
Seikhlasnya aja deh,
mau klik jempol, komen/vote, ya syukur. Gak juga gapapa huehehe, tapi aku saranin sih harus 😂
..
..
..
Sean termenung, berteman sepi di tepi pantai dengan hembusan angin yang cukup dingin. Tatapannya kosong. Perasaannya begitu hampa, jiwanya berantakan, ketika mengingat saat Nana wanita yang sangat ia cintai bersama dengan pamannya telah mengikat janji suci di hadapannya. Senyuman kebahagian Nana terlukis begitu jelas dipikirannya, saat Nana dan pamannya sudah benar-benar dinyatakan menjadi pasangan suami istri.
"Malam ini, paman akan menyentuhnya," gumam Sean. Bayangan-banyangan yang membalut di otaknya itu, semakin membuatnya luka, tertancap duri tajam.
..
Beberapa hari yang lalu saat John Natan akan pergi menuju New York, ia tiba-tiba mendapat surat undangan dari Nana dan Djordi.
John langsung membatu, menatap lemas surat undangan itu. Perasaannya, saat itu menjadi kacau balau. Lalu, John langsung membatalkan kepergian pentingnya itu ke New York. Sebenarnya, John mendapatkan pekerjaan istimewa di perusahaan ternama di New York.
Hari ini, hari dimana wanita yang ia cintai menikah dengan lelaki pilihannya. Tapi, John tidak akan menghadiri acara pernikahan mereka. John, berusaha menghindarinya dengan menutup semua jaringan, berita dan koran. Karena acara pernikahan mereka pasti menjadi berita utama hari itu.
Pada hari dimana Nana menikah, John memutuskan kembali, untuk pergi ke New York mengambil pekerjaan itu.
Saat John sedang mengendarai mobil, di sepanjang jalan ia melihat layar besar yang menempel di atas gedung-gedung tinggi, memberitakan pernikahan CEO Dj Entertainment. Usaha John menutup semua jaringan, berita dan koran menjadi sia-sia.
John yang masih mengendarai mobil melihat di layar besar itu, Nana yang memakai gaun pengantin sedang tersenyum bahagia bersama dengan Djordi, suaminya saat ini. Itu membuat hatinya sakit yang teramat dalam. Nafasnya menjadi berat. Pandangannya yang menatap jalan menjadi tidak fokus.
Toottt ....
Suara klakson truk dari arah yang berlawanan.
John langsung tersadar dari lamunannya. Ia langsung mengalihkan setir mobil, tapi tiba-tiba mobilnya mogok. Jhon dengan kepanikan tingkat tinggi, berusaha menyalakan mesin mobilnya lagi. Tapi, sial ! Usahanya gagal.
Truk itu semakin dekat dengan tingkat kecepatan tinggi. Jhon langsung melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobilnya, tanpa menutup pintu mobil itu.
Bruakk..
Suara tabrakan yang begitu keras. Mobil depannya hancur parah.
Semua orang langsung mengerumuni mobil yang tertabrak truk itu.
John yang berdiri di sisi jalan, membulatkan matanya dengan badan yang gemetar. Jantungnya berdegup kencang, dengan nafas yang terengah-engah. Pasalnya, mobil itu adalah hadiah dari kedua orang tuanya saat John lulus kuliah, kala itu.
Jika John tidak cepat menghindar, entah apa yang akan terjadi padanya saat itu.
..
..
Dilain tempat.
Perjalanan menuju rumah baru itu, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari The King Hotel.
Nana yang masih mengenakan gaun pengantin, terheran-heran. Sebab, Djordi tidak menjawab pertanyaan Nana yang menanyakan ia mau dibawa kemana. Djordi benar-benar merahasiakannya.
Langit sudah gelap. Cuaca semakin dingin.
Di dalam mobil, Djordi membuka jas hitamnya. Lalu, ia pakaikan di tubuh Nana. Tapi, pandangannya malah terpokuskan pada riasan cantik yang menempel diwajah Nana.
"Nana, kenapa kau begitu mempesona?" ucap Djordi tiba-tiba, sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Kau pun, kenapa begitu tampan, sayang?" Nana malah balik bertanya, sambil mencubit gemas hidung mancung Djordi dengan senyum usilnya.
"Sebenarnya, kau mau membawaku kemana? Ini bukan jalan pulang kerumah mu !" Nana melirik jalan yang membuatnya terheran-herah.
"Sembilan kali pertanyaan yang sama. Satu kali lagi kau bertanya, kau mendapat piring cantik. Tapi, aku tetap tidak akan mengatakannya." Djordi bersikekeh.
Nana mengerucutkan bibirnya.
Lalu, tiba-tiba saja, ia mengingat sesuatu. Nana menyadari satu hal. Bahwasanya, Djordi sering memberikan kejutan, atau hal-hal romantis lainnya. Jadi, hal seperti ini sudah bukan hal asing lagi bagi Nana.
__ADS_1
"Aku tahu ! Kau pasti memberiku hadiah pernikahan kan? ... Iya kan? Iya kan?" Nana memojok-mojokan Djordi.
Deg !!
Bagaimana dia bisa tahu? Jangan-jangan ada yang membocorkan ini? (Batin Djordi)
"Hmm... Ya, ya, ya." Wajah Djordi datar tanpa ekspresi. Pupus sudah, harapannya memberi kejutan istimewa untuk Nana. Ternyata Nana sudah mengetahuinya.
"Kau tidak tahu kan, hadiahnya apa? Aku tidak akan memberitahumu," katanya dengan nada sombong.
Cih. Dia pikir aku tidak bisa menebaknya? Selama hampir dua tahun ini, aku kan sudah sangat mengenalnya. (Gumam Nana, dengan wajah yang berseringai)
"A. Rumah. B. Mobil. C. Jet pribadi. D. Semua benar," celetuk Nana.
"Dan aku memilih, D. Semua benar. Haha...," sambung Nana dengan senyum meledek.
Djordi yang sedang mengemudikan mobil, terhentak kajet, kedua bola matanya membulat.
Sial !! Cecunguk mana yang berani membocorkan semua hadiah pernikahaanku untuk Nana. (Geram Djordi, sambil menggigit bibir bawahnya, menahan emosi)
"Hey, bisakah kau berbohong sedikit, dengan tidak mengatakan semuanya?" ucap Djordi dengan raut wajah datar dan perasaan hampa.
Sebenarnya, ada satu hadiah lagi, yaitu sebuah pulau. Tapi, Djordi memilih bungkam, tidak akan berbicara apapun lagi. Takut Nana kembali menebaknya dengan benar.
Gagal total, jika Nana sudah mengetahui semua hadiah pernikahan yang Djordi berikan. Itu, tidak akan istimewa lagi untuknya.
...
Tidak lama, sampailah mereka di tempat tujuan.
Djordi memapah Nana, keluar dari mobil.
"Karena kau sudah tahu, maka hadiah pernikahan ini tidak lagi berkesan," ucap Djordi sambil memperlihatkan rumah yang berdiri tegak di hadapan mereka itu.
Nana membulatkan matanya, ia dibuat takjub dengan desain rumah yang Djordi berikan itu. Benar-benar sebuah rumah yang Nana impi-impikan sejak kecil. Rumah yang terlihat asri dan tidak terlalu mewah, dengan kebun luas dan juga kolam ikan yang mengelilingi tiap sudut rumah itu.
Karena hari sudah malam, menjadikan rumah itu terlihat sangat indah dengan lampu-lampu berbentuk unik yang menyala.
Djordi menatap wajah Nana. Kedua mata Nana berbinar saat melihat rumah yang ia hadiahkan untuknya.
Nana memejamkan matanya, dan menghirup suasana rumah baru. Suasana rumah masih sunyi sepi, karena pelayan yang Djordi pekerjakan di rumah itu, akan mulai bekerja besok hari.
Kemudian, Djordi menunjukkan bagian dalam rumah yang lainnya.
Terakhir, Djordi memperlihatkan desain kamar yang kelak akan mereka tiduri bersama.
Nana terpukau kala melihat bunga mawar berbentuk love yang ditata indah di atas ranjang dengan beberapa lilin mungil yang menyala, berbaris di atas lantai. Lalu, Nana mengedarkan pandangannya.
Pemilihan warna cat dinding yang berwarna coklat muda dan putih tulang memberikan kesan hangat untuknya.
Beberapa furnitur yang berbahan dasar kayu, dengan motif lembut berwarna coklat keemasan pun memberikan kesan mewah pada ruang tidur mereka itu. Warna dinding dan beberapa warna furnitur memiliki keserasian dan keseimbangan di dalamnya.
Ditambah lagi, lampu tidur yang menyala di samping ranjang, dengan pencahayaan yang sedikit meredup, memberikan kesan yang sangat romantis.
Wajah Nana terlihat berseri-seri. Lalu, Djordi memeluknya lembut dari belakang.
"Bagaimana? Apa kau suka?" bisik Djordi. Nafasnya berhembus sangat lembut di telinga Nana.
"Tentu ! Aku sangat menyukainya," tutur Nana dengan senyum manis di wajahnya.
Senyum manis Nana membuat Djordi hilang kendali.
Perlahan, Djordi memutar wajah Nana untuk menghadap padanya. Pandangan mereka beradu.
Deg !! Deg !! Deg !!
Detak jantung mereka semakin berpacu. Karena insting mereka sudah mengetahui, hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Djordi meraih kedua pipi Nana, ia mulai mencium bibir mungil Nana. Nana sudah memasrahkan tubuhnya untuk Djordi, yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Nana memejamkan matanya, meresapi kecupan hangat yang menyentuh lembut di bibirnya itu. Kedua mulut mereka mulai bermain panas. Sesekali, Nana membuka mulutnya, mendorong Djordi agar menciumnya lebih dalam.
__ADS_1
Djordi melangkahkan kakinya perlahan, menggiring tubuh Nana menuju ranjang dengan tidak melepaskan ciuman panasnya itu.
Tubuh Nana tertindih oleh tubuh Djordi yang saat ini posisinya sedang berada di atasnya.
Nana menyentuh lembut dan menyengkram kemeja di bagian dada Djordi.
Sentuhan lembut didadanya, membuat Djordi kian terangsang. Tangannya mulai liar, dengan melepas kain baju pengantin yang menempel di bahu Nana. Hingga membuat kain itu merosot, sejajar dengan dada Nana.
Djordi mengecup lembut telinga, pipi, kemudian turun ke leher Nana. Tubuh Djordi mulai panas, setelah melihat dua buah dada yang menonjol tepat di hadapannya. Tangannya mulai melepas paksa baju pengantin yang masih dikenakan Nana itu. Tapi, Djordi tak menemukan cara melepas baju pengantin itu. Karena resletingnya berada di punggung Nana.
"Hey, apa kau mau merusak bajunya?" tanya Nana, kedipan matanya terlihat sayu.
"Bagaimana membukanya?" gerutu Djordi, sambil terus berusaha membuka gaun pengantin itu.
Nana tertawa kecil, karena ekspresi wajah Djordi yang terlihat kesal tidak bisa membuka gaun yang ia kenakan.
Kemudian, tiba-tiba Nana menyentuh tangan Djordi dan membuatnya terhenti.
Kruyuukkk.. Kruyuukkk..
Djordi menatap kedua bola mata Nana dengan mengerutkan dahinya.
"Suara apa itu?" tanya Djordi, sambil menciutkan matanya.
"Aku lapar !" seru Nana, bibirnya mengerucut.
Djordi menjatuhkan wajahnya di atas dada Nana, dengan hela'an nafas panjang.
"Ini salahmu. Karena membawaku tiba-tiba," gerutu Nana dengan nada bicara manja.
"Hmm, ya. Maafkan aku. Lalu, kau mau makan apa?" tanya Djordi. Ia terlihat sangat nyaman bersandar di dada Nana.
Sabar Djordi !! Tahan, sebentar. (Batinnya meronta)
"Emm... aku ingin sup tulang sapi," ucap Nana.
"Sayang, dirumah belum ada pelayan untuk membuatnya," timbal Djordi, lalu ia bangkit dari tidurnya dan duduk di samping tubuh Nana.
"Hmm... ya sudah, aku makan besok saja," ucapnya dengan tampang sebal sambil membuang muka.
"Baiklah, aku akan pergi membelikannya untukmu. Segera bersihkan dirimu, dan siapkan air hangat untukku," titah Djordi. Lalu, Djordi mengecup kening Nana dan beranjak dari tempat tidur.
"Tapi, aku tidak membawa baju ganti. Ini karenamu, semua perlengkapanku tertinggal di rumah lama," gerutu Nana, ia mulai duduk di atas ranjang dengan merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan.
Djordi berjalan mendekati lemari besar di samping ranjang. Ia membuka pintu lemari yang berpintukan lima itu. Setelah Djordi membuka semua pintu-pintu lemari itu, Nana tercengang. Sebab, semua pakaian wanita edisi terbatas ada di dalam lemari itu.
"A-apa kau-" Bicara Nana terbata-bata.
"Ya. Aku membelikan semua pakaian baru ini untukmu," ucap Djordi, dengan ekspresi wajah santai.
Kemudian, Djordi beralih ke lemari yang agak sedikit kecil, yang berada di samping lemari lima pintu itu. Ia membuka pintu lemari dan laci-laci yang terdapat di dalamnya. Sontak, Nana semakin di buat terkejut setelah melihat begitu banyak peralatan make up.
Nana beranjak dari tempat tidurnya, raganya tertarik oleh kilauan yang bersinar dari semua alat-alat make up itu.
"Djordi ! I-ini ... ini bukan hanya lengkap, tapi ini sempurna," ucap Nana dengan pandangan terpanah, menatap make up yang sangat banyak itu.
Djordi sangat senang saat melihat Nana tersenyum.
"Jangan hanya dilihat. Ayo, cobalah. Aku akan pergi membeli sup untukmu. Jangan lupa, siapkan aku air hangat !" seru Djordi, sambil berjalan meninggalkan Nana.
Nana masih terpukau, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi, ini semua terlalu berlebihan untuknya.
Tiba-tiba, Djordi kembali dan membuka pintu kamarnya.
"Nana, siap-siap ya. Hihihi...," celetuk Djordi, dengan senyum nakalnya. Kemudian, ia menutup kembali pintu kamar itu.
Blush ...
"S-siap-siap? A-apa maksudnya?" gumam Nana terbata-bata, dengan pipi yang memerah.
..
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Ayo, Like, Komen & Vote ❤