
...Happy Reading ❤...
Bara termenung bebera saat. Setelah sekian lama memendam perasaan yang menggebu ini, akhirnya tersampaikan sudah. Nayra sudah mengetahui perasaannya, tidak ada alasan lain untuk Bara menutup-nutupi. Meski sekarang statusnya sudah menikah, tapi tak memungkiri untuk berhenti mengejar wanita pujaan hatinya.
"Lo gila Bar, maksa anak orang buat jadi milik lo." di sebrang sana Eros bersungut sebal. Bagaiaman tidak kesal, jika Bara baru saja memerintahkan Eros seenaknya.
Bara tertawa. "Lo tau gue siapa, Er. Gue gak pernah main-main."
"Bukan itu maksud gue dodol!!! Tindakan lo ini salah. Lo memanfaatkan keadaan Nayra disaat gadis itu butuh uang."
Bara meringis, menjauhkan ponselnya saat mendengar teriakan Eros disana.
"Di dunia ini gak ada yang gratis bro, bahkan oksigen aja harus bayar kalo di rumah sakit." Bara tersenyum remeh. "Dan gue mau lo pecat Nayra hari ini juga." putus Bara.
"Gak! Enak banget lo ngomong. Buat itu gue gak setuju. Lo tau club gue lagi butuh banget pegawai, dan lo malah seenaknya nyuruh pecat Nayra? Sorry gue nolak."
"Gue tukar sama mobil yang lo mau. Hari ini, ahh tidak, detik ini juga bakal gue kirim ke rumah lo."
Hening beberapa saat. Disebrang sana Eros termenung, ucapan Bara benar-benar menggiurkan. Sudah lama Eros mengincar mobil yang gadang-gadangkan itu, dan Bara malah menyuguhkannya dengan sebuah syarat yang menurutnya sangat sulit.
Antara keinginan dan kebutuhan.
Eros menginginkan mobil, tapi Eros juga membutuhkan pegawai seperti Nayra.
.....
Nayra menunduk lesu, menggenggam jemari Evano yang kian semakin dingin. Operasi sudah di lakukan sejak beberapa jam yang lalu, dan kini Evano baru saja di pindahkan ke ruang rawat inapnya yang jauh lebih luas.
Yah, semua ini berkat uang dari Bara. Lelaki itu memberikan uang yang jauh lebih banyak dari perkiraannya. Bisa dibilang uang yang diberikan Bara lebih dari kata cukup, bahkan Nayra pun bisa memesan ruangan VIP yang harganya jauh lebih mahal dari ruangan sebelumnya.
"Operasinya berjalan lancar, hanya perlu menungu pasien sadar untuk bisa memeriksa keadaannya lebih lanjut."
Walau operasi berjalan lancar, tetap saja Nayra tak bisa tenang jika kedua mata itu belum juga terbuka. Lalu, jika sudah terbuka akankah Nayra mampu mengendalikan perasaannya?
"Nay, sebaiknya kamu makan dulu. Ibu udah beli nasi goreng di depan." Bu Jasmin menyimpan sebungkus nasi goreng di atas meja.
"Ibu aja yang makan, Nay gak laper Bu." jawab Nayra tanpa menoleh sedikitpun. Bu Jasmin menghela napas, tubuhnya bergerak mendekati Nayra.
"Ibu tau bagaimana perasaan kamu, Nay. Tapi Ibu mohon jangan sampai kamu sakit cuma gara-gara nungguin Evano."
__ADS_1
Nayra yang sejak tadi menunduk perlahan mendongkak, tatapannya masih tertuju kepada Evano. Seolah-olah Evano adalah dunianya saat ini. "Jaga Evano ya, Bu." pinta Nayra.
Bu Jasmin mengangguk pasti, bagaimanapun Evano adalah anaknya, Bu Jasmin tidak akan mungkin membiarkan anaknya dalam kesusah seperti ini.
"Setelah makan, Nay bakal langsung berangkat kerja, Bu." lanjut Nayra kemudian beranjak dari duduknya setelah mengecup pelipis Evano cukup lama.
"Ibu sudah makan?" Nayra mendekat kearah meja, membuka bungkus nasi goreng yang telah dibeli oleh Bu Jasmin.
"Sudah, Nay. Tadi Ibu makan disana." Nayra mengangguk, dan mulai menyantap makanannya setelah membaca doa lebih dulu.
Baru tiga suap saja, pergerakan Nayra terhenti tatkala mendengar suara ponselnya berdering. Pak Eros. Nama yang tertera disana. Dengan segera Nayra menggeser tombol hijau.
"Halo, Pak." Nayra menempelkan ponselnya di telinga kanan, sebelah tangannya lagi kembali menyodokan makanannya ke dalam mulut.
"Nay, mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di club lagi ya."
Nayra terdiam, mencerna baik-baik ucapan Eros di sebrang sana. "Ma,,, maksudnya saya di pecat gitu, Pak?" tanya Nayra memastikan.
"Tidak. Hanya saja, karyawan yang dulu sudah mulai kembali bekerja, dan posisi sebagai karyawan sudah terpenuhi. Jadi,,, maaf, Nay."
Nafsu makan Nayra hilang seketika mendengar ucapan Eros. Tubuhnya semakin merosot seolah tak memiliki tenaga lagi. "Begitu ya, Pak." Nayra mencoba menerima, walau sejujurnya Nayra masih membutuhkan perkerjaan itu, tapi jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi.
"Untuk gaji dan bonusnya sudah saya transfer. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."
Panggilang pun terputus, Nayra menatap nanar ponselnya.
"Ada apa, Nay?"
Nayra mendongkak, menatap Bu Jasmin dengan senyum kecilnya. "Gak papa, Bu."
"Kalo ada masalah cerita ya, Nay. Ibu siap mendengarkan, jangan di pendem sendiri."
"Iyaa, Bu." jawab Nayra sambil kembali melanjutkan makanannya yang sempat tertunda. Bagaimanapun Nayra membutuhkan energi untuk mengisi perutnya yang belum terisi sejak siang tadi.
.....
"Puas lo!!!" Eros membanting ponselnya kesal. Untung saja ponselnya masih terlempar di sofa, bagaimana jika dilantai? Sepertinya Eros harus meminta pertanggung jawaban lagi kepada Bara.
"Belum. Gue gak akan pernah puas, sebelum Nayra bener-bener jadi milik gue seutuhnya."
__ADS_1
Eros menggeleng. "Lo bener-bener gila, Bar."
"Emang, gue gila, dan akan lebih gila jika menyangkut Nayra." Bara tergelak senang.
"Lo tau, dengan cara seperti ini, Nayra bakal benci sama lo."
"Gue gak peduli." Bara merogoh kunci mobil yang kemudian dilempar kearah Eros. "Sesuai janji." lanjut Bara.
Eros menangkap kunci itu, senyumnya tak pernah luntur kala melihat kunci mobil kesayangan Bara kini telah menjadi miliknya. Mobil dengan harga berjuta-juta itu, Bara menyerahkan nya secara cuma-cuma.
Hanya dengan membuat Nayra tak lagi bekerja di clubnya, dan sebagai gantinya Bara memberikan sebuah mobil yang sangat di idam-idamkannya sejak dulu.
"Walau gue kagak ikhlas, tapi thanks you brother." Eros terkekeh, mencium kunci itu berulang-ulang kali.
BRAK
Suara bantingan pintu itu membuat Bara dan Eros menoleh serentak. Keduanya berdecak malas melihat Rizky yang lagi-lagi dalam keadaan mabuk.
"Lo gak bisa apa ketuk pintu dulu sebelum masuk?!!" sentak Eros melempar pulpen kearah Rizky.
Rizky tertawa, menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Gue barusan ketemu cewek cantiiik banget." Rizky melebarkan tangannya, seolah sedang mengukur seberapa cantik wanita yang baru saja di temuinya. "Tapi sayang, itu cuma mimpi." lanjut Rizky menunduk sedih, melemparkan tubuhnya untuk berbaring di sofa dekat dengan Eros.
Eros pun bergerak menjauh, bau alkohol kini menyengat melingkupi hidungnya. "Jauh-jauh lo dari gue." Eros lebih memilih menyingkir, diikuti Bara yang mulai beranjak dari duduknya.
"Gue mau balik, takut anak gue nangis." Bara mengambil jaket, beserta kunci mobilnya yang tersimpan di samping nakas.
"Udah punya anak, tapi masih aja kejar cewek lain. Dasar! cowok serakah lo." cibir Eros.
Hinaan itu membuat Bara memutar matanya malas. "Lo tau gue gimana, Er." timpal Bara santai. Tak ada raut bersalah sedikipun. Bagaimanapun Bara tetaplah Bara. Cowok serakah yang haus akan kekuasaan. Apapun akan Bara lakukan untuk mendapatkan kekuasaan itu bagaimanapun caranya. Sekalipun memakai cari licik, akan Bara lakukan.
^^^Bersambung.....^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
__ADS_1
See you
ranintanti