Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
Kedok Baby Sitter


__ADS_3

.


Pagi hari di kediaman Aganor.


Djordi yang sedang meringkuk di atas sofa terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya dengan wajah yang kusam.


Semalaman tidurnya terganggu karena anaknya terus menangis dengan suara keras.


Hingga akhirnya Djordi tertidur di atas sofa, sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Nana yang saat itu sedang menggantikan popok bayi terjeda sesaat, sata melihat wajah suaminya yang tidak bersemangat di pagi hari.


"Hey, ini sudah hampir jam delapan. Apa kau tidak akan kekantor?" tanya Nana sambil kembali mengurus anaknya yang mengompol itu.


Djordi mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia berusaha membelalakan matanya, karena masih terasa ngantuk, matanya sangat berat.


Kemudian, ia beranjak sambil meregangkan otot tubuhnya dan berjalan mendekati Nana dan anaknya yang sedang berada di atas ranjang.


"Kenapa dia menangis terus semalaman?" tanya Djordi dengan perasaan resah.


"Bayi yang baru lahir memang seperti ini. Dia hanya menagis di saat dia sedang mengompol, buang air besar, merasa ada yang sakit ditubuhnya, dan pada saat dia lapar," jelas Nana. Kemudian ia berjalan keluar dari kamarnya.


"Hey, mau kemana kalian? ... Nana, aku kan harus bekerja !" panggil Djordi.


"Ya, pergilah !" balasnya singkat, sambil meneruskan langkah kakinya.


Arrgghh, aku merasa dibuang oleh Nana ! (Geram Djordi)


Kemudian Djordi menyusul Nana.


"Nana aku harus mandi ! Cepat kembali ke kamar," titah Djordi dengan raut wajah marah.


"Aku sudah menyiapkan air hangatnya, sayang. Apa perlu kau ku mandikan juga di bak mandi anakku?" sindir Nana dengan senyum merekah di wajahnya.


"Mm... kalian mau kemana dengan pakaian tidur ini? Apa ... tidak apa-apa jika bayi baru lahir dibawa keluar rumah?" Djordi mencemaskan keadaan anaknya.


"Hey, aku hanya membawanya berjemur. Anakku ini sudah aku mandikan tahu !" omel Nana.


"Sudah, cepat mandi sana ! Sarapanmu juga sudah disiapkan di meja makan." Nana keluar rumah menuju halaman, sambil tersenyum-senyum pada bayinya.


Dari atas tangga, ternyata si baby sitter menguping pembicaraan mereka diam-diam.


Djordi mengerutkan keningnya, ia terheran.


Kemudian Djordi menyusul Nana lagi, yang saat itu sudah terduduk di bangku halaman dengan sorotan mentari sambil menimang bayinya.


"Dimana baby sitternya? Aku menggaji dia untuk membantumu mengurus anak kita. Kau hanya perlu istirahat, jangan terlalu kecapekan !" Djordi mendumel.


"Djordi, aku tidak pernah memintamu untuk memesan baby sitter. Aku sangat sehat, tidak penyakitan. Anakku baru lahir, dan masa kecil itu sangatlah singkat, empat atau lima tahun lagi dia akan masuk sekolah kanak-kanak, lalu dia akan sekolah dasar, memiliki teman, beranjak remaja, dewasa, memiliki kehidupannya sendiri sampai dia kerja dan menikah. Setelah dia menikah aku tidak berkewajiban mengurusnya lagi, istrinya yang akan menggantikan posisiku. Layaknya aku yang saat ini mengurusmu. Jadi, aku tidak ingin menyia-nyiakan momen mengurus anak dengan mengandalkan baby sitter atau bantuan orang lain," jelas Nana seditel-ditelnya.


Djordi terdiam, ia menyimak baik-baik perkataan Nana.


Ia tersadar, memang benar apa yang Nana ucapkan. Mungkin Nana tidak ingin anaknya berada di posisi dia saat dulu, saat Nana tidak merasakan kasih sayang yang sesungguhnya dari kedua orang tuanya. Tahun demi tahun, Djordi akan menua bersama Nana, anaknya akan sering meninggalkan mereka saat dia sudah menikah.


Seperti Djordi yang saat ini sudah menikah dengan Nana, dia jadi jarang mengunjungi rumah orang tuanya.


Ny.Parsha mengintip mereka dari celah jendela dapur. Terenyuh hatinya, dan terasa sesak saat ia mendengar perkataan yang Nana ucapkan pada Djordi.


Ia sangat benci pada dirinya, karena kecelakaan itu yang membuatnya jadi tidak bisa merasakan bagaimana rasanya merawat Nana dengan tangannya sendiri.


Ny.Parsha menopang penyesalan yang begitu besar, andai ia bisa mengembalikan waktu, memutar balikan keadaan. Mungkin ia tidak akan meninggalkan Nana demi pekerjaannya yang membuat ia celaka.


"Pelayan ! Panggil si baby sitter, aku akan memecatnya sekarang juga !" teriak Djordi. Ia sudah memikirkannya matang-matang, karena untuk apa mempekerjakannya jika Nana bersikeras ingin mengurus anak mereka sendirian.


Saat salah satu pelayan akan berjalan masuk kedalam rumah, untuk memanggil baby sitter itu. Tiba-tiba tanpa di duga, baby sitter itu langsung berjalan cepat dengan sendirinya, mendekati Nana dan Djordi. Ia tertunduk ketakutan sambil menghapus air matanya.


Gawat, jika air mata itu membuat Nana iba padanya. (Batin Djordi)

__ADS_1


"Bagus jika kau sudah menyadarinya. Sudah, jangan menangis dihadapan istriku. Cepat, kemasi barangmu ! Walau kau baru bekerja satu hari, aku akan menyiapkan gajimu selama sebulan. Apa itu setimpal?" ucap Djordi sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.


"Saya mohon ! Jangan pecat saya." Tangisan baby sitter itu semakin menjadi. Hingga membuat Nana mengernyit tak tega melihatnya.


"Sudahlah biarkan dia bekerja, membantuku sedikit-sedikit," bisik Nana sambil menatap lemah pada baby sitter itu.


"Ck. Aku akan mencarikan majikan baru untukmu, dengan upah yang lebih tinggi. Ayo, cepat kemasi barangmu !" Djordi meninggikan suaranya.


Tiba-tiba si baby sitter itu merangkul kaki kiri Djordi dengan isak tangis yang keras, hingga buah dadanya terasa lembut menyentuh kulit kakinya.


"Biarkan saya bekerja disini. Tidak diberi upahpun tidak apa-apa, asalkan saya bekerja dirumah ini !" teriak baby sitter itu dengan deraian air matanya. Hingga membuat celana Djordi sangat basah karena tangisannya.


Nana terhentak kaget saat melihat aksi baby sitter itu yang merangkul kaki suaminya.


Djordi bergidik, ia pun sangat jijik dengan tingkah si baby sitter itu yang sembrono menyentuhnya.


"Apa-apaan kau ini? Cepat, lepaskan tanganmu !" teriak Djordi sangat geram.


"Saya akan melepaskannya, jika anda mengijinkan saya tetap kerja dan tinggal disini !" bantah si baby sitter itu sambil lebih mengeraskan rangkulannya.


Nana menggigit jari tangannya, ia menjauhkan anaknya dari baby sitter itu. Nana menatap ngeri atas tingkah laku baby sitternya yang semakin menggila.


"Tidak bisa ! Arrggghhh... baiklah ! Aku memiliki apartemen yang kosong, kau isilah sana !" teriak Djordi, sambil mendorong-dorong tubuh si baby sitter.


Keributan itu membuat Ny.Parsha terkejut. hingga ia bergegas keluar dari dapur melihat apa yang terjadi.


"Tidak ! Aku hanya ingin tinggal disini." Baby sitter itu semakin keras kepala, hingga akhirnya batas kesabaran Djordi memuncak, ia melepaskan rangkulan tangan baby sitter itu dengan sekuat tenaga.


Akhirnya si baby sitter itu pun terpental, kaca matanya telepas. Ternyata baby sitter itu memakai wig, dan wig yang ia pakai itupun terlepas. Penampilannya menjadi berantakan.


Kedoknya sudah terbongkar.


Degg !!!


Nana dan Djordi terhentak kaget dengan siapa yang ia lihat disitu.


Jantung Electra berpacu hebat. Ia memakai kacamatanya kembali dengan perasaan panik. Penyamarannya terbongkar.


Ia merasa sangat malu, kemudian ia berusaha kabur dari situasi yang sudah sangat kacau itu.


Tapi, Djordi langsung menarik tangannya dengan raut wajah penasaran.


"Mau kemana kau? Jelaskan dulu maksud dan tujuanmu menyamar sebagai baby sitter di rumahku !" geram Djordi.


Electra hanya tertunduk malu dengan badan yang gemetar. Kemudian, Nana dan Djordi membawanya masuk kedalam rumah.


Ny.Parsha mengerutkan dahinya, terheran, karena ia belum mengenal siapa Electra. Lalu, ia kembali ke dapur tanpa ingin tahu lebih dalam permasalahan mereka.


Djordi dan Nana pun langsung mengintrogasi Electra di ruang tamu.


Dengan rasa gugup, akhirnya Electra memberanikan diri membuka suara, menjelaskan tujuannya masuk ke rumah Djordi dengan menyamar sebagai baby sitter.


"Sebenarnya tujuanku tidak bermaksud jahat. Aku... hanya ingin lebih dekat dengan Sean, karena aku menyukainya. Aku hanya ingin tahu mengenai hal-hal tentang Sean lewat kak Nana dan Tuan Aganor. Aku berpikir, jika aku berada dirumah kalian, aku akan sering melihatnya disini. Makanya aku bersikeras ingin tetap tinggal disini." Electra berwajah murung, ia sangat ketakutan karena tatapan Djordi sudah seperti akan membunuhnya saja.


Setelah mendengar penjelasan yang masuk akal itu, akhirnya Djordi bisa menghela nafas lega.


"Ah, jadi begitu." Nana berusaha mencerna perkataan yang Electra jelaskan itu.


"Kenapa kau tidak mengungkapkannya langsung. Mungkin saja, dia lebih menyukai dirimu tanpa kau ketahui," kata Nana.


"Tidak, karena aku tahu Sean masih belum bisa melupakan seseorang !" ucap lirih Electra dengan raut wajah murung.


Djordi dan Nana membelalakan matanya, karena mereka menyadari yang Electra sebut dengan 'seseorang' itu adalah Nana.


Suasana menjadi canggung.


Electra menjadi tidak enak sudah menyinggung Nana.

__ADS_1


"Ah, pokoknya... aku memohon bantuan dari kalian." Electra langsung berdiri dan membungkukan tubuhnya di hadapan Nana dan Djordi.


Jelas, aku pasti akan membantu Electra agar Sean segera melupakan Nana ! (Batin Djordi begitu antusias)


Disaat seperti itu, tiba-tiba tanpa diduga Sean, Chan dan Jai bertamu kerumah Djordi. Mereka berniat memberi sesuatu untuk keponakaannya.


Electra pun akhirnya kocar kacir panik, sambil memasang kembali penyamarannya.


"Paman ! Nana !" sapa mereka bertiga.


Electra terdiam dipojokan dengan nafas yang terengah-engah, sambil menundukkan kepalanya.


Saat Sean melewati Electra yang sedang menyamar dengan pakaian baby sitter itu, ia berhenti di hadapannya sambil menatap tajam ke arah Electra.


Dag... dig... dug...


Sean semakin dekat dengan wajah Electra dengan tatapan meneliti.


Pipi Electra dibuatnya memerah, dengan pacuan jantung yang semakin berdetak hebat.


Oh Tuhan, wajahnya begitu dekat. Ingin sekali aku melahap wajah tampannya ini. Apakah dia menyadari siapa aku?


Ternyata, Jai pun memperhatikan Electra dari belakang tubuh Sean.


"Hey... Sean, Jai ! Kenapa kalian menatap baby sitter anakku terus? Apa kalian tertarik dengannya? Silahkan, harga tertinggi angkut !" sindir Djordi sambil mengelus-elus pipi anaknya itu.


Nana langsung menyubit perut Djordi.


"Apa kau pikir dia barang lelangan?" bisik Nana sambil memelototi Djordi.


"Hihii... bercanda, honey !" Djordi pun berbisik, ia langsung mengecup kening Nana.


"Posisi kaca mata baby sitter ini terbalik, dan kenapa model rambutnya seperti itu? Apa aku perlu mengecek kejiwaannya?" ucap Sean dengan tatapan keraguan.


"A-apa ?" Electra terhentak kaget, dan langsung meraba kaca mata dan wignya.


Uh, sial ! Karena sangat panik, aku jadi tidak ingat untuk memastikan penyamaranku ini dengan benar.


Djordi langsung berjalan mendekati Electra.


"Kau kan bisa membenarkan posisinya?" Djordi langsung melepas kacamata Electra dan menarik wig nya begitu saja. Electra semakin terbelalak dengan tubuh yang gemetar hebat.


Electra mematung dengan penyamaran yang sudah terbongkar jelas itu.


Apa yang Tuan Aganor lakukan !


Lalu, Djordi memberikan kaca mata dan wig itu pada Sean.


"Nih, cepat kau pasangkan untuknya dengan benar !" celetuk Djordi sambil berjalan kembali ke arah Nana dan anaknya.


Degg .......


"Electra !!!" Mata Sean, Chan dan Jai terbelalak.


Dasar Tuan Aganor, brengsek ! Kenapa dia sangat terang-terangan sekali. Aku harus bagaimana ini ?? (Batin Electra, sambil menatap meminta bantuan pada Nana)


"Djordi ! Kenapa kau membuka penyamarannya?" bisik Nana dengan geramnya.


"Aku hanya membantunya dengan cepat. Apa kau tidak kasihan menyiksa Sean terus menerus dengan cinta bertepuk sebelah tangannya itu," sindir Djordi sambil berbisik.


Nana menggaruk-garuk kepalanya, ia tak habis pikir dengan tingkah suaminya itu.


...


BERSAMBUNG !!!


Jangan lupa mampir ke novel,

__ADS_1


AIR MATA PENGANTIN ya 😘


__ADS_2