Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 75


__ADS_3

...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...


...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...


.......


.......


.......


.......


...HAPPY READING ❤️...


"Bara, liat sini dulu hey." Nayra menarik rahang Bara, menyuruh lelaki itu untuk menatap kearahnya.


"Ck. Lepas. Gak usah pegang-pegang kalo kamu masih gak nurut sama suami." Bara melongos, menyentakan tangan Nayra pelan.


"Bukan gitu, Bara. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan aku sama Evano. Janji, setelah itu kita pulang. Aku cuma gak mau ada dendam yang mungkin saja akan berakibat fatal di masa depan." terang Nayra.


Sejak tadi Nayra terus saja membujuk Bara untuk pergi ke rumah sakit dimana Evano dirawat. Permasalahan diantara dirinya dan Evano memang harus segera di selesaikan. Nayra hanya tidak ingin ada dendam di dalam kehidupannya.


"Alesan. Padahal lewat chat juga bisa kan? Paling juga itu alesan kamu doang buat ketemuan sama mantan kamu itu."


"Astaga, Bara. Kalo lewat chat itu gak sopan tau." Nayra mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal jelas-jelas disini Bara juga ikut andil, harusnya lelaki itu juga meminta maaf kepada Evano, bukan malah menghindar seperti ini.


"Terserahlah." pasrah Bara lalu keluar dari kamar.


"Yaudah, setelah permasalahan aku selesai, tiket bulan madu dari Mommy bakal aku terima."


Langkah Bara terhenti. Kedua sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Beneran?" tanya Bara masih tak ingin membalikan tubuhnya. Ingatkan disini dirinya masih marah kepada Nayra, bisa-bisanya istrinya itu menolak tiket bulan madu dari Sang Mommy.


"Iya beneran, Bara."


"Kalo bulan madunya di percepat jadi besok, mau kamu?"


"Iya mau, Bara." ujar Nayra mengalah.


Mendengar jawaban Nayra, Bara bersorak dalam hati.


"Yaudah sana siap-siap. Aku antar kamu buat ketemu sama si Vano-Vano itu."


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi Bara. Bara menoleh kaget. "Kamu-" belum sempat Bara berucap, Nayra sudah lebih dulu menyela.


"Makasih, Mas Bara." kata Nayra sembari tersenyum. Semburat merah di pipinya muncul kala ia memanggil Bara dengan embel-embel Mas di depannya.


Bara terkekeh. Hatinya membuncah senang karena mendapatkan kecupan dari Nayra. Tak apa, hari ini di pipi, mungkin besok-besok bisa saja kan di bibir.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, Bara membuka pintu mobil untuk Nayra.


"Inget ya, kamu disana harus jaga emosi, jangan sampai marah-marah. Karena disini posisinya kamu juga salah karena udah rebut aku dari Evano." sebelum memasuki ruang rawat Evano, Nayra segera memberi wejangan kepada Bara. Takut jika pria itu berbuat sesuatu yang akan menimbulkan keributan di rumah sakit.


Pria itu mendengus. Tak merespon ucapan istrinya.


Nayra menghela napas, membuka pintu ruangan Evano dengan pelan. Dilihatnya Evano sedang melakukan terapi jalan dengan kruk, dan dipapah oleh seorang dokter laki-laki.


"Kalo begitu saya permisi dulu." seakan mengerti, Dokter laki-laki itu beranjak keluar setelah memastikan Evano duduk dengan nyaman di brankar.


"Bagaimana keadaanmu, Vano?" Nayra mendekat kearah Evano, diikuti Bara yang mengekor di belakang.


"Seperti yang kamu lihat." timpal Evano dingin.


Nayra mengangguk, mencoba memahami perubahan Evano. Karena bagaimanapun Evano seperti ini karena kesalahannya yang meninggalkan lelaki itu dalam keadaan yang tidak baik.


"Lalu bagaimana denganmu, Nay? Apakah kamu bahagia?" Evano bertanya, matanya tak lepas dari sosok yang berdiri di belakang Nayra. Bara. Pria itu sejak tadi menggenggam lengan Nayra, membuktikan di hadapannya jika Nayra kini sudah bukan lagi menjadi miliknya.


"Maksud lo ngomong kaya gitu apa?" sewot Bara.


Evano tersenyum miring. "Gue cuma tanya. Barangkali Nayra hidupnya gak bahagia sama lo, jadi lebih baik kasih gue aja."


"Bara, inget pesan aku." tegur Nayra mengingatkan.


Bara mendengus. Tangannya kembali di turunkan.


"Aku bahagia, Vano. Meskipun aku belum mencintai Bara sepenuhnya, tapi aku akan berusaha. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya." terang Nayra.


Bara menoleh, menatap Nayra haru. Setelah perjuangannya yang panjang, akhirnya Nayra membalas perasaannya, meski belum sepenuhnya, tapi Bara percaya, akan ada cinta diantara dirinya dan Nayra.


Evano mengangguk. Ucapan Nayra menegaskan jika gadis itu sudah tidak membutuhkannya lagi. Sebesit perasaan sesak masuk ke dalam hati, membuat Evano menghembuskan napas pelan. Mencoba menerima keputusan Nayra.


"Kalo kamu kesini cuma mau pamer, sebaiknya kamu pulang."


"Gak. Aku kesini bukan mau pamer kemesraan, Vano." Nayra melotot kearah Bara. Menyuruh lelaki itu untuk melepaskan tangannya. Bukannya terlepas, suaminya malah semakin mencengkram pergelangan tangannya.


"Lepas dulu."


"Gak." sewot Bara.


Nayra pasrah. Membiarkan tangannya di di genggam oleh Bara.


"Maaf kalo kamu gak nyaman." ujar Nayra tak enak hati.

__ADS_1


"Aku kesini cuma mau minta maaf. Aku hanya ingin meluruskan semua permasalahan diantara kita Vano."


Evano diam tak menjawab.


"Tolong, tanyakan apapun yang ingin kamu tau, Vano. Katakan semuanya. Jangan diam seperti ini." keluh Nayra saat tak mendapatkan respon apapun dari Evano.


Evano masih tetap diam termenung. Mencoba meresapi keinginan hatinya yang ingin sekali merengkuh tubuh gadis di hadapannya.


"Jawab dengan jujur, apakah kamu bahagia?" tanya Evano lagi.


"Aku bahagia."


"Apakah kamu diancam oleh lelaki itu?"


"Tidak." Nayra menggeleng pasti.


"Apakah kamu tertekan dengan pernikahan mu?"


Kali ini Nayra diam. Remasan di tangannya bahkan tak ia pedulikan. Apakah dirinya tertekan? Mungkin jika dulu ia akan mengatakan iya, tapi sekarang Nayra akan mencoba menerima pernikahan ini.


"Tidak." jawab Nayra.


Bara tersenyum. Hatinya bahkan berdebar setiap mendengar jawaban-jawaban yang keluar dari istrinya. Bara merasa puas.


"Aku mengerti." Evano menghela napas. Berusaha menekan rasa sesak di dadanya. "Aku sudah mendengar semuanya dari Ibu, Nay. Aku sudah mendengar bagaimana perjuanganmu dalam membantu pengobatanku. Terimakasih, terimakasih sudah mau memperjuangkan hidupku, Nay. Meskipun aku harus kehilanganmu, tak apa, aku akan mencoba ikhlas." jelas Evano.


Nayra tersenyum haru. Kedua matanya bahkan sudah berkaca-kaca mendengar ucapan terimakasih dari Evano.


Bruk


Nayra memeluk tubuh Evano tiba-tiba. Evano terkejut, pria itu tersenyum kecil, dan membalas pelukan Nayra tak kalah erat.


Sedangkan di samping itu. Bara melotot. Merasa kesal, Bara menarik Nayra paksa membuat pelukan keduanya terlepas.


"Jangan memancing amarahku, Ayra." geram Bara.


Nayra terkekeh. Merasa terhibur dengan keposesifan suaminya. Lalu Nayra kembali menatap Evano, membalas senyum manis pria itu.


"Aku berharap kamu bisa kembali berjalan seperti semula, Vano. Aku akan terus berdoa untuk kesembuhan mu. Maaf, dan terimakasih untuk semuanya." Nayra tersenyum sangat lebar. Beban dihatinya kini sudah terangkat. Ia merasa lega. Setidaknya permasalahan dirinya dan Evano sudah bisa di selesaikan dengan baik-baik. Beruntung Evano adalah laki-laki penyabar, dan tak pernah menaruh dendam kepada siapapun.


.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


...SENIN, 1 NOVEMBER 2021...


...SETELAH MEMBACA DI MOHON TINGGALKAN JEJAK YA. SYUKUR-SYUKUR KALO DI KASIH HADIAH, AUTHOR SENENG BANGET :)...


__ADS_2