Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 59


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Bara melahap bubur yang di sodorkan Devina. Wanita itu kini sedang berperan menjadi istri yang baik. Merawatnya, menyuapinya, bahkan sampai mengelap bekas muntahan di lantai.


Wah


Haruskah Bara bersyukur memiliki istri sebaik Devina? Wanita yang pandai sekali memainkan peran menjadi orang tersakiti.


Bara menghembuskan napas kasar. Di ruangannya tidak ada siapa-siapa. Devano, serta kedua orangtuanya baru saja pergi ke kantin untuk mencari makan.


Di suapan terakhir, Bara tak kunjung membuka mulutnya membuat suapan itu mengambang di udara.


Devina menghela napas, menyimpan kembali sendoknya ke dalam mangkuk bubur.


"Kenapa?" tanyanya lembut.


"Aku tidak ingin orang tuaku tau tentang kehemilanmu, Devina."


"Aku akan merahasiakannya, Mas, tapi kamu juga harus berjanji tidak akan menceraikanku."


Bara terkekeh, merasa lucu. "Justru karena kamu merahasiakannya, perceraian kita akan tetap terjadi. Jangan sampai orang tuaku tau, karena itu akan menghambat proses perceraian kita nantinya." timpal Bara santai. Devina terdiam, berpikir sebentar tentang apa yang diucapkan Bara.


"Kalau begitu aku akan memberitahu mereka." celetuk Devina. Bara melotot geram.


"Kau!" seru Bara tertahan. "Kau tidak akan berani melakukan itu, Devina." desis Bara dengan tatapan tajamnya.


Dengan santai Devina menyimpan mangkuk bubur di samping nakas. "Aku berani. Aku akan melakukannya jika itu untuk mempertahankan rumah tangga kita."


Cih


Bara berdecih muak. "Rumah tangga? Rumah tangga yang di dasari dengan kebohonganmu, begitu?"

__ADS_1


"Bara-"


"Dengar Devina, jika kamu berani memberitahukan kehamilanmu, maka detik itu juga aku akan membeberkan semua kebohonganmu kepada mereka." ancam Bara.


Devina menggeleng. Meski kedua matanya berkaca-kaca. Devina tetap akan mempertahan leleki itu agar tetap disisinya. "Kamu lupa, dulu juga kamu pernah membeberkan semuanya, tapi orang tuamu lebih mempercayai ku, ketimbang ucapan mu."


Tanpa sadar Bara mengepalkan tangannya mendengar kenyataan itu. Memang benar, Bara sempat memberikan hasil tes DNA Devano kepada orang tuanya, tapi mereka tetap tidak mempercayainya.


'Kenapa kamu sampai berbuat sejauh ini, Bara? Kamu bahkan sampai merekayasa hasilnya. Padahal jika kamu tidak menerima anak kita juga tidak papa, aku tidak akan marah." kata Devina sendu.


'Apa yang diucapkan Devina benar, kamu bisa saja menyuruh Dokter di rumah sakit itu untuk memutar balikan fakta.' timpal Matteo membenarkan ucapan Devina.


'Dad, tapi ini kenyataannya! Devano bukan-'


'Cukup, Bara! Hentikan semua omong kosong mu itu. Daddy tidak akan mempercayai bukti-bukti murahan seperti ini.'


Saat itu hasil tes DNA yang sudah Bara tunggu di sobek begitu saja oleh Matteo. Padahal untuk melakukan tes DNA, Bara harus menunggu bayi itu lahir lebih dulu. Sembilan bulan lebih Bara menunggu, namun saat hasil Tes DNA keluar, malah berakhir sia-sia.


"Seiring berjalan waktu, kebohongan itu akan tercium, Devina."


Kedua orang itu serentak menoleh, terkejut melihat Sheila sudah berada di ambang pintu.


"Bu-bukan kebohongan apa-apa, Mom." jawab Devina gugup.


Sheila mengangguk acuh. Tak ingin tau lebih dalam apa yang sedang mereka bicarakan. "Mom kebelet, mau ke toilet." ucap Sheila sembari berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Kamu belum tidur?" Devina bertanya saat melihat Bara terus saja menatap ponselnya. Tidak ada jawaban yang keluar. Bara tetap diam. Menunggu balasan dari Nayra.


"Kamu lagi nungguin chat dari siapa?" masih tak ingin menyerah, Devina kembali bertanya, berharap agar Bara mau meresponnya kali ini. Namun respon yang keluar tidak sesuai harapan.


"Gadis yang kelak akan melahirkan anak-anakku." timpal Bara setelah hening cukup lama.


Devina tertegun dengan jawaban yang terucap dari bibir pria itu. Ucapan dengan nada penuh kewibawaan, serta kepemilikan yang mutlak. Seakan menunjukan jika gadis itu lebih layak ketimbang dirinya. Harga dirinya sebagai istri sah Bara seakan tersentil. Hatinya merasa tidak terima.


"Siapa?" meski hatinya merasa sesak, tetapi Devina tetap masih bertanya.


"Kau tidak perlu tau." jawab Bara cuek. Tanpa Bara sadari, sejak tadi tangan Devina mengepal erat. Sorot matanya terlihat berbeda dari biasanya.


.


.


.


.


.


^^^Bersambung^^^


^^^Rabu, 8 September 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....

__ADS_1


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...


.


__ADS_2