Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 36


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Evano duduk terdiam, menatap kearah luar dimana pepohonan sedang bergerak tertiup angin. Sudah satu minggu ia kembali ke kampung halamannya, dengan keadaan lumpuh, kakinya mati rasa, tidak bisa bergerak sebebas dulu. Harapannya pupus, masa depannya hancur seketika. Tidak ada lagi yang ia harapkan saat ini selain Nayra, sosok gadis yang sangat ia rindukan.


Tatapannya menerawang jauh, mengira-mengira kemana Nayra pergi? Apakah Nayra benar pergi meninggalkannya? Dengan keadaan seperti ini?


Bodoh.


Evano memukul kepalanya sendiri. Satu kali, dua kali, sampai berkali-kali Evano terus saja memukulnya. Mana ada perempuan yang mau dengan cowok lumpuh seperti dirinya. Mana ada perempuan yang tahan dengan pria lumpuh, yang tidak bisa berjalan, tidak memiliki masa depan, dan tidak bisa mencari uang. Jawabannya jelas tidak ada, tidak ada perempuan yang mau menerimanya dengan keadaan yang seperti ini.


Awalnya, ia mengira Nayra adalah gadis baik-baik, tulus, dan setia. Namun setelah kejadian ini, pandangan akan sosok Nayra berubah. Gadis itu- Nayra, entah kemana perginya, meninggalkan dirinya tanpa kepastian seperti ini.


Berapa kali pun Evano mencoba berpikir positif, namun nyatanya tidak bisa. Pemikiran-pemikiran negatif akan Nayra terus saja bermunculan. Ia terlalu takut, takut jika gadis itu benar-benar pergi.


"Vano."


Panggilan bernada tegas itu membuat Evano menoleh. "Bapak." ucapnya.


"Kamu masih memikirkan gadis itu?"


Evano diam. Bibirnya terkatup rapat tak menjawab pertanyaan dari sang ayah.


Melihat anaknya hanya diam, Ruri menghela napas kasar. "Lupakan gadis itu. Gadis tidak tau diri seperti itu memang layak untuk dilupakan." pungkas Ruri tajam. Ia ingat betul bagaimana anaknya bisa sampai seperti ini. Semua ini hanya karena Nayra. Karena gadis itu, anaknya menjadi lumpuh total.

__ADS_1


Evano masih diam tak bergeming. Apa yang di ucapkan ayahnya terlalu sulit untuk ia lakukan. Kenangan saat bersama Nayra terlalu membekas, membuatnya sulit untuk melupakan gadis itu.


"Kamu hanya akan menyiksa dirimu saja, Vano. Semua yang telah kamu lakukan sia-sia, berhenti mengharapkan gadis itu." melihat anaknya yang terus saja diam dengan tatapan kosong ke depan membuat Ruri semakin tak tega. Dengan berat hati, pria paruh baya itu beranjak pergi, membiarkan Evano dengan sejuta pemikirannya.


....


Nayra menatap pantulan dirinya di depan cermin. Setelah di dandani sedemikian rupa, akhirnya Nayra bisa bernapas dengan lega. Orang-orang itu, termasuk Miss Danie sudah berusaha keras membuat dirinya menjadi secantik ini.


"Bravo. Sangat cantik." puji Miss Danie sembari berdecak kagum.


Nayra tersenyum tipis. Tubuhnya ia bawa berputar hingga roknya mengembang. Rambut panjangnya tergelung indah, dengan pernik lucu yang tertempel di


kepalanya.


"Terlihat sangat cocok sekali dengan Tuan Bara."


Jika dilihat penampilannya yang seperti ini, Nayra yakin ia pasti akan menghadiri sebuah acara, tapi ia tidak tau acara seperti apa yang akan ia datangi nanti.


Nayra mengusap sebuah kalung di lehernya. Terlihat cantik dan elegan. Harganya pasti berjuta-juta. Nayra bahkan tidak sanggup untuk sekedar bertanya berapa harga kalung ini.


"Duduklah kembali, sebentar lagi acaranya akan segera di mulai." Miss Danie mengiring Nayra untuk kembali duduk di depan meja rias.


"Aku tidak mengerti- maksudku, aku bukan orang penting, kenapa kau mendandaniku sampai seperti ini?"

__ADS_1


Miss Danie terkekeh. "Kau akan tau nanti. Setelah acara dimulai, semua pertanyaan yang ada di kepalanmu akan terjawab." wanita itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Sebentar lagi akan ada beberapa pelayan masuk, dan kamu harus mengikuti arahan mereka, okey?"


Nayra mengangguk mengerti. Miss Danie terlihat senang, wanita itu sempat-sempatnya mencium pipinya sebelum keluar.


Melihat Miss Danie sudah pergi, Nayra kembali menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia masih tidak menyangka akan menjadi secantik ini. Teringat akan kenangan bersama Evano, mata Nayra berkaca-kaca. Kehidupannya sudah tidak lagi sama, ia akan benar-benar kehilangan sosok Evano. Ia berharap agar pria itu mendapatkan kebahagiaan kelak. Meski tidak bersama dengannya, ia akan mencoba ikhlas menerima.


"Sepuluh menit lagi acaranya dimulai."


"Tolong, kau katakan kepada Tuan Bara kalau cincin pertunangannya sudah siap."


Samar-sama ia mendengar percakapan beberapa pelayan di depan pintu. Batinnya bertanya-tanya. Siapa yang akan bertunangan? Dan,,,, kenapa mereka menyebutkan nama Bara?


Untuk beberapa detik Nayra terdiam, sebelum tubuhnya tersentak saat sebuah pemikiran tercetus di pikirannya.


Pertunangan?


Jangan bilang kalau- Nayra sontak menatap gaun indah yang melekat di tubuhnya, lalu beralih menatap wajahnya di depan cermin. Jika benar ia akan bertunangan dengan Bara, ia belum siap.


Mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, Nayra melangkah kearah pintu. Terkunci. Pintunya terkunci dari luar. Nayra berdecak kesal. Ternyata benar dugaannya. Bara kembali bersikap sesuka hatinya, tidak pernah bertanya lebih dulu apakah ia mau atau tidak. Pria itu memang tidak membutuhkan pendapatnya, selalu saja memutuskan kehendaknya sendiri.


Dengan langkah tergesa, Nayra berlari kearah jendela. Ia membuka jendela itu lebar-lebar. Untuk kali ini saja, ia akan bersikap egois. Ia tidak peduli dengan perasaan cowok itu, ia ingin menenangkan diri lebih dulu. Terlalu banyak masalah yang telah ia hadapi saat ini.

__ADS_1


^^^Bersambung.....^^^


^^^Senin, 16 Agustus 2021^^^


__ADS_2