
...Happy Reading ❤...
Erina menatap ponsel yang menunjukan pukul 9 malam, yang artinya dia harus pulang ke rumah, tetapi karena seseorang yang bernama Eros itu menyuruh nya untuk menjemput nya di bengkel jadilah sekarang Erina berada disini.
Di bengkel, menunggu Eros yang sedang menyelesaikan pembayaran. Tapi sudah 15 menit Eros tak kunjung keluar, membuat Erina berdecak sebal.
"Sorry, lama." tiba-tiba Eros datang, dan duduk di kursi penumpang. "Ayo jalan, ke klub dulu mau ambil berkas." dengan tanpa dosanya Eros berucap menyuruh Erina. Seolah-olah Erina adalah supirnya.
"Duduk sini lo, gue males nyetir." Erina berpindah posisi, duduk di samping kemudi.
Eros berdecak, dan melangkah lebar untuk bisa sampai di jok depan. Erina yang melihatnya berteriak kaget. "Lo kan bisa keluar dulu Ros bukan malah langsung loncat ke depan." sungut Erina kesal.
"Ck! Jangan panggil gue gitu. Panggil gue kakak. Gini-gini gue sepupu lo ya, Rin." balas Eros. Keduanya memang memiliki hubungan darah yang tak banyak orang ketahui. Bahkan, sahabatnya pun Nayra tak mengetahui jika Eros adalah sepupunya.
"Yaudah buru jalan, gue ngantuk mau tidur." kata Erina.
Eros mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan bengkel langganan nya.
"Kenapa lagi sama mobil lo, Kak?" setelah beberapa menit keduanya terdiam, Erina memulai pembicaraan.
"Bukan mobil gue, mobilnya Rizky." timpal Eros.
"Kenapa lagi tuh sama mobil Kak Rizky?"
"Nabrak tiang pas nganterin pacarnya yang ke empat."
Tawa Erina menyebur, kepalanya menggeleng pelan. "Heran, Kak Rizky gak ada kapok-kapok nya mainin cewe. Dapet karma baru tau rasa tuh." ejek Erina.
"Halah! Lo dulu juga sempet naksir sama si Rizky."
Erina cemberut, memang si dia sempat menyukai Rizky, tapi itu dulu cuma beberapa hari. "Itu masa lalu ya, gue udah lupa."
Saat lampu berwarna hijau, Eros kembali menjalankan mobilnya. Eros sempat tertawa sampai akhirnya tas Erina melayang tepat di bibirnya.
Eros melotot, meringis kesal sambil mengusap bibirnya yang terasa berdenyut. "Dasar cewek bar-bar." sungut Eros kesal.
"Makanya jangan macem-macem sama gue, apalagi bahas masa lalu. Siap-siap aja koper gue yang di belakang gue lempar ke jidat lo."
Eros mendengus sebal. "Iyaiya. Sensi amat lo jadi cewek."
"Eh, stop stoppp." teriak Erina tiba-tiba membuat Eros langsung menepikan mobilnya dan menatap Erina kesal. "Lo kenapa si?! Untung tadi gak nabrak."
"Nayra." Panggil Erina yang mengabaikan kekesalan Eros di sampingnya. Erina membuka kaca mobil, kepalanya menyebul keluar menatap Nayra yang tengah berjalan di belakang.
__ADS_1
"Loh, Rin kamu kok bisa disini?" tanya Nayra setelah sampai di hadapan sahabatnya. Melihat Eros yang berada di samping Erina membuat Nayra sontak menunduk sopan. "Malam Pak."
"Hi Nayra." sapa Eros dengan tersenyum singkat.
Nayra balas tersenyum, tatapan nya lalu beralih menatap Erina. "Kamu abis dari mana, Rin?" tanya Nayra.
"Nih, abis jemput bocah di bengkel. Aww, sakit dodol." kata Erina kesal karena kepalanya yang tipuk oleh sepupu di sampingnya.
"Enak aja dikatain bocah, umur gue udah mau 25 tahun asal lo tau." cibir Eros.
Nayra tersenyum simpul melihat kedekatan mereka, ia jadi merindukan Evano sekarang.
"Mau kerja ya, Nay? Ayo naik, kita bareng." ajak Erina.
"Eh? Gak usah Rin aku jalan kaki aja, lagian udah lumayan deket kok."
"Gak papa Nay kita juga mau ke sana kok." timpal Eros santai.
"Gak ngerepotin kan?" tanya Nayra.
Erina tentu saja langsung menggeleng tegas. "Udah buruan, gak usah sungkat. Lo kaya sama siapa aja."
Nayra tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Makasih." ucapnya tulus yang kemudian masuk ke dalam mobil.
.....
"Nayra, anterin minuman ke ruangan saya." sebelum berpisah Eros memerintakan pesanan seseorang yang sedang menunggu di ruangannya. kakinya melangkah meninggalkan Nayra.
Nayra mengangguk, menyimpan tas nya lebih dulu dan mulai menyiapkan minuman yang biasanya Eros minta.
Saat telah siap, Nayra membawa minuman itu ke lantai atas dimana ruangan Eros letaknya dilorong sayap kanan.
"Minuman Pak Bos ya?" saat di tengah tangga seseorang bertanya hingga membuat Nayra harus menghentikan langkahnya. Nayra lupa namanya, hanya pernah berkenalan saja itupun Eros yang memperkenalkan nya.
"Iya bang." balas Nayra singkat. Cowok itu pun mengangguk, dan menepuk bahu Nayra sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
.....
"Bar, pokoknya lo gak boleh lewati batasan lo." Eros masuk, tidak lebih tepatnya menerobos ke dalam ruangan nya yang telah di huni oleh Bara. Pria otoriter itu memaksanya untuk mempertemukan nya dengan Nayra.
"Lo jangan macem-macem Bar dia gadis yang baik." kata Eros.
Bara mengangguk, dan tersenyum miring. "Gue tau, maka dari itu gue mau dia jadi-"
__ADS_1
Tok
Tok
Ucapan Bara terhenti, menatap pintu yang perlahan terbuka dan masuklah sosok yang ditunggu-tunggu selama ini.
"Nayra, sini masuk." Eros mempersiapkan Nayra masuk.
Nayra mengangguk lalu menyimpan gelas diatas meja tepat di hadapan Eros yang tengah mengobrol dengan seseorang.
"Ini pak minuman nya." Nayra menyimpan minuman nya dihadapkan Eros. "kalo gitu saya permisi dulu." pamit Nayra. Tubuhnya sudahkan akan berbalik, tapi seseorang tiba-tiba mencekal lengan nya membuat Nayra menatap pria gagah yang kini tersenyum kearahnya.
Nayra mengerutkan kening nya bingung, ia berusaha melepaskan cekalan itu. "Mohon pak, lepaskan tangan saya." cicit Nayra yang mulai merasa takut.
"Kamu lupa sama aku, Nay." suara serak Bara terlihat sangat menggebu-gebu, kesal karena Nayra yang hanya menatap kearah Eros dan tak melirik kearah nya sama sekali.
Nayra menaikan sebelah alisnya. Merasa bingung dengan orang baru yang masih menggenggam tangan nya. "Siapa ya?" tanya Nayra sambil berusaha melepaskan tangan cowok itu dari tangan nya.
"Bara Matteo."
Deg
Jantung Nayra langsung berdebar mendengar nama itu, bukan debaran jatuh cinta, tetapi debaran ketakutan. Ingatan nya kembali ke masa sekolah, cowok dengan nama lengkap Bara Matteo itu selalu menatap ya tajam.
Kakak kelasnya yang memiliki sikap sedikit aneh itu memang kerap kali menemani nya saat pulang sekolah dulu, dikala itu Nayra sedang menunggu jemputan ayahnya yang tak kunjung datang.
"Kak Bara?" tanya Nayra memastikan.
Bara tersenyum miring, dibawa nya tangan Nayra untuk dikecup, sedangkan Nayra melotot melihat kelakuan aneh cowok itu.
Buru- buru Nayra menarik tangan nya kembali. "A... Aku permisi dulu kak." Nayra langsung bergegas keluar. Tapi belum sempat ia meraih gagang pintu, suara berat itu lagi-lagi terdengar.
"Ku dengar kau sedang membutuhkan uang, Ayra." panggilan sewaktu sekolah dulu, Ayra, hanya Bara yang memanggilnya seperti itu. Suara itu terdengar sangat lembut, seperti sedang memberikan harapan untuknya.
^^^Bersambung....^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
__ADS_1
See you
ranintanti