
Happy Reading ❤
Bara membuka pintu kamar dimana Nayra tengah menunggunya. Dahinya mengkerut bingung saat tak mendapati keberadaan Nayra di ruangan manapun. Kamar mandi, clothes, semua ruangan yang berada di dalam kamar sudah ia jelajahi, namun sosok Nayra masih tak kunjung di temukan.
Tak sengaja tatapannya jatuh kearah balkon. Jendelanya terbuka. Segera Bara berlari, melongokan wajahnya keluar, dimana dilihatnya Nayra tengah berlari tergesa-gesa menuju gerbang keluar.
"Sial!" Bara mengumpat. Ia berbalik pergi meninggalkan kamar. Langkah lebarnya membawa Bara turun ke lantai satu.
"Bodoh! Kalian semua bodoh!"
"Menjaga seorang gadis saja tidak becus!"
"Gak guna!"
Sempat-sempatnya Bara membentak seluruh para pelayan beserta anak buahnya yang sedang bertugas, karena kelalaian mereka, Nayra melarikan diri.
Para pelayan dan bodyguard yang sedang berjaga sontak menunduk ketakutan mendengar kemarahan bosnya.
"Jangan diam saja! Cepat kejar gadis itu!!!" bentak Bara membuat orang-orang itu berlari mengejar Nayra. Hanya pelayan saja yang masih diam di tempat, tak berani bergerak tanpa seizin bosnya.
"Tutup gerbangnya! Jangan biarkan seorang pun keluar dari sini."
Disaat Bara berlari sekuat tenaga, namun kenyataannya ia tidak bisa mengejar Nayra. Gadis itu terlalu gesit seperti ular.
Bara berteriak keras. Mengeluarkan kemarahannya akibat perbuatan yang Nayra lakukan. Ucapan gadis itu tidak bisa di percaya. Jelas-jelas Nayra dulu mengucapkannya jika dia bukanlah tipe orang yang mengingkari janji, tapi kini, gadis itu sudah melanggar ucapnnya sendiri.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa mengejar gadis itu." laporan dari anak buahnya membuat Bara menendang pagar besi yang menjulang di hadapannya. Amarahnya berkobar. Hatinya mendidih panas.
"Cepat siapkan mobil!!"
....
Dengan napas ngos-ngosan, Nayra sesekali menoleh ke belakang. Dirasa sudah tidak ada lagi yang mengejar, ia memelankan larinya. Tubuhnya yang lemas segera ia istirahatkan sejenak.
__ADS_1
"Syukurlah ia bisa lolos dari kejaran mereka." gumamnya pelan.
....
"Bar, biar gue yang nyetir okey?" Eros terus saja membujuk Bara. Cowok itu terlalu ugal-ugalan dalam membawa mobil. Tak henti-hentinya dia berdoa dalam hati untuk keselamatannya.
"Jangan terlalu gegabah bawa mobil. Jangan sampai pertunangan lo batal nanti. Kalo sampe kita kecelakaan, lo bisa bener-bener kehilangan Nayra."
"Bar, tolong pelanin mobilnya. Sumpah gue takut banget ini. Mana gue belum nikah lagi. Ah elah nyesel gue ikut ikut lo cari Nayra."
"Harusnya lo cari Nayra sendiri. Jadi kalau seandainya lo kecelakaan, terus mati? setidaknya lo gak bawa-bawa gue! Biarin aja pria lain yang jadi pasangan Nayra."
Ckitttt
Dalam kecepatan maksimum, mobil yang di kendarai Bara berhenti mendadak. Sontak saja Eros memegang jantungnya yang berdegup sangat cepat. Untung saja dia masih menggunakan sabuk pengaman, jika tidak, Eros tidak ingin membayangkan wajahnya hancur karena terbentur dasboard mobil.
"Kalo gitu lo yang nyetir." ujar Bara dingin.
"Jangan liatin gue terus! Cepetan jalanin mobilnya."
Mendengar nada perintah itu, Eros segera menancapkan gasnya, membawa mobil dengan kecepatan yang tidak terlalu gegabah seperti Bara.
Mobil mereka kembali melaju. Banyak orang-orang yang berlalu lalang di jalanan, membuat mereka kesulitan untuk mencari keberadaan Nayra.
"Berhenti."
Eros segera menghenti mobilnya. Dia terlihat kebingungan karena di berhentikan secara tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Eros penasaran.
Bara diam tidak menjawab, namun mata tajamnya terus saja mengarah ke depan. Aura gelap mulai terasa di sekitarnya. Sesaat Eros meneguk ludahnya yang mendadak terasa kering. Perlahan, dia pun mengikuti kemana arah Bara melihat.
....
__ADS_1
Setelah dirasa cukup beristirahat, akhirnya Nayra kembali melanjutkan jalannya. Namun baru beberapa langkah saja, tubuhnya limbung. Nayra kembali menyenderkan tubuhnya di samping tiang saat rasa pusing tiba-tiba saja menyerang kepalanya.
Ia lapar, perutnya terus saja berbunyi sejak tadi. Ia juga tidak membawa sepeserpun uang, yang ia bawa hanya sebuah gaun yang masih melekat di tubuhnya. Segala pernak pernik perhiasan sudah ia lepas sebelum dirinya melarikan diri.
"Neng, ngapain disitu? Neng gak papa?"
Seorang Nenek tua tiba-tiba saja datang, Nenek itu membawa sebuah karung, yang bisa dipastikan berisi botol-botol bekas.
Nayra tersenyum, kepalanya menggeleng samar. "Saya tidak papa, Bu. Saya cuma sedikit kelelahan."
"Neng mau minum? Ini saya bawa air mineral. Kebetulan saya beli tadi di warung, masih bersih kok, belum diminum sama sekali. Tutupnya juga masih tersegel, belum dibuka."
Nenek tua itu menyodorkan botol Aqua ke arah Nayra. Nayra yang memang sudah kehausan menerima botol itu. Tanpa curiga sedikitpun Nayra meneguknya pelan.
Setelah dirasa selesai, dan rasa hausnya sudah sedikit berkurang. Nayra kembali memberikan botol minum itu. "Terimakasih, Nek." ucapnya tulus.
Nenek itu mengangguk.
Nayra mengerutkan keningnya saat Nenek tua itu masih berdiri di hadapannya. Dan kebingungannya seakan terjawab saat rasa kantuk tiba-tiba saja datang.
Nayra menggelengkan kepalanya pelan. Rasa kantuk itu semakin menjadi, matanya berat sekali seakan ingin tertutup. Nayra mengerjap pelan, mencoba agar dirinya tetap terjaga.
"Jangan bilang kalau Nenek-"
Karena tak sanggup lagi, Nayra akhirnya limbung karena terlalu mengantuk. Sebelum benar-benar menyentuh tanah, seorang pria sudah lebih dulu menahan tubuh kecil itu.
^^^Bersambung....^^^
^^^Selasa, 17 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng, vote dulu yuk biar cerita ini semakin banyak yang baca, dan author bakal semakin sering update....
...Jangan lupa juga bayar parkir, cukup tekan tombol suka dan tombol love di bagian bawah aja, author udah seneng kok....
__ADS_1