
'Kakak kamu mengambil uang di perusahaan Tuan Reinald. Dan itu sangat banyak, 200 juta, Nay. Bunda terpaksa serahin sertifikat rumah agar Tuan Reinald tidak mengambil masalah ini ke jalur hukum.'
'Jika Bunda tidak melakukan itu, Kakakmu akan terancam penjara karena menggelapkan dana perusahaan."
'Sebenarnya Bunda ingin mengatakan semuanya padamu, tapi semua itu urung saat kamu sendiri pun mendapat kabar kalo Evano kecelakaan.'
'Bunda tidak sejahat itu, Nay. Bagaimanapun kamu dan Sarah adalah anak Bunda. Harta satu-satunya yang Bunda miliki. Bunda tidak akan tega jika melihat salah satu diantara kalian mendapatkan masalah terus menerus.'
'Maafkan Bunda, Nay.'
Nayra mengusap air matanya saat kembali mengingat ucapan Bundanya. Setelah masalah satu selesai, sekarang datang lagi masalah baru yang di sebabkan oleh kakaknya sendiri.
200 juta. Bukan jumlah yang Nayra bayangkan. Untuk membayar separuhnya saja rasanya Nayra tidak akan sanggup.
Semua barang-barang sudah ludes, mulai dari ponsel pemberian Bara, lalu kartu atm nya. Semuanya sudah di bawa kabur oleh Kakaknya itu. Tidak ada lagi barang yang tersisa untuk dijual. Hanya tersisa uang tabungan Bundanya saja yang kini sudah ia tarik untuk membayar kost-kostan petak yang kini menjadi tempatnya berteduh.
Hanya ada kamar kecil, kamar mandi, dan dapur saja. Tidak ada ruang tamu, meja, bahkan kursi pun tidak ada.
Nayra melirik Bundanya, wanita paruh baya itu bergerak tak nyaman dalam tidurnya.
Ingin sekali Nayra menyalahkan keadaan, menyalahkan tuhan yang sudah membuat takdir hidupnya seperti ini. Dadanya sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Isak tangisnya tak sanggup lagi untuk ia tahan. Akhirnya Nayra bergerak menjauh agar tidak menganggu tidur Bundanya.
Cukup lama Nayra menangis di luar rumah, mengeluarkan beban yang menghimpit dadanya. Seandainya ia di atas bukit, Nayra akan berteriak sekencang mungkin seperti drama-drama yang ia tonton.
Nayra mendongkak keatas, melihat bagaimana sinar bulan yang kini tertutup awan tebal hingga cahayanya tidak nampak dimatanya. Tidak ada bintang, hanya ada segerombol awan tebal yang berjalan mengikuti arah angin.
"Nay."
Panggilan lembut itu membuat Nayra cepat-cepat menghapus air matanya. Ia menyahut tanpa menoleh. Sungguh, Nayra tidak sanggup untuk menatap mata teduh milik Bundanya. Mata yang dulunya selalu berbinar kini perlahan meredup seiring masalah terus saja datang menerjang.
"Kamu marah sama Bunda, ya? Sampai Bunda panggil kamu gak noleh."
Menarik napas pelan. "Tidak, Bun." kata Nayra kemudian berbalik menatap Bundanya dengan mata memerah. "Sampai kapanpun Nay tidak akan pernah bisa marah sama Bunda. Bunda adalah pahlawan, serta malaikat untuk Nay."
"Kamu nangis?"
Nayra menggeleng. "Ini hanya kelikipin, Bun, mungkin tadi ada debu tertiup angin makanya mata Nay kaya gini."
"Bunda tau kamu luar dalam, saat kamu jujur ataupun berbohong Bunda tau itu, Nay. Jadi jangan membohongi Bunda lagi. Bunda serasa gagal menjadi Ibu karena tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kamu."
"Bunda." Nayra memeluk Bundanya erat. "Jangan bicara seperti itu, harusnya aku yang gagal sebagai anak karena tidak bisa membahagiakan Bunda."
__ADS_1
Bunda Farah menggeleng, membalas pelukan erat Nayra dengan mengusap punggung kecil yang kini bergetar. Nayra kembali menangis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang Bunda.
Malam ini mereka habiskan dengan saling berpelukan, mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, dan saling menguatkan untuk menghadapi hari esok.
^^^Bersambung^^^
^^^Jumat, 9 April 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Like and coment...
...biar author makin semangat nulisnya. Jika perlu kasih hadiah juga ya :)...
...Follow ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
__ADS_1
See you
ranintanti