Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 62


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Setelah seharian mendekam di rumah sakit, akhirnya Bara diizinkan untuk pulang dengan beberapa syarat yang tentu saja langsung di setujui oleh pria itu.


Tidak boleh mengangkat beban berat


Tidak boleh terlalu lelah


dan terakhir, harus istirahat yang cukup


Syarat-syarat yang di ajukan dokter itu demi mempercepat proses pemulihan Bara. Untung saja Bara tidak mengalami patah tulang, kecelakaan itu hanya membuat luka memar serta cedera ringan.


"Mau kemana?" Bara menarik Nayra agar ikut berbaring di sampingnya.


"Bara, lepas!" Nayra menggeliat tak nyaman saat tangan Bara melilit di perutnya. Hembusan napas pria itu terasa menggeliti kulit lehernya, membuat bulu kuduk Nayra merinding seketika.


"Sebentar, Ay, cuma lima menit." lirih Bara dengan kedua mata terpejam. Nayra diam terpaku, merasakan tubuh keduanya saling menempel, hanya pakaian saja yang menjadi sekat diantara keduanya.


Waktu terus berjalan. Tak terasa jika lima menit sudah terlewat. Bara membuka matanya perlahan. Saat tidak ada pergerakan dari Nayra, perlahan Bara mencondongkan tubuhnya, melihat jika kedua mata cantik itu sudah benar-benar tertutup.


"Ayra." panggil Bara pelan. Tidak ada sahutan dari Nayra. Gadis itu memang benar-benar sudah terlelap, terbukti dari hembusan napasnya yang teratur.


Bara tersenyum kecil melihatnya. Tubuhnya ia putarkan menghadap Nayra. Sebelah lengannya ia jadikan bantalan untuk gadisnya tertidur. Terlihat gadis itu bergerak, membalas pelukannya. Nayra bersender di dada bidangnya.


"Tidur nyenyak, sayang." Bara berbisik pelan. Mengecup kening Nayra, sebelum dirinya ikut menyusul gadisnya kealam mimpi.


Kini keduanya benar-benar tertidur.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Devina menatap ponselnya yang terus saja bergetar. Reynald. Itulah nama yang tertera di layar ponselnya.


Dert


Sebuah pesan masuk.


Reynald


Angkat teleponnya Vina! Kita harus bicara!


^^^Devina^^^


^^^Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.^^^


Setelah membalas pesan singkat itu, Devina memblokir nomer Reynald. Ia sudah tidak ada urusan lagi dengan pria itu. Semua urusannya sudah selesai saat dirinya benar-benar keluar dari dunia permodelan.


Tok


Tok


"Mommy, Mommy di dalam, kan?" suara Devano terdengar dari luar. Devina segera mematikan layar ponselnya.


"Iya, sayang, Mommy di dalam." sahut Devina yang mulai beranjak membuka pintu. Terlihat Devano yang sedang memegang mobil-mobilan serta robot di kedua tangannya. Anak itu tersenyum lebar, membuat Devina mau tak mau ikut tersenyum.


"Kenapa hm?" tanya Devina.


"Mommy, Dev mau di suapi Mommy, boleh?" kedua mata anak itu mengerjap. Sudah lama sekali Devano tidak merasakan bagaimana rasanya di suapi oleh Sang Mommy.


"Boleh dong, sayang. Yuk kita ke bawah, biar sarapannya bareng sama Oma."

__ADS_1


Keduanya pun lalu turun ke lantai bawah, dengan Devina yang menuntun anaknya agar tidak terjatuh dari tangga.


"Loh, kamu kok disini, Nak? Bukannya semalem kamu mau nemenin Bara di rumah sakit?" Sheila bertanya heran.


"Aku disuruh pulang Mom sama Bara, katanya dia gak butuh buat di temenin sama aku." Devina mendudukan putranya di kursi. Setelah melihat putranya duduk dengan tenang, Devina pun ikut duduk disamping Devano.


Dari nada suaranya terdengar sedih, Sheila yang mendengarnya saja sampai menghembuskan napas kasar dengan kelakuan Bara.


"Kamu sabar ya, Mommy yakin kalo suatu saat Bara pasti akan berubah."


Devina tersenyum. Kepalanya mengangguk pelan. "Iya, Mom. Semoga saja."


"Oh ya, hari ini Mommy juga mau ke rumah sakit lagi, kamu mau ikut?" Sheila bertanya. Devina dengan senyum lebar mengangguk antusias.


"Mau, Mom."


.


.


.


.


.


^^^Bersambung^^^


^^^Kamis, 16 September 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...

__ADS_1


__ADS_2