
Ayo dukung terus novel ini dengan cara :
Klik J E M P O L, K O M E N & V O T E ❤
Jangan lupa, follow akun author ya 😘
..
..
..
Di sore hari.
Nampak, Djordi yang tengah sibuk mempersiapkan beberapa kejutan, di tepi pantai tanpa sepengetahuan Nana.
Djordi sengaja membuatnya untuk memberikan kejutan istimewa bagi wanitanya itu.
Nana yang seorang diri berada di dalam hotel, sedang menikmati semua fasilitas yang di sediakan di situ.
Chef bintang lima langsung yang mengantar makanan untuk Nana. Makanan yang berada di hadapannya itu cukup menarik, sepertinya mengenyangkan walau isinya terlihat sedikit, tapi ditata sedemikian rupa indahnya. Hingga Nana pun tidak tega untuk memakannya.
Saat Nana akan memasukkan makanan itu ke dalam mulut, untuk yang ke dua kalinya. Tiba-tiba Djordi menghampirinya begitu saja. Djordi langsung menarik tangan Nana dan membawanya ke luar dari The King Hotel. Nana membulatkan matanya, terkejut dan terheran.
"Hey, aku belum selesai makan. Kau mau membawaku kemana?" tanya Nana terheran, sambil terus mengikuti langkah Djordi di depannya. Djordi hanya membisu. Ia mengacuhkannya, sambil terus menarik tangan Nana. Membuat Nana bertanya-tanya saja.
Sesampainya di pinggir pantai. Djordi langsung menutup kedua mata Nana dari belakang.
"A-apa yang kau lakukan?" Nana semakin terheran-heran.
Djordi memapahnya untuk terus berjalan menuju ke depan. Nana pun berjalan dengan kaku, karena takut menginjak sesuatu yang tajam atau tersandung tanpa penglihatannya itu. Tidak lama, Djordi menyuruh Nana untuk berhenti.
Nanapun menghentikan langkah kakinya.
"Kau membawaku kemana sih? Apa kau tahu, aku sedang ma-" bicara Nana terhenti, setelah Djordi membuka telapak tangan yang menutupi matanya itu.
Matanya mulai membulat, mulutnya menganga, alisnya terangkat. Nana sangat di buat terkejut dan takjub, kala melihat di depan matanya berdiri dengan kokoh sebuah istana pasir yang besar dan tinggi. Nana mengedarkan pandangannya. Topi-topi pantai yang bulat, di gantungnya dengan beberapa lampu yang berkerlap-kerlip di sekeliling istana pasir itu.
Djordi sengaja mendatangkan beberapa seniman paling baik di dunia, untuk membuat istana pasir raksasa hanya untuk memberi kejutan pada wanita yang amat ia cintai.
Nana hanyut dalam lamunan, kala melihat istana pasir yang begitu besar dihadapannya. Nana berjalan mendekat, merasa penasaran. Perlahan, kedua tangan Nana menyentuh setiap bagian istana pasir raksasa itu, sambil tersenyum.
Kemudian Djordi memutar kepala Nana, mengarah ke samping. Sontak saja, Nana semakin di buat takjub, kala kedua matanya melihat satu buah tenda yang sudah terpasang, dengan api unggun di depannya, dan tidak lupa Djordi menuliskan tulisan besar, yang bertuliskan nama Bae Nana yang dikelilingi ratusan bunga mawar berbentuk love di setiap sampingnya.
Nana menutup mulutnya, air matanya mulai membendung. Ia benar-benar sangat tersentuh dan tidak percaya dengan kejutan-kejutan indah dihadapannya itu.
__ADS_1
Aku tidak percaya, Djordi membuat semua kejutan ini untukku? (Gumam Nana dalam hatinya, dengan bendungan air mata yang hampir menetes)
Nana langsung memeluk tubuh Djordi dengan sangat erat, diiringi angin pantai yang membuat rambut Nana berantakan dengan bajunya yang bergelombang terbawa angin kencang.
"Apa kau suka?" tanya Djordi, sambil membalas dekapan hangat tubuh Nana, di pinggir pantai.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan tidak," ucap Nana, sambil menitikan air matanya dan melepaskan pelukannya itu.
"Kau ini, selalu saja membuat kejutan yang tidak terduga ... Hikss 😢" Nana menghapus air matanya. Ia benar-benar merasa amat bahagia, saat itu.
"Dasar ! Bukannya tersenyum senang, malah menangis. Masih ada kejutan yang lainnya, besok. Kenapa kau selalu saja menangis saat aku memberimu kejutan?" tanya Djordi, sambil membatu menghapus air mata yang membasahi pipi Nana.
"Karena, kau adalah orang pertama yang selalu memberiku kesan indah, seperti ini. Aku belum pernah merasakan perasaan bahagia, sebahagia ini dalam hidupku. Aku merasa, aku sangat di istimewakan, saat ini. Terimakasih Djordi," ucap Nana, sambil menundukkan kepalanya.
Djordi tersenyum, setelah mendengar perkataan itu keluar dari mulut Nana.
"Ya, aku mengerti. Sudah, jangan bersedih lagi. Aku kan sudah berjanji padamu, kita akan membuat lebih banyak kenangan di pantai" jelas Djordi, sambil menggenggam tangan Nana, lalu membawanya mendekati tenda itu.
Nana duduk di ambang tenda, sambil menggigil kedinginan. Djordi langsung membalut hangat tubuhnya, dengan selimut tebal yang sudah di persiapkannya sedari tadi.
"Apa kau masih lapar? Aku akan membuat ikan bakar untukmu, bagaimana?" tanya Djordi, sambil berjongkok, menatap wajah Nana di dalam tenda.
Nana menatap tajam ke arah Djordi sambil tersenyum. Nana tidak menjawab pertanyaan Djordi, ia hanya terus tersenyum ke arahnya. Kedua mata Nana menatap cinta pada Djordi.
"Aku memang masih lapar. Tapi saat ini, aku mau memakanmu saja ...," canda Nana, sambil tersenyum nakal.
Tiba-tiba, Nana melepaskan selimut tebalnya itu dan langsung menarik tangan Djordi, memutarnya kebelakang. Lalu Nana mencengkram kerah baju pantai Djordi itu, dengan cepat mencium bibir seksi Djordi, diiringi dengan suasana sunset di ujung lautan, dan suara deburan ombak. Membuat suasana kian romantis.
Nana memejamkan matanya, tapi Djordi membulatkan matanya karena terkejut. Dan pada akhirnya Djordi mengikuti apa yang sudah Nana mulai, ia mengikuti insting dari dalam dirinya.
Aroma tubuh Nana yang terbawa angin pantai, membutakan seluruh panca indra Djordi. Djordi meraih rahang Nana, dan mulai memainkan bibirnya. Nana mendekap punggung Djordi. Djordi mulai menindihkan tubuhnya di atas tubuh Nana. Membuat tubuh Nana menjadi tegang. Nana mulai membuka mulutnya, berusaha mengundang Djordi untuk menciumnya lebih dalam lagi. Djordi mulai terpancing birahinya, ia dengan buasnya menerkam bibir mungil Nana. Dua lidah saling bertautan.
Djordi mulai turun ke bawah, mengendus leher Nana. Sesekali, menciuminya dengan kecupan-kecupan kecil, dan tak sadar Djordi membuat tanda cinta di beberapa bagian dada Nana. Membuat Nana tanpa sadar mengerang beberapa kali.
Djordi mulai tidak tahan mendengar erangan yang keluar dari bibir manis Nana itu. Ia langsung menutup bibir Nana dengan menindihkan bibirnya. Menjelajahi setiap sudut bibir mungil Nana.
Semakin dalam ciuman mereka, semakin terpancing kuat juga birahinya. Djordi semakin hanyut dalam adegan panasnya itu dengan Nana, saat melihat jelas belahan dua gunung yang dimiliki wanitanya itu, sangat bulat menonjol.
Tangan Djordi mulai nakal. Hawa panas mulai bergejolak di dalam tubuhnya. Djordi mengecup seluruh tubuh Nana dengan penuh nafsu. Ia pun perlahan melepaskan tali baju yang mengikat di bahu Nana.
Tapi, tiba-tiba saja Djordi tersadar dan menghentikan aksi gilanya itu.
"Ada apa?" tanya Nana, sedikit cemas.
"Maaf Nana, aku hilang kendali !" ungkap Djordi, sambil menempelkan wajahnya di dada Nana. Nana mendekapnya lembut, sambil memainkan rambut Djordi dan tersenyum menatap langit-langit tenda.
__ADS_1
"Djordi !! Aku suka caramu menerimaku. Bagai hujan yang membiarkan anak kecil bermain-main dibawahnya, tanpa harus membuka baju-baju yang dipakainya" ujar Nana lirih, sambil tersenyum lembut.
"Akupun sangat suka dengan caramu menyukaiku. Seperti hujan yang mendatangkan pelangi lalu mengabarkannya ke semua orang bahwa hujan atau aku, tak seburuk yang orang-orang kira," balas Djordi dalam lamunannya, dengan mendekap lebih erat tubuh Nana.
"Em ... Nana ! Feng sudah mempersiapkan surat nikah untuk kita. Akhir minggu ini kita menikah, ya" sambung Djordi dengan suara yang rendah, sambil terus mendekap tubuh mungil Nana.
"Apa kau sebegitu tidak kuatnya, hingga ingin cepat-cepat menikahi aku?" tanya Nana, sambil tersenyum lebar.
Djordi menggigit jarinya, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Terlihat seperti anak kucing yang sangat malang.
Nana tertawa kecil, setelah melihat tingkah Djordi yang menggemaskan itu.
Kemudian Djordi berbaring di sebelah Nana, menatap langit-langit, sambil melipat satu tangan di belakang kepalanya. Nana mengambil selimut, ia menyelimuti dirinya dan juga Djordi. Lalu, ia menempelkan wajahnya di dada bidang lelakinya itu sambil memeluk tubunya lembut.
"Nana, jika kita sudah menikah .. berapa anak, yang ingin kau miliki?" tanya Djordi, serius.
"Anak? Hihi.. aku belum membayangkan sampai kesitu. Tapi, jika aku sudah melahirkan anakmu..tubuhku akan menjadi lebar. Uh, sepertinya aku harus mempertimbangkan untuk memiliki anak".
ungkapnya, sambil mengelus-elus dada Djordi.
"Jika kau gendutpun, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan membuat tubuhmu kembali seperti gadis lagi. Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu, hah?" Djordi jadi sedikit mengotot.
"Haha, Baiklah. Hmm ... aku hanya ingin memiliki sekitar satu atau dua anak saja. Tidak terbayangkan, jika nanti, aku menahan sakit saat proses kelahiran. Uh, jika di pikir-pikir mengerikan juga, ya" Nana menggigit bibir bawahnya.
"Tapi, aku ingin memiliki anak lebih dari lima dalam satu tahun. Kau bisa membayangkan wajah tampanku ini, saat kau akan melahirkan. Itu pasti ampuh, untuk menghilangkan rasa sakitnya" usul Djordi sambil menggerutu.
"Indah sekali ucapanmu ! 'Melahirkan anak lebih dari lima dalam satu tahun?' Kau anggap aku ini kucing atau apa?" Nana, mulai dibuat jengkel oleh Djordi.
"B..bukan itu maksudku." Djordi menjadi gugup, karena mendengar nada bicara Nana yang mulai kesal.
Aku harus meminta saran dari si Jun. Dokter mata keranjang itu pasti mempunyai segudang ide di otaknya. (Gumam Djordi dalam hatinya)
"Ah, pokoknya setelah menikah ... kita hanya perlu tancap gas sesering mungkin." Djordi tertawa tanpa suara. Wajahnya begitu senang, menjadikan jiwa ketidak sabarannya itu bergejolak. Ingin segera menikahi Nana.
Blush..
A-apa? Tancap gas sesering mungkin? Dasar mesum! 😠 (Geram Nana dalam hatinya)
Wajah Nana menjadi merah merona, setelah mendengar perkataan nakal yang keluar dari mulut Djordi. Nana menutup wajahnya, dan mencubit kecil perut Djordi.
..
BERSAMBUNG .....
Jangan lupa like, komen dan vote nya ❤
__ADS_1