Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Electra


__ADS_3

Terus dukung ya, dengan cara :


klik J E M P O L, K O M E N & V O T E 🙏


..


..


..


Dua tahun kemudian.


John Natan saat ini sudah menjadi desain interior profesional di New York.


Namanya menjadi tidak asing, dan semakin akrab di dengar oleh desain interior di sana.


Satu tahun yang lalu, John kembali ke Korea dan mendirikan firma interior yang diberi nama Tan Design.


Karya-karya desainnya pernah di pamerkan di berbagai ajang bergengsi. Seperti International Contemporary Furniture Fair di New York, serta Space Publication Hong Kong.


John semakin memuncak.


Saat di wawancarai tentang selera facion dan interiornya, John mengaku lebih suka gaya modern, urban, hangat, elegan dan segala sesuatu yang tidak berlebihan.


Namun, saat di tanyai soal percintaannya, John menjawab belum ada siapapun dihatinya sampai saat ini.


John benar-benar sudah mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Nana. Ia menjadi lelaki yang tidak memiliki hati saat ini. Hatinya sudah mati, terkubur bersama cintanya.


Satu tahun, John berusaha menghilangkan perasaannya untuk Nana. Satu tahun pula ia menjalani hidup bagaikan keringnya dunia, tandus, tak ada cinta.


Padahal, sering kali beberapa wanita hebat dan sukses mencoba mendekatinya. Tapi, John menoleh saja tidak apalagi tertarik pada mereka.


John menjadi seseorang yang membosankan, bersikap dingin, dan tidak ada pelangi lagi di wajahnya.


..


..


Sean menjalani hidup dua tahun ini dengan penuh kesabaran tinggat tinggi. Sebab, Nana selalu berkunjung ke rumah Tn.Kim, yang tak lain adalah kakek Sean sekaligus ayah mertua Nana.


Sean sudah memikirkan beribu cara, untuk menghindar dari Nana. Namun sayangnya, Sean dan Nana sering kali tidak sengaja bertemu di kediaman Tn.Kim, ayah Djordi.


Sean pernah berbicara jujur pada pamannya, bahwa sampai saat itu, ia belum bisa melupakan Nana. Padahal, ia ingin sekali melupakannya, namun sering kali beberapa cara yang Sean lakukan untuk melupakan Nana semuanya gagal total, dan bayangan wajah Nana malah semakin kuat menghantuinya.


Hingga pada hari dimana saat XEO sedang melakukan konser besar di Indonesia.


Saat Sean sedang mengangkat telepon dari seseorang di belakang panggung. Ia tak sengaja di tabrak oleh seorang wanita. Ponselnya jatuh, dengan cepat wanita itu mengambilnya dan memberikannya pada Sean.


Mata Sean langsung membulat, karena melihat perawakan wanita yang menabraknya itu sama persis dengan perawakan Nana. Rambut panjang yang bergelombang, bibir mungil, dagu lancip, dengan kelopak mata yang jelas membuatnya mengingat kembali sosok wanita yang begitu ia cintai.


"Ma-maaf. Aku sedang tidak fokus," ucap wanita itu dengan bahasa Indonesia. Wajahnya menunduk sambil menyapu air matanya. Kemudian, wanita itu berlalu meninggalkan Sean. Tapi, Sean langsung menyengkram lengan kirinya, membuat wanita itu terhenti dan menatap bingung ke arahnya.


Sean hanya terpaku, menatap tajam wajah wanita yang sepertinya blasteran Indonesia-Korea itu. Ia ingin memastikan sekali lagi, bahwa penglihatannya itu benar atau tidak.


Ternyata memang benar ! Wajahnya mirip sekali dengan Nana. (Batin Sean, dengan wajah melongo)


Wanita itu menarik paksa tangannya yang di cengkram Sean. Hingga membuyarkan lamunannya.


"Ah ! Maaf," ucap Sean dengan bahasa Indonesia yang terdengar sangat kaku. Bola matanya begitu memperhatikan keseluruhan tubuh wanita itu.


Tapi, wanita itu malah mengabaikan Sean dengan membalikkan badannya dan akan melangkah.


Siapa dia? Sepertinya, dia berjalan dari arah panggung. Tapi, dari tadi aku tidak melihatnya disana. (Gumam Sean, dengan menciutkan matanya)


"Tunggu ! Maukah kau menemaniku malam ini, setelah acara ini selesai?" Entah bagaimana, ajakan itu terucap begitu saja dari mulut Sean dengan bahasa Indonesia yang fasih.


Wanita itu terhentak kaget, ia menghentikan langkah kakinya.


Kemudian, ia menoleh perlahan ke arah seseorang yang mengucapkan kalimat ajakan itu. Dan sontak saja, wanita itu semakin terkejut. Setelah melihat Sean Lee, salah satu member XEO yang paling populer di dunia berbicara padanya secara langsung.


Matanya membulat dengan sempurna. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu sangat kencang.


Wanita itu benar-benar tak bisa berkutik, dan sesekali mengedip tak percaya.


Ia beberapa kali mengucek matanya, melihat seksama sosok lelaki populer yang berada di hadapannya itu.


Benar ! I-itu Sean. (Batinnya bergetar, dengan mulut menganga)


Wanita itu langsung terduduk lemas, di kursi yang terletak di sebelahnya.

__ADS_1


Sepertinya acara konsernya sudah selesai, karena pembawa acara terdengar sedang menutup acara itu di atas panggung.


Dengan tak pikir panjang, Sean langsung menarik tangan wanita itu, sebelum orang-orang meninggalkan gedung.


Sean membuka jaket hitam yang dipakainya saat performance di atas panggung. Ia langsung mendekatkan tubuh mereka dan memayungkan jaketnya di atas kepalanya dan kepala wanita itu.


Blush ...


Pipi wanita itu memerah.


Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa bahagia yang hampir saja membeludak dari dalam dirinya.


XEO !! XEO !! XEO !!


Kemudian, Sean menggiring wanita itu dengan menyodorkan punggungnya, melindungi tubuh wanita itu agar tidak tersentuh oleh orang-orang yang begitu histeris saat menonton konsernya. Mereka berdua berjalan di tengah kerumunan lautan manusia yang sangat antusias menunggu performance terakhir dari XEO.


Wanita itu menatapnya gugup, karena wajah mereka begitu dekat.


Jai, Chan dan Manager Oh dibuat panik, setelah mengetahui bahwa Sean kabur lagi seperti waktu dirinya bertemu pertama kali dengan Nana di pesawat.


Sean memang sangat suka kabur-kaburan setiap dirinya singgah di satu Negara.


..


Setelah bersusah payah keluar dari kerumunan lautan manusia, Sean langsung menarik tangan wanita itu menuju tempat sepi. Lalu ia menurunkan tangannya dan memakai kembali jaket hitamnya itu.


Wanita itu hanya terpaku, tak percaya dengan mulut menganga.


"Bisakah kau memesan taxi online?" tanya Sean dengan bahasa Korea. Tapi, wanita itu malah melongo menatapnya.


Ah ! Aku lupa, dia kan orang Indonesia. (Gumam Sean)


"Taxi ... taxi call !" Sean menggerak-gerakan tangannya di samping telinganya, menyiratkan agar wanita itu segera menelepon taxi.


Wanita itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah ! Oh, taxi? B-baiklah," ucap gugup wanita itu, sambil merogoh isi tasnya, mengambil ponsel dan memesan grab.


Tiba-tiba, tangannya terhenti.


"Tapi, k-konsernya bagaimana? Dan, kita mau pergi kemana?" tanya wanita itu dengan bahasa Korea yang fasih.


"Konsernya sudah berakhir. Kita mau pergi kemana, aku juga tidak tahu, karena aku belum mengenal Jakarta," ucap Sean yang sedikit kebingungan. Ia melirik sesekali ke arah wanita itu dengan menatapnya bagaikan menatap Nana.


Tiba-tiba, Sean melihat dua orang pengawal Bibi Oh yang keluar dari gedung sedang mencari-carinya. Sean langsung menarik tangan wanita itu, mengumpat di balik semak-semak.


"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini !" bisik Sean, dengan wajah cemas.


"Cepat, bawa aku ke tempat sepi. Tempat dimana tidak ada orang sama sekali." Sean menoleh ke arah wanita itu yang sedang ikut mengumpat di sampingnya. Tatapan mereka beradu.


Dag.. dig.. dug..


Ternyata, semakin dekat malah semakin mirip dengan Nana. (Gumam Sean dalam lamunannya)


Wanita itu tersadar dan tersipu malu. Ia langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Sean.


Drap !! Drap !!


Suara langkah kaki yang mendekat.


Sean membulatkan matanya, karena kedua pengawal Bibi Oh semakin mendekat ke arahnya.


"Hey, cepat ! Bawa aku ke tempat yang sepi." Sean semakin panik, dengan menatap tajam ke arah wanita itu.


"Ah ! Tempat sepi? Dimana tempat yang sepi?" gumam wanita itu sambil berpikir keras, dengan perasaan yang panik juga. Tiba-tiba, ia memikirkan satu tempat yang memang betul-betul cukup sepi.


"Ayo, ikuti aku." Wanita itu menarik tangan Sean, sambil jalan jongkok karena takut ketahuan.


Sean menutup kembali wajahnya dengan jaket hitamnya.


..


Sekian lama berjalan, dan menelusuri jalan sempit.


Sampailah mereka di tempat sepi yang wanita itu maksud.


"Bagaimana? Apakah disini aman?" tanya wanita itu.


Syukurlah, wanita itu masih bisa berjalan dengan lutut gemetar, karena sedari tadi ia menahan jiwa k-popnya yang terus meronta.

__ADS_1


Sean malah mengerutkan keningnya, karena kebingungan.


"Disini dimana?" tanyanya.


"Ya, disni !" timbal wanita itu.


Sean langsung mendatarkan wajahnya.


"Maksudmu, di kuburan ini?" Sean menciutkan matanya.


Krrr.. Krrr..


Suara burung hantu.


"Bukankah kau minta dibawa ke tempat sepi?" tutur wanita itu.


Memang iya sih sepi, malah sangat sepi. Tapi, apakah harus dikuburan juga? (Gerutu Sean, sambil menelan air liurnya)


"Sini ! Ikut aku." Wanita itu menarik tangan Sean yang wajahnya masih dengan ekspresi mendatarnya itu.


Sean mengikutinya begitu saja, dengan rasa takut yang kian menghantui pikirannya.


..


Mereka berjalan melewati kuburan-kuburan.


Kemudian, setelah melewati beberapa kuburan, wanita itu memanjat ke atas tebing dengan lihainya.


Tebing itu tidak terlalu tinggi, tapi Sean terlihat sangat kesusahan memanjatnya.


Saat Sean mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya. Dengan cucuran keringat di dahi dan ekspresi wajah yang memperlihatkan sisi jeleknya. Tiba-tiba, ada uluran tangan, tepat berada di hadapannya.


"Biar ku bantu !" seru wanita itu dengan senyum manis di wajahnya. Sean langsung terpanah menatapnya.


Tanpa sadar, Sean meraih tangannya dan wanita itu sedikit menariknya ke atas. Hingga akhirnya mereka berada di posisi yang membuatnya canggung. Wanita itu terhimpit tubuhnya oleh tubuh Sean.


Kenapa wanita ini tidak mendorongku? Atau melakukan pemberontakan yang lainnya? (Batin Sean, terheran, dengan terus menatap mata indah wanita itu)


"Lihat itu !" seru wanita itu tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan dengan bola mata yang berbinar, menatap ke atas langit.


Sean mengerutkan keningnya, terheran-heran.


Ia langsung beranjak, duduk di sampingnya sambil menatap ke arah yang dimaksud wanita itu.


Saat mendongakan kepalanya, betapa terkejutnya ia dengan suguhan alam dimalam hari yang begitu indah. Ia betul-betul terpanah dengan keindahan ribuan cahaya bintang di langit.


Sangat menakjubkan. (Gumam Sean)


"Apa kau sering kesini?" tanya Sean, sambil menoleh ke arahnya. Wajah wanita itu terlihat tenang dan damai, sepertinya ia merasa sangat bahagia berada disitu.


Wanita itu mengangguk perlahan dengan senyum tipisnya. Membuat Sean merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya.


"Emm, siapa namamu?" tanya Sean yang sedikit malu-malu.


"Namaku ... Electra Lue," jawabnya, dengan mata yang masih terpaku menatap bintang.


Electra? Unik sekali namanya. (Batin Sean)


"Electra berarti bersinar. Saat aku lahir, orang tuaku berpikir, aku bagaikan cahaya yang masuk ke dalam hidup mereka yang penuh kegelapan. Ayah dan ibuku mengalami kecelakaan, kedua mata mereka tak bisa lagi melihat. Sering kali aku dengar, mereka mengeluh pada kegelapan," ucap Electra.


"Tapi, gelap pun tak bisa mengutuk takdirnya, karena tidak ada cahaya jika tidak ada gelap. Dan, setelah kedua orang tuaku meninggal, aku menjadi lebih suka keluar saat malam hari, atau menyendiri di kegelapan. Aku berpikir, aku akan menjadi cahaya jika aku menetap di kegelapan, seperti keinginan orang tuaku. Heh... konyol, bukan?" tuturnya, dengan memaksakan tersenyum.


Sean menoleh lembut ke arahnya. Menatap wajahnya, membuat Sean candu, terhanyut dalam lamunan.


"Lalu, jika cahaya matahari pergi karena hadirnya malam. Apakah kau juga akan pergi, karena aku memiliki kekurangan?" Tanpa sadar, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Sean.


Electra langsung menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanyanya, dengan tatapan bingung.


Sean langsung tersadar dalam lamunanya.


"Ah ! Emm, tidak ada." Sean tersipu malu, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


..


BERSAMBUNG !!!


Mampir juga dong ke karyaku yang ke dua, dengan judul : Air Mata Pengantin

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, Like, Komen & Vote ❤


__ADS_2