Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 41


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Kediam Matteo kini sunyi. Cucu mereka satu-satunya Devano tengah terbaring sakit di kamar. Anak itu tidak ingin di bawa ke rumah sakit, jadilah Sheila hanya merawatnya sendiri, dibantu dengan beberapa pengasuhnya.


"Oma,,, hiks hiks mau Mommy." dalam tidurnya Devano terus saja menangis, mengumumkan kata 'Mommy, dan Mommy.'


"Stttt, tidur ya. Oma disini, sayang." Sheila mengusap surai lebat cucunya. Berharap agar anak itu dapat tertidur dengan nyenyak. Melupakan sejenak kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab itu. Sejak kemarin Bara tidak bisa di hubungi, dan Devina pun sama. Kedua orang itu seakan melupakan sosok anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang.


"Mommy, Oma, mau Mommy." lirihnya pelan.


Sheila mengecup kening cucunya. Tubuhnya ia rebahkan di samping Devano yang tertidur. Sheila bisa merasakan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuh Devano.


"Devano, sayang, Nak dengerin Oma ya. Mommy Dev lagi kerja sayang, jauuuuh banget, dan nanti pulangnya Mommy pasti akan bawa oleh-oleh buat Dev. Tapi Dev harus sembuh dulu ya, biar Mommy disana kerjanya gak sedih liat Dev sakit-sakitan kaya gini." ucap Sheila lembut. Tak henti-hentinya Sheila mengusap kening anak itu yang terpasang plester demam disana.


Devano meleguh, merapatkan tubuhnya kepada Sang Oma. Anak itu sudah tidak lagi bergumam. Sheila menunduk, melihat Devano yang sudah tertidur.


"Sweet dreams boy." bisik Sheila di samping telinga Devano. Sheila mulai beranjak dari tidurnya. Dia menyelimuti tubuh Devano. Tak lupa boneka kesayang cucunya ia taruh di samping anak itu.


Sebelum pergi, Sheila kembali merunduk, mengecup keningnya cucu lembut.


Setelah menjauh dari kamar Devano, Sheila turun kelantai bawah. Dilihatnya suaminya kini tengah menonton sebuah berita. Sejak kapan suaminya menyukai berita gosip seperti itu? Batinnya Sheila bertanya.


"Kamu udah pulang, Mas?"


Sesaat Matteo terperanjat mendengar suara istrinya yang tiba-tiba. Dengan santai Matteo mematikan layar tipis itu, dan berbalik manatap Sheila lembut.


"Udah sayang, baru aja sampai." jawab Matteo sembari melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Berita-berita anaknya telah menyebar luar, Matteo tidak ingin Sheila sampai mengetahuinya. Sudah cukup istrinya dibuat pusing oleh kelakuan anaknya yang tidak mau bertanggung jawab, jangan sampai istrinya pun di kejutkan lagi dengan berita menggemparkan diluar sana.


"Kamu mau makan dulu atau mau langsung mandi?" Sheila mengambil jas yang tersampir di sofa.


"Mandi dulu, rasanya badanku lengket sekali."


.....


Selepas acara selesai, Bara langsung berkumpul bersama para sahabatnya di klub. Sedangkan Nayra, gadis itu sudah diantarkan pulang ke rumah.


"Heh, Ros, Erina mana? Dari tadi gue gak liat dia." tanya Rizky.


"Gak tau, pulang kali." jawab Eros tanpa niat menoleh. Eros malah sibuk dengan ponselnya, membalas puluhan pesan dari karyawannya.


"Sayaang~" seorang wanita tiba-tiba duduk di pangkuan Rizky.


Rizky terkejut, namun dengan segera Rizky melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu. "Karina? Kamu kok bisa disini?" tanya Rizky dengan suara seraknya.


Bukannya tersenyum, wanita itu malah berdiri, dan menampar Rizky dengan keras.

__ADS_1


Plak


Rizky dibuat shock. Tamparan itu membuat Bara dan Eros tercengang. Kedua pria itu meringis, memegang pipinya ngilu. Padahal siapa yang di tampar, siapa yang meringis ngilu.


"Kamu manggil aku apa? Karina? Karina siapa hah?!! Namaku Delia! Bukan Karina!"


Rizky mengusap pipinya yang terasa kebas. "Maaf, sayang. Aku lupa."


"Alesan. Dasar cowok brengsek!" wanita itu berteriak kesal, dan pergi begitu saja meninggalkan Rizky yang mencibir sinis. Kalo bukan perempuan, dia pasti akan membalasnya.


Bara menggeleng melihat drama di depannya. Sedangkan Eros dibuat terbahak. "Gimana itu pipi? Sakit gak Ky?"


"Sakitlah." sungut Rizky kesal. Tangannya mengusap pipinya pelan. "Aset berharga gue pasti memar nih. Sialan tuh cewek udah bikin muka gue bonyok begini."


"Halah alay. Kalo cuma tamparan doang mah gak seberapa menurut gue. Coba tuh tantang si Bara buat adu jotos. Beuuuh gue jamin lo langsung koid." kelakar Eros dengan tatapan mengejek.


"Lo mau buat gue mati? Kalo sama si Bara itu namanya nantangin maut, bloon." sewot Rizky.


"Harusnya lo tobat, Ky, tobat. Inget nyokap lo juga cewek loh." kara Eros.


Rizky mendengus. "Yang bilang nyokap gue cowok siapa?"


"Gue serius njirr." sentak Eros.


"Gue pusing. Lo berdua bisa diem gak sih?!!" tandas Bara kesal melihat kelakuan sahabatnya. Tidak pernah sekalipun mereka duduk tenang, mengobrol layaknya orang normal. Keduanya seperti orang bodoh yang membuang-buang waktu.


"Gue udah diem, Bar." Rizky segera duduk diam. Diikuti Eros yang duduk di sampingnya.


"Gue juga udah, Bar." sambung Eros.


Bara mengangguk saja. Tubuhnya ia rebahkan di atas sofa. "Gue numpang tidur malam ini."


Eros melotot. "Lo gak pulang lagi malam ini?!!"


"Gak. Gue males ketemu Bokap." Bara mulai menutup matanya. Ia ingin beristirahat sejenak.


Rizky menggeleng tegas. "Gak. Gak boleh. Gila lo ya! Lo harus pulang, Bar. Tante Sheila udah neror gue terus dari kemarin."


"Bener tuh, Bar. Mending lo pulang dulu, ketemu orang tua lo. Apalagi udah lama kan lo gak ketemu Devano. Lo gak rindu sama anak lo?" kata Eros.


"Gue- gak tau." timpal Bara.


"Astagfirullah." Rizky mengusap wajahnya kasar. "Ada ya orang tua macam lo! Lo itu udah punya anak. Harunya lo pikirin anak lo, bukan malah mikirin cewek terus."


Eros menepuk kepala Rizky dengan bantalan sofa. "Ngaca broo, lo juga gitu."

__ADS_1


Rizky cengengesan. Dia mengusap kepala pelan. "Beda kasus, Ros." celetuk Rizky sambil mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar.


Om Macan


Rizky melotot melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Bar, Bo-bokap lo nelepon." Rizky melempar ponselnya yang langsung di tangkap oleh Bara.


Bukannya menjawab, Bara malah dengan cueknya meriject panggilan tersebut.


Rizky dibuat ketar ketir melihat kelakuan Bara. "Bar, angkat, Bar. Jangan sampai gue di pecat karena gak ngangkat teleponnya." kata Rizky gelisah. Bagaimanapun, Rizky bekerja di bawah nauangan perusahaan Bara, perusahaan yang masih di pegang oleh Om Matteo.


"Bodoamat. Yang dipecat kan lo bukan gue." sahut Bara santai.


Rizky mengeram. Cowok itu merebut ponselnya disaat nada dering itu kembali terdengar.


"Ha-halo, Om." suara Rizky bergetar, menahan gugup dan takut secara bersamaan.


"Suruh Bara pulang. Jika tidak, bukan hanya kamu, tapi Eros pun akan kena akibatnya."


Suara di sebrang sana membuat Rizky meneguk ludahnya susah payah. "I-iya, Om."


"JANGAN IYA IYA AJA!!"


Rizky menjauhkan ponselnya mendengar bentakan keras itu. Bara dan Eros, keduanya hanya diam menyimak.


"LAKUIN APA YANG SAYA SURUH! JANGAN SAMPAI KAMU DAN USAHA TEMANMU ITU, OM GUSUR DETIK INI JUGA!"


"Iya, Om, iya laksanakan komandan. Kami akan segera membawa pangeran pulang ke rahmatullah." ceplosnya asal.


"APA KAMU BILANG?!!"


Rizky menggeleng ribut. "Gak, Om. Tadi saya bercanda."


Tut


"Asu!" Rizky mengumpat, melempar ponselnya kesal saat sambungan telepon di putuskan secara sepihak.


^^^Bersambung....^^^


^^^Jum'at, 20 Agustus 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....

__ADS_1


__ADS_2