
...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...
...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...
.......
.......
.......
.......
...HAPPY READING ❤️...
"Syukurlah, Mommy tidak papa, hanya shock ringan karena tidak bisa menerima kenyataan." Matteo menyelimuti istrinya sebatas dada. Kenyataan jika Devano bukanlah cucunya membuat Sheila sedikit terguncang.
"Ini yang Daddy takutkan selama ini. Daddy takut, jika kejujuran Devina membuat Mommy terluka. Cucu yang sejak dulu ditunggu kehadirannya, bukanlah keturunan dari keluarga Matteo" jeda sebentar, Matteo menarik napas dalam guna meringankan rasa sesak di dadanya.
"Maaf, karena dulu Daddy tidak percaya padamu, Nak. Kamu bisa memukul Daddy sama seperti yang Daddy lakukan dulu. Maaf, sekali lagi maafkan Mommy dan Daddy mu yang terlalu buta sampai tidak menyadari jika diantara kamu dan Devano memang tidak memiliki kesamaan." lanjut Matteo dengan kepala menunduk. Sejujurnya dulu Matteo sempat ragu, tapi melihat kegigihan dan tatapan terluka Devina kala itu membuatnya simpati. Layaknya korban pemerkosaan, Devina menangis tergugu meminta pertanggung jawaban kepada Bara. Matteo yang dulu tidak menyukai lelaki brengsek yang merusak wanita, segera saja menikahkan mereka.
Bara tentu menolak tegas, namun karena Sheila yang sangat ingin menimang cucu, tentu saja langsung bahagia, sampai tes DNA yang dulu pernah Bara tunjukan kepadanya tidak ia percai. Padahal jelas-jelas disini anaknya berusaha membela diri, membuktikan dirinya memang tidak pernah melakukan hal bejat kepada Devina.
"Nak, kenapa kamu diam saja?" Matteo akhirnya menoleh, menatap putranya yang kini masih terdiam.
"Memangnya apa yang harus aku katakan, Dad? Semuanya sudah jelas, Devano memang bukan anakku." kata Bara menimpali. Ia memang tidak marah, hanya rasa kecewa yang kian memupuk karena ketidak percayaan orang tuanya.
"Daddy tau, maaf karena selama ini Daddy diam karena takut terjadi sesuatu kepada Mommy mu."
Bara mengangguk saja.
Matteo tersenyum pedih melihat respon Bara. Terlalu takut membuat istrinya jatuh sakit, sampai lupa, jika putranya pun disini terluka. Putranya bahkan harus merelakan hatinya yang kian hari kian semakin terluka. Hidup dengan orang yang tidak di cintai itu sulit. Matteo jelas mengetahuinya. Bagaimana dulu dia pernah merasakan hal yang sama.
"Kamu marah sama Daddy, Nak?" pertanyaan bodoh macam apa itu, jelas-jelas putranya marah. Seharunya Matteo tidak pernah bertanya seperti itu.
"Aku tidak marah, hanya kecewa karena Daddy lebih mempercai orang lain ketimbang anak Daddy sendiri."
"Maaf."
"Terlambat, karena Nayra sudah pergi jauh setelah penghinaan yang kalian lakukan kepadanya. Dia bukan gadis perusak, dia gadis dari keluarga baik-baik. Dia cinta pertama Bara. Mimpi Bara membangun keluarga dengan Nayra hancur seketika saat tiba-tiba Daddy datang dan menyuruhku untuk menikahi Devina." terang Bara.
Yah, memang benar, setelah pertengkaran yang terjadi di apartemen nya, Bara pergi ke rumah Nayra berniat meminta maaf. Namun naas, semuanya sudah terlambat. Setibanya disana, Bara tidak melihat siapapun, hanya seberkas map saja yang tergeletak di meja ruang tamu. Map dimana di dalamnya berisi sertifikat rumah.
"Daddy terus memaksaku untuk menerima Devina sebagai istriku, dan Devano sebagai anakku, tapi kenyataanya semua itu sulit buatku Dad." lanjut Bara dengan menghela napas pelan.
Sekarang Matteo mengerti kenapa putranya selalu bersikap dingin. Putranya hanya tidak menerima atas tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.
"Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk mengembalikan semuanya, tapi Daddy janji, Daddy akan menemukan Nayra dimana pun gadis itu berada. Daddy akan membawanya kembali padamu, Nak." janji Matteo kepada putranya. Sudah cukup Bara terluka karena keegoisannya. Sudah cukup Bara menanggung kesalahan yang orang lain perbuat. Kini, sudah saatnya Matteo menebus semua kesalahannya dulu.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"Dimana Devina? Mommy mau ketemu sama dia." Sheila sudah terbangun beberapa menit yang lalu. Wanita itu memaksa ingin bertemu Devina. Dia harus kembali memastikan.
"Mommy harus istirahat dulu yang cukup."
"Mommy tidak peduli. Mommy hanya ingin bertemu Devina. Tolong anter Mommy kepadanya, Bara."
"Tapi, Mom-"
"Jika kamu tidak ingin mengantar Mommy, biar Mommy sendiri yang akan kesana." ancam Sheila yang membuat Bara akhirnya mengangguk pasrah.
"Baiklah, biar aku ambilkan kursi roda dulu buat Mommy."
"Tidak perlu, Mommy masih mampu untuk berjalan."
Bara menghela napas, kemudian mulai menuntun Sheila kearah ruangan Devano.
Sesampainya mereka disina, Sheila bisa melihat Devina sedang terduduk bersama seorag pria. Kedatangannya tentu saja membuat keduanya serentak berdiri. Untung saja Devano masih dalam pengaruh obat bius hingga anak itu masih tertidur lelap di atas brankar rumah sakit.
"Mommy." Devina segera beranjak dari duduknya, wanita itu mulai melangkah mendekati Sheila yang malah memundurkan tubuhnya. Devina tertegun mendapati respon Sheila. Wanita paruh baya itu seolah tidak ingin lagi di dekati olehnya.
Devina diam. Tatapannya jatuh kepada Bara.
"Ya, aku tidak pernah menyentuhnya. Maaf, mengecewakan Mommy." bukan Devina yang menjawab, melainkan Bara sendiri yang berterus terang.
Sheila tentu kaget mendengar jawaban putranya. "Apakah itu benar, Devina?"
Akhirnya Devina mengangguk ragu.
"Be-berarti,,,, berarti anak yang kamu kandung ini bukanlah anak Bara?"
Devina tertegun. Tubuhnya kaku setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh mertuanya.
"Jawab pertanyaan saya, Vina." desak Sheila.
"Maaf, Mom."
PLAK
Devina tersungkur mendapatkan tamparan keras di pipinya, beruntung Reynald segera menahannya hingga Devina tidak sempat terjatuh.
"Wanita tidak tau diri kamu!" Sheila memegang dadanya yang tiba-tiba terasa ditusuk oleh ribuan jarum. Bara yang berada di sampingnya panik.
__ADS_1
"Mom. Tenang, jangan seperi ini. Atur napasnya, Mom. Tarik napas, lalu hembuskan, tarik napas lagi, hembuskan pelan-pelan." semua intruksi Bara, Sheila ikuti.
Selang beberapa detik, Sheila sudah kembali tenang. Rasa sesak di dadanya juga sudah berkurang. Namun saat melihat wajah Devina, emosinya kembali naik.
"Kamu! Setelah semua kebaikan yang saya lakukan, kamu malah membalasnya dengan hal keji seperti ini hah!!" murka Sheila dengan napas memburu. Bara yang berada di sampingnya kini mencoba menenangkan, berulang kali Bara mengusap pundak Mommy nya agar tidak lepas kendali.
"Wanita iblis kamu! Saya menyesal telah menerima kamu selama ini! Wanita ular seperti kamu memang tidak pernah pantas bersanding dengan anakku! Pantas saja Bara selalu bersikap kasar kepadamu, ternyata ini alasannya!"
Devina menunduk, menangis terisak di dalam pelukan Reynald. "Ma-maafkan aku, Mom."
"Jangan memanggilku seperti itu lagi! Saya jijik dengan wanita seperti kamu. Pantas saja Bara tidak pernah menyentuhmu karena kamu memang wanita menjijikan!"
"CUKUP NYONYA!" Reynald berteriak. Dia tidak terima wanitanya di perlakukan seperti ini. "Jika Nyonya ingin marah, marahi saya, jangan Devina. Karena semua ini berawal dari saya yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dulu. Tolong, jangan menyalahkan Devina, dia sedang hamil anak kami."
"Brengsek!" maki Bara dengan melayangkan pukulannya.
BUGH
BUGH
"Lo memang salah brengsek! Karena lo, hidup gue hancur!" Bara mencengkram kerah kemeja Reynald. Mengangkatnya sedikit, sampai membuat Reynald tercekik.
"Karena lo wanita yang selama ini gue cintai pergi! Lo brengsek! Lo tidak layak disebut manusia! Lo hewan yang selama ini menjelma menjadi manusia paling hina!" Bara kembali melayangkan pukulannya hingga membuat Reynald tersungkur mengenai ujung meja. Devina yang melihatnya menjerit. Alih-alih menghentikan, Devina malah menangis semakin keras. Membiarkan Bara memukuli Reynald sampai babak belur. Darah sudah mengucur di hidung, juga sudut bibir Reynald.
"Bara, sudah, Nak hentikan." Sheila akhirnya menarik Bara mundur. Sheila cukup kasihan melihat pemuda itu kini sudah terkapar di bawah lantai.
"Kalian memang cocok menjadi pasangan. Kalian sama-sama tidak punya hati. Dan kamu Vina, setelah menuduh anakku, dan meminta pertanggung jawaban atas apa yang kamu lakukan, kamu dengan tidak tahu malunya kembali mengulangi kesalahan yang sama. Kamu kembali melemparkan tubuh kamu kepada pria brengsek seperti dia." Sheila menunjuk keberadaan Reynald. Pria itu sedang meringis, mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kalian benar-benar tidak tau malu!" maki Sheila.
"Anda menodai seorang wanita yang masih berstatus istri orang lain! Anda memang pria paling hina! Pria paling tidak bertanggung jawab! Kalian sama-sama hina!"
Tidakkah ucapan itu keterlalu? Menurut Sheila tidak. Karena mereka pantas mendapatkannya.
Sheila menarik napas kasar. "Dulu Mommy memang menentang perceraian diantara kalian, tapi sekarang Mommy izinkan kamu bercerai dengan wanita hina itu, Bara. Segera urus perceraian mu. Mommy tidak ingin lagi melihat wajah memuakan seperti mereka."
.
.
.
.
.
^^^BERSAMBUNG...^^^
^^^MINGGU, 3 Oktober 2021^^^
__ADS_1
...1350 KATA. TEGA SEKALI KALIAN KALO SAMPAI TIDAK MENINGGALKAN JEJAK....
...SETELAH MEMBACA DI MOHON TINGGALKAN JEJAK YA. SYUKUR-SYUKUR KALO DI KASIH HADIAH, AUTHOR SENENG BANGET :)...