Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Kabar Baik


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, bahkan besok atau lusa, pasien bisa dipulangkan ke rumah. Tubuhnya benar-benar mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hanya tinggal beberapa kali terapi saja, pasien akan kembali berjalan dengan normal."


Itulah ucapan terakhir yang di sampaikan Dokter Beni. Hatinya begitu lega. Beban yang selama ini menghimpit dadanya seakan terangkat. Nayra tersenyum lembut saat ia masuk ke dalam ruangan, Bu Jasmin sudah menyambutnya dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Kamu kemana aja, Nay?" tanya Bu Jasmin sambil membenarkan letak selimut anaknya.


Nayra mendekat, menyalim tangan Bu Jasmin. "Maaf, Bu. Nay banyak urusan tadi diluar." bohongnya. Bu Jasmin mengangguk, dan tersenyum seolah memaklumi.


"Seharusnya kamu pulang, terus istirahat yang cukup. Bukan malah kesini." dumel Bu Jasmin sambil menarik kursinya mempersilahkan Nayra duduk. "Ini juga keningnya kenapa sampe harus di perban segala?!" Bu Jasmin menujuk kening Nayra yang terluka.


Nayra meraba keningnya. Padahal ia sudah berusaha menutupinya, tapi memang dasarnya Bu Jasmin adalah seorang Ibu sehingga memiliki kepekaan yang tinggi.


"Aku tidak papa, Bu. Hanya luka kecil karena aku sempat jatuh tadi." kata Nayra.


"Makanya kalo kerja itu hati-hati, jangan buru-buru sampe jatuh segala. Kalau Evano tau, dia pasti juga khawatir lihat kamu pulang dengan keadaan luka seperti ini." Bu Jasmin mulai mengomel membuat Nayra mengerucutkan bibirnya.


"Kalau gitu jangan sampe Vano tau, Bu."


Bu Jasmin mendelik mendengar jawaban Nayra. "Kamu kaya gak tau aja gimana Vano." balas Bu Jasmin.


Nayra cengengesan. Ia memang paling tau bagaimana Evano ketika dirinya terluka. Pria itu pasti akan lebih mengkhawatirkannya.


"Dia dari tadi nanyain kamu terus, makanya Ibu suruh dia telfon kamu pake nomer Ibu. Soalnya ponsel Vano kan rusak pas kecelakaan waktu itu."


"Dia juga khawatir banget sama kamu, Nay." lanjut Bu Jasmin.


"Maaf, Bu." sesal Nayra menunduk lesu.


Bu Jasmin menatap Nayra. Hatinya kecewa karena Nayra tidak menjelaskan apapun seharian ini. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


....


Bara diam saja saat wanita di depannya ini terus mengoceh. Hanya karena ia membawa gadis pujaan hatinya ke sini, Devina seakan sudah kebakaran jenggot.


"Kalau Daddy Matt tau kamu bisa dihajar, Bara." Devina geram. Ia duduk tepat di depan Bara. Dimana lelaki itu sedang bertopang kaki di atas meja.

__ADS_1


"Daddy tidak akan tau jika kamu tutup mulut."


Devina berdecak. Mendesah kasar saat mendengar jawaban santai itu. "Kamu tau aku tidak bisa berbong di depan orang tuamu, Bar."


"Halah bulshit! Kamu bahkan sudah sering membohongi Devano. Jadi tidak masalah jika kamu pun berbohong kepada orang tuaku."


"Masalahnya beda, Bara!" teriak Devina kesal. Devina akui memang sering berbohong kepada anaknya. Tapi semua itu demi kebaikannya, Devina hanya tidak ingin membuat anaknya khawatir karena memiliki seorang Ibu yang suka berpergian seperti dirinya. Devina bahkan harus menyogok anaknya agar diizinkan untuk kembali ke dunia modelling nya.


Bara mengeram. "Jangan berteriak kepadaku." balasnya. "Semua kebohongan itu sama, yang membedakan hanya porsinya masing-masing. Ada berbohong demi kebaikan, ada yang berbohong dengan keterpaksaan."


"Dan aku tidak masuk ke dalam keduanya." Devina membuang napas kasar. Kenapa berhadapan dengan Bara selalu saja diakhirir dengan perdebatan seperti ini.


"Ada. Karena aku yang akan memaksamu."


"Gila." balas Devina cepat.


Bara tertawa. "Kita sama. Gila karena mengejar orang yang kita cintainya."


....


"Aku cuma punya segini, Kak." Nayra menyerahkan uang seratus ribuan kepada Sarah. Kakak kandungnya itu memang sering sekali meminta uang, atau meminta barang-barang yang harganya sungguh tidak bisa Nayra beli.


"Emang berapa uang yang Kak Sarah hilangin kali ini?" tanya Nayra. Padahal Nayra sedang asik-asiknya mengobrol bersama Evano dan Bu Jasmin. Tapi tiba-tiba Sarah datang, dan memohon izin untuk mengobrol sebentar. Mau tak mau akhirnya Nayra menuruti kemauan Kakaknya. Jadilah sekarang ia berada tepat di luar ruangan Evano.


"Dua puluh sembilan juta."


Nayra terbelalak mendengarnya. Ia tidak salah dengarkan. "Dua puluh sembilan juta?" tanya Nayra memastikan. Dengan berat hati Sarah mengangguk pelan. Terlihat jelas sekali bagaimana Nayra terlihat terbebani dengan ucapannya barusan.


"Tapi- ya allah, Kak. Aku tidak punya uang sebanyak itu." ucap Nayra terdengar frustasi. Kenapa ada saja masalah yang datang. Baru saja biaya keuangan rumah sakit selesai, dan kini masalah itu ada lagi.


29 juta? Nayra membuang napas kasar. Kemana lagi ia harus mencari uang sebanyak itu untuk menolong Kakaknya. Ia tidak mungkin tega melihat Kakak di penjara, belum lagi Bundanya yang akan menangis jika salah satu anak gadisnya berada di balik jeruji besi.


"Nay." pangil Sarah.


Nayra mendongkak, menatap mata panda Kakaknya. Sudah berapa hari  Kakaknya itu tidak tertidur sampai membuat matanya seperti itu. Mungkin karena masalah ini juga Kakaknya sampai harus mengalami tekanan. Dan ini adalah rekor terbanyak yang diminta Kakaknya.


Bayangkan 29 juta. Mungkin jika menjual ginjal satu tidak apa kali yah. Tapi itu tidak akan pernah Nayra lakukan. Karena kesehatan adalah hal utama dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku punya ponsel, Kakak bisa menjualnya." Nayra menyodorkan ponsel yang memang sejak tadi ia pegang. Ponsel dengan logo apel gigit itu adalah pemberian Bara. Dan itu masih terbilang baru untuk dijual. "Dan ini, ada sejumlah uang di dalamnya, Kakak bisa ambil secukupnya. Tapi ingat, jangan di habiskan semuanya."


Bukan hanya ponsel yang Nayra berikan. Kartu Atm yang hanya memiliki saldo yang kurang lebih 8 juta itupun di berikan kepada Kakaknya.


Sarah tersenyum. "Terimakasih, Nay." gerakan untuk mengambil ponsel dan Atm milik Nayra sangat cepat. Sarah memeluk adiknya erat.


Matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena kebaikan adiknya.


"Kakak titip Bunda sama kamu, ya. Jaga diri baik-baik, jangan buat Bunda khawarir terus karena kamu yang jarang pulang ke rumah."


Walau tidak mengerti apa yang Kakaknya ucapkan Nayra tetap mengangguk. Mengusap punggung kecil Kakaknya.


"Kakak hati-hati ya, aku doa'in semoga masalah Kakak cepat teratasi."


"Amiin." ucap Sarah sambil melepaskan pelukannya. "Kakak pamit, Nay."


Nayra mengangguk. Entah kenapa hatinya berat sekali, seperti ada sesuatu yang menganjal. Karena tak ingin ambil pusing, akhirnya Nayra berbalik, masuk ke dalam ruang rawat Evano setelah Kakaknya tidak lagi terlihat.


^^^Bersambung^^^


^^^Rabu, 7 April 2021^^^


...Jangan lupa!...


...Vote and coment...


...biar author makin semangat nulisnya....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


...Ily 💕...


See you

__ADS_1


ranintanti


__ADS_2