
Buat yang penasaran sama raut wajah kebahagiaan Djordi dan Nana pada saat melahirkan anak pertamanya. Yuk, masuk ke GC ku, latar grupnya Djordi, Nana dan bayinya loh 😍
.
Saat keluar dari ruang dokter kandungan itu, Nana langsung mengomeli Djordi karena selama dua bulan mereka bersetubuh, ternyata Djordi terus membohonginya. Nana menyubit-nyubit kecil tangan, dan perut Djordi sambil terus meluapkan kekesalannya itu, kemudian Nana berjalan dengan bibir mengerucut meninggalkan Djordi begitu saja.
Djordi menyusulnya dari belakang sambil terus meminta maaf dengan raut wajah yang begitu malang, hingga para pengunjung rumah sakit menatap heran ke arah mereka.
"Bukankah itu Tuan Aganor? CEO DJ Entertainment?"
"Iya, sepertinya dia sedang bertengkar dengan istrinya, ya?"
"Aku tak menyangka Tuan Aganor termaksud kelompok suami-suami takut istri !"
Begitulah bisikan-bisikan pengunjung rumah sakit dengan nada suara tinggi, mungkin agar terdengar oleh yang lain.
Dasar ibu-ibu penggosip ! (Batin Djordi sambil mendelekan matanya pada ketiga ibu-ibu yang tadi membicarakannya)
Karena tidak ingin ada image jelek dimata orang-orang, Djordi langsung menggendong tubuh Nana dan berlari keluar dari rumah sakit menuju area parkir mobil.
Nana meronta-ronta, tapi Djordi tak memperdulikannya. Ia membuka mobil, memasukan Nana dengan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya, kemudian dengan cepatnya Djordi menginjak pedal gas dan melaju menuju The King Hotel.
Saat di perjalanan, Nana mengunci mulutnya rapat-rapat sambil mengelak, tak ingin menatap wajah suaminya yang sudah membuatnya kesal hati itu.
Tiba-tiba Djordi berteriak. "ADA IKAN BAKAR BISA TERBANG !" Sontak saja Nana langsung memalingkan wajahnya ke depan sambil mendongakkan mukanya, mencari ikan bakar yang bisa terbang. Djordi malah langsung mencium pipi Nana yang saat itu tengah menganga dengan kedua bola mata yang menatap ke atas langit.
"Mana ada ikan bakar bisa terbang, honey !" celetuk Djordi sambil tertawa cengengesan.
Nana langsung tertunduk dengan pipi yang memerah. Memerah antara kesal, marah dan malu. Kemudian, ia membuang nafas panjang, meluapkan kekesalannya yang sudah menggunduk itu. Tapi, Nana tidak ingin berdebat lagi dengan Djordi. "Ck !" decak Nana.
...
Sampailah mereka di The King Hotel.
Saat keluar dari mobil, Nana dan Djordi langsung disambut tangisan kejer dari Alucard. Wajahnya sudah sangat merah karena menangis, mencari air susu.
Nana langsung mengambil alih Alucard dari tangan si baby sitter itu.
"Uh, sayang maafkan ibu !" Ia menepuk-nepuk pundak Alucard berusaha menenangkannya, sambil berjalan masuk menuju kamar hotelnya.
Saat Nana dan Djordi masuk kedalam kamar hotel itu, kedua mata Nana terbelalak karena di samping ranjangnya banyak sekali bungkusan dus susu formula beserta beberapa botol susunya.
"Apa kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Nana pada Djordi.
Djordi mengangguk sambil tersenyum.
"Untuk apa? ASI ku sangat banyak, singkirkan semuanya !" bantah Nana sambil duduk di atas ranjangnya, berniat akan menyusui Alucard.
Djordi mengambil botol susu, dan membuka bungkusan susu formula itu.
"Hey, kau ini sedang mengandung bayi kembar, Nana. Apa kau lupa yang dijelaskan dokter tadi? Kau adalah salah satu dari yang tidak boleh menyusui, karena kau sedang mengandung bayi kembar." Djordi mengingatkan penjelasan dokter pada Nana.
Nana terjeda sesaat dengan wajah termenung, kemudian ia menutup kembali pakaiannya, tidak jadi menyusui Alucard.
Alucard sudah menganga-nganga karena tadi ****** Nana hampir menyentuh mulutnya.
Uh, maafkan ibu sayang ! (Batin Nana)
Alucard menatap kecewa pada ibunya dengan bibir mengerucut, dan anak itu langsung menangis lagi. Nana tak tega melihatnya.
Tiba-tiba, Djordi berjalan mendekati Nana dan anaknya sambil membawa sebotol susu yang sudah ia seduh menggunakan air hangat.
__ADS_1
"Hey, hey, hey ! Jangan asal memberikan susu itu pada anakku? Apa kau sudah sangat benar mengikuti langkah-langkahnya?" Nana langsung merampas botol susu itu dari tangan Djordi.
"Aku sudah sangat benar mengikuti langkah dan takarannya ! Sudahlah Nana. Lihat, anakku sangat kehausan !" Djordi menatap cemas pada wajah anaknya yang kian memerah lagi karena menangis keras.
Nana menimang-nimang Alucard dan Djordi yang berusaha memegang botol susunya.
Saat susu formula cair itu sudah sedikit tertelan oleh Alucard, anak itu langsung menolaknya dengan menjulurkan sedikit lidahnya keluar.
"Uh, ada apa dengannya?" tanya Djordi. "Mungkinkah susunya kurang enak, atau kurang manis?" sambungnya.
Karena penasaran, Djordi langsung mencoba susu botol itu, menghisapnya tanpa sadar.
Bruk..
Nana memukul kecil bagian tangan Djordi, hingga membuat air susu itu berceceran di lantai.
"Apa yang kau lakukan ?" geram Nana sambil merebut botol susu itu dari tangan Djordi.
"A-aku hanya ingin mencobanya saja, karena sepertinya Alucard tidak suka susu itu !" ucap gugup Djordi.
"Dia kan baru pertama kali meminum susu formula. Lidahnya harus beradaptasi dulu !" Nana menyerahkan Alucard ke pangkuan Djordi, kemudian ia mengganti botol susu itu dengan yang baru dan menyeduhkan kembali susu formula itu.
"Awas ! Jangan diminum lagi," Nana memelototi Djordi. Ia mengambil kembali Alucard dari pangkuan Djordi.
Lalu, Djordi melepas kemejanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Nana, aku juga mau susu ... hiks!" sindir Djordi dengan wajah pura-pura menggemaskan.
"Apa di hotelmu ini tidak menyediakan susu?"
"Rrr... aku mau yang itu !" Djordi menyomot kedua buah dada Nana yang semakin membengkak, karena ASInya tidak di keluarkan.
"Uh, sakit tau !" Nana menepis tangan Djordi dengan kerutan di dahinya. Djordi mengangkat alisnya, karena terheran.
"Ah, pantas saja tadi terasa keras, tidak selembut sebelumnya. Bengkak karena ASInya tidak keluar?" Djordi menatap penasaran.
"Apakah sakit?" sambungnya mengernyit kasihan. Nana langsung menganggukan kepalanya dengan raut wajah malang.
"Sini, biar aku bantu mengeluarkannya dengan mulutku !" katanya.
"Apa ! Dasar gila."
"Hey, aku hanya ingin membantu mengurangi bengkaknya. Aku sangat mampu, bukan?" Djordi bersikekeh.
"Sstttt. Jangan berisik, anakku sudah tertidur !" bisik Nana dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah Djordi.
"Tuh, lihat. Anak kita saja mendukung. Aku meminta em em em, dia langsung tertidur," bisik Djordi yang saat itu berada dekat dengan telinga Nana.
Tangannya mulai tidak bisa di kontrol, masuk begitu saja kedalam baju Nana.
Nana langsung menahan tangan Djordi.
"Hey, hey, hey !!! Kau semakin tua, semakin menjadi ya. Apa kau masih belum kapok juga? Belum juga satu tahun, tapi kau sudah membuahi rahimku sampai tiga kali. Aku ini sedang mengandung anak kembarmu, aku takut terjadi masalah pada kehamilan yang masih muda ini !" bantah Nana.
"Hmm...." Djordi menghela nafas yang terasa berat. Perlahan tangannya mulai kembali pada posisinya dengan bibir mengerucut.
"Baiklah, baiklah .Tapi, kau jangan menyiksaku lagi seperti saat kau hamil Alucard ya?"
Nana mengangguk cepat.
Anginpun berhembus kencang. Tubuh Djordi masih saja berdiri di belakang Nana.
__ADS_1
"Apa lagi?" decak Nana sambil merapikan kemeja Djordi yang tadi tergeletak di atas ranjang.
Djordi hanya terdiam sambil mengikuti langkah kakinya.
"Apa !" Nana mengangkat alis kirinya.
"Ini loh ... si otong, tidak mau tertidur. Masih saja terus berdiri. 😢" Djordi memasang raut wajah malang.
"Si otong?" Nana mengernyit terheran, sambil menggaruk-garuk keningnya.
Dengan cepat Djordi menarik tangan Nana, membawanya masuk kedalam kamar mandi.
"Kau harus membantuku ! Tanggung jawablah," katanya, sambil menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya.
******
Diwaktu yang bersamaan.
New York, pukul 01:12 pagi.
Dengan profesinya sebagai Desainer Interior terkenal di New York , saat ini John Natan sedang mengerjakan proyeknya dengan sungguh-sungguh. Memang, John sangat suka menyelesaikan pekerjaan dengan efisiensi tinggi.
Selarut ini pun, John masih terjaga dengan ketepatan, kecermatan, perhitungan, juga imajinasi dan kreativitas untuk menyelesaikan proyeknya.
Setelah menyelesaikan proyeknya dengan titik kesempurnaan dan keyakinan tinggi, kemudian John meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia mengambil segelas air dingin, untuk menyegarkan kembali otak yang sudah terasa berat itu.
Ia berjalan keluar menuju balkon yang berada di kantornya. Menatap sepi ke arah langit yang berbintang sambil menghirup udara malam.
Setelah merasa cukup, John pun masuk lagi dan duduk di kursi kerjanya dengan sebuah laptop di atas meja kerjanya. Ia berniat akan bermalam di kantornya. Setelah menghabiskan minuman dingin itu, rasa kantukpun menyerang. Tapi, tiba-tiba ada sebuah notifikasi dari situs web berita Korea yang sudah John ikuti.
Situs web itu memberitakan kabar bahagia dari salah satu member XEO, yaitu Chaning, karena istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka yang berjenis kelamin lelaki. Chan mengunggah foto anaknya yang berselimut putih tebal beberapa jam yang lalu di akun media sosialnya, dengan caption mengucapkan tanda terimakasih kepada paman, bibi dan seluruh keluarganya yang selalu berada disampingnya saat Chan terpuruk. Sontak saja, jutaan fansnya dari penjuru Dunia membanji komentar hangat untuk kelahiran anak Chan.
Melihat berita tentang Chan, membuat John mengingat kembali sosok wanita yang pernah bersemayam sangat lama di hatinya.
Penasaran dengan anak Chan yang baru lahir, John mengintip ke akun media sosial Chan, dan saat melihat beberapa foto yang terunggah di sana, ternyata ada foto Nana dan Djordi yang sedang berada di pinggir pantai sambil menggendong seorang bayi.
Perasaannya tiba-tiba sedih saat melihat Nana sedang menggendong bayi.
"Apakah, Nana sudah mempunyai anak?" gumam John, kemudian tangannya tak sengaja mengklik akun media sosial Bae Nana yang pada saat itu berkomentar di foto Chan yang sedang John lihat.
Matanya terbelalak dengan perasaan yang sedikit teriris, setelah melihat deretan beberapa foto bayi yang baru lahir.
John melihat komentarnya untuk memastikan anak siapa itu.
Semakin ia penasaran semakin dalam pula rasa sakit yang ia dapatkan.
John menghela nafas yang terasa sudah sangat berat, saat membaca jutaan komentar selamat atas kelahiran anak tuan Aganor dan nona Bae.
"Huuhhh...." John menghela nafas panjang dengan perasaan yang sangat hampa, sambil mendongakan mukanya ke arah langit-langit.
"Sudah bertahun-tahun bertahan untuk tidak penasaran dengan kehidupan Nana. Pada akhirmya pecah juga !" gumam John.
Aku sangat rindu pada Nana dan juga Ayah, Ibu. Tapi, pekerjaanku disini sangat banyak, tidak bisa ditinggal begitu saja. Mungkin aku harus mengosongkan pekerjaanku dua atau tiga tahun kedepan ini, untuk pulang ke Korea. (Batin John)
..
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa Vote dong..
Eh, mampir juga ya ke novel;
__ADS_1
AIR MATA PENGANTIN.