Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Lahiran


__ADS_3

.


Beberapa bulan sudah berlalu. Nana yang sedang hamil, selalu saja membuat Djordi membatin dengan tingkahnya. Hingga Djordi tak boleh lagi berada di rumahnya, karena ia benar-benar sangat jijik dan selalu merasakan mual saat melihat wajah suaminya itu. Sampai akhirnya, Djordi tak tega melihat Nana yang terus tersiksa seperti itu.


Kemudian, ia memutuskan untuk menginap di rumah presdir Kim. Tapi untungnya, Nana tidak ngidam yang aneh-aneh.


Hanya merasa jijik melihat Djordi, dan mual-mual saja.


Mual-mual sudah berakhir. Tapi, jijik terhadap Djordi masih berlanjut.


Sudah hampir lima bulan, Djordi menginap dirumah sahabatnya itu. Sesekali, presdir Kim membelikannya topeng ketika Djordi hendak menghampiri Nana.


Memang benar, mood ibu hamil selalu berbeda-beda. Ada yang terlalu berlebihan, ada yang standar, bahkan ada yang layaknya seperti orang tidak hamil.


Tapi, kehamilan Nana ini memang sangat berlebihan , entah apa yang diinginkan si jabang bayi. Hingga ia tega memperlakukan ayahnya seperti itu. Padahal, Djordi ikut serta dalam membuatnya berada di rahim Nana hingga kini usia kehamilannya memasuki trimester akhir, yaitu menginjak sembilan bulan. Perut Nana pun sudah membesar.


Pada masa inilah, penantian adalah hal yang paling dinantikan.


.......


Djordi kembali ke rumahnya dengan terpaksa, karena si mesum presdir Kim sedang mengundang beberapa wanita di rumahnya. Hingga saat Djordi berbaring di atas sofanya, wanita-wanita itu malah merayap ke atas tubuh Djordi. Djordi takut khilaf, karena memang benar tubuhnya butuh sekali belaian dan sentuhan dari wanita. Tapi, bukan wanita macam ini, wanita itu adalah istrinya, Bae Nana. Jadi, ia memutuskan untuk pulang dengan topeng di wajahnya.


Pintu rumah tidak dikunci malam itu. Djordi masuk dengan rasa cemas, sambil melihat kesekeliling ruangan. Djordi menghela nafas lega, karena suasana rumah sudah sepi, dan sepertinya Nana sudah tertidur di kamar atas.


Ia membuka jas hitamnya, lalu berbaring dengan kemeja putihnya. Perlahan kedua matanya tertutup, nampaknya Djordi begitu lelah hari ini.


Ia pun tertidur.


Beberapa jam telah berlalu.


Tik... tok... tik.. tok...


Suara jam terdengar karena suasana rumah begitu sunyi dan sepi.


Didalam alam bawah sadarnya, Djordi bermimpi. Ia sedang berada diruang persalinan. Terdengar suara teriakan Nana dari balik tirai besar di hadapannya itu. Hal itu, sontak membuatnya panik. Ia tak berani mendampingi Nana karena tidak tega, tapi juga kasihan karena di dalam mimpinya itu Ny.Parsha dan Ny.Kim tidak ada yang mendampinginya.


Saat Djordi membuka tirai besar di hadapannya itu, terlihat begitu banyak darah di baju dokter, perawat juga di baju Nana. Bagaikan mereka sedang berendam di air darah.


Di dunia nyata.


Djodi yang masih berada dimimpinya mengerutkan keningnya, keringatnya bercucuran, wajahnya terlihat panik. Dan, tiba-tiba saja, Nana memukul wajah Djordi dengan bantal.


Bruk ...


"DJORDI, BANGUN !!!" teriak Nana dengan wajah panik, sambil menekan perutnya. Djordi langsung mengerjapkan matanya, ia terjeda sesaat dengan raut wajah bingung.


Lalu, Nana berjalan menaiki tangga, menuju ke kamarnya lagi sambil terus mengomel.


"Dasar suami yang tidak bisa di andalkan. Uh baiklah, aku bisa melakukannya sendiri !" gumam Nana dengan cucuran keringat di tubuhnya.


Djordi hanya melongo, ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan aneh istrinya itu. Lalu, Djordi mengikutinya dari belakang.


Didalam kamar, terlihat Nana yang sedang memasukan beberapa pakaian kedalam sebuah tas dengan nafas yang terengah-engah. Djordi hanya memperhatikannya dari ambang pintu.


Ah ! Sudah tak aneh dia bersikap seperti ini. Itu hanyalah mood ibu hamil saja. (Batin Djordi berusaha mengerti keadaan)


"Santai saja, honey. Atur nafasmu, kau terlihat begitu kelelahan. Perutmu sudah terlihat sangat buncit, dan aku sangat pengap melihatnya," ucap Djordi yang berusaha menenangkan Nana. Tapi, Nana terus saja mondar mandir sambil mengemasi pakaiannya.


"Kau bilang apa? Tenang ! Uh, apa kau tahu kenapa perutku semakin membesar? Itu karena aku masuk angin !" sindir Nana dengan nada bicara yang semakin tinggi. Nana menyalah artikan perkataan Djordi. Emosinya begitu terlihat jelas di wajahnya.


"Apa maksudmu, sayang?" tanya Djordi yang semakin tak mengerti dengan ucapan Nana.


"Sayang, sayang ! Air ketubanku sudah pecah. Aku sudah berusaha membangunkanmu selama setengah jam, dasar kambing." Nana melempari barang-barang yang ia raih ke arah Djordi, sambil menahan nyeri di perutnya. Entah kenapa Djordi menjadi tiba-tiba bodoh disaat genting seperti itu.

__ADS_1


A-apa?


Djordi terhentak kaget setelah mengetahui air ketuban Nana pecah. Ia langsung tersadar. Nana malah melewatinya sambil menjinjing tas yang sudah terisi penuh, lalu ia menyenggol tubuh Djordi hingga ia tersungkur. Nana benar-benar dibuat murka.


Uh !!


"Nana !" panggil Djordi sambil berusaha bangkit. Kemudian, ia berlari mengejarnya. Nana terlihat sedang bersusah payah berjalan dengan nafas yang sangat berat menuruni tangga, sangat pengap melihatnya berjalan dengan perut yang sangat besar.


"Nana ! A-apa yang harus aku lakukan?" Djordi malah sama-sama panik. Hingga akal sehatnya membuyar.


Nana melongo menatap Djordi.


Dasar bodoh !!


"Pergi kau ke neraka !" ucapnya dengan kemarahan di wajahnya sambil berjalan ke arah luar. Djordi terhentak kaget, ia terjeda sesaat sambil mengutuk kebodohannya itu.


"Kenapa kau masih berdiri di sana ! Cepat antar aku ke rumah sakit. Aarrggghhh.... ya Tuhan, sembuhkan penyakit otak suamiku itu !" Nana tak henti-hentinya mengomeli Djordi, sambil berusaha mengatur nafasnya karena perutnya semakin lama semakin nyeri.


Uh, sakit sekali ! (Batin Nana, sambil terus berjalan dan memegangi perutnya)


Djordi langsung memakai mantelnya, dan berlari mengejar Nana. Kemudian ia mencari-cari mobilnya yang sedang diparkir bersamaan dengan mobil yang lainnya. Nana sepertinya sudah masuk kedalam mobil, karena sudah tidak terlihat.


Djordi pun langsung masuk kedalam mobil dan menancapkan gasnya.


"Apa kau tahu arah ke rumah sakit?" tanya Nana, sambil mengernyitkan dahi, menahan nyeri karena perutnya semakin mules seperti dikoyak-koyak.


"Mm... ya, tentu !" ucap Djordi sambil menatap panik ke arah jalan.


Kemudian, ada pertigaan di depan jalan sana, Djordi langsung mengambil jalan ke kiri.


"Hello ! Ke kanan, Tuan Aganor. Rumah sakit berada di sebelah kanan !" ucap Nana kesal, ia menahan emosinya sambil mengigit bibir bawahnya.


Lalu, Djordi melirik panik, sambil memutar setir mobil ke arah kanan.


"Tapi, kau tidak boleh mengemudi disaat kondisi seperti ini," ucap Djordi, cemas.


"KELUAR !!!" teriak Nana.


Djordi langsung keluar dan berganti posisi dengan Nana.


Ia tak habis pikir dengan suaminya itu, hingga Djordi lupa kemana arah rumah sakit.


Apa yang terjadi dengan Djordi !


Makan apa dia, sampai tiba-tiba bodoh seperti ini! (Geram Nana).


Nana mengatur nafasnya, ia berusaha setenang mungkin saat mengendarai mobil. Padahal, sudah terasa sekali di area kewanitaannya kepala bayi itu semakin turun. Tubuhnya ingin sekali meronta-ronta.


Sesampainya di rumah sakit. Djordi langsung memapah Nana untuk duduk di kursi roda, lalu ia mendorongnya ke tempat persalinan, diikuti dengan beberapa perawat.


"Tahan, sayang. Kau harus kuat !" ucap Djordi sambil terus mendorong kursi roda itu.


"Sekali lagi kau bicara, akan aku kuliti dan kebiri kau setelah persalinan !" kata Nana. Ia terganggu dengan perkataan Djordi, karena Nana sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa sakit yang menusuk beserta kepanikan yang melanda.


Dari arah luar datanglah keluarga besar Djordi, yaitu kedua orang tuanya, ketiga kakaknya, ketiga keponakannya beserta dengan Ny.Parsha, presdir Kim, dan bibi Oh pun ada. Djordi menganga tak percaya saat melihat seluruh keluarganya hadir.


Mereka langsung mengerumuni Djordi dan Nana, menyemangati Nana yang akan melahirkan. Presdir Kim langsung memeluk Djordi sambil memberikan ucapan selamat.


Sebenarnya, Nana lah yang menghubungi mereka.


"Jai siapa wanita ini?" tanya Djordi yang dibuat bertanya-tanya dengan sosok wanita cantik disamping Jai.


"Dia adalah pacarku, paman ! Bagaimana, cantik bukan?" bisik Jai.

__ADS_1


Uh ....


" aaaaaa !!! Kepala bayinya mau keluar !" teriak Nana.


Sontak, semua orang yang berada disitu membelalakan kedua matanya. Mereka langsung menyuruh perawat untuk membawa Nana masuk ke ruang persalinan.


Djordi berdiri di depan pintu sambil mondar mandir dengan paniknya, lalu ia berjalan tanpa sadar menyusuri koridor rumah sakit. Melihat raut wajah Nana membuat nyalinya ciut, ia benar-benar tidak tega melihatnya kesakitan.


Tiba-tiba seorang lelaki menggunakan kacamata dengan stetoskop yang di lingkarkan di bahunya, menabrak Djordi. Nampaknya, pria yang menabrak Djordi itu seorang dokter, karena pakaiannya pun serba putih.


"Maaf, aku tidak fokus !" ucap Djordi yang masih murung.


"Ada apa, tuan? Anda terlihat sedang gelisah !" tanya pria itu.


Djordi mendongakan kepalanya, ia menatap perlahan orang itu beserta dengan pakaian serba putih yang dikenakannya dengan stetoskop di bahunya.


Ah, dokter !


"Mm... istriku akan melahirkan sekarang dan aku sangat tidak tega melihat wajahnya yang kesakitan. Aku memang menginginkan banyak anak sejak dulu, tapi setelah melihat rasa sakitnya yang seperti itu, membuatku jadi ... aarrgghh," ucap Djordi dengan kecepatan bicaranya. Ia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


Pria itu langsung menyentuh bahu Djordi, menenangkannya sedikit.


"Tenang, tuan. Coba kemari, saya akan memeriksa anda !" tutur pria itu. Kemudian, pria itu melakukan cek umum pada Djordi, dengan memeriksa bola matanya.


Djordi pun sudah sedikit tenang.


"Okay ! Pertama-tama, anda perlu merileks-kan pikiran anda. Lalu ambil nafas dan buang. Ikuti saya seperti ini !" kata dokter itu sambil memperagakan apa yang ia maksud.


Tak pikir panjang, Djordi pun langsung mengikuti intruksinya. Ia mencoba untuk mengosongkan pikirannya, dan mulai menghirup udara malam.


Aaaaa (Inruksi, pria berbaju dokter)


Aaaaa (Djordi mengikuti)


AAAAA (Intrusinya lagi, dengan nada yang semakin meninggi)


AAAAAAA (Djordi terus mengikutinya)


Kemudian, tiba-tiba seorang lelaki yang juga mengenakan setelan dokter dan satu orang perawat wanita menghampirinya.


"Roki, aku bilang jangan meninggalkan ruangan!" geram dokter dan perawat itu sambil melepaskan peralatan dan seragam dokter yang Roki pakai di tubuhnya.


"Ada apa ini? Saya sedang konsultasi dengannya !" seru Djordi yang menatap heran.


"Maaf Tuan, dia adalah pasien rumah sakit jiwa yang sering kabur-kaburan. Akulah dokternya, disini !" ucap dokter yang sebenarnya, sambil menggiring pasiennya itu untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit.


APA !!!!


Orang gila itu menoleh ke arah Djordi sambil tertawa cengengesan, ia meledek Djordi.


Bukan hanya orang gila yang meledeknya, cicak di dinding pun menertawai Djordi.


Ckckckckck....


Begitulah suara cicak itu meledeknya.


...


BERSAMBUNG !!!!


Maaf ya kalau garing 😁


Like, komen & vote ❤

__ADS_1


__ADS_2