
.
Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Djordi dan Ny.Parsha segera membawa pulang Nana dengan sangat hati-hati.
Ke empat anaknya menyambut hangat kedatangan ayah, ibu dan adik barunya.
Ke empat jagoan itu bersorak ria, bertepuk tangan, dengan raut wajah yang berseri-seri saat diperlihatkan adik mungilnya oleh Ny.Parsha.
Saat Ny.Parsha menggantikan popok bayi, Alucard menghampirinya sambil memperhatikan gerak gerik neneknya.
"Nenek, kenapa kepunyaannya sama dengan kepunyaanku?" ucap imut bocah berusia 4 tahun itu.
Ny.Parsha tersenyum mendengarnya.
"Bukankah bagus, mempunyai banyak adik lelaki? Kalian bisa saling tukar mainan dan membeli mainan yang sama," katanya.
Alucard langsung mengerucutkan bibirnya. Ia merasa tak puas setelah mengetahui adik ke empatnya bukan perempuan.
Bocah itu langsung berlari menghampiri ayah dan ibunya di kamar pribadi Djordi. Ia mendumel disana, memarahi ibunya seperti orang dewasa, dan menyepelekan ketidak mampuan ayahnya untuk memberikan adik perempuan padanya.
"Hey, hey. Alucard ! Pahit sekali lidahmu. Ayah tak pernah mengajarimu selancang ini pada orang tua. Apalagi kau sampai berani memarahi ibumu." Djordi sedikit menggertaknya.
Wajah Alucard langsung memerah, mata dan mulutnya bergetar semakin mengerucut. Sekali lagi Djordi bersuara, pecah sudah tangisannya.
Tapi Nana langsung merangkulnya, mengelus-elus punggungnya, menenangkan Alucard, karena jika Alucard sudah marah ia akan mengunci dirinya di kamar mandi hingga membuat jiwa seorang ibu cemas.
Nana berbicara lembut padanya, memberinya pengertian tanpa harus menggertaknya seperti Djordi. Kemarahan Alucard pun langsung mereda.
"Jika luka ibu sudah kering, kita pergi ke studio foto paman Sean untuk berfoto bersama, bagaimana?" bujuknya dengan senyuman.
Kedua mata Alucard langsung berbinar.
"Ya, aku mau. Tapi, ayah tidak boleh ikut foto bersama kita. Aku hanya ingin berfoto dengan ibu saja !" katanya, sambil mendelekan matanya, memandang benci pada Djordi.
Djordi langsung terhentak dan memelototinya. Nana pun langsung memelototinya balik, hingga Djordi tak bisa lagi berkutik membalas dendam pada anak sulungnya yang bermulut pedas itu.
"Padahal ayah sudah membelikanmu mainan keluaran terbaru yang hanya dimiliki 5 orang anak saja di dunia. Ya sudahlah, ayah berikan pada Adamson saja !" sindir Djordi sambil mengintip raut wajah Alucard dan beranjak berjalan keluar melewatinya.
Alucard langsung terbelalak. Ia mengaktifkan akal cerdiknya.
Bocah itu segera beranjak ke meja, menyentuh laptop Djordi. "Silahkan saja, jika ayah memberikan mainan itu pada Adamson. Aku akan menghapus seluruh file penting di dalam laptop ini, yang sangat mempengaruhi perusahaan ayah. Bukankah ayah mengerjakan semua file itu sampai berminggu-minggu?" ancamnya dengan tatapan pembunuh.
Nana menutupi tawanya, melihat suaminya mati kutu di hadapan anak sulung mereka.
Djordi menganga, ia tak percaya bocah berusia empat tahun itu sedang berdiri mengancamnya.
"Nana, aku tidak menyangka akan membuatmu hamil dan melahirkan anak yang seperti ini !" ucapnya dengan perasaan hampa. "Apa kau yang mengajarinya tentang semua fungsi isi di dalam laptop itu?" tanya Djordi pada Nana.
Nana mendongakkan wajahnya.
"Ah ! Beberapa hari yang lalu, aku memang pernah satu kali mengajarinya tentang semua isi laptop. Tapi aku tak menyangka, dia akan langsung tanggap hanya dengan satu kali aku ajarkan." Nana menggertakan giginya. Senyum bersalahnya begitu lebar.
Djordi menggaruk halis kirinya sambil tertunduk.
"Hey, Alucard ! Kau dewasa sebelum waktunya, ini tidak boleh dibiarkan !" Djordi segera menghampirinya.
"Apa kau tahu, ayah dan ibu membuatmu selama bertahun-tahun? Ayo, cepat turun dari kursi. Jangan berdiri menantang seperti itu lagi pada orang tua ! Ayah janji, tidak akan memberikan mainannya pada Adamson," katanya sambil menahan emosi.
Alucard menghela nafas panjang.
"Huff... baik, ayah ! Maafkan Alucard," katanya dengan nada suara yang begitu manis.
Alucard langsung turun dari kursi sambil memegang celana ayahnya.
__ADS_1
"Uh !" Djordi menahan celananya yang hampir saja merosot.
.
*********
.
Beberapa minggu kemudian.
Djordi sudah bersiap memakai jas hitam berdasi kupu-kupu, begitupun dengan kelima anaknya yang memakai pakaian sama persis dengannya.
"Dimana ibu kalian?" tanya Djordi yang sedang menanti Nana di parkiran pada ketiga anaknya, Alucard, Adamson dan Aldous.
Ketiga anaknya menggelengkan kepala tanpa menoleh ke arahnya. Hanya sibuk dengan mainan yang berada di tangannya.
Dua baby sitter sedang mengais anak ke empat dan anak bungsunya. Merekapun sedang menanti Nana.
Kelima anak Djordi begitu tampan dan sangat menggemaskan dengan jas hitam itu.
Tidak lama, Nana keluar dari rumah dengan gaun hitam yang sudah ia sesuaikan dengan pakaian suami dan anak-anaknya. Penataan rambutnya sangat cantik, terpancar sekali sifat keibuan dari dalam dirinya.
Djordi menatapnya terus tanpa berkedip.
"Yuk !" kata Nana sambil membuka pintu mobil.
Mobil yang tadinya hanya diperuntukkan empat orang saja, terpaksa harus Djordi modifikasi khusus menjadi lebih besar dan lebih panjang dari sebelumnya. Karena tak menyangka anaknya akan sebanyak ini.
Djordi memapah anak ketiganya masuk kedalam mobil, tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman pada mereka.
Lalu, kedua baby sitter pun ikut masuk sambil menggendong anak ke empat dan anak bungsunya yang baru beberapa minggu itu.
Mobilpun melaju dengan kecepatan normal.
Ternyata disana ada Chan, Sean dan Jai yang sedang melakukan sesi foto juga.
Djordi, Nana dan deretan anaknya menunggu sejenak.
Setelah selesai, mereka bertiga menghampiri paman dan bibinya sambil menyapa hangat pada ke lima anak mereka.
"Daebak, paman. Kelima anak ini mirip denganmu. Nana hanya sebagian kecilnya saja. Hahaa..." tawa Chan mengusili.
"Sudah-sudah. Ayo, cepat kalian berfoto. Sebelum kelima anak ini tertidur," kata Sean sambil menyentuh pundak Djordi dan Nana.
"Baik. Tapi, dimana pasangan kalian?" tanya Nana terheran.
Jai menggaruk hidungnya yang tak gatal.
"Karina sedang menemani Kattie menurunkan berat badannya," Jai melirik ke arah Chan yang sudah membuat tubuh Kattie menjadi gemuk.
"Lalu, dimana Electra?" tanya Nana.
Sean menghela nafas panjang.
"Hmm... semenjak hamil, entah kenapa dia sering bermalas-malasan !" katanya tanpa semangat.
Nana menyentuh pundak Sean.
"Ya, memang terkadang mood ibu hamil seperti itu. Maklumi saja, jangan terlalu keras padanya. Dia hanya sedang menyesuaikan diri dengan fase barunya," ucap Nana lirih.
Ibu! Ibu! ..... IBU !!!
"Ah ! Anak-anakku sudah memanggil. Aku kesana dulu, ya." Nana segera menghampiri kelima anaknya yang sudah siap berpose ala mereka sendiri.
__ADS_1
Sean, Chan dan Jai duduk menunggu sambil melihat paman beserta deretan jagoan-jagoannya berfoto.
Cekrek... cekrek...
Beberapa foto sudah diambil.
"Sean, Chan, Jai ! Sini, ayo ikut foto bersama," teriak Nana sambil menganggukan tangannya, menyuruh mereka mendekat.
Saat ketiga member XEO itu beranjak akan menghampiri Nana, tiba-tiba tanpa di duga John yang baru satu hari pulang dari New York datang ke studio foto itu bersama kedua orang tuanya untuk berfoto juga.
Nana membelalakan matanya, karena sudah lama sekali ia tak bertemu dengan sahabatnya itu.
"Hey, ayo cepat kemari !" teriaknya lagi pada tiga keponakannya itu. "John, sini ! Ayo, kau juga ikut berfoto bersama kita !" Nana begitu bahagia hari ini.
John membulatkan kedua bola matanya, saat melihat kelima anak Nana.
"Nana kau begitu subur," gumamnya sambil tersenyum.
John merasa ragu, kemudian Ibunya mendorong-dorong tubuh John agar menghampiri Nana. John merasa sedikit tak enak pada Djordi, tapi ia menyetujuinya begitu saja, dan berjalan bersama ketiga member XEO menghampiri Djordi, Nana dan ke kelima anaknya.
Nana terduduk di kursi yang sudah di sediakan sambil menggendong anak bungsunya.
Kelima pria dewasa termasuk suaminya berada dibelakang Nana, dan ke empat anak mereka berdiri berjajar di depan para pria dewasa itu satu persatu.
"Tahan, ya ! Oke, siap."
1 ... 2 ... 3
Cekrek...
Hasilnya sangat memuaskan.
Satu wanita yang di kelilingi para lelaki.
Itulah arti dari Surrounded Several Boys (Dikelilingi anak lelaki)
.
.
.
.
******** T A M A T **********
.
Kunjingi juga novel barunya. AIR MATA PENGANTIN, dijamin bikin greget gemess bacanya.
Ayo beri Vote terbanyakmu untuk yang terakhir kalinya, hiks... kalau ada sih vote KOIN 😁 sebagai tanda terimakasih pada author yang sudah membuat kehaluanmu semakin berkembang biak.
.
Terimakasih sudah berkenan untuk membaca novel recehku ini. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberi Like, Komentar positif, dan juga Vote untuk author sampai detik ini...
WARNING !!
Novel SSB ini bersangkutpaut juga loh dengan novel AIR MATA PENGANTIN..
Tapi, disana menceritakan percintaan Alucard, anak pertama Nana dan Djordi yang gak kalah geregetnya. Yuk. ikutin novelnya dari sekarang biar gak ketinggalan.
__ADS_1
LOVE U READERS 💕