Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Pregnant


__ADS_3

L I K E, K O M E N & V O T E ❤


..


..


..


Djordi memutuskan langsung pulang malam itu juga, dengan helikopter pribadinya.


Saat mengudara, menurut Nana raut wajah Djordi nampak seperti pria berdarah dingin.


Nana menggoyangkan tubuh Djordi.


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Nana, cemas.


"Tidak ada !" jawabnya singkat.


Nana mengerutkan keningnya, kemudian semakin lama mengudara tubuhnya semakin menggigil kedinginan. Padahal Djordi sudah memakaikan selimut, kupluk beserta sarung tangan yang tebal untuk Nana.


Nana menggosok-gosok tangannya, agar sedikit hangat.


"Djordi, aku kedinginan ! Aku merasa tidak enak perut, sepertinya aku masuk angin !" seru Nana, sambil menekan perut yang terasa kembung dan tenggorokan yang terasa mual.


Djordi hanya memokuskan pandangannya kedepan dengan emosi yang masih belum padam. Ia menghiraukan ucapan Nana, karena Djordi masih teringat dengan kekacauan yang terjadi malam ini di kamp.


Apakah aku harus mengirim Chan dan Sean ke Afrika? Bagus-bagus, kalau mereka mati diterkam binatang buas !! (Batinnya yang terus mengomel)


Nana merasa perut dan tenggorokannya semakin tidak enak. Kepalanya pun menjadi pusing.


Nana memutuskan melihat-lihat keindahan kota di malam hari dari udara. Tapi saat melihat ke bawa, rasa pusing dan mualnya malah semakin menjadi.


Jantungnya berpacu tidak karuan, perasaannya menjadi gelisah dengan cucuran keringat dingin di tubuh. Pandangannya menjadi kabur, pada bagian ulu hatinya terasa tidak enak, pengecapannya pun terasa sangat pahit. Hingga ia benar-benar ingin memuntahkan semua isi perutnya.


Hoeekk (mual)


"DJORDI !!" teriak Nana dengan kecemasan tingkat tinggi. Ia membelalakan kedua bola matanya, karena pandangannya menjadi hitam.


Suara helikopter yang sangat berisik menjadikan Djordi tak mendengar suara Nana, karena ia tak memakai headphone di telinganya.


Nana dibuat jengkel olehnya, ia langsung menggigit telinga Djordi.


" aaaa !!! Kau ini kenapa?" bentak Djordi sambil mengusap telinganya. Saat ia menoleh ke arahnya, Nana sudah hampir pingsan. Wajahnya sangat pucat, tubuhnya berkeringat tapi suhu tubuhnya dingin membeku.


"Nana ! Ada apa?" Djordi membulatkan matanya, ia sangat cemas dan panik.


Hoeekk !!!


"Cepat turunkan aku ! Aku ingin muntah," pintanya dengan suara lirih, tubuhnya lunglai tak bertenaga.

__ADS_1


Tak pikir panjang, Djordi langsung mencari lahan luas dan mendaratkan helikopter itu disana.


Djordi memapah Nana keluar dari helikopter itu. Nana langsung membungkukkan tubuhnya,


Hooeekkk !! Hoeeekkk !!


Djordi sangat panik. Pikirannya menjadi kacau, lalu ia memberinya minum, tapi Nana malah membuangnya kesembarang arah. Tubuh Nana langsung melemah, dan pingsan saat itu juga.


"Nana ! Bae Nana !" teriak Djordi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, wajahnya sangat panik.


Lalu, Djordi langsung menggendong Nana, dan berlari mencari jalan raya.


Ini salahku ! Membawa Nana ketempat tinggi. Dia jadi mengidap penyakit ketinggian seperti ini ! (Batin Djordi dengan terus mengutuk dirinya)


Nafas Djordi terengah-engah, karena berlari sekuat tenaga sambil menggendong Nana. Akhirnya Djordi melihat jalan raya.


"Nana bertahanlah !" gumamnya, dengan bendungan air di matanya.


Ia langsung memberhentikan mobil siapapun yang sedang melaju di jalan raya itu, tanpa memedulikan keselamatannya.


Sontak saja, para mobil yang sedang berlalu lalang terhenti.


Tanpa persetujuan dari sang pemilik mobil, Djordi membawa masuk Nana begitu saja kedalam mobil, dan duduk di jok belakang mobil itu.


"A-ada apa ini?" tanya panik pemilik mobil yang saat itu melihat wanita tak sadarkan diri berada di dalam mobilnya.


"Cepat pergi ke rumah sakit terdekat !" ucap Djordi dengan sedikit emosi. "Cepat !" bentaknya.


Setelah sampai, Djordi langsung menggendong Nana masuk. Saking paniknya, ia mengabaikan si penolong.


"Perawat !! Dokter !" panggil Djordi cemas, dengan tidak memikirkan pandangan orang-orang terhadapnya.


Beberapa perawat langsung berjalan mendekatinya.


"Cepat periksa, istriku !" pintanya, sambil meletakan tubuh Nana di atas bangsal.


"Tenang tuan ! Ini rumah sakit. Kami akan segera memeriksanya !" ucap salah satu perawat. Lalu, perawat itu menutup pintu.


"Perintahkan dokter terbaik untuk memeriksanya !" teriak Djordi, sambil berusaha mengintip kedalam ruangan itu.


"Aarrgg, sial !! Jika ini membuat Nana mengidap penyakit ketinggian, aku tidak akan mendengarkan keparat-keparat itu untuk pergi kesana !" geram Djordi sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ia merogoh kantung celananya, dan mengambil ponsel. Lalu, menelepon seseorang, dengan raut wajah mengerikan.


"Halo, Djordi ! Ada ap-" Bicara presdir Kim terhenti.


"Siapkan kuburanmu, besok !" ucapnya dengan langsung menutup panggilan itu.


Kemudian, Djordi menelepon seseorang lagi.

__ADS_1


"Halo, Djordi ! Bagaimana, apakah berha-" Bicara dokter Juna terhenti.


"Siapkan kuburanmu, besok !" ucap Djordi. Ia pun langsung menutup panggilan itu, dengan jiwa emosinya.


..


Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya, Dokter beserta perawat ke luar dari ruangan.


Djordi langsung menghampirinya dengan cepat.


"Bagaimana keadaannya, dok? I-itu salahku, membawanya ketempat tinggi hingga ia mengidap penyakit ketinggian !" ucap Djordi dengan kecepatan bicaranya.


"Tenang dulu, tuan ! Penyakit ketinggian apa yang anda maksud?" Dokter dan perawat itu terheran-heran.


"Ya... penyakit ketinggian ! Istriku itu merasa pusing dan mual saat berada di ketinggian," ucapnya dengan perasaan gelisah.


"Ah, hahaha... merasa pusing dan mual itu bukan karena dia sedang berada di ketinggian, tuan. Saya kira, anda sudah menyadarinya...." Belum juga selesai menjelaskan, Djordi langsung memotong pembicaraan dokter itu.


"Menyadari apa?" tanyanya terheran.


"Istri anda sedang hamil. Dan saat ini, usia kehamilannya menginjak 36 hari. Anda akan menjadi seorang ayah. Selamat ya, tuan !" jelas dokter itu, sambil berlalu meninggalkan Djordi.


Bagaikan bumi dan waktu yang berhenti berputar. Begitulah perasaan Djordi setelah mengetahui bahwa Nana sedang mengandung benih didalam rahimnya.


Djordi melihat setiap sudut dinding rumah sakit itu, ia seperti orang yang kebingungan. Rasa terkejut yang begitu dahsyat menjadikan tubuhnya bergetar dengan kedipan tak percaya.


Djordi melangkahkan kakinya perlahan, memasuki ruangan yang didalamnya ada Nana.


Djordi terhenti di ambang pintu, senyumnya mulai terlukis di wajahnya, saat melihat Nana yang sedang terbaring lemah di atas bangsal. Sesekali, ia menatap perut Nana dengan tatapan tak percaya.


Ia langsung berjalan mendekatinya, dan memeluknya begitu erat.


Tanpa disadari olehnya, air mata Djordi menetes mengenai kulit pipinya. Ia mengecup kening Nana berkali-kali.


Lalu, Djordi mendekatkan telinganya di atas perut Nana.


"Anakku, maafkan ayah, ya. Ayah sudah membuat ibumu kelelahan. Kau dan ibumu harus selalu sehat. Ayah akan menjaga kalian," bisik Djordi, lalu ia menciumi perut Nana dengan rasa haru.


Kebahagiaannya betul-betul bergejolak di dasar hatinya. Raut wajahnya pun, kini berseri-seri.


"Nana ! Sebentar lagi, kita akan menjadi ayah dan ibu," bisikan Djordi terdengar lembut di telinga Nana. Kemudian, ia mengusap air matanya.


Djordi langsung membungkam mulutnya sendiri, karena Nana masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Ia tak ingin istirahat Nana terganggu.


..


BERSAMBUNG !!!


Ayo Like, komen & vote ❤

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel baru author


Air Mata Pengantin 🌻


__ADS_2