
Mampir dong ke novel keduaku, dengan judul :
Air Mata Pengantin ❤
Ditunggu kunjungannya 💋
..
..
..
Malam hari.
Di kediaman Aganor.
Nampak, Nana yang sedang termenung di atas balkon kamarnya, dengan menatap hampa ke arah langit. Air matanya membendung di kedua matanya.
Karena sudah menjalani pernikahan dua tahun lamanya, tapi rahimnya masih belum juga terisi.
Sering kali, Tn.Kim dan Ny.Kim bertanya dengan memberi kode atau isyarat padanya. Ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul, semangat Nana menjadi ciut. Hatinya tak lebih dari teriris.
Toh, bukan keinginannya belum memiliki anak sampai saat ini. Hanya saja, mungkin Tuhan belum memberinya kepercayaan saat ini. Nana hanya bisa menunggu dan berharap, hanya waktu yang akan menjawab keresahan yang terus menghantuinya.
Setiap bulannya, Djordi selalu membeli obat, vitamin, jamu dan yang lainnya agar Nana segera hamil. Tentunya, sesuatu yang dikonsumsi Nana pun selalu di perhatikannya. Djordi adalah suami yang lembut dan, betul-betul perhatian. Mereka dibuat cemas akan hal ini. Sering kali, mereka berdua ke rumah sakit untuk konsultasi dan melakukan pemeriksaan, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada masalah di antara keduanya.
Mungkin, memang belum waktunya. Jika sudah waktunya, aku pasti akan hamil. (Batin Nana. Itulah ucapan dilubuk hatinya, ketika ia berusaha membangkitkan lagi semangat didalam dirinya)
Ceklek..
Pintu terbuka.
Djordi yang baru saja pulang kerja. Kedua matanya langsung mencari-cari keberadaan Nana. Hingga ia melihat punggung istrinya yang berada di balkon, sedang menatap ke arah luar.
Djordi berjalan menghampirinya. Ia memeluk tubuh Nana dengan erat dari belakang. Djordi menutup matanya, meresapi dan sangat menikmati kenyamanannya dalam memeluk Nana, pelukan inilah obat terampuh dari seluruh rasa lelahnya.
"Kau bisa masuk angin, sayang !" seru Djordi. Hembusan nafasnya begitu terdengar tenang di telinga Nana.
Dari samping, Djordi menatap wajah Nana dengan perasaan tidak tega. Karena, sering kali ia melihat Nana terpuruk seperti itu.
"Nana ! Jangan berlarut-larut dalam memikirkannya. Berpikir positiflah. Rasa ketakutan yang berlebihan seperti ini, justru bisa semakin mempengaruhi dan bisa menghambat sesuatu yang betul-betul kita harapkan." Djordi berusaha menenangkan Nana.
Nana hanya terdiam membisu.
"Besok, aku akan mengajakmu kesuatu tempat," tutur Djordi. Nana langsung menoleh ke arahnya, dengan tatapan penasaran.
"Kemana?" tanyanya singkat.
Djordi merogoh tas kerjanya, lalu mengambil selembaran dan memberikannya pada Nana.
Nana mengernyitkan dahinya, terheran.
Bukhansan Campground?
"Kamp ini baru di buka sekitar tiga tahun yang lalu, dan menjalankan trekking paling baik di Korea," ucap Djordi.
__ADS_1
"Meskipun, ada paket wisata normal yang tersedia, tapi mereka juga menawarkan paket perjalanan solo eksklusif. Banyak selebriti dan pengusaha yang membicarakan kamp ini. Bagaimana, apa kau setuju kita berkemah beberapa malam disana?" tanya Djordi sambil lebih mengeratkan pelukannya itu.
Nana terlihat sedang memikirkannya matang-matang, dengan menatap tajam selembaran yang ia genggam itu. Lalu, perlahan ia menganggukan kepalanya.
Djordi melirik senang ke arahnya.
Sebenarnya, Djordi mendapat usulan dan selembaran itu dari dokter Juna dan presdir Kim, sahabat-sahabatnya.
Presdir Kim berkata padanya, ada sebuah kamp yang jika di datangi dengan pasangan kekasih, setelah melakukan perjalanan di kamp itu, mereka akan segera menikah. Lalu, jika kamp itu di datangi oleh pasangan suami istri yang ingin memiliki keturunan, maka pulang dari situ, mereka akan segera memiliki keturunan.
Dokter Juna pun memberi tahu beberapa manfaat melakukan hubungan suami istri di alam bebas padanya.
Saat bertanya hal yang seperti itu pada sahabatnya ini, membuat pipi Djordi memerah. Karena, dokter Juna menjelaskan secara rinci mengenai berhubungan dengan pasangan, bagaimana posisinya, bagaimana kenikmatan yang di dapatnya, dan perkataan yang lainnya, begitu geli terdengar oleh Djordi.
...
...
Malampun telah mereka lalui.
Berpijaklah mereka di hari yang baru.
Kegagalan kemarin ditebus, saat matahari terbit pagi ini.
Nampak, Nana yang sedang sibuk berkemas, namun hanya berkemas pakaian saja. Karena di kamp itu, makanan, alat mendaki, alat berkemah, pemanggang daging, apapun sudah tersedia semuanya disana. Bagaikan kita berada dirumah saja.
Dan perjalanan menuju kamp itu, hanya bisa dilalui oleh pesawat atau helikopter.
Djordi telah menyiapkan helikopter pribadinya, untuk membawa Nana ke lokasi.
Mereka mengudara dengan kecepatan normal menuju Bukhansan Camp itu.
Nana terlihat sangat senang, senyumnya begitu merekah jelas di wajahnya.
..
Setelah sampai di lokasi. Nana dan Djordi di sambut hangat oleh salah satu pemandunya. Djordi dan pemandu itu berbincang-bincang mengenai arahan yang akan mereka tempuh selama menjalani kamp di Bukhasan Camp ini. Nana meninggalkan mereka, dan mengedarkan pandangannya di alam bebas itu. Cuacanya cerah tapi udaranya cukup dingin. Suasananya cukup ramai, ada yang sedang berbulan madu, ada yang datang bersama teman dan keluarganya.
Nana begitu dibuat takjub, dengan keindahan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Pepohonan besar yang seperti tertata indah jika dilihatnya dari jauh. Terdengar, air yang mengalir dengan tenangnya, dan suara burung berkicauan dimana-mana. Betul-betul suasana alam yang terasa begitu pekat.
Djordi menghampiri Nana.
Perjalanan kamp ini akan berlangsung selama empat hari, tapi sebelum itu Djordi akan melatih stamina Nana terlebih dahulu.
..
Hari berikutnya.
Di pagi hari yang cukup cerah, matahari tertutup sedikit oleh awan.
Pukul lima pagi. Djordi membangunkan Nana yang sedang tertidur. Sebenarnya, ia tak tega mengusik tidur pulasnya, tapi apa boleh buat.
"Aku akan melihat staminamu dulu. Kau akan lari dari sini ke pondok," ucap Djordi sambil menunjuk ke arah pondok itu. Ia terlihat sangat keren dengan pakaian olahraganya.
"Pemandu kita dimana?" tanyanya terheran.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau dipandu oleh lelaki lain, sayang !" seru Djordi, dengan wajah santainya.
"Saat aku remaja, aku sering menghabiskan waktu dengan menaiki gunung, memanjat tebing dan olahraga yang lainnya. Kau tidak perlu khawatir. Aku pemandu yang profesional." Djordi tersenyum lebar.
"Cih ! Kau ini posesif sekali," gumam Nana.
"Kau bilang apa?" Djordi mengernyitkan dahinya.
"Tidak ! Tidak ada." Nana berlalu meninggalkan Djordi, ia mulai berlari kecil menuju pondok yang Djordi maksud.
..
Setelah sampai di atas pondok. Nana terlihat sedikit kelelahan dengan nafas yang terengah-engah. Keringatnya mulai bercucuran.
"Hey kenapa begitu cepat ! Kita berada diketinggian. Jalannya santai saja, karena tingkat oksigen disini rendah." Djordi langsung menyapu keringat di dahi Nana, dengan handuk kecil yang telah ia bawa.
..
Hari berikutnya.
Masih bertempat di Bukhansan Campground.
Seperti hari sebelumnya, Djordi membangunkan Nana tepat pukul lima pagi.
Djordi membawa tas kemah yang begitu besar di punggungnya. Lalu, ia menarik tangan Nana menuju ke lapangan luas.
Helikopter lagi?
Djordi memasangkan alat pelindung dikepala Nana. Lalu ia memapah Nana memasuki helikopter.
Djordi mulai mengemudikan helikopter itu.
Udaranya betul-betul sangat dingin, padahal Nana sudah memakai jaket, syal dan sarung tangan yang sangat tebal. Tangan Nana sudah membatu menjadi es. Anginnya berhembus begitu kencang, hingga membuat rambut Nana berantakan.
Beberapa menit telah mengudara, Djordi menyuruhnya melihat ke bawah.
Pegunungan-pegunungan yang diselimuti salju putih, membuat Nana menatap takjub ke arahnya. Saljunya begitu tebal, dan selama mengudara, Djordi menjelaskan satu persatu beberapa gunung yang diselimuti salju itu dari ujung ke ujung.
Nada suaranya terdengar lembut di telinga Nana, beserta suguhan alam yang membuatnya kian terpanah.
"Sayang, lihatlah kesana. Matahari terbit dengan memberimu senyuman, di atas puncak gunung itu." Djordi menunjuk puncak gunung yang ia maksud.
Nana langsung melirik dimana posisi matahari terbit itu.
🌞
Wah !! Luar biasa. (Batin Nana dengan perasaan takjub)
Pandangan Nana menjadi silau, karena matahari itu menyorot tepat di wajahnya. Dan memang benar, matahari yang baru terbit itu seperti tersenyum ke arahnya, serta memberikan sedikit kehangatan.
Djordi merasa senang dan damai, ketika melihat senyuman yang indah terlukis begitu jelas di wajah istrinya.
🌻🌻🌻🌻🌻
NEXT ➡
__ADS_1
Tapi LIKE & KOMEN dulu 😁