
...Happy Reading ❤...
"Mana?! Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Nayra mulai gusar kala melihat lelaki di hadapan nya sama sekali tak ada tanda-tanda akan memberikan nya uang.
.....
"Kamu tak perlu khawatir. Kita tunggu beberapa menit, akan ku pastikan ponselmu akan kembali berdering." Bara menyeringai penuh kemenangan saat selang waktu 5 detik saja, ponsel Nayra sudah kembali berdering sesuai perkiraannya.
Nayra yang kembali mendapat panggilan dari ibu mertua dengan segera mengangkatnya.
'Nay, Vano sebentar lagi akan di operasi. Ibu mohon bantu do'anya, Nay." ucap Bu Jasmin dengan penuh harap.
Nayra tersenyum lega mendengarnya. "Aku pasti akan selalu berdoa untuk kesembuhan Vano, Bu." ucap Nayra tulus.
"Terimakasih, Nay. Terimakasih atas semua pengorbanan mu. Maafkan Ibu yang tak bisa membantu mu untuk membiayai pengobatan Van-"
"Sttt, Ibu taukan aku udah anggap Ibu seperti Ibu kandungku sendiri. Jadi tolong, jangan berbicara seperti itu lagi. Nay gak suka, Bu." sela Nayra cepat.
"Maafin Ibu, Nay."
Nayra mengangguk samar. Walau Bu Jasmin di seberang sana tak melihat, tapi tetap saja Nayra mengangguk pelan. "Bu, Nay titip Vano ya. Aku masih ada urusan, sebentar lagi aku akan kesana-"
Srettt
Tut
"Kak Bara!" pekik Nayra kesal saat tiba-tiba Bara merebut ponselnya dengan mudah. Nayra mengeram, ia mencoba berjinjit untuk menjangkau ponsel yang sengaja diangkat tinggi-tinggi oleh cowok itu.
"Kak, kembalikan ponselku! Aku sedang berbicara dengan Bu Jasmin." tinggi Nayra yang hanya sebatas dagu tak mampu untuk menggapai ponselnya.
"Aku tidak mengizinkan mu untuk ketemu mereka lagi." kemudian Bara melempar ponsel itu hingga hancur berkeping.
Nayra yang melihatnya kaget, ia menatap nanar ponselnya yang terogok di lantai. Tatapan beralih menatap Bara dengan kilatan kemarahan.
"KENAPA DI LEMPAR?! SAYA TAU ANDA ORANG KAYA! TAPI TOLONG JANGAN SEENAKNYA!!" teriak Nayra lepas kendali. Kemudian berjongkok, memungut ponselnya yang sudah hancur berkeping dan tak layak untuk pakai.
Mendengar teriakan Nayra membuat Bara mengeram marah. Tangan nya menarik Nayra untuk berdiri, hingga terlihatlah mata gadis itu memerah menahan tangis.
__ADS_1
"Dengar Ayra, sekarang kamu adalah milikku. Takan ku biarkan kamu lepas dan kembali kepada lelaki si*lan itu lagi." ucap Bara dengan sekali tarikan napas. Matanya berkilat tajam menatap Nayra yang kini fokus memperbaiki ponselnya.
"Kau dengar apa yang aku katakan, Ayra?!"
Tidak ada jawaban, Nayra masih sibuk dengan ponselnya. Tidak menyala. Ponsel itu mati sepenuhnya, hanya warna hitam saja yang memenuhi layar tipis itu.
"Aku harus pergi." tak memperdulikan ponselnya yang tengah rusak, Nayra tetap membawanya dan memasukkan nya ke dalam tas.
Langkahnya cepat, menghindari Bara yang kini tengah mengeram marah di sana. "AKU TIDAK AKAN MENGIZINKAN MU PERGI, AYRA!" teriakan itu membuat Nayra cepat-cepat meraih gagang pintu itu. Jantungnya berdegup cepat saat pintu itu tak bisa dibuka. Ia terus mencoba tapi hasilnya tetap sama, pintu itu sama sekali tak bisa terbuka.
"Percuma, bukankah kuncinya sudah aku lempar, Ayra."
Suara itu tepat di belakang telinganya. Nayra berbalik, kaget melihat Bara yang kini sudah berada di belakangnya. Tangan nya mencoba menahan dada bidang itu yang terus memojokan nya ke pintu.
Bodoh! Bagaimana bisa pintu itu terbuka jika kuncinya telah dibuang oleh lelaki itu. Nayra mendorong Bara dengan sedikit tenaga, menjauhkan tubuhnya dari lelaki yang kurang ajar seperti Bara.
"Kasih aku waktu untuk bertemu Evano, Kak." suara Nayra terdengar putus asa.
"Tidak."
Bara tetap menggeleng. Tubuhnya bergerak menjauh menghindari tatapan Nayra yang terlihat sendu. Jika dihadapkan dengan tatapan seperti itu, dirinya tidak akan kuat. Jadilah lebih baik Bara menghindar memilih menyimpan map berharga itu di dalam laci.
"Kak, pliss."
"Tidak! Ku katakan tidak, Ayra. Jangan membahantah." kesal Bara.
"Oke." Nayra langsung mendorong Bara dengan kekuatan penuh, hingga lelaki itu tersungkur dilantai. Nayra membuka laci dengan tergesa. Saat telah mendapatkan apa yang di inginkan nya Nayra menatap Bara nyalang.
"Jika tau akan seperti ini, sebaiknya aku tidak akan menandangani surat ini." ucap Nayra penuh emosi.
Tanpa mementingkan rasa sakit di punggungnya yang membentur meja. Bara bangkit dan langsung mencekal lengan Nayra yang hendak merobek surat itu.
"Jangan gila! Kamu bisa aku tuntun karena melanggar perjanjian." Bara berusaha merebut map itu kembali, tapi Nayra yang membaca gelagat lelaki itu dengan segera menyembunyikan map itu di belakang tubuhnya.
Bara mengeram, mengukung tubuh Nayra agar bisa menjangkau map itu. Keduanya terlihat berpelukan, sesaat Bara mencium bibir Nayra membuat gadis itu langsung terdiam memantung. Kesempatan itu tak di sia-sialan oleh Bara, dengan gesit Bara merebut map itu kembali.
"Kau-" teriak Nayra marah sambil mengusap bibirnya kasar. Ciuman pertamanya telah direbut oleh lelaki itu, sedangkan sang pelaku kembali menyimpan map itu dengan tergesa, hingga terdengar bunyi 'klik' yang menandakan laci itu telah terkunci oleh Bara.
__ADS_1
Melihat Nayra yang hendak merebut kuncinya, cepat-cepat Bara memasukkan kunci itu kedalam saku celananya.
"Kembalikan kuncinya." pinta Nayra.
"Ambil jika kau bisa." Bara berujar dingin. Terlihat gadis itu menggeleng samar, kemudian tanpa disangka tubuh gadis itu meluruh tepat dihadapan nya.
"Kumohon, beri aku waktu beberapa hari untuk bisa melihatnya. Aku berjanji setelah Evano sembuh-"
"Tidak." sela Bara cepat. Lalu meraih pundak Nayra dan menariknya untuk berdiri. "Persiapkan dirimu, seminggu lagi kita akan bertunangan." lanjut Bara dengan menatap Nayra yang menyorotkan tatapan terluka dan terlihat putus asa.
"Ku mohon." pinta Nayra dengan merapatkan kedua tangan nya di depan dada. Memohon kepada Bara demi bisa melihat Evano lagi, dengan kata lain ia akan memberikan ucapan perpisahan karena hari-hari selanjutnya tidak akan ada lagi kisah antara dirinya dan Evano.
"Aku akan melakukan apapun, menuruti semua apa mau mu. Tapi ku mohon, izinkan aku pergi, Kak." ucap Nayra pelan. Ia sangat tau, bagaimana karakter Bara yang sangat pandai melemahkan lawannya, terbukti sekarang dirinya tengah memohon-mohon kepada pria itu.
Sudut Bibir Bara menyeringai puas, melihat Nayra seperti itu sungguh membuat hatinya membuncah senang. Perasaan dominan ingin memiliki terus mendesaknya agar tak mengizinkan Nayra pergi, tapi disisi lain Bara harus memikirkan lebih lanjut perkataan Nayra yang menguntungkan dirinya.
"Bagaimana jika aku menolak?" pancing Bara terlebih ingin melihat bagaimana Nayra yang terus memperjuangkan lelaki lemah itu.
"Maka akupun akan menolak semua perlakuan mu, termasuk acara pertunangan itu."
Deg
Bara terpengkur mendengar ucapan tegas itu.
^^^Bersambung.....^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
See you
ranintanti
__ADS_1