
Jangan pernah lupa untuk klik J E M P O L,
K O M E N & V O T E sebanyak-banyaknya ❤
..
..
..
Malam hari..
Ke dua keluarga sedang berkumpul, duduk di atas sofa ruang tamu di kediaman Bae. Dua keluarga itu yakni keluarga Bae dan keluarga Hilton.
Nampak Bae Rona sedang menangis terisak-isak.
"Hikss.. Hikss 😭 Ayah". Rintihan, Bae Rona.
"Sudah sayang, jangan menangis terus. Toh, kalian sudah sah menjadi suami istri. Ayo minum dulu segelas air". Ucap Berlinda, menenangkan, sambil mengelus-elus punggung Bae Rona.
"Sebenarnya, apa yang terjadi di dalam gedung?". Tanya Bae Seno, serius.
Suasana menjadi hening, Daren Hilton hanya duduk terdiam, menunduk, sambil memegang keningnya.
Bae Rona pun langsung menghentikan tangisannya, ia berubah menjadi gugup, karena pertanyaan ayahnya.
"Daren, apa yang terjadi? Kenapa, aku merasa sepertinya kalian menutupi sesuatu dari kita". Tanya ibunya Daren.
Bae Rona dan Berlinda terlihat sangat panik.
"Kim, apa kau tidak punya mulut? Ceritakan apa yang terjadi?". Bentak, Bae Senjo pada Berlinda.
Sekujur tubuh Berlinda gemetar.
"Ayah, ini semua gara-gara Bae Nana". Ucap Bae Rona, sambil menghapus air matanya.
Bae Senjo dan kedua orang tua Daren terkejut, mereka membulatkan matanya, sambil menatap tajam ke arah Bae Rona.
"Apa? Bae Nana? Dimana kau bertemu dengan Nana? Apa kau menyakitinya, Rona?". Tanya Ibu Daren, dengan mata yang seperti mengharapkan sesuatu.
"Ah,, emm.. (gugup) Tidak, aku tidak menyakitinya ibu mertua. Dia sudah sedikit mabuk, lalu aku tidak sengaja menyenggolnya". Ucap Bae Rona, sedikit panik.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa menghadiri acara pernikahan kalian? Bukankah Bae Nana, menghilang?". Tanya ayah Daren, terheran.
Bae Rona dan Berlinda beradu tatapan, mereka berdua sangat gugup. Terpaksa, mereka menceritakan itu semua dengan keringat yang bercucuran.
.....
"Apa kau bilang? Bae Nana dan Djordi Aganor .. ?". Kedua orang tua Daren terkejut, tak percaya.
"Dan, kalian telah menyinggung orang nomor satu di Negara kita ini??". Geram Bae Senjo.
"Aku sudah bilang, aku tidak sengaja menamparnya, karena aku tidak tahu itu adalah Nana". Bantah Berlinda, dengan tubuh yang semakin gemetar.
"Dasar bodoh, tidak berguna". Bentak Bae Senjo, sangat kesal.
"Apa kalian tidak tahu kekejaman Djordi Aganor? Sekali membuatnya tersinggung, tidak akan ada ampun bagi orang itu untuk bisa lolos. Dan apa kalian tahu? Dia bisa menghancurkan perusahaan paling besar, hanya dalam hitungan jam saja". Jelas Bae Senjo, wajahnya sangat panik ketakutan.
Bae Rona dan Berlinda terkejut, mereka membulatkan matanya dengan sempurna, jantungnya berdebar sangat kencang, ketakutan.
Kemudian, nampak dari pintu masuk, Han Seng yang tak lain adalah sekretaris Bae Senjo, berjalan sangat cepat mendekati dua keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu itu, dengan wajah yang terlihat panik.
"Ketua ,, ketua. Berita buruk". Ucap Han Seng, panik, sambil mengenggam lembaran kertas.
"Berita buruk? Apa maksudmu? Bicara yang benar !!". Tanya Bae Senjo, sambil mengerutkan keningnya.
Sontak dua keluarga yang berada di situ sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak bisa berkutik apa pun.
Nafas Bae Senjo menjadi sedikit berat.
"Dan, kantor pusat !! Kantor pusat, sudah tidak dapat di selamatkan lagi". Bicara Han Seng merendah.
"Ketua ,, kita benar benar bangkrut". Ucap Han Seng, dengan mulut yang tak rela mengucapkannya.
Bae Senjo membulatkan matanya dengan sempurna, dengan mengerutkan kening dan mengepalkan kedua tangannya. Menatap dengan tatapan kosong. Nafasnya semakin berat.
"A,, apa yang kau bicarakan? Bagaimana mungkin?". Tanya Berlinda, dengan raut wajah yang sangat panik.
"Nyonya, aku tidak membual. Jika nyonya tidak percaya, lihat lah ini .. ". Ucap Han Seng, sambil menyodorkan selembar kertas kepada Berlinda.
Kemudian, dengan cepat Bae Senjo merebut kertas itu, lalu ia dan Berlinda membacanya.
"Ini ,, ini tidak mungkin". Tubuh Berlinda dan Bae Senjo, menjadi lemas setelah membacanya.
__ADS_1
Kriing .. Kriing ..
Tiba-tiba saja ponsel milik ayah Daren, yaitu Chalil Hilton berdering, ada panggilan masuk dari sekretarisnya.
"Ada apa? Aku sedang di situasi tidak ingin bekerja". Ucap Chalil Hilton, sambil mengerutkan keningnya.
"Ketua, ada masalah. Sesuatu yang buruk telah terjadi di perusahaan". Ucap sekretarisnya di telepon, dengan panik.
"Apa masalahnya?". Tanya Chalil Hilton, terheran.
Kemudian, sekretarisnya menceritakan masalah yang menimpa perusahaan Chalil Hilton di telepon.
"A ,, apa?? Perusahaan bangkrut? Bagaimana mungkin, bisa berbarengan dengan Perusahaan Bae?". Tanya Chalil Hilton, sangat panik, seluruh wajahnya memerah.
Mendengar kata 'bangkrut', sontak Daren dan ibunya terkejut, mereka bangkit dari duduknya dengan lutut yang gemetar, lemas. Daren dan ibunya memasang wajah panik.
"Siapa yang menekan perusahaan kita?". Tanya Chalil Hilton, sangat kesal.
Tut.. Tut..
Tiba-tiba panggilannya terputus.
"Hallo ,, hallo". Teriaknya.
Semua yang berada di situ kembali terkejut. Suasana di ruangan itu menjadi sangat panas.
Nafas Chalil Hilton menjadi cepat, begitupun dengan jantungnya. Ia membatu, dengan tatapan kosong.
"Chalil, apakah milikmu juga .. ?". Tanya Bae Senjo, gugup.
"Tidak salah lagi, pasti ini semua adalah pembalasan dari Djordi Aganor. Dan semua ini gara-gara ulah anak dan istrimu yang menyinggungnya". Bentak Chalil Hilton dengan penuh nafsu, sambil mencengkram dan menarik kerah baju Bae Senjo.
"Ah? Chalil (terkejut) Hey, tenang lah dulu". Ucap Bae Senjo, ketakutan.
"Kau menyeretku bangkrut bersama denganmu". Kemarahan Chalil Hilton membeludak, cengkramannya di kerah baju Bae Senjo semakin kuat.
"Chalil, apa yang kau lakukan.. Lepaskan !!". Ucap Bae Senjo, sangat kesal, sambil berusaha melepaskan genggaman kasar Chalil Hilton di kerah bajunya itu.
Seketika ibunya Daren pingsan, karena ia sangat syok, dengan kejadian mengejutkan sekaligus kegaduhan yang di buat oleh Chalil Hilton dan Bae Senjo.
"Ibu..". Teriak Daren Hilton, dengan wajah yang kebingungan. Bingung karena di sisi lain ia harus memisahkan ayah dan ayah mertuanya yang bertengkar, dan di sisi lain ibunya tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
Suasana menjadi kacau, seperti petasan yang membuyar di langit bertubi-tubi.