
...Happy Reading ❤️...
Dua hari Nayra terkurung di apartemen milik Bara. Untuk kabur saja rasanya sulit sekali. Ditambah dengan dua bodyguard yang terus saja berjaga di depan unit apartemennya membuat Nayra tidak bisa pergi kemanapun.
"Nona tidak menyambut Tuan Bara?" Maria datang dari arah dapur. Wanita itu memberikan segelas susu hangat.
"Males, Bu." balas Nayra. Nayra meniup susunya, menyesapnya dengan pelan. Cuaca dingin seperti ini memang cocok untuk bersantai.
"Tapi, kalau Nona tidak menyambutnya, saya takut Tuan Bara marah." Maria menunduk takut. Teringat jelas bagaimana kemarahan Tuannya itu sungguh membuat Maria mati sendi. Semua tubuhnya seakan tidak bisa di gerakan.
Nayra menghembuskan napas kasar. Tanpa membalas ucapan Maria, Nayra sudah lebih dulu beranjak pergi.
Sesampainya di lantai bawah. Nayra melihat Bara tengah duduk sambil memijit keningnya. Tidak ada niatan membawakan tas, atau membantu membuka jas, Nayra malah memilih duduk bersebrangan dengan Bara. Sedangkan Maria sudah kembali ke dapur, menyiapkan beberapa hidangan untuk sang tuan rumah.
"Kemarilah." Bara menyuruh Nayra mendekat.
Nayra hanya mengangkat bahu acuh, tak peduli. Biarkan saja, siapa suruh ia dikurung seperti ini layaknya hewan peliharaan.
"Tidak mau." balas Nayra ketus.
"Baiklah." detik itu juga Bara menerjang tubuh Nayra. Nayra terpekik kaget. Gadis itu memberontak, namun Bara segera mempererat pelukannya. Menghirup aroma tubuh Nayra yang sangat ia rindukan.
"Aku merindukanmu." bisik Bara tepat di telinga Nayra. Nayra bergidik geli. Kedua tangannya berusaha melepaskan pelukan Bara yang seakan meremukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Lepas, Bara." kesal Nayra.
"Tidak." sahut Bara. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nayra. Mengecupnya, dan memberikan gigitan kecil disana.
"Bara." Nayra bergerak tak nyaman. Posisi keduanya terlalu dekat, nyaris membuat Nayra tak bisa bernapas. Nayra mendorong Bara menjauhi lehernya, pria itu memberengut. Sebelum benar-benar melepaskan Bara sempat menyesap leher putihnya.
"Bara!!" pekik Nayra. Gadis itu segera menjauhi Bara. Menutupi lehernya yang kini terasa sedikit basah.
"Kau-" Nayra melotot kesal. Ia segera berlari kearah cermin di sudut ruangan. Jejak merah itu terlihat cukup jelas disana. Nayra menggosoknya kasar, barusaha menghilangkan tanda merah itu. Bukannya memudar, tanda merah itu malah semakin merah kala ia menggosonya.
Bara menyeringai. "Sudahlah, apa yang kamu lakukan semuanya sia-sia. Mahakarya ku tidak mudah dihilangkan hanya dengan gosokan jari." kata Bara mencemooh.
Nayra mengeram mendengar ucapan Bara. Gadis itu tetap fokus berusaha menghilangkan tanda merah di lehernya. Tidak menyadari jika di belakang sana Bara melangkah mendekati Nayra yang masih berdiri di depan cermin. Bara memeluknya dari belakang.
"Aku punya sesuatu untukmu." bisik Bara.
Nayra menatap kearah cermin, dimana Bara pun sedang menatap balik kearahnya. Wajah pria itu menumpuk di pundaknya. Mau tak mau Nayra berusaha menyingkirkan kepala Bara, namun nyatanya tidak bisa.
"Diamlah." desis Bara dengan mengeratkan pelukannya. Nayra meringis merasakan sakit, juga sesak karena pelukan Bara. "Jika tidak ingin aku semakin berbuat kasar, diam, dan turuti saja." lanjut Bara mengancam.
Akhirnya Nayra menurut. Ia tidak lagi memberontak seperti sebelumnya. Membiarkan Bara memeluk nya sesuka hati. Semakin Nayra memberontak, maka akan semakin kasar pula lelaki itu kepadanya.
"Kau tidak ingin tau hadiah apa dariku?" tanya Bara. Keduanya masih dengan posisi yang sama. Hanya saja pelukan Bara sudah tidak seerat tadi.
__ADS_1
"Apa?" tanya Nayra pelan nyaris tak terdengar.
Bara tersenyum. Lelaki itu mengecup pipi Nayra. "Sesuatu yang akan membuat kamu bahagia." cetus Bara santai.
Dalam hati Nayra diam. Percuma saja ia bertanya jika ujung-ujung seperti ini.
....
Setelah acara melepas rindu- dalam kategori Bara. Kini keduanya telah memakan makanan yang telah disiapkan oleh Maria. Tidak ada suara. Bara fokus memakan makanannya, sesekali juga akan menatap Nayra intens. Sedangkan Nayra sejak tadi menunduk, menyantap makannya.
"Cepat habiskan makananmu." perintah Bara.
Nayra mengangguk. Ia segera memakan makanannya sebelum pria itu kembali mengamuk.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat. Ku pastikan kau akan menyukainya." lanjut Bara.
Nayra hanya tersenyum tipis. Entah kemana Bara akan membawanya. Yang pasti tidak ada kata 'menyukai' jika itu bersama Bara. Malah ia merasa tersiksa lahir batin jika bersama pria itu.
^^^Bersambung^^^
^^^Jum'at, 27 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...