Surrounded Several Boys

Surrounded Several Boys
John Natan


__ADS_3

Jangan lupa J E M P O L, K O M E N & V O T E ❤


..


..


..


Nana berjalan memasuki kelasnya. Miya, Selena dan Freya pun masuk ke kelas yang sama. Ternyata mereka satu jurusan di kampus itu.


..


..


Tidak lama, kelas selesai. Selena dan Freya mendekati kursi Miya. Entah apa yang mereka bicarakan. Nana hanya memperhatikannya dari jauh.


Freya menatap sinis ke arah Nana yang sedang curi-curi pandang. Kemudian, Selena dan Freya meninggalkan Miya sendiri.


Nana beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Miya yang sedang terduduk sambil menunduk.


"Miya?". Sapa Nana, sambil menyentuh lembut kedua tangan Miya.


"Ah? Nana .. ternyata kita satu kelas, ya? Aku, tidak begitu memperhatikannya tadi". Miya sedikit terkejut, sambil tersenyum dengan terpaksa.


"Apa yang mereka katakan?". Tanya Nana, serius.


"Oh ! Emm, tidak ada". Ucap gugup Miya, matanya sedikit melotot.


Nana terjeda sesa'at.


"Hey, bukankah kau bilang aku harus menolongmu? Apa yang harus aku lakukan?". Tanya Nana, sambil duduk di kursi, di samping Miya.


"Oh itu. Emm, malam ini .. bisakah kau pergi ke NGT Club?". Tanya balik Miya, dengan wajah yang malu-malu.


"NGT Club?". Gumam Nana, mengerutkan keningnya. Karena ia belum begitu mengenal beberapa tempat yang ada di Korea.


Terlihat Miya sedang menulis sesuatu di selembar kertas yang ia sobek.


"Ini alamatnya". Miya menyodorkan kertas kecil itu pada Nana.


"Kau sudah berjanji kan, akan menolongku?". Bicara Miya dengan wajah yang menyedihkan.


"Oh ! Emm, ya. Aku sudah berjanji". Ucap Nana, sedikit gelisah.


"Tapi, aku mohon kau datang sendiri ke tempat itu, ya? Pukul 8 malam ! Aku akan menunggumu di pintu masuknya". Miya beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan meninggalkan Nana begitu saja.


Nana menaikkan kedua alisnya, kemudian ia mengambil kertas kecil yang bertuliskan suatu alamat. Nana menyimpan di dompetnya.


Saat Nana berjalan ke luar dari kelasnya. Tiba-tiba saja ...


Bruk.

__ADS_1


Nana bertabrakan dengan seseorang.


"Ah? Ma..maaf. Aku tidak fokus". Ucap seseorang itu, suaranya seperti seorang lelaki.


Nana membalikkan pandangannya. Dan ..


"Tan?". Kedua bola mata Nana membulat dengan sempurna.


Nana sangat terkejut sekali. Karena ia bertemu tidak sengaja, dengan lelaki yang pernah menyukainya sejak ia duduk di bangku SMA. Dan, Nana hanya menganggapnya sebagai sahabat saja. Tidak lebih.


Tapi, perjuangan cinta yang di lakukan oleh John Natan terhadap Nana tidak pernah putus, ia tetap dengan pendiriannya. Meskipun sudah beberapa kali ditolak oleh Nana. John masih tetap lembut hati pada Nana.


'Tan' itulah panggilan akrab Nana padanya.


Hingga akhirnya, dua tahun yang lalu ketika Nana dikabarkan berpacaran dengan Daren Hilton. Lelaki yang bernama John Natan itu menghilang dari kehidupan Nana. Tanpa pamit padanya.


Ia menopang sebuah luka yang teramat dalam saat kepergiannya itu.


..


"Nana? Kau .." John pun sangat terkejut, melihat wanita yang pernah ia perjuangkan sedari SMA, ada di hadapannya sekarang.


Tiba-tiba saja John langsung memeluk Nana tanpa ampun. Begitu erat.


John sudah memecahkan celengan rindunya kepada Nana. Tak di sangka-sangka olehnya, ia bisa bertemu lagi dengan Nana dengan cara yang seperti ini.


"Tan? Hey !!". Nana berbicara berat. Karena pelukan yang sangat erat itu membuat nafasnya sesak.


John tersadar, dan melepaskan pelukannya itu.


"Aku pindah ke sini. Uh, kau tidak berubah ya. Lepaskan dulu. ini sakit !!". Ucap Nana, menepis tangan John yang menempel di pipinya.


Rasa bahagia di dalam hati Jhon betul-betul ingin membeludak. Sebenarnya saat ini, John sedang berusaha melupakan Nana. Tapi apa boleh buat, jika takdir mempertemukan mereka lagi.


John menggiring Nana ke taman. Ia ingin berbincang-bincang dengannya, melakukan ini dan itu, menghabiskan waktu sepanjang hari seperti waktu SMA.


"Tan ! Kau berhutang maaf padaku.


Kau menghilang begitu saja, tanpa pamit padaku". Nana terlihat kesal pada John, dan melipat kedua tangannya di atas perut.


"Oh ya. Emm, maaf Nana". Ucapnya, dengan tatapan lembut.


"Eh, tapi .. John, bagaimana bisa kau kuliah di Universitas terbaik di Korea ini?". Tanya Nana terheran.


"Apa kau lupa, sejak kita SMA .. kau dan aku selalu bersaing. Aku selalu juara pertama di kelas, dan kau juara keduanya. Jadi, tidak heran aku bisa keterima disini". Ucap nya sedikit menyombongkan diri.


"Nana, kau pindah kesini dengan keluargamu?". Tanya John.


"Ah? Itu .. em, tidak. Aku.. aku pergi dari rumah". Perlahan Nana menundukkan kepalanya.


"APA? .. Kau !! Kau pergi dari rumah? Apa yang terjadi? Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka tidak mencarimu?". Pertanyaan John bertubi-tubi.

__ADS_1


"Bukannya kau tahu, bagaimana sikap keluarga itu memperlakukan aku?". Ucap Nana, lirih.


"Ah, ya ya ya.. Syukur lah, kau sudah bebas dari kandang ular itu. Lalu, kau tinggal sendiri disini? Jika kau tinggal sendiri, aku akan bersenang hati menemanimu". Tanya John.


"Huh ! Aku tinggal bersama Bibi Oh. Kau masih mengingatnya tidak?". Ucap Nana.


Mereka mengahabiskan waktu hingga sore hari, untuk membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting.


..


..


Di luar gerbang kampus.


"Kemana Nona Bae? Teleponnya tidak di angkat dari tadi. Bisa gawat jika Tuan muda tahu". Ucap pengurus Feng, yang dari siang sudah siap di depan gerbang untuk menjemput Nana.


Kriiingg.. Kriingg..


Ponsel pengurus Feng berdering.


Telepon masuk dari Tuan mudanya.


Aduh !! Apa yang harus ku katakan? (Pengurus Feng sangat ketakutan, perlahan butiran keringat di dahinya bermunculan).


"Ha..halo Tuan?". Ucap pengurus Feng, gugup.


"Dimana Bae Nana? Kenapa dari tadi aku meneleponnya, tidak di angkat? Apa dia belum pulang?". Tanya Djordi di balik telepon itu.


"Ah? Itu emm .."


Pengurus Feng melirik ke arah gerbang. Seketika matanya berbinar, karena melihat Nana yang sedang berjalan mendekatinya.


"Tuan, Nona Bae baru keluar dari gerbang sekolahnya. Saya akan mengantarnya pulang, sekarang". Ucap pengurus Feng, sambil mengelap keringatnya yang bercucuran itu.


"Beritahu padanya. Siapkan makan malam spesial". Titahnya, dengan langsung memutus begitu saja panggilan telepon itu.


Pengurus Feng memasukan ponselnya ke saku. Kemudian, Nana berjalan semakin mendekat.


"Nona Bae, silahkan masuk". Ucap pengurus Feng sambil menebarkan senyumannya.


"Ah, tak perlu seperti ini. Haha". Nana masih sungkan pada pengurus Feng, sambil masuk kedalam mobil.


"Oh ya, Nona Bae ada pesan dari Tuan muda. Anda harus menyiapkan makan malam spesial untuknya". Ucap pengurus Feng. Ia menyalakan mesin mobil, dan mobil melaju.


John memperhatikan Nana dari balik pohon.


"Mobilnya sangat mewah. Apa benar, Nana tinggal bersama dengan Bibi Oh?". John menciutkan kedua matanya. Ia merasa ragu.


..


..

__ADS_1


..


Ayo klik jempol dan vote nya ❤


__ADS_2