
Mohon dukungannya 😢 dengan cara :
L I K E, K O M E N & V O T E sebanyak-banyaknya.
..
..
..
Nana terus saja berjalan keluar, dengan pandangan kosong. Kemudian, sebuah mobil mewah dari arah yang berlawanan berhenti tepat di hadapan Nana. Seorang pria keluar dari dalam mobil mewah itu, bersama dengan seorang wanita. Pria dan wanita itu, tak lain adalah Sean dan ibunya.
Mulanya, Sean sangat senang saat melihat ada Nana di depan rumah kakeknya. Tapi, ia langsung menepis kesenangannya itu dengan rasa cemas.
"Nana ! Ada apa denganmu?" tanya Sean, dengan wajah yang sangat panik karena melihat Nana berjalan dengan tatapan yang kosong.
Djordi berjalan cepat ke luar dari rumah ayahnya itu. Djordi langsung menghampiri Nana, dan menarik tangan Nana. Ia mengacuhkan Sean dan kaka iparnya (ibu Sean).
"Lepaskan tanganku!" bentak Nana, sambil berjalan mengikuti langkah kaki Djordi di depannya. Tapi, Djordi tak menghiraukannya. Ia menarik kasar tangan Nana, membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Ibu Sean mengerutkan keningnya, terheran-heran.
Sean langsung mengejar Nana dan Djordi, dengan perasaan yang sangat cemas.
"Paman ! Ada apa dengan Nana" teriak Sean dari luar mobil, sambil menggedor-gedor kaca mobil Djordi.
Djordi langsung menancapkan gas, ia lagi-lagi tak menghiraukan Sean yang mencemaskan Nana.
"SIAL !!" teriak Sean. Ia semakin dibuat panik. Lalu, dengan cepat Sean menyuruh supir pribadi ibunya untuk segera keluar dari mobil itu.
Ada apa ini? (Gumam ibunya Sean, karena melihat wajah anaknya penuh dengan emosi)
Sean masuk begitu saja kedalam mobil, dengan tidak segan-segan langsung menancapkan gas, meninggalkan ibunya.
"Sean ! Mau kemana kau?" teriak ibunya, khawatir. Namun Sean sudah menjauh dari pandangannya.
..
Di dalam mobil, Nana tak henti-hentinya memberontak dengan deraian air matanya.
"Berhenti ! Atau aku loncat sekarang juga" bentak Nana, dengan mengerutkan keningnya.
"Nana, dengarkan aku dulu. Kau mungkin tidak mendengar cerita ibuku secara lengkap ,tadi" ucap Djordi, sambil terus mengendarai mobilnya.
"Aku bilang BERHENTI !" Nana mulai nekat, tangannya hampir membuka pintu mobil itu.
__ADS_1
Djordi langsung menghentikan mobil itu secara mendadak.
"Apa kau sudah gila ! Kau ingin mati, dan menyiksaku?" teriak Djordi, karena dibuat sangat kesal hati dengan prilaku bodoh Nana.
Nana mengabaikan ucapan Djordi. Ia langsung ke luar dari mobil itu. Memberhentikan taxi yang sedang melintas.
Taxi itu berhenti di hadapannya, Nana langsung membuka pintu taxi itu. Namun dengan cepat, tangan Djordi menutupnya kembali dan menyuruh supir taxi itu pergi. Taxi itupun berlalu, meninggalkan mereka.
"Nana ! Ini hanya kesalah pahaman. Bukan ibuku yang mencelakai ibumu" jelas Djordi, matanya bergetar dan memerah.
"Kesalah pahaman? ... Ya, itu memang kesalah pahaman. Lalu bagaimana dengan pelakunya, kakak dari ibumu itu?" tanya Nana.
"Dia ... dia sudah lama meninggal, karena bunuh diri" ucap Djordi, lirih.
Nana sangat terkejut, ia membulatkan matanya dengan mengerutkan keningnya. Jiwanya sangat tidak terima. Perasaannya benar-benar hampa.
"Apa ! ... Djordi, apa kau tahu seberapa hancurnya aku, saat mendengar kenyataan ini. Ternyata keluarga dari ibumu lah dalang dibalik semuanya. Kematian ibuku, memberi dampak besar di kehidupanku. Aku hidup tanpa kasih sayang dari siapapun, aku di hina karena tidak memiliki ibu, dan aku harus patuh pada ibu tiriku. Mereka menyiksa hidupku." Nana meluapkan kesedihannya.
"Jika saja ibumu tidak menemui ibuku. Mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Mungkin selama ini, hidupku akan dipenuhi kasih sayang dari ibuku," ucap Nana lirih, dengan pandangan yang kosong.
"Jangan menyalahkan ibuku !" teriak Djordi, jiwanya sudah dibalut emosi. Nana langsung terhentak kaget, ia mulai menitikan air matanya lagi.
"Djordi ! Kau ... kau berani berteriak padaku?" tangis Nana pecah.
Perasaan Djordi menjadi tidak karuan, saat melihat Nana menangis dan kecewa, karena teriakannya. Tadi, Djordi berteriak tanpa sadar. Namun, Djordi langsung menepis jiwa emosinya itu.
"Maaf, Nana ... aku-" bicara Djordi terhenti.
"Biarkan aku sendiri dulu," tepis Nana, sambil menghapus air matanya.
Nana memberhentikan lagi, taxi yang sedang melintas.
"Nana !" panggil Djordi, kemudian ia menyengkram tangan Nana. Tapi, Nana tidak ingin menatap ke arahnya.
Lalu, taxi itu berhenti tepat di hadapan Nana.
"Nana, akhir minggu ini kita sudah akan menikah" ucap Djordi lirih, sambil terus saja memegang tangan Nana.
"Aku mohon jangan seperti ini !" Perlahan, Djordi memeluk tubuh Nana dari belakang, air matanya mulai menetes lagi. Nana merasakan perasaan yang sama, hatinya pun tersayat-sayat karena harus melihat pria yang dicintainya tersiksa seperti itu. Namun, jiwanya sudah dibalut rasa dendam, dan emosi yang tak berujung.
Nana tersadar, dan langsung melepas pelukan erat itu. Kedua matanya bergetar, menahan tangis.
Kemudian, Nana mengambil langkah, memasuki taxi itu.
Bruk..
__ADS_1
Nana menutup pintu taxi itu.
"Nana ... kita selesaikan ini, baik-baik. Aku mohon jangan menyiksaku" pinta Djordi, sambil menahan kaca taxi yang akan ditutup Nana.
"Jalan, Pak!" ucap Nana pada supir taxi itu, dengan tidak menengok sama sekali ke arah Djordi.
"Tidak-tidak ! Aku mohon, Nana .. aku mohon" Djordi benar-benar amat memohon, menghilangkan harga dirinya. Menahan taxi itu agar tidak melaju.
Nana menarik nafas berat.
"Djordi ! Aku tidak membenci ibumu. Tapi, status kematian ibuku masih tanda tanya. Meninggal atau masih hidupnya ibuku ... aku mau kau menemukannya. Pernikahan kita akan di laksanakan, setelah status kematian ibuku sudah jelas!" ucapnya dengan sebuah syarat.
Seketika, genggaman tangan Djordi yang menahan kaca taxi itu, perlahan di lepasnya.
Tapi ... kejadian itu sudah puluhan tahun, lamanya. (Gumam Djordi dalam lamunannya)
"Nana, secara tidak langsung ... kau menyuruhku menghilang dari hidupmu !" tepis Djordi. Ekspresi wajahnya menjadi datar.
Nana diam-diam menitikan air matanya lagi. Ia hanya terus mengacuhkan Djordi. Djordi dibuat kesal hati dengan tingkahnya itu.
"Apa kau tidak bisa menghargai, jika belum pernah merasakan kehilangan sebelumnya !!" Djordi mulai geram, karena Nana hanya diam membisu dengan tidak menatapnya sama sekali.
Kemudian, Djordi memejamkan kedua matanya sejenak, lalu ia mengatur nafasnya.
"Baiklah ! Jika ibumu sudah meninggal ... aku akan mencari kuburannya. Tapi, jika ibumu masih hidup ... aku akan membawa tubuhnya tanpa terluka sedikitpun, ke hadapanmu. Aku tidak akan menemuimu, sebelum aku menyelesaikan keinginanmu" jelas Djordi, dengan sedikit ancaman. Yaitu dengan tidak menemui Nana. Mungkin pencarian ibu Nana, akan memakan waktu yang sangat lama.
"Apa kau membalas perbuatanku yang menyiksamu tadi, dengan menyiksaku balik?" tanya Nana, dengan mengerutkan keningnya. Ia masih saja tidak berani menatap Djordi.
"Ya ! ... Nana, aku membangun hubungan denganmu ini, tidak main-main. Aku memberimu waktu. Mungkin, dengan tidak adanya aku disisimu ... kau akan merasakan kehilangan yang teramat dalam" Djordi menatap hampa ke arah Nana yang sedang membuang muka itu.
Tidak lama, taxi itu melaju. Mereka satu sama lain membuang muka, saling tak memandang, saling acuh.
Sean yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh, telah memahami penyebab Nana bersedih.
Nana menahan tangisnya, menahan rasa sakit di lubuk hatinya dengan menggigit bibir bawahnya.
Sebenarnya, bukan seperti ini yang ia inginkan. Nana hanya ingin kejelasan status kematian ibunya karena jika ibunya masih hidup, Nana berharap saat dirinya akan menikah dengan Djordi, ibunya bisa hadir di pernikahaannya itu.
Tapi pada akhirnya, mereka saling menyiksa diri mereka dengan egonya masing-masing.
..
BERSAMBUNG !!!
Ayo dong semangati aku dengan vote sebanyak-banyaknya 😢😢😢
__ADS_1