
Akhir-akhir ini kurang semangat nih, ayo dong kali-kali vote sama Koin 😂 gak maksa kok, tapi berharap :V
..
..
..
Hari demi hari telah berlalu. Setiap pagi, hingga pagi lagi, Nana hanya terduduk dengan menatap hampa ke luar jendela. Makanan, yang sering kali Bibi Oh letakkan di atas meja hanya pajangan semata baginya. Sesekali Bibi Oh menyuapinya, bergantian dengan Kattie.
Setiap hari pula Sean selalu berkunjung ke apartemen Managernya itu, hanya untuk melihat keadaan wanita yang ia cintai.
Tapi, Nana tidak menoleh sedikitpun, setiap kali Sean berkunjung dan membujuknya.
Hari demi hari, tubuh Nana pun kian menyusut. Nana benar-benar sangat kehilangan sosok Djordi yang selalu menemaninya setiap hari.
Sudah kedua kalinya, Nana kehilangan sosok pria yang dicintai. Tapi, menghilangnya Djordi di kehidupan Nana saat ini, memberi luka juga rindu yang teramat dalam dilubuk hatinya.
Sean selalu mencari cara, agar bisa menghubungi Djordi. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Nana yang tiap hari kian memburuk. Tapi, tidak ada yang tahu dimana Djordi berada. Perusahaannya pun, untuk saat ini dikendalikan dulu oleh kakak dan sekretarisnya.
..
..
Musim semi sudah berakhir, dan beralihlah musim, menjadi musim panas.
Saat itu, suhu di Korea mencapai 30°C, cuaca yang cukup panas. Nana hanya terus menatap ponselnya, berangan-angan jika Djordi tiba-tiba menghubunginya. Tapi sayangnya, Djordi tak kunjung mengabari Nana juga.
Musim panaspun berakhir, kemudian beralih lagi musimnya, menjadi musim gugur.
Pohon ginko dan pohon maple pun, daunnya mulai memerah dan menguning, kemudian berguguran satu demi satu. Musim dimana, pemandangan dedaunan yang berguguran sangat indah. Suasana yang terrasa romantis untuk pasangan. Tapi, tidak dengan Nana. Ia hanya terduduk melamun, berteman sepi dan menatap hampa keluar jendela. Tubuhnya kian dibalut rasa rindu dan kehampaan yang semakin dalam semakin menusuk.
..
Sudah akhir tahun. Musim gugur sudah akan berakhir. Djordi benar-benar menyiksa Nana, dengan sama sekali tidak menghubunginya selama pergantian keempat musim itu.
Hatinya berantakan, jiwanya berhamburan.
Hingga akhirnya, musim dingin pun tiba. Suhu dingin mulai menusuk kedalam kulit Nana, melalui celah jendela. Di musim dingin, hari-hari menjadi lebih singkat dari biasanya. Sinar mentari muncul lambat, dan tenggelam lebih awal.
Butiran-butiran lembut berwarna putih, mulai berjatuhan. Pemandangan salju yang berguguran saat itu, betul-betul sangat indah.
Hujan salju menyapa hangat Nana yang sedang dibalut kesedihan, kesunyian, dan kesendirian.
Salju-salju itu, seperti menyiratkan padanya, bahwa kebahagiaan yang sempurna akan segera datang.
Nana berjalan menuju balkon apartemen. Raganya seperti ditarik oleh keindahan salju-salju yang membuatnya takjub itu. Ia mengulurkan tangan kanannya. Hingga tetesan salju menyentuh lembut di telapak tangannya.
Kemudian, Nana memejamkan matanya, menghirup dan meresapi udara yang dingin menusuk kulit itu.
Tiba-tiba saja, jiwanya sudah merasa tenang dan damai. Kedua mata Nana mulai berbinar, senyumnya mulai terlukis indah di wajahnya. Semangat dari dalam dirinya pun terpancar jelas.
Ada apa ini? (Gumam Nana terheran, karena keadaannya pulih sangat drastis)
Tiba-tiba, perutnya sangat lapar. Nana mulai melirik makanan di atas meja, yang telah Bibi Oh sediakan untuknya. Ia menyantapnya tanpa ampun.
Kemudian, Nana merasakan tubuhnya sangat lembab dan kotor. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah tubuhnya merasa segar. Seketika, Nana menjadi ingin berdandan. Ia memulainya dari memilih beberapa baju yang telah Bibi Oh beli untuknya selama Nana tinggal di apartemennya itu. Kemudian, pandangannya tidak sengaja melirik wadah peralatan make up milik Kattie, yang tergeletak di atas meja.
Nana langsung membuka youtube. Mulai mencari tutorial make up yang bisa menghilangkan kantung di matanya yang sudah bagaikan panda itu, agar membuat wajahnya nampak segar.
Di dalam lubuk hatinya, ia hanya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan anggota tubuhnya? Hingga jiwanya ingin berdandan secantik mungkin, seperti itu.
..
Setelah selesai berdandan. Nana beberapa kali menatap cermin. Ia tak percaya tangannya bisa merubah wajahnya sendiri yang tadinya sudah bagaikan mayat hidup, menjadi cantik rupawan lagi.
Plukk..
Tiba-tiba saja, lipstik yang akan Nana simpan di atas meja terjatuh, menggelinding masuk ke bawah ranjang.
Nana berjalan mengambilnya, tapi ia sedikit kesusahan untuk meraih lipstik itu.
Tiba-tiba, Nana mendengar suara mobil berhenti.
Tegg !!
Seketika, jantung Nana berdetak seperti genderang mau perang.
Tapi, entah bagaimana suara mobil itu bisa terdengar sampai ke lantai lima?
Nana langsung mendobrak pintu koridor secara kasar. Kemudian, kedua bola matanya tertuju ke bawah gedung apartemen.
Djordi !!!
Kedua bola mata Nana, membulat dengan sempurna. Jiwa bahagianya meletup-letup di sekujur tubuhnya.
Saat Nana keluar, muncul dari pintu darurat itu.
Terlihat, Djordi yang sudah akan menekan tombol lift.
"DJORDI AGANOR !" teriak Nana, dengan deraian air mata bahagia.
Nana berlari menuju pria yang amat ia rindukan itu, dengan wajah yang berseri-seri dan mata yang berbinar. Sontak saja, Djordi langsung menoleh ke sumber suara.
Brukk..
Nana langsung memeluknya dengan sangat erat. Sampai-sampai kakinya menggelantung.
"Djordi, aku merindukanmu" bisik Nana.
Djordi yang awal mulanya terhentak kaget, perlahan melumatkan senyum manisnya itu. Ia pun membalas pelukan erat itu dengan menahan tubuh Nana agar tidak jatuh.
"Ehem ... Nana ! Tidak enak dilihat orang" ucap Djordi, dengan wajah yang malu-malu. Nana tersadar, ia pun langsung melepas pelukannya itu.
"Bagaimana kau tahu aku ada disini? Ah bukan. Bagaimana dengan ibuku?" Wajahnya sangat riang gembira, dengan tatapan penuh harap.
"I-ibu mu-"
"NANA ! BAE NANA !" Tiba-tiba saja, dari luar gedung apartemen seseorang memanggil namanya.
Nana langsung menoleh ke sumber suara. Tapi, senyumnya menyusut, ia malah mengerutkan keningnya setelah melihat, bahwa yang memanggilnya itu adalah Presdir Kim. Bukan seseorang yang ia harapkan selama ini.
Nana menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"WOY ! NANA" Seketika, suara yang sangat jantan menggema di setiap sudut ruangan. Membuat Nana terhentak kaget. Dengan spontan, kepalanya memular, melihat lagi ke arah Presdir Kim.
Presdir Kim menggerakan tangannya, ia menunjuk pada seorang wanita yang terlihat sedikit agak tua, yang sedang berdiri di sampingnya itu.
Nana, lagi-lagi membulatkan matanya. Ia baru menyadari sosok yang sedang menatap lembut ke arahnya itu adalah ibu yang selama ini belum pernah tersentuh olehnya.
I-ibu !!
Perlahan air mata Nana mengalir. Nana tak bisa berkutik. Ia tak kuasa menahan rasa bahagia yang teramat dalam itu.
Djordi hanya tersenyum lega, melihat wanita yang ia cintai bisa betemu lagi dengan ibunya.
Nana menoleh pada Djordi, dengan deraian air matanya itu. Nana merasa benar-benar sangat berterima kasih padanya.
Djordi langsung menggerakkan kepalanya, menyiratkan agar Nana segera menyambut ibunya.
Nana mulai melangkah kan kakinya. Ibunya pun mulai melangkahkan kaki, dengan tetesan air mata, menghampiri anak yang sudah lama tidak ia jumpai.
Mereka beradu tatap.
Bae Nana, anakku ! ...
I-ibu ! ...
Batin mereka saling memanggil satu sama lain.
Nana langsung memeluk ibunya. Memecahkan rindu yang membeku puluhan tahun.
Presdir Kim berjalan mendekati Djordi yang sedang menatap Nana dan ibunya berpelukan.
Mereka tersenyum lega melihat pemandangan bahagia itu. Hingga Presdir Kim meneteskan air mata untuk yang pertama kalinya.
"Ck. Dasar ! Air mata buaya," decak Djordi.
"Hey ! Aku benar-benar tersentuh melihatnya tahu," gerutu presdir Kim.
"Hmm, ngomong-ngomong ... terimakasih, Kim. Kau sudah mau membantuku hampir satu tahun ini untuk mencari ibunya Nana," ucap Djordi lirih, dengan perasaan yang malu. Karena untuk pertama kali pula ia mengucapkan kata terimakasih kepada sahabatnya itu.
Presdir Kim terhentak, kaget. Ia melirik ke arah Djordi. Mereka beradu tatap.
"Peluk aku," pinta presdir Kim, sambil tersenyum usil. Presdir Kim mengucapkan kata yang membuat Djordi geli, sekaligus merinding.
"Dasar sinting ...," celetuk Djordi.
Presdir Kim tertawa melihat ekspresi Djordi itu.
"Djordi ! Bagaimana dengan pernikahanmu yang sempat tertunda itu?" tanya presdir Kim, penasaran.
"Minggu depan ! Kau akan menerima undangannya," ucap Djordi, tegas.
"Kali ini, tidak akan ada yang bisa mengganggu lagi pernikahanku !" gumam Djordi, penuh ambisi.
..
BERSAMBUNG !!!!
LIKE, KOMEN & VOTE ❤
__ADS_1