bata, karena tak tega untuk memastikan perbuatan tercela pamannya itu.
"Semalam?". Gumam Nana, sambil menundukkan kepalanya dan memikirkan sesuatu.
Sean merasa bersalah, karena menurutnya ia telah mengingatkan kejadian malam itu pada Nana.
"Tak, apa. Tak perlu kau ingat.. Tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab". Ucap Sean, dengan cepat merangkul dan memeluk tubuh Nana.
Hah? Apa yang dimaksud Sean, dengan akan bertanggung jawab?. (Gumam Nana dalam hatinya, terheran).
__ADS_1
"Ah, Sean apa yang kau .."
"Ssstt.. Maafkan aku, aku janji tidak akan menyinggung kejadian malam tadi. Sekarang, lebih baik kita kabur dulu dari kandang singa ini !!". Ucap Sean, sambil membantu Nana berdiri, dan memapahnya.
Nana benar-benar tidak tahu apa maksud ucapan Sean itu. Tidak pikir panjang, Sean menggiring Nana ke luar dari kamar Djordi.
Saat mereka akan menjejakkan kakinya di pintu keluar. Tiba-tiba, Djordi keluar dari dapur.
"Sean, mau kau bawa kemana Nana?". Tanya Djordi, sambil menggenggam segelas air minum di tangannya, lalu ia letakkan.
"Ah? Emm ..". Sean terkejut, karena ternyata pamannya itu berada di rumah.
Djordi berjalan cepat, menghampiri mereka. Lalu, ia menarik paksa tangan Nana.
"Apa kau tidak di ajarkan oleh ibumu? Mengenai tidak boleh mengambil sesuatu milik orang lain". Ucap Djordi.
Nana masih bertanya-tanya.
Memangnya ada kejadian apa semalam? (Gumam Nana dalam hatinya).
"Kau tidak usah ikut campur. Aku sudah menyiapkan surat nikahnya". Ucap Djordi.
"Apa? Kau sudah menyiapkan surat nikah? Tidak bisa !! Aku yang akan bertanggung jawab dan menikahinya". Sean sedikit mengotot.
Menikah? Siapa yang menikahi siapa?. (Nana semakin di buat bingung dengan percakapan mereka berdua).
Tangan Nana terus saja di tarik sana sini oleh Djordi dan Sean, dengan posisi membelakangi kaca yang berada di ruang tamu itu. Tidak sengaja Nana melirik ke arah kaca tersebut.
__ADS_1
"Uh?". Nana sangat terkejut, sambil menundukkan kepalanya. Karena, melihat bercak darah di bagian celana belakangnya. Dengan cepat tangan kanannya menutupi bagian **** *, dan tangan kirinya menutupi bagian pantatnya.
Sean dan Djordi seketika menghentikan pertengkarannya itu, karena mendengar suara keluh Nana. Mereka memperhatikan tingkah Nana yang menutupi bagian **** * dan pantatnya itu.
Sean terkejut.
"Nana ! Apa kau merasakan sakit di bagian .. emm, di bagian itu". Sean sedikit panik. Ia merasa tidak enak bertanya seperti itu pada Nana.
Djordi mendengar perkataan Sean yang sembrono itu, langsung membulatkan kedua matanya. Djordi memelototi Sean, dan mencubit sedikit bagian perutnya.
"A,, ah. Paman, apa yang kau ..".
"Emm,, maaf. Tapi, apakah salah satu di antara kalian memiliki atau menyimpan pembalut?". Tanya Nana, sedikit malu-malu sambil terus menutupi bagian itu nya.
Djordi dan Sean terdiam, dan terheran.
"Ah! Ehm,, sepertinya aku datang bulan di waktu yang tidak tepat. Hahahaa.. ". Nana menutupi rasa malunya, dengan memaksakan tertawa.
"Datang bulan?". Gumam Sean, matanya di ciutkan.
"Jadi, maksudmu .. bercak darah itu adalah darah haid?". Tanya Djordi, matanya sedikit melotot.
"Emm, e'em". Nana menunduk dan menganggukan kepalanya. Ia benar-benar berada di situasi yang sangat memalukan.
Sean dan Djordi membatu, seketika badan mereka melemas. Perasaan mereka menjadi hampa, setelah mendengar ucapan dari Nana, yang menjelaskan bahwa bercak darah itu ternyata bukan hal gila yang mereka pikirkan, melainkan bercak darah haid. Mereka sudah salah paham sejauh ini.
Sampai-sampai Djordi sudah akan membuat surat nikahnya dengan Nana.
__ADS_1
Sean dan Djordi beradu tatap, mulutnya menganga sambil menaikkan alis kirinya masing-masing.