Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Djordi


__ADS_3

Jangan lupa dukung terus novel ini dengan cara :


Klik J E M P O L, K O M E N & V O T E


Sebanyak-banyak nya ❤


..


..


..


Malam hari.


Di kediaman Aganor.


Nana sedang duduk manis di atas sofa, dengan selembar kertas putih yang tergeletak di atas meja, dan sebuah pulpen di genggamannya. Ia sedang menulis sesuatu untuk di serahkan kepada Djordi Aganor, dengan wajah yang kebingungan dan sedikit murung.


Bagaimana cara penulisannya ya?. (Gumamnya dalam hati, bertanya-tanya).


...


Selesailah sebuah surat teruntuk Bos Djordi, yang menghabiskan kurang lebih satu jam untuk menulis beberapa kata saja di dalamnya.


Kemudian, Nana bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar Djordi.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketuk pintu yang ragu-ragu.


Tidak ada jawaban dari dalam.


Nana mengetuk kembali pintu kamar Djordi.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Suara ketuk pintu yang sedikit panik.


Masih tidak ada jawaban.


Nana sedikit resah. Tidak pikir panjang, ia mencoba membuka pintu kamarnya. Tapi ternyata pintunya tidak di kunci. Nana berjalan masuk begitu saja.


"Bau apa ini? Sangat menyengat". Gumam Nana, sambil menutupi hidungnya.


"Kenapa kamar bos sangat gelap?". Nana berusaha melihat dengan penglihatan seadanya, karena memang benar, pada saat itu kamar Djordi gelap gulita.


Kemudian, Nana meraba-raba dinding, mencari sakelar lampu.


Nyut.


"Aaa". Teriakan kecil, Nana terkejut.


"Apa itu yang ku pegang? Kenapa lembek-lembek seperti ,, uuhh". Gumamnya, panik dengan keringat yang bercucuran.


Nana melihat sesuatu menempel di dinding, dengan menciutkan kedua matanya, di karenakan sangat gelap.


"Apa itu yang menempel di dinding?". Gumamnya, terheran, sambil terus mendekatkan pandangannya pada sesuatu yang membuatnya penasaran itu.


Sontak, Nana terkejut.


"Hih, cicak. Jangan-jangan tadi yang ku pegang itu adalah cicak". Tubuh Nana gemetar, karena geli, sambil mengelus-elus kasar tubuhnya yang merinding.


Kemudian, Nana mencari-cari lagi sakelar lampunya. Dan akhirnya Nana berhasil menemukannya, lampu menyala sangat terang.


..


Tring..


"Ah? Suara apa itu? Seperti suara kaca yang beradu". Nana terheran.


"Bos ,, bos". Panggil Nana, pandangannya sambil terus mencari.

__ADS_1


Tidak ada jawaban, kamarnya itu sunyi sepi.


Nana melihat ke arah ranjang Djordi.


Tiba-tiba Nana kaget, karena melihat Djordi Aganor yang sedang duduk lemah di atas lantai. Tubuhnya bersandar di sisi ranjang, tangannya mengenggam sebuah botol minuman yang sudah kosong.


Nana melihat ada beberapa botol minuman beralkohol di atas meja, tak tertata. Sebagian masih terisi penuh dan yang lainnya sudah kosong melompong. Pakaian Djordi sangat berantakkan, matanya terlihat merah, dengan wajah yang tanpa emosi.


Nana berlari kecil, mendekat ke arah Djordi dengan posisi jongkok.


"Bos.. Ada apa denganmu?". Tanya Nana, sangat panik, sambil memandang kedua bola mata Djordi.


Djordi yang sedang melamun, kemudian tersadarkan. Ia melirik perlahan, ke sumber suara yang memanggilnya dengan suara lembut itu.


Tiba-tiba dan tanpa aba-aba, Djordi menarik tangan Nana dan langsung memeluknya.


Nana terkejut, ia membulatkan kedua bola matanya dan menaikkan kedua alisnya.


"Bos, a ,, apa yang .."


"Hanya lima menit. Tetaplah seperti ini". Ucap Djordi, suaranya sangat pilu.


Nana terheran, dengan mengerutkan keningnya.


Entah bagaimana, tubuhnya menurut begitu saja dengan permintaan Djordi yang seperti itu.


Ada apa dengan lelaki ini?. (Gumam dalam hatinya, terheran)


Perlahan air mata Djordi yang sudah di pendamnya selama itu, mengalir, dan terjatuh mengenai kulit pipi Nana.


Air apa ini? Jangan-jangan, ini air liur si bos brengsek ini !! (Gumam Nana, sambil mengusap sesuatu yang menempel di pipinya itu).


"Aduh, bos. Iler mu itu mengenai pipiku tahu". Nana mendorong tubuh Djordi, dan pelukan erat itu seketika terlepas.


Djordi hanya terdiam lemah, dengan air mata di pipinya itu.

__ADS_1


Lelaki ini bisa menangis?. (Gumam Nana dalam hatinya).


Nana sedikit terkejut dan merasa kasihan, karena melihat Djordi menangis seperti itu. Nana jadi teringat saat dirinya di khianati oleh Daren Hilton. Djordi seperti merasakan sakit yang begitu mendalam, seperti dirinya kala itu.


__ADS_2