Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Will You Marry Me?


__ADS_3

Jangan lupa dukung novel ini dengan cara :


Klik J E M P O L, kemudian K O M E N & V O T E


sebanyak-banyaknya 💋


..


..


..


Djordi berjalan perlahan mendekati Nana yang sedang terduduk di ranjangnya itu. Nana sedikit terkejut dan terheran.


"Apa lagi yang akan di lakukan orang tua ini?". Gumam Nana dengan suara kecilnya, sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Nana?". Panggil Djordi, dengan suara lembutnya.


"Ada apa lagi, bos?". Tanya Nana, wajahnya masih berpaling ke samping, menghindari pandangan Djordi.


Djordi mendekatkan bibirnya ke telinga Nana. Bibirnya bersentuhan dengan rambut basah Nana yang ter urai panjang itu.


"Bae Nana??". Panggilnya. Suaranya sedikit di tegaskan.


"APA?". Nana pun mengeraskan suaranya, dengan cepat memutar kepalanya ke arah Djordi.


Sontak saja Nana terkejut, tubuhnya membatu, matanya membulat. Karena Wajah mereka sangat dekat, pandangannya bertabrakan dengan pandangan Djordi.


"Ehemm". Nana mendehem, sambil memalingkan pandangannya lagi dan menggeser perlahan posisi duduknya itu. Agar ada jarak di antara mereka.


Djordi tak henti-henti mengusili Nana dengan tingkah nakalnya itu. Ia pun menggeser posisi duduknya, lebih dekat dengan Nana.

__ADS_1


Suasananya menjadi sedikit panas. Nana beranjak dari tempat duduknya, dan beralih ke sofa yang berada di dekat jendela kamarnya itu.


"Bos, apa yang mau kau bicarakan? Lebih baik, langsung ke intinya saja". Bicara Nana sedikit canggung.


"Nana .. Apa kau mau menikah denganku?". Tiba-tiba saja, kata-kata indah itu terlontar dari mulut Djordi.


Nana semakin di buat terkejut. Ia terjeda sesaat. Kedua matanya membulat dengan sempurna, dengan kedipan yang kasar. Nana tak percaya.


"Kau tidak serius kan, bos? Apakah ini prank? Gara-gara tadi aku menyuruhmu membeli pembalut ke supermarket". Ucap Nana, sambil memaksakan senyum lebar di wajahnya.


"Nana, aku serius. Tatap baik-baik wajah ku, apa aku sedang bercanda?". Djordi meyakinkan Nana.


Nana terdiam ..


"Apa kau tahu? Aku sudah tertarik padamu sejak dimana kau pingsan di pelukanku, waktu itu. Saat kau melihat mantan kekasihmu bercumbu dengan kaka tirimu di toilet". Djordi terus saja meyakinkan Nana.


"Pingsan? Saat kejadian dimana aku dikhianati oleh Daren dan kak Rona?". Gumam Nana, kedua matanya menciut. Mengingat-ingat kejadian kala itu.


Ah? Jadi, dia itu lelaki berjas yang memelukku di toilet?. (Gumam Nana dalam hatinya, tersadarkan).


"😑 Bisakah kau sedikit serius? Jangan menghancurkan suasana yang membuatku tegang. Aku disini sedang membicarakan sesuatu yang sakral dengan mu". Djordi di buat kesal hati, oleh Nana.


"Hmm, ok ok .. aku serius. Tapi, aku tidak menyimpan perasaan khusus untukmu. Dan saat ini aku belum siap untuk menikah". Jawab Nana.


"Belum siap menikah? Tapi, kenapa kau menyetujui ketika Daren melamarmu saat itu? .. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta setelah kita menikah nanti". Jelasnya. Djordi terus saja meyakinkan Nana.


"Saat itu kan karena aku begitu mencintainya .. Kalau denganmu, itu lain lagi. Aku masih muda, aku tidak ingin menikah muda". Nana terus saja beralasan.


"Tidak ingin menikah muda? Apa kau ingin menikah di usia tua?". Tanya Djordi.


"Bukan itu maksudku, bos. Emm,, aku kan masih sekolah. Aku ingin menyelesaikan sekolahku dulu". Nana beralasan lagi dan lagi.

__ADS_1


"Ya sudah. Kita menikah hari minggu saja. Sekolah kan pada libur?". Ucap Djordi.


"😬 Cih 😬". Nana di buat jengkel dan tidak bisa berpikir lagi, dengan jawaban pintar Djordi yang di lontarkannya bertubi-tubi itu.


"Huh (membuang nafas) Bagaimana, jika kita berpacaran saja dulu". Nana sudah kehabisan akal.


"Hey, aku tegaskan sekali lagi padamu. Pacaran itu sebenarnya adalah metode untuk mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang, pada orang-orang yang belum siap". Jelas Djordi, pantang menyerah untuk meyakinkan Nana.


"Aku kan memang belum siap. Masih ada sisa luka yang menusuk di hatiku". Entah alasan yang keberapa, yang di lontarkan Nana.


"Tapi, aku sudah sangat siap. Aku yang akan mencabut luka itu dan jadi penawarnya". Ucap Djordi.


Nana terdiam, tak bisa berkutik dan kehabisan akal.


"Ah, sudah lah. Aku mau masak untuk makan malam dulu. Kita bicarakannya lain kali saja". Nana berjalan cepat ke luar dari kamar nya itu, menghindari pertanyaan yang membuat otaknya pusing.


"Haduh, otakku yang malang". Gumam Nana sambil meneruskan langkah kakinya.


Djordi menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya percuma.


Ia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang di kamar Nana itu, dan menaikkan lengan kanan di atas keningnya.


Ada perasaan hampa yang tersimpan di dalam dirinya. Ia tersenyum tipis, mengingat percakapannya tadi dengan Nana. Hati kecilnya sedikit terluka, dengan penolakan Nana yang bertubi-tubi itu.


Kemudian, ia merogoh kantung di celananya. Mengambil ponsel miliknya, lalu ia menelepon pengurus Feng.


"Feng, tunda dulu pembuatan surat nikahnya". Tidak ada kata basa basi lagi. Djordi langsung menutup panggilan itu.


..


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


..


Jangan Lupa Tinggalkan L I K E, K O M E N & V O T E 💋


__ADS_2