Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Akal Bulus Djordi


__ADS_3

.


Suasana menjadi canggung. Electra dan Sean hanya terdiam membisu tanpa berkata apapun. Kelakuan pengecut Sean membuat Djordi menjadi kesal.


"Sean, apa kau tahu Electra menyukaimu,?" ucap Djordi dengan tidak basa-basi lagi. Electra terhentak, ia menjadi sangat gugup dan malu. Begitupun dengan Sean yang membelalakan matanya.


"Aku tidak akan bertanya bagaimana perasaanmu padanya, aku hanya membantu Electra saja. Nih, aku pinjamkan kartu hitamku padamu (kartu tanpa batas). Aku sudah memesan restoran romantis di pusat Kota. Cepat kalian pergi, dan selesaikan persoalan cinta kalian disana." Djordi memasukan dompetnya lagi kedalam saku celana setelah mengeluarkan kartu hitam itu.


Sean menundukkan kepalanya dengan memainkan jari jemarinya, terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Djordi melirik ke arah Jai, ia menggerakan bola matanya, menyiratkan agar Jai membantu Djordi mengurus Sean dan Electra.


Jai langsung paham dengan gerakan bola mata pamannya itu. Tiba-tiba, Jai beranjak dan mengambil kartu hitam yang tergeletak di atas meja. Ia langsung menggandeng tangan Electra.


"Kau berkencan denganku saja. Jangan memilih lelaki yang tidak memberimu kepastian. Yuk, tidak perlu ke restoran, kita pakai kartu paman untuk membeli hotel saja," sindir Jai sambil mendelekan matanya ke arah Sean yang masih saja lambat.


Jai merangkul bahu Electra di hadapan semuanya, sambil berjalan keluar.


"Begitulah lelaki, jika tidak ada tindakan, kau akan langsung disalip. Apa kau tidak belajar dari masa lalumu? Saat itu kau hanya mendekati Nana tanpa memberikannya kepastian. Pada akhirnya kan, kau kusalip juga. Apa kau mau mengulang sejarah?" sindir Djordi dengan wajah yang berseringai.


Nana langsung memelototinya, karena Djordi sangat terang-terangan sekali.


Perlahan Sean beranjak, tanpa berpamitan ia langsung mengejar Jai dan Electra yang saat itu sudah akan memasuki mobil Jai.


"Jai, aku sudah memotret kalian dan aku kirimkan pada Karina." Sean langsung menarik tangan Electra, dan beralih membawanya masuk kedalam mobil Sean.


Jai terhentak kaget.


"Apa kau bilang? Kau mengirim foto aku yang sedang merangkul Electra ke Karina?" ucap Jai dengan wajah yang pucat.


Sean tak menghiraukannya, ia langsung masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


Jai terlihat sangat kesal, ia menggedor-gedor kaca mobil Sean.


"Hey brengsek ! Aku hanya membantu kalian. Bukannya berterimakasih, kau malah membuat hubungan cintaku menjadi bumerang !" teriak Jai meluapkan emosinya.


Sean tak perduli, menurutnya suruh siapa dia bersekongkol dengan pamannya. Ia langsung menginjak pedal gas, meninggalkan Jai begitu saja.


Wajah Jai sangat pucat, keringatnya mulai bermunculan.


Karina adalah cinta pertamanya. Jai bertahun-tahun mengejar wanita dingin itu dengan segala upayanya, dan baru satu bulan mereka berpacaran.


Saat mendengar Sean memotret dirinya dengan Electra lalu dikirimkannya ke Karina, Jai begitu mengkhawatirkan hubungannya, karena meskipun sikap Karina sangat dingin bagaikan es, tapi rasa cemburu Karina sangatlah besar.


Uh ! Bagaimana ini, karena sangatlah susah bagiku untuk membujuk Karina. Jika sudah bertengkar, Karina akan marah selama seharian. Membujuknya perlu waktu berminggu-minggu dan Karina selalu mengungkit-ungkit kejadian di masa lalu. (Batin Jai, meratapi hubungan cintanya)


Kemudian, Jai segera menelepon Karina.


Setelah terdengar panggilannya sudah di angkat, ia langsung berkata panjang lebar kali tinggi untuk menjelaskan pada Karina bahwa foto Jai bersama seorang wanita yang Sean kirimkan itu hanyalah keponakannya.


"Kau ini bicara atau sedang mengejan? Mengapa tidak ada jeda sama sekali. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jai !" ucap Karina di balik telepon.


Jai mengatur nafasnya, kemudian ia menjelaskan kembali secara perlahan tentang foto yang Sean kirim padanya, agar Karina mudah memahaminya.

__ADS_1


"Apa? Kau merangkul seorang wanita?" Karina terhentak kaget.


Hah ! Karina tidak tahu? Jangan-jangan, si Sean itu hanya mengelabuiku. Arrrgghhh, sial !!! Aku menggali kuburanku sendiri. Awas saja kau Sean ! (Batin Jai penuh dendam)


Karina berteriak di dalam telepon, ia langsung memarahi Jai habis-habisan tanpa jeda sedikitpun, dan setelah memarahi Jai, Karina langsung menutup panggilannya. Hingga membuat Jai membatu, tak bisa berkutik, hanya bisa pasrah.


Hembusan anginpun terasa sedang menertawai dan meledek dirinya yang bodoh.


...


Waktu berjalan begitu cepat.


Satu bulan sudah berlalu. Kisah cinta Electra dan Sean pada akhirnya berjalan mulus, Sean sudah mulai membuka hatinya untuk Electra. Mereka tidak ingin pacaran lama-lama. Target Sean adalah tahun depan, ia akan menikahi Electra. Begitupun dengan kisah cinta Jai dan Karina, meskipun sangat penuh tantangan karena Karina sangatlah pencemburu, tapi sikap cemburunya itu tak membuat Jai bosan. Justru, kecemburuan Karina itulah yang membuat Jai semakin mencintainya, karena Jai merasa dirinya begitu dicintai oleh Karina.


Tinggal dua bulan lagi, Chan akan resmi menjadi seorang ayah. Kini usia kehamilan Kattie memasuki bulan ke tujuh. Mood Kattie yang sedang hamil membuat Chan tak habis pikir. Terkadang, Kattie begitu manja padanya, hingga saat Chan terduduk di meja kerjanya dengan sebuah laptop, Kattie duduk di pangkuannya memeluk erat tubuh Chan, dan sesekali menciuminya, hingga Chan tak bisa fokus bekerja lagi.


Tapi jika sudah marah, Kattie akan mengomel tak henti-henti, nafas dan kedipan Chan pun di permasalahkan olehnya.


"Kenapa kedipan matamu seperti itu, dan nafasmu juga terdengar aneh. Jedanya sangat cepat sekali. Harusnya santai saja, itu akan membuat otot matamu lelah. Aku sangat terganggu dengan suara nafasmu dan cara kau mengedip itu. Menyingkirlah dari hadapanku, sekarang!" Begitulah kata Kattie saat mengomeli sesuatu yang menurut Chan normal-normal saja.


Teruntuk keluarga kecil Djordi, tingkah Alucard semakin hari semakin berkembang, membuat Nana semakin gemas tiap harinya. Ya, Djordi menamai anak pertamanya itu dangan nama Alucard.


Menurut Djordi, arti nama dari Alucard adalah sosok pemimpin yang sangat berwibawa dengan sikap kepercayaan tinggi dalam dirinya. Djordi berharap Alucard berkembang menjadi sosok lelaki yang seperti itu.


Hari ini adalah hari yang paling dinanti Djordi. Pasalnya, masa pendarahan Nana sudah selesai dan jahitan di kewanitaannya pun sudah kering dan sembuh. Nana pun sudah sangat gesit saat berjalan, seperti sudah kembali dalam keadaan normal lagi.


Djordi segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor, karena sudah tidak sabar ingin bertemu anak dan istrinya. Padahal ingin bertemu anaknya hanya 30% dan bertemu Nana 70%.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Djordi pun sudah menyelesaikan pekerjaannya, walaupun sangat cepat tapi cara Djordi bekerja begitu teliti.


Seperti biasanya, Djordi selalu membawa makanan untuk istri tercintanya setelah pulang dari kantor. Ia menyimpang untuk membeli ikan bakar di restoran favorit Nana.


Tibalah Djordi di rumahnya dengan wajah yang berseri-seri, suasana hatinya sangat baik.


Djordi memasuki rumahnya, berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Terlihat Nana sedang meniduri anak mereka.


Djordi langsung memeluknya dari belakang, sambil mengelus anak mereka yang sedang Nana gendong.


"Aku membawakan ikan bakar lagi untukmu," bisik Djordi. Nafas Djordi terasa geli menyentuh leher Nana.


Kemudian Nana menyimpan bayinya yang sudah tertidur kedalam boks bayi. Ia mengambil bungkus ikan bakar itu, dan membukanya. Kedua matanya berbinar, setelah mencium aroma harum ikan bakar yang begitu lezat itu.


Nana langsung melahapnya, tanpa melirik Djordi yang saat itu akan pergi mandi. Tiba-tiba,


Uhuk... uhuk...


"Ambilkan aku minum ! Cepat, durinya masuk," ucap Nana panik, dengan mata yang berlinangan air.


Djordi yang saat itu sudah setengah telanjang, dengan cepat ia mengambil air minum untuk istrinya. Lalu, memberikannya pada Nana.


Nana langsung meneguk habis air minum itu, lehernya terasa nyeri sekali karena duri ikan itu menancap di tenggorokannya.


"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Djordi, cemas.

__ADS_1


Nafas Nana terengah-engah, kemudian ia bersandar sejenak di sofa itu.


"Ya, sudah tidak sakit. Sudah sana, cepat kau mandi. Nanti airnya keburu dingin !" kata Nana.


Djordi malah salah fokus pada bagian dada Nana, karena air minum tadi membasahi piyama tipis yang Nana kenakan, hingga menampakkan belahan kedua dada besarnya itu.


Uh, kenapa postur buah dada Nana lebih berisi dari sebelumnya? (Batin Djordi, ia menelan air ludahnya menahan godaan dihadapannya itu)


Perlahan Djordi merayap mendekati Nana. Nana mengernyit heran.


"Hey, mau apa kau?" tanya Nana, dengan tatapan curiga.


"Ini sudah satu bulan lebih semenjak kau melahirkan, apa kau mau menyiksa suamimu terus menerus?" kata Djordi, tangan laknatnya sudah tidak bisa dikendalikan, meraba kesana kemari mencari lubang kenikmatan.


"Uh, baiklah-baiklah. Tapi, jangan melakukannya di sofa !" bantah Nana sambil berusaha menahan tangan Djordi yang sangat lincah itu.


Tak pikir panjang, Djordi langsung membawa Nana ke atas ranjang.


Perlahan, Djordi membuka piyama Nana dengan sentuhan lembutnya.


"Tunggu ! Tunggu sebentar." Nana langsung mendorong tubuh Djordi, dan beranjak mendekati lemari sambil menahan piyamanya yang hampir terlepas itu.


"Apa lagi sih Nana !" geram Djordi, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan melentangkan kedua tangannya di atas ranjang.


Nana menyobek sebuah bungkusan. Lalu ia berjalan mendekati Djordi yang sedang terlentang di atas ranjang.


Kemudian, Nana merayap naik ke atas tubuh Djordi, ia membuka paksa celana Djordi dan memasangkan pengaman di bagian sensitif Djordi yang sudah berdiri menantangnya.


Djordi terhentak kaget, karena Nana sudah sangat berani padanya. Ia tak menyangka, sepertinya Nana pun sangat antusias menunggu hari ini seperti yang Djordi rasakan.


Djordi tersenyum ke arah Nana, dan sebaliknya, Nana pun membalas senyuman itu.


Mereka mulai bermain panas di atas ranjang.


Tapi, Nana sedikit khawatir jika jahitannya robek. Djordi langsung meyakinkannya, bahwa ia akan bermain halus.


Beberapa menit telah berlalu, Djordi sudah merasa dirinya akan sampai dititik puncak kenikmatan. Ia memeluk tubuh Nana dan bertukar posisi. Saat sedang bertukar posisi itu lah akal licik Djordi bermain. Ia melepaskan pengaman yang Nana pasang tadi, melemparkannya ke bawah ranjang. Dan mulai berpacu lebih ganas, hingga akhirnya Djordi mencapai puncak kenikmatan itu.


Djordi dan Nana terengah-engah, dengan keringat yang mengucur deras sambil menciumi kening Nana beberapa kali sebelum mereka terlelap karena kelelahan.


Djordi tersenyum, karena telah berhasil mengelabui Nana. Sebenarnya Djordi menginginkan anak lagi dari Nana, makanya ia melepaskan pengaman itu. Hanya saja, Nana tidak mengetahuinya. Jika Nana mengetahuinya, ia pasti akan mengomeli Djordi.


Kita tunggu hasilnya ! (Batin Djordi dengan wajah yang berseringai)


...


BERSAMBUNG !!!!


Hayooo, mana nih like, komen & vote nya.


Jangan lupa dong mampir ke novel


AIR MATA PENGANTIN ❤

__ADS_1


__ADS_2