Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Keluarga baru


__ADS_3

L I K E dulu, baru K O M E N & V O T E ❤


..


..


..


Di dalam ruang persalinan.


Nana sedang menahan nyeri yang teramat sangat, karena setelah ketuban itu pecah rasa mules di perutnya semakin menusuk. Tapi, belum waktunya ia untuk melahirkan.


Tubuhnya sudah penuh keringat dingin, karena berusaha menahan mules diperutnya sekuat yang ia bisa.


"Dokter, tolong berikan aku obat penghilang rasa sakit. Cepat !" ucap Nana panik, sambil menarik kasar baju dokter itu.


"Uh, dimana Djordi ! Perawat, tolong panggilkan suamiku," katanya sambil menatap tajam ke arah perawat yang sedang berdiri di samping bangsalnya.


Dengan cepat si perawat itu keluar, dan mencari-cari Djordi.


Nampak, Djordi yang sedang berdiri di taman rumah sakit. Ia terlihat sangat resah karena ini adalah hal baru dikehidupannya, dan saking paniknya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Pikiran yang sudah di susun rapi di otaknya pun, kini berantakan.


Tiba-tiba saja, ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Tuan, istri anda meminta anda untuk mendampinginya sekarang !" ucap si perawat itu.


Sepertinya aku akan menjadi samsak tinjunya Nana ! (Batin Djordi mengeluh)


"Mari lewat sini, Tuan !" sambung perawat itu sambil menunjukan jalannya.


Saat Djordi membuka pintu ruang persalinan, terlihat raut wajah Nana yang sedang menahan sakit. Tak tega rasanya melihat Nana terus kesakitan seperti itu. Djordi pun berjalan ke arahnya, sambil memberikan senyum pada Nana. Air matanya membendung, saat Nana menyengkram begitu kuat tangan kirinya sambil menggigit baju Djordi.


"Djordi, sakit !" ucap Nana lirih, sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sudah memerah, bajunya pun sudah basah oleh keringat.


Tanpa sadar air mata Djordi menetes, saat mendengar Nana merintih kesakitan di hadapannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Djordi, dengan tubuh yang gemetar. Tatapannya melemah, kerutan di keningnya menggambarkan bahwa Djordi begitu mencemaskan keadaan Nana.


Nana menyuruh Djordi untuk mengelus-elus perut dan pinggangnya. Tak pikir panjang, Djordi pun langsung menurutinya, sesekali ia mencium perut Nana sambil mengatakan sesuatu untuk calon bayinya itu.


"Sayang, kau jangan terus menyiksa ibumu seperti ini. Ayah tidak tega melihatnya terus kesakitan. Cepatlah keluar ! Jangan berlama-lama di dalam sana. Ayah dan ibu disini, sangat menanti kehadiranmu," bisik Djordi di perut Nana. Ia menitikan air matanya sambil terus mengelus perut Nana.

__ADS_1


Saat Djordi mengelus perut Nana, seketika perutnya terasa nyaman dan tenang.


Nana pun merasa haru, saat Djordi bersikap seperti itu.


Ia menggenggam tangan Djordi, lalu meletakan tangan itu di bagian perutnya yang bergerak, karena si bayi sangat aktif didalam sana.


Djordi menyapu air matanya, lalu ia menatap kedua bola mata Nana saat merasakan pergerakan anaknya yang begitu lincah di dalam perut.


"Bagaimana rasanya ada sesuatu yang bergerak di dalam perutmu?" tanya Djordi, penasaran. Senyumnya mulai merekah.


"Terkadang nyeri, dan juga terasa geli. Aku sangat senang bisa merasakan kehamilan ini," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap lembut pipi Djordi.


"Sayang ... aku minta maaf, karena selama kehamilan ini, aku selalu marah-marah tidak jelas padamu, membuatmu repot dan tidak nyaman berada disisiku." Air mata Nana mulai membendung.


"Hey, hey ! Jangan berbicara seperti itu. Kau ini adalah istriku. Aku tidak merasa terganggu dan direpotkan olehmu. Tidak apa-apa kau melampiaskan semuanya padaku. Baik maupun buruk, aku menerima semua perlakuanmu itu, karena semua ini adalah tanggung jawabku !" seru Djordi sambil menyentuh tangan Nana yang sedang menempel dipipinya itu.


Kemudian tiba-tiba saja, perut Nana terasa mules yang teramat sangat sakitnya. Nana mengerang, ia betul-betul kesakitan. Rasanya si calon bayi itu mendorong-dorong di dalam perutnya, meminta untuk keluar. Djordi menjadi sangat panik.


"Cepat panggilkan dokter dan perawat ! Sepertinya, ini sudah waktunya !" ucap Nana dengan wajah memerah. Urat di wajahnya pun terlihat jelas, karena ia menahan nyeri yang teramat sangat.


Djordi berlari keluar, memanggil dokter dan perawat. Dokter dan perawatpun segera mengambil tindakan. Mereka memeriksa Nana dengan cepat, dan langsung menyiapkan alat-alat medis, seperti gunting, benang jahit beserta jarum untuk menjahit, dan lain sebagainya.


"Angkat dan lekukan kakimu, Nona. Lalu, pegang yang kuat di bagian paha. Jika mulai terasa mules, kau boleh mengejan sekuat yang kau bisa. Tapi jika mulesnya hilang, kau bisa mengatur nafasmu dulu. Apa kau sudah mengerti !" Dokter memberikan pengarahan terlebih dahulu pada Nana.


Djordi yang berada di sampingnya, merasa panas dingin. Tubuhnya gemetar hebat. Kesakitan dan ketegangan yang Nana rasakan, terasa juga pada diri Djordi.


Nana pun mulai mengejan, ia menggertakan giginya sambil menyengkram begitu kuat kedua pahanya.


Djordi menutup kedua matanya, karena tak tega melihat Nana.


"Lihat ke arah pusarmu, Nona, dan jangan mengangkat bokongmu ! Ayo ambil nafas lagi, lalu buang." Intruksi lagi dari Dokter untuk Nana.


Nana pun mengatur nafasnya dengan cepat, lalu ia mulai mengejan lagi, sekuat tenaga. Hingga otot-otot di sekujur tubuhnya nampak terlihat sangat jelas.


Djordi menelan air liurnya, jantungnya berpacu begitu cepat, air matanya mulai membendung lagi dikedua matanya. Kemudian, Djordi menyapu keringat di dahi Nana yang mulai bercucuran.


"Ayo ! Sedikit lagi, Nona. Stabilkan kembali nafasmu," kata Dokter.


"Lihat, Tuan ! Kepala bayinya sudah mulai muncul," kata si perawat yang sedang berada di sisi Dokter.


Penasaran, Djordi pun akhirnya memberanikan diri melihat calon bayinya yang sedang berusaha keluar untuk bertemu dengan ayah dan ibunya itu.

__ADS_1


Saat Nana mendengar bahwa kepala bayinya sudah terlihat, semangat di dalam dirinya mulai berpacu. Ia ingin segera mengeluarkan bayi itu karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.


Saat merasakan mules yang kesekian kalinya, Nana mengejan dengan mengerahkan sekuat tenaganya, hingga nafasnya hampir habis. Keringatnya semakin deras, cengkraman tangan di pahanya sangat keras, hingga menembus kedalam kulit pahanya itu.


Rasa sakit saat melahirkan, bagaikan dua puluh tulang di dalam tubuh patah bersamaan.


Oeee~ Oeee~


Akhirnya, bayi mereka keluar dengan selamat. Bayinya laki-laki, dan langsung menangis keras, hingga suara bayi itu memecahkan air mata semua yang mendengarnya.


Keluarga Djordi, dan ibu Nana yang sedang menanti di luar ruangan, menitikan air matanya setelah mendengar suara tangisan bayi itu, mereka menghela nafas lega.


Setelah bayinya keluar dan di bersihkan oleh perawat, bayi itu langsung di letakan di dada Nana.


Djordi tak bisa lagi menutup-nutupi tangisan kebahagiaannya itu. Ia segera memeluk tubuh Nana dan anaknya, sambil menangis terisak-isak di bahu Nana karena Nana sudah berjuang mempertaruhkan nyawanya demi buah hati mereka, dan Djordi melihat semua perjuangan Nana saat melahirkan tadi.


Proses saat Nana mengejan, darah yang terkuras habis, hingga proses kewanitaannya di jahit, Djordi melihat semua proses itu.


Betul-betul perjuangan seorang ibu yang begitu besar.


"Sudah, jangan menangis !" ucap Nana.


"Lihat nih, anak kita sepertinya sedang mencari air susu," sambung Nana sambil mengusap-usap punggung bayi mungilnya.


Nana menyusui anaknya untuk yang pertama kali, didampingi dengan seorang perawat dan Djordi yang memperhatikannya dari samping.


Tiba-tiba, keluarga besarnya masuk karena sudah tidak sabar ingin melihat keluarga barunya itu.


Sontak saja mereka membelalakan matanya karena sangat senang setelah melihat kehadiran bayi mungil itu. Suasananya menjadi ribut, kebahagiaan begitu terpancar jelas di dalam ruangan itu. Senyum mereka pun begitu merekah.


Djordi dan Nana mendapat pelukan hangat dari keluarganya.


Presdir Kim pun langsung memeluk Djordi sambil mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertamanya itu.


Ny.Parsha dan Ny.Kim silih berganti menimang cucu mereka, hingga mereka meneteskan air mata kebahagiaan.


...


BERSAMBUNG !!!


Hiks, mana nih yang mau kasih Vote 😢

__ADS_1


__ADS_2