
.
Sembilan bulan telah Nana lewati dengan begitu cepat. Perutnya sudah sangat besar mengkilat. Ukuran perutnya saat ini lebih besar dari ukuran perut Nana saat hamil Alucard, karena saat ini di dalam rahimnya terdapat dua nyawa.
Di kehamilannya yang ke dua ini, Nana tidak bertingkah yang aneh-aneh, ngidamnya pun sederhana saja, tidak terlalu membuat Djordi repot. Djordi sangat lega saat dirinya tidak perlu lagi menginap di rumah presdir Kim.
Hari ini hari sabtu, dikarenakan libur kerja, presdir Kim dan dokter Juna berkunjung kerumah Djordi. Mereka sering sekali berkunjung kerumah Djordi, hanya untuk sekedar main games dan mengasuh Alucard. Menurut mereka, mungkin jika sering bermain dengan anak kecil, mereka akan segera ketularan memiliki anak. Maklum saja, meskipun sering bermain wanita, Presdir Kim dan dokter Juna masih belum menemukan pasangan hidupnya meskipun sudah berumur.
Semakin tua, mereka semakin mengkhawatirkan hidupnya. Terkadang mereka merasa iri pada Djordi, sudah memiliki istri yang cantik dan anak laki-laki yang tampan dan lucu.
Entah sampai kapan mereka akan terus bermain-main wanita, karena percayalah, wanita manapun ingin diberi kepastian.
Seperti biasanya, setelah mereka masuk kedalam rumah Djordi, belum juga diperintahkan oleh pemilik rumah, mereka langsung duduk begitu saja di depan televisi untuk bermain games.
Mereka adalah dua orang pria tampan dan mapan yang kesepian di hari tua.
Pagi itu, Nana sedang berada di taman belakang rumahnya. Ia sedang menirukan senam ibu hamil, agar proses kelahiran dua bayi kembarnya lancar, yang sebentar lagi akan segera hadir menemaninya dan Alucard.
Djordi masih tertidur di kamarnya, karena semalaman bergadang menyelesaikan pekerjaan kantornya.
Saat Nana sedang melentangkan kedua tangannya, tiba-tiba dari belakang presdir Kim dan dokter Juna menghampirinya.
"Ck. Bukan seperti itu. Lihat ! Seperti ini, nih." Presdir Kim membenarkan posisi kedua tangan Nana dari belakang.
Nana terhentak kaget saat menoleh, ia kira Djordi yang menyentuhnya.
"Hmm... kalian lagi. Bukankah Djordi masih tertidur di kamar? Bagaimana bisa kalian keluar masuk rumahku seperti dirumah kalian saja," geram Nana, kemudian ia kembali mengikuti gerakan senam ibu hamil di dalam laptop.
"Hey, hey, hey. Memangnya kami ini orang asing bagimu? Aku ini sudah menjadi bagian dalam keluarga kalian. Anggap saja aku sebagai anak pertamamu, ibu." Dokter Juna tertawa kecil.
"Cih, menggelikan sekali. Aku tidak memiliki anak yang usianya lebih tua dariku ! Sebaiknya kalian bangunkan Djordi, sana." Nana memunggungi mereka.
Presdir Kim menoleh ke dokter Juna.
"Jun, kau saja yang membangunkan singa itu. Cepat ! Kalau belum juga bangun, kita lemparkan tubuhnya ke kolam berenang," titah presdir Kim.
Dokter Juna tak pikir panjang, ia langsung segera berlari ke kamar Djordi.
Sampailah dikamarnya. Ternyata pintunya tidak ditutup, dokter Juna pun menyelinap masuk begitu saja ke sana. Tirai jendela belum terbuka, keadaan kamarnya sangat gelap. Terlihat Alucard yang masih terlelap tidur di boks bayi. Begitupun dengan ayahnya yang tertidur sangat nyenyak di ranjang empuknya.
Dokter Juna menunggingkan senyumnya, ia berpikir usil.
Perlahan, ia merayap naik ke ranjang Djordi, membuka selimut yang sedang membalut tubuh Djordi dan menyelimuti tubuhnya, lalu mendekap Djordi begitu saja.
Tanpa suara, berhasillah dokter Juna untuk tidak membuat Djordi bangun.
Tiba-tiba tenggorokan dokter Juna sangat gatal, ingin sekali ia batuk.
Bagaimana ini?
Semakin ditahan rasa gatalnya semakin menjadi, akhirnya ia tak bisa lagi menahannya.
Uhuk...
Dokter Juna terbatuk, dan segera menutup mulutnya dengan tangan.
Djordi sedikit memutar tubuhnya, ia meregangkan otot tubuhnya, sambil terus memeluk dokter Juna yang menurutnya adalah Nana.
"Kenapa batukmu seperti suara kakek tua?" ucapnya tanpa sadar dengan mata yang masih tertutup rapat.
Apa ! Kakek tua? Sialan kau. (Batinnya menggeram)
Dokter Juna memeluknya sangat erat, sambil mengelus-elus tangan Djordi.
"Oppa, ayo bangun !" Ia meng-imutkan suaranya, menirukan suara Nana.
Djordi membalikkan badannya, membelakangi dokter Juna, melepaskan pelukan itu.
"Sejak kapan kau memanggilku oppa? Pasti ada maunya? Apa kau mau melakukannya di pagi hari?" Djordi berusaha mengerjapkan matanya sambil tersenyum mesum.
"Ichh, dasar mesum !" dokter Juna memukul manja punggung Djordi.
Djordi sedikit kesakitan, karena tenaga wanita dan pria sangatlah jauh berbeda.
Kemudian, ia membalikan badannya dan memeluk tubuh dokter Juna yang masih disangka Nana. Djordi mulai membelai rambutnya, tapi ia langsung terhenti.
Kemana rambut panjangnya?
Djordi mengerutkan keningnya, ia menciumi rambut dokter Juna. Lalu, Djordi terhenti lagi setelah mengendus-endus rambut itu.
"Honey, kenapa rambutmu bau rumah sakit?" tanyanya terheran.
Dokter Juna hanya terdiam, sambil menahan tawa.
Djordi beralih meraba ke dada dokter Juna. Lagi-lagi ia terhenti, karena sesuatu yang sagat lembut itu hilang tiba-tiba.
"Nana dimana kepemilikanku itu?" tanyanya lagi.
Dokter Juna, menggigit bibir bawahnya, ia berusaha menahan tawa.
Lalu, Djordi beralih meraba ke bawah pusarnya.
Hah? Apa ini? Kenapa terasa seperti punyaku?
" a !" Dokter Juna tak sengaja mengeluarkan suara jantannya, karena sentuhan Djordi di bagian sensitifnya.
__ADS_1
Djordi langsung curiga. Ia membulatkan matanya, kemudian beranjak dan membuka tirai jendela agar cahaya masuk, dan ia dapat melihat kejanggalan itu.
Saat tirai dibuka, terlihat dokter Juna yang sedang santainya meringkuk di atas ranjang miliknya.
Djordi langsung terbelalak.
"Jun ? D-dasar ******** !" geram Djordi, ia meraih bantal dan memukulkannya ke arah tubuh dokter Juna.
Dokter Juna langsung kabur sambil tertawa terbahak-bahak.
Djordi berlari mengikutinya dari belakang, sambil membawa gagang sapu.
Mereka kejar-kejaran seperti tom & jarry menuju ke arah Nana dan presdir Kim di taman belakang rumah.
"Sial ! Mau kemana kau? Sini, aku akan menguliti tubuhmu." Djordi dan dokter Juna berlari mengelilingi Nana dan presdir Kim yang berada dipinggir kolam berenang.
Nana dan presdir Kim terheran-heran.
Tiba-tiba, kaki dokter Juna tergelincir. Ia menarik tangan Djordi. Djordipun menarik tangan presdir Kim, dan presdir Kim menarik tangan Nana.
Byurr....
Mereka semua jatuh ke dalam kolam berenang. Hampir saja perut Nana terbentur ke sisi kolam itu.
Akhirnya, tubuh mereka semua basah kuyup.
Djordi langsung mengusap wajahnya, ia menarik kepala dokter Juna dan presdir Kim.
"Kalian berani mengerjaiku?" geramnya sambil meremas jengkel tubuh mereka berdua.
Nana yang sedang berenang mengambang, menebarkan aura kebencian.
Ia sangat jengkel dengan tingkah kekanak-kanakan tiga lelaki tua itu.
"HEY ! Sudah berumur hampir 40 tahun kenapa sikap kalian seperti anak-anak? Kalian lebih cocok menjadi kakak Alucard !" geram Nana, ia berenang ke tepian, dan beranjak naik dari kolam berenang itu.
Djordi yang melihat Nana basah kuyup, langsung menghampirinya.
"Apa kalian menarik tangan Nana? Kalian tahukan istriku sedang hamil? Bagaimana jika perutnya terbentur?" geram Djordi.
Presdir Kim dan Dokter Juna langsung tutup mulut, tak berani berkata apapun.
"Jun ! Aku akan membalasnya nanti !" ancam Djordi dengan tatapan yang mematikan.
Presdir Kim mengernyit heran.
"Memangnya, kau melakukan apa padanya?" bisiknya penasaran, di telinga dokter Juna.
Dokter Juna hanya menyeringai tanpa menjelaskannya pada presdir Kim.
Kemudian, Djordi berenang ketepian diikuti dengan presdir Kim dan juga dokter Juna.
Nana melihat pemandangan yang sangat indah. Ketiga pria tampan, mapan dengan keadaan rambut basah, dan tubuh atletis. Perut kotak-kotak nya berkilau karena tersorot sinar matahari.
Sayang sekali, dua dari ketiga pria itu belum juga mendapatkan pasangan hidup. (Batin Nana, merasa iba pada presdir Kim dan dokter Juna)
Tiba-tiba, Nana terpikirkan sesuatu.
Ia segera mengeringkan tangannya dan mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptopnya.
"Hey, kalian ! Lihat Kemari," kata Nana sambil menaikkan ponselnya.
Mereka bertiga langsung menoleh.
"Ayo tersenyum !"
Tanpa tahu apa yang akan Nana lakukan, mereka bertigapun langsung tersenyum lebar, selfie ala dirinya masing-masing.
Cekrek...
Nana memeriksa hasil berfoto bersama mereka.
"Mm, bagus !" gumamnya sambil tersenyum.
"Nana, mau kau apakan foto itu?" tanya presdir Kim dan dokter Juna.
"Aku akan memasukan foto ini di akun media sosialku. Aku akan melelang kalian. Siapa tahu, kalian akan mendapatkan pasangan hidup. Hihihi...." Nana tertawa usil.
"Tidak ada kata lainkah selain melelang?" gumam dokter Juna.
"Ya, boleh juga. Fans ku akan bertambah banyak," celetuk presdir Kim sambil terus berjemur.
Kemudian, Djordi menoleh ke arah dua sahabatnya itu. Tiba-tiba, ia dibuat terheran setelah melihat raut wajah mereka yang berseri-seri.
Kenapa mereka tersenyum-senyum seperti orang gila tanpa berkedip?
Djordi pun mengikuti pandangan dokter Juna dan presdir Kim. Mengarah kemana tatapan mereka itu.
Sontak saja mata Djordi terbelalak.
Ternyata dua pria buaya darat itu sedang menatap ke arah Nana yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, mereka menatap tajam lekukan tubuh istrinya karena masih memakai baju yang basah.
Haiss... dasar kampret !
Djordi beranjak menghampiri Nana, ia mengambil handuk besar dan melentangkan handuk itu, agar dokter Juna dan presdir Kim tak dapat melihat istrinya lagi.
__ADS_1
Berbahaya sekali cara pandang mereka ! Tak bisa dibiarkan nih.
Djordi mendorong-dorong tubuh Nana, menggiringnya masuk kedalam rumah. Nana sedikit terheran, ia menaikkan alis kirinya.
Saat berjalan memasuki rumah, tiba-tiba saja perut Nana merasakan kontraksi.
"Uh, !" rintih Nana sambil membungkuk menyentuh perut dan pinggangnya.
"A-ada apa, sayang?" tanya Djordi cemas.
"Aduuhhh... sakit !" Nana hanya merintih tanpa memberikan Djordi penjelasan.
Tubuh Nana mulai berkeringat dingin.
"Jangan-jangan, kau akan melahirkan !" gumam Djordi.
"KIM ! JUN ! Kemari, bantu aku," teriak Djordi, panik.
Dua pria itu langsung terhentak kaget, karena suara Djordi dari dalam rumah menggema memanggil nama mereka.
Mereka langung beranjak menghampiri Djordi.
"Apa yang terjadi?" tanya presdir Kim cemas, setelah melihat Nana mengernyit kesakitan.
"Ah ! Sepertinya, Nana akan melahirkan," kata dokter Juna.
"Kim, cepat siapkan mobil ! Djordi, kau gantikan dulu baju Nana dengan yang kering. Nana, kau atur dulu nafasmu. Jangan tegang !" sambungnya.
"Tapi, aku belum memakai baju. Pakaianku basah semua !" kata presdir Kim.
Dokter Juna dan Djordi langsung memelototi presdir Kim, tatapan ancaman dua pria itu membuat presdir Kim bergidik ketakutan, hingga ia tak bisa lagi membantah.
Presdir Kim pun segera menuju parkiran dengan keadaan setengah telanjang. Djordi langsung berlari menuju kamarnya, mengambil pakaian kering untuk Nana.
Dan, dokter Juna mendampingi Nana, sambil terus mengintruksikannya agar tidak panik.
Semakin lama, semakin terasa mules yang teramat sakitnya. Tanpa sadar, Nana menggenggam tangan dokter Juna, sangat keras. Hingga dokter Juna mengernyit kesakitan.
Djordi menuruni tangga, dengan pakaian di tangannya.
"Bertahanlah sayang. Sini, biar ku bantu membuka bajumu yang basah," kata Djordi panik.
Dokter Juna terbelalak.
"Apa kau gila? Aku masih ada disini," ucapnya.
"Maka cepatlah kau keluar !" titah Djordi.
"Apa kau tidak bisa meminjamkan bajumu untukku? Aku juga tidak membawa baju ganti," kata dokter Juna dengan wajah lugunya. Tapi, melihat ekspresi Djordi yang menyeramkan, ia menjadi tak berani.
Kemudian, Dokter Juna segera beranjak menuju keluar rumah, dan tiba-tiba saja.
Huwaa... Huwaaa...
Alucard menangis keras.
Nana terhentak.
"Djordi, anakku !" Wajah Nana sudah sangat pucat, menahan nyeri.
Djordi yang sedang menggantikan baju Nana terhenti, ia semakin panik.
"Jun, kembali ! Tapi tutup matamu, dan ambil saja bajuku di lemari. Kau bawa Alucard, suruh pelayan membuatkan susunya, dan pesankan baby sitter sekarang juga !" ucap Djordi dengan kecepatan bicaranya. Ia kembali membantu Nana menggantikan bajunya.
Dokter Juna segera menaiki anak tangga sambil berjalan layaknya kepiting, dengan membelakangi Djordi dan Nana.
Setelah selesai menggantikan baju Nana, Djordi memapahnya keluar dengan sangat hati-hati.
Terlihat presdir Kim di dalam mobilnya tanpa mengenakan baju sedang menanti Djordi dan Nana.
"Uh, cepat ! Aku sudah tidak tahan...." Rintihan Nana semakin menjadi, membuat Djordi mengerutkan keningnya karena tak tega.
Djordi langsung menggendong Nana, ia berjalan cepat memasuki mobil itu.
Dengan cepat, presdir Kim menancapkan gas menuju rumah sakit.
...
Didalam rumah.
Dokter Juna kewalahan, karena Alucard terus saja menangis. Meskipun sudah menggendongnya sambil menepuk-nepuk punggung Alucard, tetap saja anak itu tidak mau diam, malah semakin menjadi.
Alucard menolak susu botol yang dokter Juna sodorkan ke mulutnya.
Huwaa... Huwaaa...
"Arrggghh... bagaimana ini? Kenapa dia sangat berisik, dan tidak mau menyusu juga? Aku kan harus memakai baju dulu agar tidak masuk angin !!" gumamnya dibuat panik karena suasana.
Kemudian, ia mengambil ponselnya dan menelepon keluarga Djordi.
...
Detik-detik TAMAT !!!
Ayo Like, komen & vote ❤
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel ;
AIR MATA PENGANTIN