
...Happy Reading ❤️...
Pagi ini Nayra sudah siap ke kampus. Rasanya percuma jika ia larut dalam kesedihan, karena pada akhirnya Evano sudah pergi menjauh, dan tak pernah kembali.
"Kamu udah mau berangkat, Nay? Gak mau istirahat dulu di rumah?" Bunda Farah datang dari arah dapur, membawa beberapa kue untuk di pajang di tokonya. Memang rumah dua tingkat itu dimanfaatkan untuk membuka usaha, dijadikan toko kue di lantai bawah.
"Gak deh, Bun. Nay udah gak papa kok." Nayra tersenyum. Ia segera meraih tangan Bundanya, mengecupnya dengan pelan.
"Aku berangkat ya, Bun." kata Nayra.
"Iya, hati-hati di dijalan." timpal Bunda Farah. Wanita itu sibuk dengan pesanan kuenya yang akhir-akhir ini melonjak drastis setelah Bara mempromosikan tokonya. Nayra sempat ingin membantu, namun ia dengan cepat menolak, menyuruh agar putrinya istrihat. Tapi bukannya istirahat, Nayra malah memilih pergi ke kampus.
"Siap Bunda." balas Nayra semangat.
Nayra bergegas membuka pintu, saat pintu terbuka terlihat sosok Bara tengah bersender di kap mobil. Pria itu berjalan mendekat dengan senyum hangat yang tersungging di bibirnya. Jas berawarna biru gelap, dipadukan dengan kemeja putih dengan dua kancingnya terbuka menambahkan pesonanya.
Jarak diantara keduanya semakin menipis. Pria itu berdiri dengan gagah di hadapannya. Nayra bahkan sampai terpana melihat ketampanan pria itu yang seperti malaikat. Aura yang dikeluarkan bahkan mampu membuatnya tak berkutik.
"Pagi, kesayangan." sapa pria itu sembari mengecup keningnya. Nayra tertegun, ia menahan napas merasakan aroma parfum yang mengguar di Indra penciumannya. Jenis aroma musk yang biasanya dikaitkan dengan aroma woodsy dan earthy. Aroma yang memiliki karakteristik sensual dan warm sehingga terasa mewah dan elegan.
"Siap untuk pergi ke kampus hari ini?" tanya pria itu sembari menjauhkan tubuhnya, menangkup wajah Nayra sebelum membumbuhkan kecupan manis di bibir tipis gadisnya.
Tindakan tiba-tiba itu membuat Nayra melotot, kedua tangannya mencoba mendorong tubuh berotot milik Bara.
__ADS_1
"Jangan menciumku sembarangan!" wajah itu memerah, merambat sampai ketelinga. Bibir gadis itu melipat kedalam, menambahkan kesan menggoda dimata Bara. Jika dilihat dari manapun gadis itu rupanya tengah tersipu malu. Bara dibuat tertawa. Karena tidak ingin 'khilaf' dan berakhir 'menyerang', Bara pun segera membukakan pintu mobil untuk gadisnya.
"Silahkan masuk, Tuan Puteri." dengan tubuh sedikit membungkuk, pria itu mempersilahkan Nayra untuk duduk di samping kemudi. Gadis itu tidak protes seperti sebelum-sebelumnya membuat Bara menghembuskan napas lega.
Mobil mereka pun melaju. Bara fokus menyetir. Sesekali pria itu menoleh menatap gadisnya yang terlihat pucat dan lesu. Mata gadis itu pun sedikit membengkak.
"Kau sakit?" setelah hening cukup lama, akhirnya Bara mengeluarkan suaranya, bertanya kepada Nayra.
Tanpa niat menoleh, gadis itu menggeleng dengan mata lurus ke depan. "Tidak." jawabnya singkat.
"Kau tidak pandai berbohong, sayang." suaranya mengejek. Kemudian Bara kembali melanjutkan. "Katakan. Apa yang telah menjadi beban pikiranmu sampai membuatmu seperti ini."
Hening.
"Cepat katakan." desak Bara. "Aku tidak sesabar itu, Ayra. Jangan sampai aku memaksamu lagi yang nanti akan kamu sesali." Bara menghentikan mobilnya saat lampu jalan berwarna merah. Orang-orang segera berlalu lalang melewati mobilnya untuk menyebrang.
Masih dengan keterdiaman, Nayra meremas kedua tangannya gugup. Bibir pucatnya bergetar seiring kata yang keluar dari bibirnya.
"Ba-Bara..." panggil Nayra pelan, nyaris seperti bisikan di telinga Bara. "Bo-boleh a-ku minta tolong. Tolong bantu aku cari Evano. Tidak! Maksudku aku hanya ingin tau saja Evano berada dimana." mohon Nayra dengan mata berkaca-kaca. Ketakutannya semakin menjadi melihat Bara yang tak kunjung menjawab ucapannya. Jangankan menjawab, mengangguk saja pria itu seakan enggan.
Bara mencengkram stir mobil kuat-kuat hingga urat di sekitar punggung tangannya menonjol jelas. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam siap menghunus siapa saja yang berani mengusiknya. Hatinya berdegup cepat diliputi emosi yang siap dikeluarkan, untuk dilampiaskan.
"Tidak bisakah kamu melupakan pria itu? Kau sudah menjadi tunanganku, calon istriku, apa layak seorang gadis yang sudah bertunangan masih saja mencari pria lain." geramnya menahan emosi.
__ADS_1
"Please, aku mohon." kedua tangan Nayra saling menempel di depan dada. Memohon kepada Bara, agar pria itu mau membantunya. Kedua matanya memerah, hampir melelehkan cairan liquid jika ia mengedipkan matanya.
Lampu jalan itu kini beralih menjadi hijau. Suara klakson mobil yang saling bersahutan diluar sana tak membuat Bara menjalankan mobilnya. Dengan kemarahan yang melingkupi, Bara mendekatkan tubuhnya. Terlihat bagaimana gadis itu memundurkan tubuhnya hingga terpojok oleh pintu mobil.
"Dengar,,,," dengan tak berperasaan Bara mencengkram pipi Nayra. Memaksa gadis itu mendongkak untuk menatapnya. "Jika kamu memohon seperti ini demi pria lain, jangan salahkan aku jika hari ini aku akan langsung membunuhnya." lanjutnya dengan suara yang begitu sangat dingin.
Bara segera ******* bibir Nayra, memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya. Mengabaikan ringisan juga air mata yang mengalir di pipi gadis itu. Ciuman itu menuntun, semakin dalam, dan dalam. Seolah dengan ciuman mampu meredakan amarahnya saat ini. Napas gadis itu memburu, namun Bara tak kunjung melepaskannya.
Saat oksigen keduanya semakin menipis, saat itulah Bara menjauhkan bibirnya. Jempol tangannya mengusap bibir yang membengkak akibat ulahnya.
"Jangan membuatku marah, sayang, atau bibirmu ini yang akan menjadi sasaran kemarahanku." setelah menghapus air mata yang mengalir di pipi gadisnya, barulah Bara menjauhkan tubuhnya.
Pintu mobil diketuk.
"Kalau mau berbuat mesum jangan ditengah jalan seperti ini! Tepikan dulu mobilmu." teguran dari pengendara lain tak ia pedulikan. Bara malah segera menarik gasnya, menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
^^^Bersambung^^^
^^^Senin, 30 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...
__ADS_1