
Klik dulu J E M P O L nya biar gak lupa ..
Bagi yang sudah nge V O T E novel ini, boleh dong di tambah lagi point nya 😁😘
..
..
..
Nana membuka matanya perlahan. Djordi masih dalam keadaan berdiri dengan mulut menganga di samping ranjang. Djordi benar-benar sangat gelisah, dan tidak tahu harus berbuat apa saat itu.
Saat Djordi melihat Nana sedang mengucek-ucek kedua matanya, ia sangat ketakutan. Takut jika Nana sadar dan marah pada dirinya. Tapi, ternyata Nana tertidur lagi.
Rasa ketakutannya sudah menghantui di dalam pikirannya. Dengan cepat, dan tidak pikir panjang lagi. Djordi menarik sprei yang terkena bercak darah itu. Hingga membuat Nana terguling, dan jatuh dari atas ranjang.
Gedebrugg..
Nana tersungkur.
"Aduh..". Rintihan Nana, dengan mata yang masih tertutup rapat sambil memegangi perutnya.
"Ah? Ma ,, maaf Nana". Djordi semakin panik, ia jadi merasa bersalah.
Tiba-tiba tanpa di duga, Sean membuka pintu kamar Djordi.
Cklek..
__ADS_1
Pintu terbuka dengan cepat.
Uh, bau sekali. Bau alkohol yang sangat menyengat. (Gumam Sean, sambil menutupi hidung nya).
Sean membulatkan kedua matanya, ia sangat kaget dan terheran melihat Nana pagi-pagi dengan mata yang masih tertutup rapat, sudah berada di kamar pamannya itu, dan posisinya sedang tertidur sambil duduk di atas lantai, dengan rambut dan baju yang sangat berantakan.
Djordi pun di buat terkejut dengan kedatangan Sean yang tiba-tiba, di tambah lagi saat kondisinya sedang seperti itu.
Kemudian, lirikan pandangan Sean mengarah pada Djordi yang sedang berdiri di samping ranjang dengan wajah ketakutannya itu. Nampak di tanganya sedang menggenggam sprei putih polos, di tambah lagi dengan jas dan dasi merahnya yang terpasang tidak rapih.
Sontak saja Sean memikirkan hal-hal 18+.
"Paman. Apa yang kau dan Nana .. ?". Ucap Sean terbata-bata, dengan wajah melongo dan pemikiran yang nakal.
"Ah? Tidak-tidak, ini bukan seperti yang kau lihat". Ucap Djordi, menyangkal dengan wajah yang masih ketakutan.
"Paman ,, KAU ..". Bentak Sean, cengkramannya di kerah baju Djordi semakin kuat.
"Berani sakali kau seperti ini padaku". Ucap Djordi, marah.
"Paman, apa kau sudah melakukannya pada Nana?". Tanya Sean, serius. Matanya memancarkan aura pembunuh.
"Hey, pelankan suaramu. Ini,, bukan seperti yang kau pikirkan". Djordi semakin panik, ia takut jika Nana terbangun dan mengetahuinya.
"Apa kau sadar, dengan apa yang telah kau lakukan pada Nana?". Kemarahan Sean semakin menjadi.
"Lepaskan Sean !! Dengarkan dulu penjelasan ku". Djordi mengerutkan keningnya, sambil mendorong-dorong tubuh Sean.
__ADS_1
Sean menundukan kepalanya, ia melirik dan memandangi sprei putih polos yang sedang di genggam oleh tangan pamannya itu.
Sean melihat bercak darah yang menempel di sprei putih itu. Sontak saja, Sean semakin terkejut dan jiwa marahnya semakin bergejolak di dalam dirinya.
Sean merebut sprei putih itu dari genggaman Djordi.
"Paman, ini .. (matanya membulat sempurna) Jangan bilang karena kau khilaf, dan kau langsung melampiaskan nya pada Nana?". Sekujur tubuh Sean membatu, ia tak sangka pamannya benar-benar melakukan itu pada Nana.
Hati Sean hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Tubuhnya melemas, tangan yang tadinya mencengkram kerah baju Djordi sangat kuat, tiba-tiba saja terlepas begitu saja.
"Euh, percuma saja aku menjelaskannya padamu". Djordi menepiskan tangan Sean. Lalu, ia berjalan cepat ke luar dari kamar miliknya itu.
Nana masih tertidur dengan posisi duduknya. Matanya membengkak karena menangis semalaman.
Kemudian, Sean berbalik, dan menatap Nana dengan wajah sedihnya. Ia berjalan perlahan mendekati Nana.
"Nana..". Panggilnya, dengan suara lirih.
Air mata Sean membendung. Ia langsung memeluk tubuh Nana dengan sangat erat. Matanya menciut, keningnya mengkerut.
"Maaf Nana, karena aku telah membiarkanmu tinggal dengan paman mesumku itu". Ucap Sean.
Dari awal, seharusnya aku tidak usah mempercayakan Nana pada Paman. (Geram Sean di dalam hatinya, sambil mengepalkan tangan kanannya).
"Tenang saja Nana.. Mengenai kelakuan tercela yang telah paman lakukan padamu, aku yang akan bertanggung jawab untukmu". Ucap Sean, sambil lebih mengeratkan pelukanya dan mengusap lembut tubuh Nana.
Nana masih saja tertidur. Ia tidak tahu kegaduhan apa yang sudah terjadi di kamar milik Djordi, karena bercak darah miliknya itu membuat orang yang melihatnya langsung berpikiran negatif.
__ADS_1