
...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...
...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...
.......
.......
.......
.......
...HAPPY READING ❤️...
Nayra duduk dalam diam. Menatap suaminya yang sedang sibuk menatap layar laptop.
Sudah sejam berlalu sejak mereka pulang dari rumah sakit, Bara tak kunjung berbicara. Padahal Nayra sudah mencoba membujuknya dengan makanan, membuatkan kopi, bahkan sampai memberikan kecupan di bibir, Bara tetap saja tak ingin bicara.
"Oh, ayolah, kamu ini kenapa sebenernya, Bara?" kesal Nayra.
Habis sudah kesabarannya. Nayra bahkan sudah tidak lagi memanggilnya dengan embel-embel Mas karena saking kesalnya.
"Kamu masih marah soal yang di rumah sakit itu?" tanya Nayra.
Bara tetap diam. Enggan untuk sekedar menyahut pertanyaan istrinya. Harusnya Nayra lebih peka jika dirinya masih kesal. Tidak ada yang merasa cemburu melihat istrinya memeluk pria lain.
"Kalo soal itu aku minta maaf. Iya aku tau aku salah, gak seharusnya aku memeluk Evano di hadapan kamu-"
Bara mendelik. "Oh jadi kalo di belakang aku, kamu bebas gitu pelukan sama si Evano itu?!" tuding Bara sinis. Apa coba maksud perkataan istrinya itu, bikin mood tambah rusak aja.
Sadar akan ucapannya, Nayra meringis. "Astagfirullah, gak gitu juga Bara. Aku meluk Evano tadi sebagai pelukan perpisahan. Udah itu aja."
"Tapi gak harus pelukan juga bisa kan?"
"Ah udahlah, aku ke dapur aja bantuin Mommy bikin kue, dari pada disini liat muka kamu gak enak terus bawaannya." Nayra segera beranjak. Mengabaikan teriakan kesal Bara yang menyuruhnya untuk tidak pergi.
Biarkan saja Bara berkutat dengan laptopnya, ia tidak akan menganggu. Toh, kehadirannya juga tidak di butuhkan disana.
"PERGI KAMU."
Sesampainya di lantai dasar, Nayra mendengar teriakan Sheila.
"SAYA BILANG PERGI!"
"SAYA TIDAK BUTUH MAAF MU! SEBAIKNYA KAMU PERGI. JANGAN GANGGU KEHIDUPAN KELUAGRA ANAK SAYA LAGI!"
Bruk
Mendengar benturan keras diluar, Nayra segera berlari ke arah teras depan. Dan benar, disana terlihat Sheila sedang berdiri dengan pongah, bersama dengan seorang wanita yang sedang terduduk lemas di lantai.
"Mommy." panggil Nayra. Segera saja ia membantu wanita itu berdiri. "Mommy kok dorong dia kenapa?" tanya Nayra yang tak habis pikir dengan sikap Sheila.
"Ahk." wanita itu meringis. Memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
Nayra menunduk. Menatap kaget saat melihat cairan merembes di kaki wanita itu.
"Astaga, kamu kenapa?" Nayra kaget. Ia segera menopang tubuh wanita itu agar tidak kembali terjatuh.
"A-anakku, tolong,,, tolong, anakku..." diambang kesadarannya, wanita itu bergumam lirih.
Nayra panik. Ia mengguncang tubuh wanita itu pelan. Sedangkan Sheila, wanita paruh baya itu kini sudah bergetar ketakutan.
"DEVINA!" jerit Sheila khawatir.
Bara yang baru saja turun, dan hendak menyusul istrinya ke dapur berjengkit mendengar teriakan itu.
"Astaga, Mom, dia kenapa?" Bara panik melihat Devina sudah bersender di tubuh Nayra dengan mata tertutup.
"Mas, bantu aku bawa dia ke rumah sakit Mas." ucap Nayra cemas.
Bara mengangguk. "Aku siapkan dulu mobil."
.
.
.
.
.
Keadaan sungguh hening.
"Mom, sudah. Sebaiknya Mommy duduk, istirahat. Jangan jalan-jalan kaya gini."
"Tapi, Bara ini salah Mommy. Gak seharusnya Mommy paksa Devina buat pergi. Harusnya Mommy bisa bicara baik-baik, bukan malah-"
"Sttt, iya Mom, Bara paham. Sekarang duduk ya. Kita berdoa saja semoga dia tidak papa." Bara menuntun Sheila untuk duduk di samping Nayra. Sejak tadi istrinya itu hanya diam menunduk.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Bara dan juga Sheila serentak berdiri, hanya Nayra saja yang masih duduk diam. Perasaan Nayra kacau setelah mengetahui jika wanita itu adalah mantan istri Bara. Lalu apakah anak yang di kandungnya itu adalah anak Bara juga?
Nayra menggeleng. Mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk yang bersarang di dalam otaknya.
"Pasien tidak papa, beruntung bayi di dalam kandungannya cukup kuat."
Bara dan juga Sheila menghembuskan napas lega. Tak henti-hentinya Sheila mengucapkan syukur pada yang diatas karena telah mengabulkan doanya.
"Boleh kami masuk, Dok?" Sheila bertanya.
"Boleh, pasien juga sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu." timpal Sang Dokter.
Sheila langsung masuk, meninggalkan Bara yang sedang mengobrol dengan Sang Dokter.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"Vina."
Devina menoleh. Senyumnya mengembang saat melihat Sheila mendekat.
"Mom." panggil Devina lirih.
Devina mencoba mendudukan tubuh lemahnya. Dibantu oleh Sheila yang mengatur posisi bantal, agar membuat Devina nyaman.
"Mommy disini?" tanya Devina. Masih tak menyangka dengan keberadaan Sheila. Karena kemarin-kemarin, wanita paruh baya itu seakan tak sudi melihatnya, bahkan di satu ruangan saja Sheila seakan enggan menghirup udara yang sama dengannya.
"Maaf, Mommy gak bermaksud buat kamu seperti ini." sesal Sheila.
"Ini bukan salah Mommy. Ini salah aku. Aku harusnya sadar, sulit buat Mommy memaafkan wanita hina seperti aku. Begitu banyak kebohongan yang aku lakukan kepada kalian. Tapi bagaimanapun, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan maaf dari Mommy, Daddy, dan juga Bara." Devina tersenyum pedih. Kedua matanya sudah berkaca-kaca mengingat betapa baiknya Sheila saat ia menjadi menantu keluarga Matteo.
"Mommy maafin."
Detik itu juga Devina mendongkak, menatap Sheila tak percaya. "Mommy." panggil Devina pelan.
Sheila tersenyum, kepalanya mengangguk pelan. "Mommy maafin, Nak."
"Semudah itu?" tanya Devina tak yakin.
"Ya, semudah itu. Karena Mommy tidak ingin mengingkari janji Mommy lagi kepada orangtuamu." bagaimanapun, Sheila memiliki janji kepada Roni dan Sindy- orang tua Devina, untuk memperlakukan Devina seperti anak kandungnya sendiri.
"Terimakasih." Devina mengerjap, menghalau gumpalan air mata agar tidak terjatuh di kedua pipinya.
"Mommy sayang sama kamu, Nak. Mommy udah anggap kamu seperti anak Mommy. Maaf kalo kemarin Mommy terlalu kasar sama kamu." Kamu maafin Mommy kan?" melihat anggukan semangat dari Devina, Sheila segera mendekap tubuh rapuh itu.
Menyalurkan perasaan lega, dan nyaman untuk Devina.
"Terimakasih. Aku seneng. Seneng banget. Setidaknya Papa sama Mama bakal tenang disana karena ada Mommy yang jaga aku disini." Devina membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Aku bahagia." sambung Devina lagi.
Keduanya saling berpelukan. Tak menyadari jika di depan pintu sudah ada Bara, Nayra, Matteo, dan juga Reynald. Mereka semua berdiri, menatap penuh haru ke dalam ruangan itu. Tapi tidak dengan Nayra, ada sebesit perasaan tak rela melihat kedekatan mereka.
Nayra juga ingin seperti itu, dekat dengan mertuanya, berbagi cerita, saling berpukan. Terlihat sangat menyenangkan.
"Ayra, kok diem? Ayo masuk sayang." Bara tersenyum. Dia seakan mengerti perasaan Nayra. Sudah seharusnya ia menjelaskan semua kesalah pahaman ini kepada Nayra. Nayra sudah menjadi istrinya, sudah seharusnya wanita itu tau bagaimana masa lalunya bersama Devina.
"Gak papa, ayo masuk." Nayra masuk. Diikuti Bara di belakangnya.
...BERSAMBUNG......
...SENIN, 1 NOVEMBER 2021...
__ADS_1
...SETELAH MEMBACA DI MOHON TINGGALKAN JEJAK YA. SYUKUR-SYUKUR KALO DI KASIH HADIAH, AUTHOR SENENG BANGET :)...